Stay Single or Married?

Christiana Budi – Jakarta

 

Dilema kehidupan melajang dalam masyarakat

“Budi, keep stay single you will be more happy…don’t married” kata seorang sahabatku yang tiba-tiba menelponku, seorang sahabat yang sudah menikah lebih dari 5 tahun. Ujaran berlanjut “aku serius ini wejangan dari orang yang sudah menikah dan aku sudah terlanjur”. Perkataan apa lagi sekarang ini,  tambah pusing aku…….ini kali pertama seseorang bicara tentang indahnya hidup melajang dari seorang yang sudah menikah.

Sekilas pembicaraan telpon di atas mengawali tulisan pendek ini, tentang kegalauan “stay single or married”. Ini tulisan pertama yang aku coba untuk share kepada teman-teman, sebuah kisah pengalaman hidup yang unik di Indonesia khususnya yg aku alami, jadi tidak untuk menyinggung budaya atau agama apapun. Serta bukan merupakan mencari pembenaran diri, hanya sebagai pelampiasan unek-unek (berbeda ndak ini dengan pembenaran diri ya? Hehehe … betilah beda tipis…).

Tidak mudah menjadi seorang perempuan single yang sudah berumur diatas 30 tahun. Hampir dalam kurun waktu 10 tahun terakhir ketika ketemu teman lama yang lama sudah lama tidak bertemu pasti ada pertanyaan wajib “sudah punya anak berapa?”; ”Sudah menikah?”; “kenapa belum menikah kan umur sudah cukup?”; “nunggu apa lagi?. Pertanyaan wajib itu juga datang ketika ketemu orang yang baru dikenal, bahkan sering diembel-embeli dengan kata-kata “oh maaf ya kita ndak tahu kalau belum menikah”. Ya Tuhan sering kali aku bertanya salahkah aku belum menikah?? Apakah kita hanya diakui di masyarakat jika sudah menikah??

Derita belum berakhir ketika bertemu dengan keluarga dan masyarakat di sekitar keluarga besar. Pertanyaan “kapan mau menikah”; kapan nyusul si A dan si B; nunggu apa lagi sih semua kan udah mapan? Hmmmmmmmm…kepala tambah puyeng. Ditambah jika ada pernyataan bahwa orang tua sudah merasa lega kalau kamu sudah menikah berarti tanggung jawab sudah selesai. Waduhhhh….banyak sekali tekanan muncul dari keluarga, masyarakat, teman dll. Pertanyaan yang muncul di otakku “apakah kebahagiaan selalu dianggap kalau kita sudah menikah? Dan apakah semua harus berakhir di sebuah pernikahan?

Jadi ingat dongeng-dongeng pangeran dan putri yang terakhirnya kadang diakhiri dengan kata-kata; “akhinya mereka menikah dan hidup bersama berbahagia dengan anak-anak mereka selamanya”. Apakah hidup sesederhana itu?? Ini adalah realita yang aku dapatkan hidup di masyarakat yang aku tinggali sekarang ini, bahwa semua harus menikah, suka atau tidak suka.

Lalu bagaimana kebahagiaan yang katanya hanya bisa dicapai dengan menikah, kemudian tiba-tiba ada ucapan “keep stay single you will be happy” dari orang yang sudah menikah cukup lama. AHA…..sangat bertolak belakang. Memang tidak disangkal banyak keluarga yang kulihat berbahagia dengan perkawinan mereka maupun yang tidak, namun semua tergantung dari individu masing-masing.

Hal yang menjadi dilema adalah bagaimana penerimaan masyarakat khususnya di negara tercintaku ini yang terkenal dengan adat ketimuran? Apakah penerimaan mereka ketika melihat seseorang yang mempunyai pilihan saat ini untuk tetap melajang? Dari pandangan keseharian dan pengalamanku pribadi, masyarakat masih sangat sulit menerima status melajang diatas umur 30 tahunan terutama untuk seorang perempuan. Apakah memang seperti itu adat ketimuran??? Pusing aku “ndak ngerti” karena  aku bukan seorang yang ahli adat istiadat.

Banyak cara dari masyarakat, terutama agar kita mengikuti “aturan” yang tidak tertulis di kalangan mereka. Salah satunya menjodohkan, tidak dipungkiri urusan perjodohan sudah dari jaman dahulu kala ada, di jaman sekarang juga ada. Banyak orang menikah atau mendapatkan pasangan hidup dengan jalan dijodohkan. Bagi aku sendiri tidak masalah, namun harus ada kerelaan dari masing-masing untuk dikenalkan kalau salah satunya tidak mau ya “nuwun sewu jangan memaksa”. Kadang yang tidak aku suka adalah ada orang yang sok hero atau menjadi pahlawan kesiangan agar mendapat pujian atau sanjungan dari keluarga kita untuk menjodohkan kita dengan tiba-tiba membawa calon tanpa seijin kita. Aduh kenapa harus begitu apakah kita tidak pempunyai hak pribadi kita?? Apakah pandangan mereka, kita ndak laku? Memangnya kita barang dagangan? (pikiran kemarahan yang sering muncul)…bagiku menikah kan sudah hak pribadi dan masalah selera,  serta hanya sekali seumur hidup je….. Aduh bikin pusing banyak pandangan negatif yang muncul….. alternatifnya sabar..sabar dan sabar.

