Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta
BOLEHKAH umat Yahudi hidup dan beribadah dengan bebas di Indonesia seperti pemeluk agama lain? Samakah umat Yahudi di manapun termasuk yang di Surabaya dengan negara Israel yang meyoritas beragama Yahudi? Apakah kita toleran dengan penganut agama Yahudi di Indonesia?
Saya mencoba mencari-cari jawaban itu ketika datang ke sebuah sinagog di Jalan Kayun, Surabaya yang dibangun oleh Joseph Ezra Izaak Nassiem tahun 1948, dan berbincang sejenak dengan Ibu Rivka Sayers. Sinagog itu pernah diserbu sekelompok orang dan mereka menyegelnya atas tuduhan yang tidak diperbuat oleh umat Yahudi di kota itu, yang jumlahnya sangat kecil.
Pages: « 11 10 9 8 7 6 5 4 3 [2] 1 »
Pages: « 11 10 9 8 7 6 5 4 3 [2] 1 »
May 3rd, 2012 at 13:48
ISK : top pakar dan prof dirumah kita……..syalom
AKI BUTO & HAND : kalian jg langsung pinter pakai HEBREW…….wah, jian yg duwe IQ diatas 150……..
TAMMY : kmrn minta sumbangan ticket pesawat………skrg minta disumbang COMPUTER……..walah dalah warakadaaaah…….kkkkkkk
May 3rd, 2012 at 13:46
Oh..ternyata menjadi ajang linguistik Ibrani… Hahahaha…
Mas Handoko, terima kasih penggalan kalimat dalam bahasa Ibrani. Saya berusaha menerjemahkan secara nalar karena mirip bahasa Arab. Kata-kata seperti /shevet/ mirip /syafaat/ dalam bahasa Arab yang maknanya (bukan arti leksikal) mengandung kebersamaan, kegunaan. Kata /yahad/ sama dengan /yahud/, artinya bersatu dari asal kala /ahad/ atau /ehud/ dalam bahasa Ibrani.
Terima kasih.
May 3rd, 2012 at 12:30
Kol Hakavod!
May 3rd, 2012 at 12:27
Artikel yang menarik, sebaiknya saya share di laman fb.
tapi saya ras,a rasa ingin tau saya kurang urgen dibnding isi tulisan ini.
Hmm….. saya tiba-tiba penasaran juga berapa banyak ya komentar yang kontra dengan tulisan ini hehehe….
Terlepas dari yahudi atau bukan, seperti kata silvia, manusia tidak bisa memilih akan jadi apa kelak saat dilahirkan.
Tindakan yang didasari akan kebencian sungguh tidak menyenangkan, semoga damai selalu di Indonesia.
Salam.
May 3rd, 2012 at 11:48
Katanya sih, negara menjamin kebebasan beribadah warganya untuk menganut dan menjalankan kepercayaannya sesuai UUD’45 ayat sekian pasal sekian dan P4 butir sekian. Katanya.
Pertanyaan yang sama adalah, samakah umat kristen / hindu / budha / islam di manapun dengan di belahan bumi ini dalam hal keyakinan mereka? Katanya sih, sama. Katanya lhooo..
Katanya sih, duluuuuuuu kita ini sangat toleran, ramah, rukun dan saling menghormati. Saya pernah baca bukunya yang katanya begitu, juga pernah mendengar cerita katanya seperti itu. Katanya lho ya, katanya..
May 3rd, 2012 at 11:15
Artikel yang menarik…. =)
May 3rd, 2012 at 10:43
Selamat rapat, Mas.
May 3rd, 2012 at 10:40
Oh Silvie, sepaham. Saya selalu pakai helm kok…hahahaha…komentara kasar yg tidak dimuat selalu di cc ke saya oleh admin. Isinya serem….
Nanti di sambung ya… Mau ada pertemuan dulu dengan rekan kerja.
Daaag Vie..
May 3rd, 2012 at 10:36
Artikel bagus Mas Iwan.
Siap2 pinjam helmnya Magento? Takut ada yg lempar bata seperti artikel Ave Maria tempo hari
May 3rd, 2012 at 10:34
Terus terang saja tahun2 terakhir ini saya sebetulnya gatal deh kalau melihat:
a. Ada yg pasang berita seseorang ganti baju ke agama dia. Sy sebenarnya iseng mau lihat apa reaksi dia dan teman2 dia kalau saya pasang hal yg sama ttg seseorang yg meninggalkan agama dia dan beralih keagama lain?
b. Kalau ada yg pasang berita/video ttg penganiayaan ttg bangsa yg seagama dg dia. Kalau saya pasang berita2 ttg mereka yg seagama dengan dia dan menganiaya mereka yg diluar agama dia…..apa reaksi mereka?
Saya cuma mikir begini:
a. Apakah ada yg bisa pesen duluan sebelum dia dilahirkan dia mau dilahirkan sebagai suku apa, keluarga beragama(kalau beragama agamanya apa)/tidak supaya aman dan diterima oleh lingkungan?
b. Apakah ada yg menjamin kalau kaum agamanya dan suatu bangsa tertentu itu 100% baik2 semua. Pencinta damai semua?
Saya cuma bersyukur saja bahwa sampai hari ini saya masih boleh ketemu orang2 dengan ras yg berbeda2, agama yg berbeda2, mereka yang agnostik dan ateis yang punya hati besar dan mau menerima perbedaan dengan hati lapang. Jadi pada akhir hari, saya cuma bilang ” tunjukkan dengan buah2 kehidupanmu. Ga usah perdulikan orang lain bgmn” dan nahan diri utk tidak merespon dengan hal2 diatas yg sebetulnya mengusik hati saya…….