Josh Chen – Global Citizen
Karena artikel pak Handoko yang berjudul Sawit: Berkah atau Kutukan (http://baltyra.com/2012/05/03/sawit-berkah-atau-kutukan/), dimana diskusinya berkembang ke arah konsumerisme, saya mencoba sedikit mengupas tentang jenis atau tipe pembelanja.
Apa yang menjadi motivasi Anda membeli sesuatu? Lebih spesifik lagi, apa yang membuat Anda membeli pisau cukur Gillette? Dari mana Anda kenal merek tsb? Apa yang membuat Anda membeli pasta gigi Pepsodent? Sikat gigi Formula? Bahkan barang-barang pribadi seperti celana dalam merek tertentu, atau pembalut wanita merek tertentu?
Ternyata FAMILY atau keluarga lah yang memegang peranan penting seseorang develop kebiasaannya dalam membeli sesuatu. Terbagi menjadi 2, yaitu Family of Orientation dan Family of Procreation.
Family of Orientation
Peran keluarga dalam membentuk seseorang semenjak kecil, kesukaan akan sesuatu, pandangan politik, pilihan agama, gengsi, cara pandang dan cara pikir; semua ini terbentuk dan terasah ketika seseorang masih kecil, lahir, tumbuh dan besar di satu keluarga. Dalam masyarakat Indonesia terutama, mayoritas pemilihan agama sudah ditentukan semenjak seseorang itu lahir. Keluarga Muslim biasanya seluruh anggota keluarga akan menjadi Muslim juga, demikian juga halnya keluarga Katholik, biasanya secara ‘otomatis’ anak-anaknya ketika besar akan menjadi pemeluk Katholik juga. Sama halnya satu keluarga di Amerika, jika dalam pandangan orang tuanya adalah Demokrat, most likely, pandangan politik ini akan ‘diwariskan’ ke anak-anaknya.
Cara pandang dan cara pikir yang dibawa sejak lahir, sampai dewasa akan terus melekat dan susah hilang begitu saja. Keluarga dengan latar belakang budaya, etnis atau suku tertentu, masih ada saja yang memberikan cap atau stigma kepada suku yang lain bahwa “suku A itu gini” atau “suku B itu gitu”. Inilah biasanya yang terbawa sampai kita dewasa. Sadar tidak sadar, ini terjadi dan masih terjadi serta akan terus terjadi, terkecuali kita sebagai orang tua berusaha memutuskan ‘rantai prejudice’ dan ‘rantai stereotype‘ tsb.
Family of Procreation
Merek apa celana dalam yang Anda pakai sekarang? Merek sabun mandi yang Anda gunakan? Merek apa pasta gigi Anda tiap hari? Sikat gigi? Pembalut wanita? Shampoo? Ingatkah Anda dari mana kenal merek-merek tsb dan sejak kapan Anda menggunakannya? Sudah hal yang jamak jika orang tua pun ‘menurunkan’ atau ‘mewariskan’ hal-hal semacam ini kepada kita anak-anaknya. Waktu kecil kita kenal pasta gigi tertentu jelas dari orang tua kita. Sadar tidak sadar, sampai sekarang pasta gigi yang Anda gunakan masih merek tsb. Memang ada dari kita yang dengan sadar ganti merek di saat kita sendiri sudah bisa menentukan pilihan sendiri. Dan banyak juga di antara kita yang ‘memutuskan’ rantai ‘warisan’ tadi ketika kita sendiri menjadi orang tua seperti sekarang ini.
Bukan hal aneh jika waktu Anda menjelang remaja dan mendapatkan menarche (mens pertama) kemudian Ibunda Anda memperkenalkan pembalut kepada Anda, tentu saja merek tertentu. Walaupun kemudian kebanyakan dari Anda sudah mengganti merek lain dari merek yang diperkenalkan berpuluh tahun lalu oleh Ibunda, tapi saya cukup yakin bahwa merek itulah yang sekarang Anda beli, yang Anda juga ‘wariskan’ kepada anak-anak remaja putri Anda sekalian. Demikian juga ‘jeroan’ alias pakaian dalam, baik itu celana dalam (baik cowok atau cewek) atau bra, tidak mungkin Anda membeli lain merek untuk anak-anak Anda berbeda merek dengan yang Anda kenakan sekarang. Inilah yang disebut dengan “family of procreation”, yang mewariskan, meneruskan kepada anak-anaknya, kebanyakan secara tidak sadar, hanya dilakukan secara otomatis begitu saja mengalir dalam kehidupan kita sehari-hari.
Lifestyle
Kita semua tahu arti lifestyle, gaya hidup, yang kurang lebih bisa dijabarkan sbb: a lifestyle is the person’s pattern of living in the world as expressed in activities, interests and opinions. Lifestyle portrays the ‘whole person’ interacting with his or her environment. Lifestyle sendiri terbagi menjadi 2 golongan besar, yaitu penganut lifestyle tertentu dengan kemampuan finansial yang kuat dan golongan satu lagi adalah dengan kemampuan finansial yang lebih umum atau menengah dalam masyarakat.
Golongan dengan kemampuan finansial kuat:
Sementara dengan kemampuan finansial yang lebih umum:
Actualizers
Golongan dengan kemampuan yang sangat lumayan, dengan ciri-ciri: sukses, sophisticated, aktif, biasanya jadi trend-setter di kalangannya. Dan ciri yang paling menonjol adalah kegemarannya membeli barang bermerek, memiliki kelas tersendiri, bahkan niche products kebanyakan menjadi incarannya.
Banyak sekali eksekutif muda dengan gaya seperti ini, bisa dilihat dari apa yang dikenakannya, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Kalau pria, gaya rambut salon kelas wahid, sisiran mengikuti mode, wangi parfum berkelas, kemeja licin berlogo di sakunya, bahkan bermanset, celana rapi dari rumah mode terkemuka, ikat pinggang bergesper ternama, sepatu mengilat dari butik, handphone atau BlackBerry type terakhir, laptop hi-end dalam tentengan, besutan Nissan 350Z, Skyline GTR atau Toyota Supra bukan hal yang istimewa.
Fulfilleds
Merupakan kelompok yang lebih mapan, biasa lebih matang dalam hal usia, kepuasan tersendiri atas pencapaian tertentu. Ciri-cirinya adalah tidak melihat merek adalah segala-galanya, lebih cenderung memilih karena value dan kualitas yang ditawarkan suatu merek, fungsi dan yang terpenting adalah harus memiliki alasan yang kuat untuk melakukan pembelian. Kebanyakan dari mereka ini membeli karena BUTUH bukan lagi karena INGIN.
Achievers
Sukses dalam hidupnya, baik karir maupun bisnis. Menyukai merek yang sudah mapan sekaligus bergengsi. Pulpen Mont Blanc tersemat di saku, kacamata Cartier nangkring manis di hidungnya, semerbak halus Bvlgari, C-Class terbaru dari Benz mengantarnya menempuh keseharian.
Experiencers
Kelompok ini biasanya kalau tidak para penerus kerajaan bisnis orangtuanya, atau anak-anak salah satu dari 3 golongan di atas, yang menginjak masa remaja, sekitar masa SMA dan kuliah. Dengan ciri sedikit pemberontak, impulsive, antusiasme tinggi dan usia muda belia. Mereka menghabiskan sebagian isi kantong atau dompetnya adalah untuk menjelajahi tempat makan baru dan bergengsi, clubbing di tempat-tempat elite, fashion dengan mode yang tidak bisa ditebak arahnya, berganti handphone seperti berganti kaos kaki, selalu up-to-date dengan segala perkembangan musik, film dan gadget terbaru.
Believers
Ciri-ciri yang kelihatan adalah kelompok ini cenderung memilih merek atau produk yang sudah sangat dikenal dan mapan, konservatif, konvensional dan cenderung tradisional. Contohnya adalah para pecinta mobil Kijang. Apapun yang terjadi, kecenderungan untuk selalu membeli atau berganti mobil yang sama akan terus terbawa dalam keputusan-keputusannya membeli mobil untuk keluarganya. Mereka percaya mobil tsb memiliki nilai jual lagi yang tinggi, cocok untuk keluarga, reliable, dsb.
Strivers
Golongan inilah sebenarnya yang menjadi sasaran bidik paling empuk para marketers yang memanjakan dengan banyak kemudahan kredit, gaya hidup yang seakan wah, kemewahan dan gengsi semu yang berada di balik perangkap besar kartu kredit, personal loan, kredit tanpa agunan (KTA), kredit konsumen, dsb apapun itu namanya.
Mayoritas masyarakat ada di tipe ini, bukan di Indonesia saja, tapi di mana-mana. Masyarakat yang hidup sehari-hari mengandalkan gaji semata, baik yang upah minimum sampai dengan menengah sedikit atas. Dalam bahasa Jawa bisa disebut kemrungsung alias selalu terpicu pembelanjaan secara impulsif, mencari pengakuan dari lingkungan sekitarnya, ingin bergaya tapi kenyataannya adalah kemampuan finansial yang belum sampai di situ. Dan memang godaan terbesar adalah membatasi diri sendiri antara butuh dan ingin.
Merek palsu selalu memiliki pangsa tersendiri, dengan istilah KW1, KW2, dst, kemudian kemudahan lembaga-lembaga keuangan (leasing, BPR = Bank Perkreditan Rakyat), bank, bahkan rentenir akan selalu menemukan para penggemarnya untuk memenuhi nafsu pembelanjaan yang sebenarnya di luar kemampuannya.
Makers
Tipe ini adalah orang-orang yang berpikir praktis, bahkan pragmatis, orientasi kuat ke keluarganya, lebih memilih produk yang sesuai dengan fungsinya dibanding gengsinya.
