Rivka

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta

 

BOLEHKAH umat Yahudi hidup dan beribadah dengan bebas di Indonesia seperti pemeluk agama lain? Samakah umat Yahudi di manapun termasuk yang di Surabaya dengan negara Israel yang meyoritas beragama Yahudi? Apakah kita toleran dengan penganut agama Yahudi di Indonesia?

Saya mencoba mencari-cari jawaban itu ketika datang ke sebuah sinagog di Jalan Kayun, Surabaya yang dibangun oleh Joseph Ezra Izaak Nassiem tahun 1948, dan berbincang sejenak dengan Ibu Rivka Sayers. Sinagog itu pernah diserbu sekelompok orang dan mereka menyegelnya atas tuduhan yang tidak diperbuat oleh umat Yahudi di kota itu, yang jumlahnya sangat kecil.

 

109 Comments to "Rivka"

  1. IWAN SATYANEGARA KAMAH  13 July, 2013 at 19:20

    Mas OKI, memang benar spt yg dikutip diberbagai media. Cuma kok saya jadi sangsi apakah itu benar? Karena dr segi .bagunan, bangunan itu termasuk cagar budaya, lepas dr sebuah sinagog atau bukan.

    Fenomena Walikota Surabaya yang menurut public dan media “Jokowi” saya tidak sepenuhnya bias membuktikanya. Minimnya perawatan hewan di KB Surabaya dan runtuhnya sinagog ini adalah bukti bahwa sang walikota belum bias dipuji setinggi Jokowi.

    Salam.

  2. Osa KI  13 July, 2013 at 16:15

    Mas ISK,
    Saya kaget berat habis baca tulisan Sophie Mou di blognya bahwa sinagog di Jl. Kayon ini sekarang sudah rata dengan tanah. Lenyaplah sudah saksi terakhir sejarah peradaban Yahudi di surabaya.
    Saya heran kok Bu Risma (Walikota Surabaya) membiarkan hal ini ya, kenapa tidak didaftarkan jadi bangunan cagar budaya?!

    Salam,
    Osa KI

  3. anoew  31 May, 2013 at 05:55

    Oooh, jadi dibongkar akhirnya? Sukurlah, berarti gerbang syurga terbuka lebar dan, mereka yang membongkar bangunan itu kelak akan sibuk dan disibukan dengan bidadari yang tetap perawan, tak berkeringat bahkan kencing pun tidak. Horeeee..!

  4. IWAN SATYANEGARA KAMAH  30 May, 2013 at 22:02

    Gelooo…bener dibongkar sinagog ini akhirnya…. Terima kasih selogiri atas informasinya.

  5. selogiri  22 May, 2012 at 10:57

    wah saya telat nih nih..apakah sinagognya dapat dikunjungi untuk umum pak iwan ?

  6. IWAN SATYANEGARA KAMAH  11 May, 2012 at 07:39

    Ntar ah dibales-balesin sambil sudrun-sudrunan, soale lagi di jalan…

  7. anoew  11 May, 2012 at 07:38

    Lani, hahaha.. Lha ini lagi nyelup, makanya jejeg meski kadang bengkok.

  8. Lani  11 May, 2012 at 01:43

    KANG ANUUUUU : habis mengunjungi/dikunjungi oleh sang istri tercinta…….jejeg apa malah kumat disini????? kkkkk……tuh komentarnya beruntun dumeh utk mencapai 100

  9. Dj.  11 May, 2012 at 01:30

    Mas Iwan…..
    Salut dengan artikel diatas……
    Sayang mas Iwan kurang berani untuk menjawab ppertanyaan….
    ” Bolehkan umat Yahudi hidup dan beribadah di bumi Indonesia, seperti umat agama lainnya….??? ”
    Karena R.I. menganut dasar Pancasila, maka seharusnya mas Iwan biisa menjawab dengan tegas ” YA !!! ”
    Mengapa, karena dalam undang-undang di Indonesia, tidiak ada resmi tertulis, larangan untuk beribadah, apapun agama yang ada di Indonesia.

    Justru antara Yahudi dan Islam, seharusnya saling mengerti, karena mereka keturunan dari satu orang yang bernama ABRAHAM atau IBRAHIM.
    Hanya yang satu beribukan HAGAR dan yang satunya beribukan SARA ( SARAI ) dan dua-duanya percaya 1 ALLAH , yaitu Allah Abraham atau Ibrahim.
    Soal Israel, itu hanya soal poliitik, dimana Agama meraka jual.
    Walau Dj. bukan Yahudi dan bukan juga Islam, tapi dengan membaca sejarah, maka kita bisa mengerti.
    jangan asal kata Kiayi atau Ustad atau Ppendeta saja

    Terimakasih mas Iwan, satu artikel yang sangat bagus untuk sama-sama direnungkan, apapun agama kita.
    Semoga TUHAN mencelikan mata hati kita dan mengerti akan kehendakNya.
    Cium sayang untuk Melati dan Mawar.
    Shalooooom….!!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.