Wednesday, 2 May 2012
Nunuk Pulandari
Teman-teman di Baltyra, dalam salah satu kesempatan dari Yogya saya menelefoon dimas Handoko di Solo. Selain untuk bersapa ria juga untuk mencocokkan rencana dan jadwal kapan kami bisa saling jumpa. Dalam daftar acara saya, sesungguhnya Solo akan saya kunjungi pada hari ketiga liburan di Yogya, yakni Kamis 16 Maret yl. Tetapi melihat kesempatan dan kesesuaian waktu yang tersedia, kunjungan ke Solo akhirnya dimajukan satu hari, menjadi hari Rabu.
Dimas Handoko menganjurkan untuk naik kereta saja dengan alasan jaraknya yang tidak jauh, keretanya yang masih bagus dan toch di Solo ada dimas Handoko yang akan memandu kami pada hari pertama. Sedang hari keduanya dimas ada keperluan lain. Tetapi karena Solo tidak terlalu besar bukanlah menjadi masalah kalau kami berwisata secara becakan dan naik delman.. It is OK.
Terus terang ketika dimas Handoko menganjurkan untuk naik Kereta Api saja, timbul keraguan dan kekhawatiran apakah memang keretanya berbeda dengan yang ditumpangi sebelumnya. Hanya dimas Handoko yang pada akhirnya bisa meyakinkan saya untuk naik kereta Prameks yang berAC, murah, bersih dan serba tepat waktu. Wouwww…Memang terlihat kereta Prameks AC itu bersih dan terawat apik.
Foto 1. Suasana di station Yogya ketika para penumpang Prameks sedang menunggu keretanya
Foto 2. Para penjaja sedang menunggu pembeli
Sambil menunggu Kereta datang saya berjalan ke bagian gedung lain station. Nampak di pinggirannya duduk para ibu yang sedang menjajakan buah-buahan terutama Salak.
Yang sangat menarik perhatian saya adalah seorang ibu yang sambil menunggui buah salaknya, untuk mengisi waktunya nampak sedang membaca (dengan serius) koran.
Foto 3. Seorang ibu penjaja salak yang tetap mau mengikuti peristiwa yang ada di sekitarnya, melalui media cetak
Nampak betapa terfokusnya perhatian sang ibu ketika membaca koran yang ada di tangannya. Betapa hebatnya sang ibu yang masih bisa “menyisihkan” dirinya dari keributan dan suara-suara yang ada di sekitarnya. Demi menimba informasi dan berita baru yang tertayang di koran itu...Satu lagi wanita cukup tangguh Indonesia. Setidaknya cukup tangguh dalam menjalankan fungsinya dalam kehidupan sehari-harinya, sebagai penjual Salak; juga tangguh dalam mengejar informasi melalui koran yang ada di hadapannya.
Foto 4. Locker dan pulsa yang dijajakan dengan sangat sederhana.
Teman-teman di Baltyra, cara menjajakan kartu pulsa yang sangat amat sederhana, tentunya dapat menimbulkan pertanyaan: ”Siapa yang bisa menjamin bahwa semua yang ditawarkan di sana tidak akan berubah isinya”. Maksud saya begini. Sebelum saya berangkat ke Yogya saya membeli pulsa 100.000rp (plus minus 8 euro) di supermarket tidak jauh dari rumah di Kemang. Ketika itu ada teman yang bertanya: ”Mbak Nuk belinya dimana”. Ketika dia tahu bahwa saya tidak membeli di “pinggir jalan” terdengar suaranya bahwa dia lega sekali. Lalu dia masih menyambung percakapan itu.
Dia menceritakan bahwa dia pernah beberapa kali membeli pulsa dari pinggir jalan. Lalu setiap kali setelah dia menggunakan pulsa yang dibeli dari “pinggir jalan” itu, pasti akan ada sms masuk yang isinya pada intinya MINTA PULSA. Seolah puterinya atau keluarga lainnya kehabisan pulsa.Yang sering tidak cermat adalah fakta bahwa tidak setiap orang tua mengetahui dengan pasti berapa nomor mobiele putera puterinya. Pertanyaan berikutnya adalah: ”Apakah sistem pengisian kartu pulsa bisa dengan mudah disalah gunakan oleh orang yang tidak berwewenang. Sejauh mana pengawasan pengisian ulang / penjualan kartu pulsa bisa dilaksanakan”.. Di Belanda sampai saat ini masih selalu ditingkatkan proses pembuatan, penjualan dan pemakaiannya agar tidak disalahgunakan oleh orang-orang yang tidak berwewenang.
