Lebih Baik Mati Gaya Daripada Celaka

Dewi Aichi – Brazil

 

Seperti biasa, saya selalu membawa iPad saat bekerja. Biasa, sekedar berkomunikasi dengan teman-teman dan untuk membaca tulisan-tulisan di Baltyra atau membaca berita online.

Untuk itu saya membutuhkan tas yang bisa muat untuk membawa iPad. Selain itu, yang wanita pasti tau apa saja isi dalam tas. Biasanya dompet dengan beberapa kartu atau dokumen seperti KTP. Perlengkapan kosmetik, pembalut, dan lain-lain.

Suami saya selalu mengajarkan bagaimana mencegah celaka di luar rumah, terutama untuk menghindari tindak kejahatan. Suami selalu menyadarkan bahwa ini di Brasil, di pusat kota Sao Paulo. Kota yang besar. Kota yang tingkat kriminalnya tinggi. Untuk itu selalu pesan kepada saya agar selalu hati-hati, waspada, jangan percaya kepada sembarang orang. Jangan cepat merasa iba kepada orang yang kelihatan sangat layak untuk dikasihani.

Begitulah suami saya selalu mengingatkan demi keselamatan. Dan kemarin kembali diingatkan setelah peristiwa yang terjadi di depan kantor tempat saya bekerja. Siang itu kira-kira jam 12:40 saat banyak staf kantor berada di depan karena sedang jam istirahat. sedangkan saya berada di toko buku dan alat sekolah yang memang satu kantor dengan departement yang lain.

Di depan kantor ada sebuah halte bus, di sana ada beberapa orang menunggu bus. Saya sedang asik-asiknya ngobrol dengan salah satu teman yang bekerja di bagian toko, tiba-tiba suara jeritan wanita sangat keras. Secara otomatis saya menoleh ke arah jalan raya. Seorang wanita berkemeja warna putih berlari ketakutan sambil teriak “socorro” (tolong). Secara serempak juga beberapa staf pria lari mengikuti arah wanita yang minta tolong.

Mereka hanya berusaha menolong tanpa tahu apa yang menimpa si wanita itu. Suasana yang bikin panik jam makan siang. Beberapa menit kemudian terdengar suara tembakan. Seorang pria yang  mengejar wanita itu, katanya menembak si wanita. Hanya beberapa meter dari kantor tempat saya bekerja.

Sayapun penasaran, ikut ke pinggir jalan raya hanya sekedar melihat kerumunan orang-orang . Polisi juga mulai berdatangan. Setelah itu saya tidak tahu lagi apa yang terjadi sebenarnya.

Itu kejadian hari Selasa. Sehari sebelumnya yaitu hari Seninnya, saat saya menuju rumah untuk makan siang, selisih 3 rumah dari rumah saya, banyak sekali polisi. Saat itu jam 11:15. Sayapun bertanya ke salah satu orang yang tak jauh dari pintu masuk rumah saya, ada kejadian apa. Kemudian orang itu menceritakan bahwa si A saat mau masuk rumah dengan mobilnya, diikuti 3 orang laki-laki yang memaksa ikut masuk rumah. Di rumah itu, ketiga laki-laki itu mengambil apa saja yang bisa diambil di rumah itu, termasuk mobil.

Nyaris saking paniknya katanya lagi, si empunya rumah lupa bahwa di dalam mobil itu masih ada anaknya yang berumur 7 bulan.

Dari  kejadian 2 hari berturut-turut itulah suami kembali berceramah di depan saya. Kenapa saya membawa iPad dan tas besar yang memancing penjahat. Penjahat pasti menebak-nebak apa isi tas. Apalagi kalau ada seorang wanita yang memakai tas kelihatan bagus dan penampilan juga elegan.

Di Brasil, penjahat tidak takut dengan keramaian. Buktinya, kejadian di halte depan kantor saya itu, banyak sekali orang di pinggir jalan. Tetap saja kriminalitas terjadi, bahkan berakhir dengan penembakan.

Suami sudah punya tips, jika akan masuk rumah, harus waspada pada sekeliling. Kalau di sekitar rumah ada orang-orang yang layak dicurigai, maka suami tidak akan menghentikan mobilnya dulu, tapi jalan terus, mengitari rumah yang lain, menelusuri jalan yang lain, kemudian menuju ke rumah, sampai kelihatan aman, baru membuka pintu.