Strugglers
Kelompok ini biasanya adalah para manula yang menggantungkan hidupnya kepada orang lain, bisa anaknya, keluarga atau saudara yang lain, atau mungkin yang tinggal di rumah tua. Lain halnya dengan golongan usia lanjut yang sudah memiliki dana pensiun atau persiapan untuk hari tua entah dengan asuransi, investasi, dsb, sehingga tidak memiliki hambatan yang berarti dalam memenuhi kebutuhan diri sendiri. Para usia lanjut ini biasanya sangat loyal terhadap produk dari merek tertentu, bahkan cenderung fanatik.
Termasuk yang manakah Anda?
May 7th, 2012 at 10:19
Silvia: memang kita tidak akan mungkin stay di satu kategori/kelompok lah…hehehe…kadang shifting sana sini…
lha ya untung lah…(Jawa tenan…
)
May 7th, 2012 at 09:45
Masuk kelompok yang mana ya saya dan suami ini?
Yang jelas setuju sama kata Nia bahwa barang yg kualitasnya bagus biar harga lbh tinggi dibanding yg sejenis ya gpp. Contoh: saya ini sudah males ngegerutu utk hal2 yg sepele. Nah gelas di rumah itu satu persatu pecah. Kalau beli yang harganya agak mahal pecah karena keteledorn manusia yang seharusnya tidak terjadi, kesel juga kan
Akhirnya pas ke I**a saya beli gelas baru setengah lusin utk coba2 dulu. Tidak sampai seminggu semuanya pecah
Dipakai untuk isi air hangat dan isi minuman yang disimpan di kulkas. Padahal sudah dikasih tahu utk minuman air hangat, pakai cangkir. Untung beli 1/2 lusin doang. Hehehe….dasar ada turunan Jawa,apa2 masih untung
May 7th, 2012 at 09:39
Nia: sesuai dengan gambaran yang aku banyak dengar tentang betapa mungilnya dikau…
May 7th, 2012 at 09:32
walah JC… kebalikan… klo sy nanya ukuran yg plg cuilik hahaha…
apalagi sepatu olah raga baru sekali dpt yg ukuran kecil di sini. dl dapetnya malah pas di jogja. nah klo sepatu cewek disini malah hampir selalu ada ukuran 35. kadang 34 jg ada
May 7th, 2012 at 09:27
Nia: bener, untuk beberapa barang, memang lebih baik jika beli yang bermerek dan jelas kualitasnya. Kalau aku mau beli sepatu, jeans, kaos, kemeja, baju batik, tidak pernah lihat merek, tiap ke toko nanyanya: “bisa lihat yang paling besar” atau “paling besar ukuran berapa”.
Kalau celana non-jeans baru setahun belakangan ini beli jadi, itupun cuma 2 pcs, sudah belasan tahun biasanya ke tukang jahit saja. Yang 2 potong itupun tidak beli di sini. Kalau di sini ada ukurannya, harganya nggilani…
May 7th, 2012 at 09:23
Linda: memang benar bahwa buying behavior wisdom akan berkembang seiring waktu…
Dewi Aichi: toooossss…hahaha…
Alvina: lumayan mirip dengan keluargaku, tapi masih kadang shifting ke “want” juga sih…
Secara umum ada EMPAT huruf yang paling ajaib efeknya untuk (kebanyakan) kaum perempuan di seluruh dunia: S – A – L – E…

May 7th, 2012 at 09:22
hhhmmm… sy termasuk yg mana ya?
sy klo beli barang pilih yg kualitas bagus. lbh mahal gpp krn jatuhnya lbh murah kan lbh awet
gak fanatik jg ma merek tertentu… tp kadang memang cari merek tertentu misalnya sepatu/ sandal wedges cari merek yg barangnya nyaman dipake.
klo waktu belinya lbh sering pas lg butuh tp kadang klo pas lg jalan2 trus liat barang yg kira2 dibutuhkan ya beli aja apalagi klo pas diskon hehehe… soalnya klo apa2 carinya mepet dptnya kurang pas
May 7th, 2012 at 09:04
Aku dan kel, masuk gol/tipe: fulfilleds, kl gak butuh ya gak beli, he..he….
May 7th, 2012 at 08:52
Saya bingung je..masuk kelompok yang mana….kadang kelompok itu…kadang-kadang kelompok ita, he he..tapi idealnya sih…kita pandai-pandai saja, kalau aku, berusaha menyisihkan 25% lah…dari take home pay keluarga untuk ditabung atau investasi. Dan jangan tergoda kartu kredit untuk hal2 bersifat keinginan….kalau bisa income-expenditure=SISA he he he…tapi dalam setahun, paling 2 atau 3 kali saja ada sisa…lainnya tekor ha ha..
May 7th, 2012 at 08:22
Peran keluarga, terutama ibu, memang paling memberi pengaruh paling banyak untuk sikap memilih produk konsumsi. Tapi aku pribadi, sekarang sudah bukan lagi “brand” minded, melainkan apa yang memang kuperlukan dan harga yang terekonomis. Nggak soal lagi mereknya apa.
*Makanya sampe sekarang belum punya gadget Black Berry, karena memang belum perlu*