Pesawat Kertas

Awan Tenggara

 

Rumah tua yang terletak di sudut kampung itu menyimpan sejarah yang tak pernah bisa untuk kau lupakan. Saat dulu usiamu masih 8 tahun, kau sering bermain di pelatarannya yang luas. Euforianya terasa di ketika musim hujan tiba. Kolam kecil di belakang rumah itu selalu menampung banyak telur katak. Bersama teman-temanmu kau kerap menampung kecebong-kecebong yang menetas dari telur itu ke dalam toples-toples kaca, memperhatikannya berlama-lama. Lalu mengalirkannya ke got-got sesudah kalian merasa bosan.

Namun hal yang paling tak bisa kau lupakan dari rumah itu tentulah kenangan tentang pesawat kertas. Kau begitu suka memainkannya, demikian pula teman-temanmu. Dalam membuatnya kau tak begitu pandai, pesawatmu sering terbang timpang, bahkan langsung jatuh di saat pertama kali kau lesatkan. Hanya satu temanmu yang sangat jenius dalam membuatnya, dia bernama Karim—bocah yang lebih tua dua tahun darimu dan juga adalah pemilik rumah tua tempat kau suka bermain itu.

Karim tak pernah suka padamu, itulah yang selalu menjadi masalahmu. Kau tahu sendiri, ia selalu mengusirmu dari pelataran rumahnya saat tahu kau sedang ada di sana bersama teman-temanmu. Barangkali ia merasa benci padamu karena dulu ibunya pernah ketahuan selingkuh dengan ayahmu. Namun kau selalu tabah ketika menerima segala perlakuan buruk darinya. Kau selalu tersenyum. Tak peduli berapa kali ia menghinamu dan memanggilmu “monyet”. Karena sepertinya, kau terlanjur jatuh cinta pada halaman rumahnya yang luas itu.

Dari jendela samping rumahnya, ia sering melesatkan pesawat-pesawat kertas buatannya hingga melewati atap rumahmu yang terletak tepat di depan jendela itu dan hanya dipisahkan oleh sebuah jalan kecil. Kelihainnya membuat pesawat kertas selalu membuat teman-temanmu—bahkan dirimu—kagum. Ia pandai membuat jenis pesawat yang bisa meliuk-liuk, terbang yang seperti boomerang, atau bahkan melesat lurus dengan tajam. Itu seperti bakat yang sengaja ditanamkan Tuhan ke dalam dirinya. Tak jarang jenis pesawat buatannya yang bisa melakukan manuver tajam menabrak kepalamu. Hal itu sering terjadi padamu. Dan akhirnya kau sadar bahwa semua itu adalah perlakuan Karim yang bukan tidak disengaja.

Suatu hari kau berlatih keras untuk membuat pesawat yang bisa melakukan manuver seperti buatan Karim. Hingga suatu hari saat kau akan pindah, akhirnya kau berhasil membuat pesawat seperti keinginanmu. Pesawat itu bisa melesat cepat dan membentur tepat ke kepala Karim saat kau terbangkan sebelum akan memasuki mobil yang mengangkut barang-barang orangtuamu untuk dipindah ke rumah baru. Usiamu ketika itu sudah 12 tahun, dan Karim 14 tahun. Ia langsung mengutukmu begitu tahu pesawat yang mengenai kepalanya itu adalah pesawat yang kau buat dan terbangkan. Karim spontan mengambil dan meremasnya. Sebelum ia membuangnya dengan melempar kembali ke arahmu, dia menyadari sesuatu yang ada pada pesawat kertas itu, sekumpulan huruf-huruf besar yang ditulis dengan tinta merah—tulisan tanganmu.

Kau tersenyum begitu tahu ia serius membacanya, kemudian menatapmu dengan gentar dari jendela lantai dua rumahnya saat kau pelan-pelan memasuki mobilmu. Apa kau ingat tulisan yang dulu kau tulis dengan tinta merah pada pesawat kertas di tangannya itu? Tulisanmu itu berbunyi : “KELAK AKU AKAN MEMBUNUHMU.”