Memang begitu adanya masyarakat Brasil, tidak akan pernah menghentikan kendaraan di depan rumahnya jika pada saat akan masuk, di sekitar rumah ada beberapa orang yang layak dicurigai.

Dan secara kebetulan, mulai April, setiap Minggu malam dalam acara Fantástico di TV Globo, mulai menayangkan tips tips yang memberikan info kepada masyarakat untuk mencegah terjadinya kejahatan, seperti himbauan agar tidak berlama-lama membuka pintu, atau berada di depan rumah dalam keadaan pintu terbuka, dan juga model pakaian, yang sekarang beredar, dengan saku pakaian berada di tempat yang tidak biasanya. Maksudnya, jika biasanya saku jaket berada di sisi kanan kiri , kini model saku berada dalam lengan bagian dalam. Meski agak repot, tetapi akan lebih aman.

http://fantastico.globo.com/Jornalismo/FANT/0,,MUL1679575-15605,00-BOLSOS+DAS+ROUPAS+PODEM+FACILITAR+OU+DIFICULTAR+A+VIDA+DOS+CRIMINOSOS.html

Kini, kalau berangkat kerja, saya hanya bawa tas kecil, yang isinya fotocopy dokumen, satu kartu, tanpa dompet. HP saya taruh di saku baju. Ngga pakai gaya-gayaan lagi, ngga modis yang penting aman.

Catatan kejadian tanggal 19-20 Maret 2012

 

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona. Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

69 Comments to "Lebih Baik Mati Gaya Daripada Celaka"

  1. Dewi Aichi  15 May, 2012 at 06:48

    Halah tanggung amat, Anoew corooooo…!

  2. anoew  12 May, 2012 at 19:52

    Coro kan gede, kalau kecil namanya ciri. Sama saja, Wik. Kalau ketemu sama Dewi Murni laki-laki di jawa juga akan bilang “iciri.. Iciri..!

  3. Dewi Aichi  11 May, 2012 at 08:43

    Anung…soal kriminal…ya memang Brasil masih lebih parah daripada Indonesia, soal banjir juga sebenarnya Sao Paulo sangat parah, parah sekali…..daripada Jakarta….hanya kalau macet ngga seperti Jakarta…

    Oya memang, orang Jawa memang gitu, kalau ketemu Anoew…maka akan teriak, “ada coroooo…ada coroooo!’

  4. anoew  11 May, 2012 at 07:34

    Seorang wanita berkemeja warna putih berlari ketakutan sambil teriak “socorro”

    Wik, kok sama ya bahasa brazil sama bahasa jowo? Wanita, juga akan berteriak kata yang sama bila ketakutan atau jijik saat melihat kecoak lantas, menjerit “ocorro…!”

  5. anoew  11 May, 2012 at 07:30

    Weeeh, jebulnya masih ‘aman’ jakarta dong ya dibandingkan brazil? Di jakarta penjahat masih mikir-mikir kalau mau ‘action’ di depan orang banyak, apa lagi seperti cerita di atas yang melakukan aksinya di halte bus.

  6. Dewi Aichi  10 May, 2012 at 22:35

    Kikan, ayo nulis, aku tunggu, bisa kirim ke saya..eh fbku dewi murni, atau pakai email [email protected]. Aku tunggu ya..

    Lani….ya itu dia….kalau itu bisa gaswat darurat..

    Meita……ya…wong ngga sengaja…lewat..

  7. Meitasari S  10 May, 2012 at 21:56

    Oalah, baru kok 2x. Kalo aku ojo ktematemu! Emohhh

  8. Lani  10 May, 2012 at 03:15

    DA : bs mendatangkan malapetaka, dan masa depan gelap gulita klu sampai kecipratan pistol air……….kkkkkkkk

  9. kikan  9 May, 2012 at 10:48

    iyaaa.. senangnya bisa ketemu mbak, skrg banyak waktu luang jadi bisa browsing2 lagi, makasih yah pernah di ajak gabung dan nulis2, hontouni… sejak baca tulisan mbak sekitar 2 tahun lalu jadi kepikitran juga nulis, yah itung2 rekam peristiwa yang pernah dilakukan di kampung orang….

    sudah sy add mbak, pake nama dewi aichi khan ? heheheh… di app yah mbak…

    salam kangeeennn…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *