Saturday, 5 May 2012
Endah Sulwesi
Pagi tadi, ketika matahari belum sampai di puncak langit, aku memenuhi janjiku untuk menjengukmu di Karet. Cuaca seperti bersahabat, tak terlalu terik berkat selapis awan kelabu di langit. Karet masih lengang. Tak banyak peziarah yang berkunjung. Aku bersama dua orang sahabatku, Kef dan Titik, yang juga diam-diam menyimpan cinta kepadamu, berlenggang menuju pusaramu. Di sana sudah ada Evawani, putri tunggalmu yang kautinggalkan ketika ia belum genap berusia 2 tahun. Kenangannya tentangmu hanya tersisa sedikit saja. Di antaranya tentang permintaanmu padanya untuk memanggilmu “Chairil” saja, bukan bapak atau papa. “Sebab, aku kan masih muda,” alasanmu.
Bahagia sekali kami bisa bertemu dengan seseorang yang pernah menjadi bagian hidupmu, meski dia juga memperoleh pengetahuan tentangmu lewat bacaan, guru-gurunya di sekolah, para tetangga, dan Hapsah, ibunya. Istrimu.
Evawane Alissa, konon itu awal nama yang kauberikan pada putrimu itu. Tetapi kemudian oleh Hapsah diganti menjadi Evawani agar tidak berkesan seperti orang Manado, katanya. Kau memanggilnya dengan nama kesayangan: Iip. Ia kini menjadi notaris dan memiliki 3 orang anak. Kalau kau masih hidup, apakah kau juga akan meminta mereka memanggilmu Chairil dan bukan kakek atau opa?
Lalu, kami bergantian membacamu, Chairil. Dimulai dari Kef dengan “Doa”. Kemudian Eva dengan puisi favoritnya: “Senja di Pelabuhan Kecil.” Aku mendapat giliran ketiga dengan “Derai-Derai Cemara” sebelum Titik yang memilih “Karawang-Bekasi”. Apakah kau mendengar kami, Chairil?
Eva kemudian pamit karena harus membesuk seorang kerabat yang sakit. Kami bertiga melanjutkan ziarah dengan membaca sekelumit doa buatmu. Memohon pada Tuhan yang membuatmu tak mampu berpaling itu, untuk mengampuni dosa-dosamu, hei Binatang Jalang. Kami juga meninggalkan empat tangkai mawar merah, tiga ikat anggrek ungu, dan menabur bunga rampai di pusaramu. Maaf, karena kami bukan perokok, kami tidak membawakan kretek favoritmu.
Ketika kami hendak menyelesaikan urusan denganmu, tiba-tiba kami sadar, sedari tadi ada 6 makhluk mungil (pinjam istilah Katyusha) yang terus memperhatikan dengan minat dan rasa ingin tahu.
Apakah kau kecewa saat mengetahui ternyata mereka, bocah-bocah kelas 5 dan 6 SD itu, tidak mengenalmu dan lebih mengenal Husni Thamrin yang terbaring tak jauh dari tempatmu? Tapi jangan khawatir, sekarang mereka sudah mengenalmu, walaupun baru sedikit. Kau pasti tahu tadi mereka bergantian membacakan sajak-sajakmu, kecuali 1 orang, Apri namanya, yang tak bisa membaca karena putus sekolah. Kami sedih melihat tatapan irinya ketika menyaksikan teman-temannya satu per satu membawakan puisi-puisimu.
Akhirnya, kita harus menyudahi pertemuan ini, Chairil. Jika mendadak merindukanmu, kami akan membuka kembali buku puisimu dan membacamu lagi.
Karet, 28 April 2012
May 7th, 2012 at 14:20
Aku ingat Chairil Anwar ketika ada tugas mengupas tuntas tentang Chairil waktu SMP dulu, di pelajaran Bahasa Indonesia, pas di bagian sastra Indonesia modern…
May 5th, 2012 at 08:41
Aku pernah bawakan Balada Atmo Karpo.