Ada cara juga yang dilakukan mungkin ini sedikit kontoversial adalah  mendekati karena mempunyai misi keagamaan. Artinya seseorang mendekati entah karena suka atau tidak kita tidak tahu tapi kemudian mempunyai misi agar kita pindah satu agama ke agama yang lain. Hmmmm makin ruwet aja …Jadi kemudian berpikir setelah menikah apakah hal seperti ini akan memberikan kebahagiaan? Hal-hal pemaksaan sepertinya sudah melenceng jauh dari logikaku untuk berpikir tentang menikah atau tidak menikah.

Seringkali aku berpikir sebenarnya yang membuat kita “galau” karena belum menikah karena tekanan dari lingkungan kita yang tinggi. Anggapan bahwa semua harus menikah dan kehidupan baru diawali ketika menikah, lebih bersosialisasi jika sudah menikah, berbagi jika ketika sudah menikah, kebahagiaan didapatkan setelah menikah…lalu apakah yang dilakukan seorang lanjang juga ndak berartikah???

Sering aku iri ketika bertemu dan berkomunikasi teman-teman di benua lain yang masyarakatnya tidak mencampuri urusan pribadi terutama keputusan menikah atau tidak. Keliatannya menyenangkan sekali tinggal di masyarakat seperti itu, ada sebuah kebebasan untuk tiap pribadi. Tidak ada tekanan masyarakat yang membuat kita galau dan kadang lebih banyak menekan kita dan memberikan pembenaran dan sah jika sudah merongrong orang single untuk menikah.

Ada khotbah rohani, yang aku didapatkan pagi ini sangat bagus jika di kaitkan dengan konteks “stay single or married”. Tuhan menempatkan kita sebagai “subyek” dan bukan sebagai Obyek”. Tuhan menghargai kita dan kita diberi kebebasan untuk menjalani kehidupan, memperlakukan kita secara manusiawi dan diberikan kehidupan secara utuh kepada kita. Yang jelas kebebasan yang diberikan adalah suatu kebebasan yang bertanggung jawab, menjadi subyek yang benar dan berkarya bagi sesama manusia. Nah Jika Tuhan saja seperti itu kenapa seringkali kita membuat “aturan” yang tidak tertulis di masyarakat yang sangat-sangat mengekang hanya karena apa nanti kata orang? Kapan masyarakat memberikan seorang perempuan lajang untuk kebebasan memilih “stay single or married”?? semoga ini bukan hanya sebuah mimpiku…. atau apakah harus memilih untuk diam dan tetap berpikir “don’t know, don’t care?”

 

Jakarta 29 April 2012, Christiana Budi

 

Note Redaksi:

Selamat datang dan selamat bergabung Christiana Budi! Make yourself at home ya dan ditunggu artikel-artikel berikutnya. Terima kasih kepada pak Handoko Widagdo yang mengenalkan Baltyra kepada Christiana Budi…

 

36 Comments to "Stay Single or Married?"

  1. HennieTriana Oberst  18 May, 2012 at 17:44

    NEGRO, ngasah pedangnya di mana?

  2. Swan Liong Be  18 May, 2012 at 17:07

    @Lani: NIKAH itu kan hanya legalisasi dari KAWIN

  3. probo  18 May, 2012 at 15:49

    jadi ingat, saat masih jadi guru baru, beberapa orang teman maunya menjodohkan saya dengan saudaranya, dengan berbagai cara
    dari cara yang wajar sampai cara yang bagi saya aneh dan menyebalkan

  4. Silvia  18 May, 2012 at 15:30

    Saya yg termsk happily married, Christiana. Tp sempat mengalami apa yg Christiana alami …….

  5. Lani  18 May, 2012 at 13:48

    31 KANG ANUUUU : koreksi…..KAWIN dgn NIKAH ada bedanya lo……wakakaka……..

  6. anoew  18 May, 2012 at 12:11

    Menggelikan memang “masyarakat adat ketimuran” ini yang suka “usil” mencampuri urusan orang. Mau kawin atau enggak kan urusan pribadi, emang situ ngasih duit?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.