Foto 5. Di sisi lain dari station Yogya.
Di “belakang” bagian ruang tunggu pada foto 1, yang dipadati para calon penumpangnya. Di bagian ini tampak lebih banyak kios kecil yang menjajakan berbagai macam kebutuhan yang mungkin diperlukan oleh para calon penumpangnya.
Foto 6. Kereta yang dinantikan nampak sedang menapaki jalur rel menuju peron termaksudkan.
Kereta Rel Diesel (KRD) Prambanan Ekspres (Prameks) perlahan masuk menuju ke peron. Dari sini, kereta api ini melanjutkan perjalanan hingga Stasiun Solo Balapan. Dengan kecepatan rata-rata sekitar 100 km/jam kereta ber-ac ini jarak Yogya – Solo hanya ditempuh plus minus 45 menit saja. Untuk itu para penumpangnya diwajibkan untuk membayar ticket sekali jalan seharga tidak lebih dari Rp 20.000,- untuk Yogya-Solo (dan sebaliknya).
Kereta api Prameks ber-ac ternyata hanya beroperasi dua kali pergi-pulang dalam kesehariannya dan berhenti di station: Wates, Lempuyangan, Klaten, Purwosari, Solo Balapan, dan Solo Jebres.
Foto 7. Bapak dan ibu sedang menikmati perjalanan ke Solo
Dalam perjalanan naik Prameks, duduk di seberang kami seorang bapak dan ibu (maaf kartu namanya terselip akan saya susulkan) yang menceriterakan bahwa mereka merasa puas sekali dengan adanya kereta Prameks ini. Dengan kereta ini berarti bahwa Yogya mulai menebarkan wisata melalui jalur arkeologis dan sejarahnya paling tidak antara Station Tugu dan Solo Balapan. Di sepanjang jalur wisata arkeologis yang penuh nilai bersejarah itu dimulai dengan fasilitas untuk mengunjungi Candi Prambanan dan candi Boko dll. Hal ini juga didukung oleh pemandangan alamnya yang indah, dl, dll..Dan dengan kereta ini pula bapak dan ibu di atas bisa menikmati masa pensiunnya dengan nyaman melalui perjalanan yang cukup bagus fasilitasnya.
Mungkin teman-teman masih bisa menyaksikan sedikit tempat duduk dan lorong yang ada di samping kanan bapak tsb. Tampak betapa bersih dan terawatnya semua itu.. Yang saya tidak tahu adalah sudah berapa lama fasilitas ini dikenyam oleh para penumpangnya dan dipelihara oleh para pengelolanya. Semoga tidak hanya seperti isi yang tersirat dalam pepatah: Hangat-hangat tahi ayam. Sayang saya tidak sempat mengabadikan secara jelas fasilitas tempat duduk dan kebersihan wagon yang ada. Hal ini terjadi karena kami terlibat persilangan cerita yang sangat cukup menarik sehingga tanpa terasa sudah sampai di Solo.
Teman-teman di Baltyra, begitu kami turun dari kereta yang ditumpangi dan berjalan di peron station Solo, suara “gonggongan anjing” terdengar dari pesawat mobiele saya. Setelah dibuka tampak tertulis “Welcome”. Dan ketika pengirimnya terbaca ternyata sms itu berasal dari dimas Handoko yang sudah menanti di salah satu Peron dekat jalan keluar station Solo.. Wouwwww… Ketika melihat sosok dimas Handoko saya bisa langsung mengenalinya..Aduuuhh, terima kasih sekali dimas Handoko..Lalu sambil berjalan menuju ke latar perparkiran, dimas Handoko menceritakan apa yang sepraktisnya bisa kami lakukan untuk kunjungan yang super singkat itu. Hanya dua hari saja.
Teman-teman setelah meninggalkan station kami segera membooking kamar di salah satu hotel di Solo. Tanpa kesulitan kami mendapatkan dua kamar tidur. Dari hotel ini dimas Handoko langsung membawa kami menuju ke Museum Manusia Purba Sangiran. Itu acara trip pertama di Solo. Kemudian kami makan siang dan karena masih ada waktu menunggu sang adindanya dimas Handoko, akhirnya kami memeutuskan untuk mampir ke rumah dimas handoko dulu. Suatu kunjungan singkat yang penuh kesan. Hanya sayang sekali saya tidak sempat membuat foto dimas Handoko sekeluarga, walaupun kami sempat berkenalan dan berbincang ria dengan seluruh anggota keluarga. Trip kedua adalah kunjungan ke museum Batik Danar Hadi. Dan trip ketiga kami mengunjungi Keraton Solo dan Pasar Klewernya.
Dan…karena museum Manusia Purba Sangiran sudah pernah ditayangkan oleh mbak Linda dalam kesempatan ini saya hanya menyajikan beberapa foto yang bisa mewakili kunjungan kami ke sana.. Begitu ya dimas Handoko.
Foto 8. Dimas Handoko sedang memulai memandu kami
Entah sudah untuk yang keberapa kalinya kunjungan ke museum Sangiran ini, telah dilakukan oleh dimas Handoko. Yang jelas dimas Handoko masih tetap bersemangat ketika memandu kami untuk melihat-lihat isi museum yang ternyata cukup besar dan banyak informasi yang bisa diserap dan dipelajari oleh para pengunjungnya. Tidaklah salah bahwa pada hari yang sama juga terlihat banyak sekali murid-murid Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah yang mengunjungi museum dengan menggunakan bus-bus besar… Senangnya bisa turut melihat murid-murid sekolah dengan keceriaannya di pagi hari, dan bangga sekali mengetahui bahwa sudah sejak dini mereka diajari nilai-nilai arkeologis yang bersejarah sehubungan dengan asal muasal manusia purba di Indonesia.
Foto 9. Mengikuti jarum jam, murid SD mengunjungi museum, manusia purba dengan kehidupan kesehariannya, dan dua fosil binatang purba yang ada di sekitar Sangiran.
Sebuah situs Manusia Purba Sangiran yang bisa digunakan sebagai pusat studi untuk mengenal perkembangan peradaban dan evolusi manusia di masa lalu. Nampak dari informasi yang ada di museum ini bahwa negeri kita yang tercinta ini ternyata juga menjadi bagian dari peradaban manusia, terutama yang berhubungan dengan penduduk Indonesia, di masa silam. Dari fosil-fosil yang ditayangkan terlihat pula banyak binatang purba yang pernah berada di bumi tercinta ini.
Foto 10. Mengikuti arah jarum jam, masing-masing sibuk menikmati tayangan situs manusia purba, kehidupan sebuah keluarga, figure contoh seorang pria dan wanita dari manusia purba.
Foto 11. Tayangan perburuaan yang dilakukan manusia purba.
Foto 12. Satu sketsa kehidupan keseharian manusia purba.
Foto 13. Salah satu museum yang menjadi kebanggaan Indonesia.
Setelah berjalan melewati 3 ruang pamer museum yang tidak hanya dipenuhi dengan fosil manusia purba saja tetapi juga dipenuhi dengan berbagai fosil binatang dan tumbuhan yang ada di masa itu, kami menuju ke pintu keluar untuk mengakhiri kunjungan yang ada. Berdiri menghadap ke gedung museum terlihat betapa besar dan megahnya gedung museum Manusia Purba Sangiran. Dari penyajian dan peletakan serta cara penampilan di masa lalu itu, tampak betapa canggihnya peralatan modern seperti sistem penyinaranannya atau penyajian audio visual dll, yang sudah bisa diterapkan di sana. Sudah sepantasnya kalau museum ini bisa dibanggakan dan dipamerkan pada para toerist yang akan berkunjung ke Solo..
Teman-teman di Baltyra sambil berjalan meninggalkan museum, di “komputer” belakang kepala saya dipenuhi dengan berbagai kesan tentang museum manusia purba. Tetapi di samping itu juga timbul beberapa pertanyaan sehubungan dengan keberadaan museum itu. Terutama yang berhubungan dengan harga ticket masuknya yang super duper MURAH. Hanya Rp. 3.000,- saja. Saya tidak tahu tentang siapa pengelolaan museum ini dan saya sama sekali tidak menanyakan bagaimana museum ini dibiayai.
Seandainya biaya pengelolaan museum ini hanya dititik beratkan pada pendapatan hasil ticket masuk, saya kira sama sekali tidak masuk akal. Dalam hal ini saya kira perlu dicarikan jalan keluar yang sebaik mungkin. Misalnya dengan menaikkan harga ticket masuk, mencarikan donatuur yang setidaknya bersedia menyumbangkan sejumlah dana untuk membantu pembiayaan keberadaan dan kelangsungan museum ini. Memperbaiki kondisi jalan di sekitarnya sehingga memudahkan pencapaiannya. Semua perlu diusahakan untuk menunjang suksesnya program Pemerintah dalam memajukan program kepariwisataan di Indonesoia khususnya di Solo, Jateng.
Dari Museum Manusia Purba Sangiran ini, setelah diselingi makan siang di Hoka-hoka Bento di Solo Mall, lalu kami mampir ke rumah dimas Handoko untuk menjemput sang bekas pacarnya, zus Indrawati. Pada kesempatan makan siang, tiba-tiba saya mendapat telefoon dari adik yang kebetulan juga ada di Solo, yang akhirnya mengubah hotel tempat kami menginap (akan saya ceritakan tersendiri).
Teman-teman itu sedikit cerita kunjungan ke Museum Manusia Purba Sangiran. Setelah makan kami segera mengarahkan tujuan menuju ke Museum Batik Danar Hadi. Sampai di pelataran parker musemnya tampak banyak sekali mobil hijau dari Angkatan Darat kita. Menjejakkan kaki di pintu masuk Museum, tampak beberapa ibu sedang sibuk menata makanan kecil dalam piring-piring kue cantik.
Sampai di depan receptionist Museum diberitahukan bahwa sampai kurang lebih jam 16.30 kami tidak bisa mengunjungi Museum karena ada tamu Pangdam dari Jakarta. Wouuuwww. Setelah bertemu dengan ibu A.S.Astuti dan menjelaskan keterbatasan waktu yang ada, akhirnya kami diberikan kesempatan untuk kembali lagi kurang lebih pada jam 16.30, setelah kunjungan Pangdam selesai.
Sore harinya setelah menjemput zus Indrawati alias nyonya Handoko, pada jam yang telah disepakati bersama, kami kembali ke Museum. Ternyata di pelataran parker masih tampak kesibukan yang luar biasa, karena semua sedang bersiap dengan kepergian anggota rombongan Pangdam tersebut. Setelah menunggu, menunggu dan menunggu.. Akhirnya pada jam 17.15 kami bisa memarkir mobil di pelataran parker museum yang ada. Aduuuhh, leganya…Tetapi juga khawatir bahwa museum sudah tutup.
Lalu kami mendatangi receptionist untuk membeli ticket masuk seharga Rp30.000,- per orang. Memasuki ruang museum, tampak ibu Astuti mendatangi kami dan menyampaikan permintaan maafnya atas kelambatan yang ada. Dan untuk sementara disela kesibukannya beliau masih sempat mendampingi kami. Selanjutnya dengan dipandu oleh salah seorang petugas museum yang masih muda tetapi sangat professional dalam mengemban dan melaksanakan tugasnya, kami berjalan perlahan menjejakan kaki mengikuti lorong-lorong yang disisi kanan kirinya dipenuhi dengan berbagai macam motief, corak, warna dan sejarah batik-batik yang diperagakan.. Ketika mulai melihat batik-batik yang dipamerkan, mata ini seolah hampir meloncat keluar.. Melihat tidak hanya betapa banyaknya batik yang bisa dinikmati keindahan dan kemewahannya tetapi juga melihat betapa bervariasinya motief, warna, jenis kain serta cerita filosofis dan latar belakang tentang batik-batik tersebut….