                               ***

Kau lulus cumload sebagai seorang sarjana kimia di universitas negri paling bergengsi di Jakarta. Setelah itu kau meniti karir sementara di sebuah perusahaan makanan kecil dan akhirnya memilih resign untuk menjadi seorang pengusaha mandiri. Kau pun berhasil, kau menjadi seorang pengusaha yang terkenal dan akhirnya menikah.Bertahun-tahun kau bahagia tanpa menyesal bahwa saat kau menjadi seorang mahasiswa dulu, sebenarnya kau pernah melakukan sebuah dosa besar.

Kau begitu saja menjalani hidupmu dengan penuh tawa dan tak mempedulikannya, apalagi ketika kau tahu kabar tentang kasus kematian seseorang yang sangat misterius telah kadaluarsa, kematian seorang lelaki berusia 25 tahun di lantai dua sebuah rumah tua di kampung halamanmu dulu. Jelas saja kau senang, karena lelaki yang meninggal itu adalah Karim. Satu-satunya orang yang kau benci di dunia ini karena sering menganiayamu saat kau masih kecil dulu. Karena terkenal sebagai orang yang urakan, keluarganya mengira kematian Karim merupakan azab dari Tuhan, bahkan istrinya sendiri juga berfikir seperti itu.

Wajah Karim tampak tenang ketika meninggal, tubuhnya dipenuhi aroma buah persik dengan pesawat kertas yang banyak di sekujur tubuhnya. Itulah kejanggalan yang mereka kira adalah perbuatan Tuhan. Pesawat kertas itu, jika dihitung jumlahnya tentu akan sama dengan jumlah pesawat yang dulu diterbang dan benturkan Karim ke kepalamu. Kau tak lupa kan? Kau selalu mencatat hari di mana Karim membenturkan pesawat kertasnya ke kepalamu. Hingga muncul hari itu, kau membunuh Karim dengan asap sianida di malam hari ketika semua orang terlelap, ya, kaulah yang membunuhnya. Itulah dosa besarmu. Ketika itu kau sengaja pergi dari Jakarta dan berangkat ke kampung halamanmu, mengendap-endap di rumah tua tempat kau menghabiskan masa kecilmu seperti seorang maling hanya untuk membunuh Karim. Kau berhasil, apalagi ketika keluarganya menolak kehadiran pihak kepolisian yang akan melakukan autopsi. Kau merasa seperti seorang pemenang.

Namun apa kau tahu, anakmu, anak lelaki lucu yang kau pungut dari jalan dan kau angkat sebagai anakmu itu dulu adalah bayi berusia tiga bulan yang tujuh tahun lalu tidur nyenyak di lantai bawah bersama neneknya saat ayahnya kau bunuh dengan racun di lantai atas. Dia diculik oleh seseorang dan dijual ke Jakarta saat usianya tiga tahun. Kini kau memungutnya karena iba, kau juga menyayanginya seperti anakmu sendiri karena istrimu tak bisa memberimu keturunan. Sebaiknya memang harus demikian. Kau tidak perlu tahu kalau dia adalah anak dari Karim. Demikian juga dengan anak itu, dia tidak perlu tahu bahwa kau adalah orang yang telah membuatnya menjadi seorang yatim.

Ini sesuatu yang indah, kau harus merawat dia baik-baik dengan tidak saling mengetahui rahasia dalam hidup kalian masing-masing. Paling tidak, ini akan menjadi kesempatan yang baik untuk menebus dosa-dosamu. Bukankah begitu, Suwarna? Teruslah hidup dengan menjadi seorang ayah yang baik, karena kami juga akan terus mencatat semua amal perbuatanmu dari dalam dada kanan dan kirimu. Siapa tau kelak kau bisa masuk ke surga. (*)

 

Bekasi, 2011

 

11 Comments to "Pesawat Kertas"

  1. Kornelya  5 May, 2012 at 04:55

    Waduuh, dendam masa kecil, kok sampai membunuh. Cerita bagus, tentang seorang pendendam. Salam.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.