Foto 14. Pengaruh Eropapun terasa dalam perbatikan di Indonesia
Foto 15. Motif dalam batik dilukiskan tidak secara abstrak lagi
Foto 16. Pengaruh warna seperti, merah, ungu, rose, oranye yang cerah nampak dalam batik Eropa
Foto 17. Masih dengan pengaruh Eropanya
Foto 18. Penampakan binatang, seperti burung, naga dan binatang malam terdapat dalam batik dengan pengaruh Eropa.
Dua pelukis batik berikut ini menggunakan latar belakang Perang Diponegoro dan Perang Lombok dalam sajian motiefnya. Indah dan lebih cerah.
Foto 19. Batik dengan latar belakang Perang Diponegoro
Foto 20. Batik dengan latar belakang Perang Lombok
Warna dasar dalam batik yang terlihat sangat dipengaruhi antara lain dari asal daerah dan para pemiliknya. Salah satu perbedaan warna yang mendasar dalam batik klasik adalah penggunaan warna putih dan warna coklat kekuningan.
Foto 21. Motief klasik dalam batik Jateng
Foto 22. Dua motief yang besar fungsinya dalam rituil pernikahan tradisionil Jawa
Foto 23. Dua motief yang digunakan dalam salah satu upacara pernikahan Keraton secara tradisionil
Foto 24. Motief klasik lainnya
Foto 25. Ada kemiripan dengan sebelumnya tetapi tetap berbeda
Foto 26. Zus Indrawati dan dimas Handoko sedamg mengagumi kreasi yang ada
Foto 27. Batik Madura dengan warna merahnya yang khas
Foto 28. Warna merah yang indah menawan
Foto 29. Batik dengan motief khusus
Foto 30. Motief burung, binatang laut sering digunakan dalam corak batik yang ada
Foto 31. Batik Pecinan
Foto 32. Batik pecinan dengan motief bunya eropanya yang besar-besar
Teman-teman di Baltyra, kalau kitaa berjalan menelusuri lorong yang ada, tampak juga sejumlah kain batik yang merupakan sumbangan dari beberapa pemilik batik lainnya.
Teman-teman sesungguhnya saya masih memiliki beberapa puluh foto batik yang saya sempat jepretkan di Museum Danar Hadi ini. Hanya mengingat tempatnya yang saya kira tidak memungkinkan untuk memuatnya mungkin dalam kesempatan lainnya akan saya tayangkan sehubungan dengan cerita Solo lainnya…
Semoga anda bisa menikmatinya dan ijinkanlah saya untuk berterima kasih pada Ibu Astuti yang sudah memberikan waktu khusus pada kami untuk turut menikmati keindahan dan kemegahan seni Batik Indonesia..
Untuk kali ini, tot spoedig…
Pages: [14] 13 12 11 10 9 8 7 6 5 4 … 1 »
Pages: [14] 13 12 11 10 9 8 7 6 5 4 … 1 »
May 5th, 2012 at 23:09
Mbak Nuk .. aku pecinta Pramex lho , hampir kalo balik yogja dari purworejo ato sebaliknya naik KA ini , asyiik dan nyaman .. tapi blum pernah nyampe Solo .. Seneng banget baca tulisan mbak .. jadi pingin ke main ke Sangiran dan musium Danar Hadi .. batik memang the best dahhh…
Salamku buat dikau mbak NUK ..
May 5th, 2012 at 03:17
Ha, ha, haaa… Dimas ISK né nggak muncul..Jik sibuk karo urusan dalam negerinya.. Nek saiki jik podo sare kabeh… Mung panjenengan aé sing jik ngedhan… Dhudhuk edhan lho yoooo… NGEDHAN….
May 5th, 2012 at 03:03
MBAK NUK : wakakak…..mbak Nuk dadi mumet……opo malah migraine-e kumatttttt????? krn tiap kali Dewi dpt angkat keramatnya…..ISK kdg menimpali ya udah nanti aku dpt 96 hahahah……..koyok main lotere buntutan wae ya mbak????