Monday, 7 May 2012
Nyai EQ di tengah kota
Kali ini rute perjalanan kita adalah museum maritim dan Sky city. Tapi sebelumnya saya akan bercerita sedikit tentang kota Darwin. Dari kemarin-marin kita hanya jalan-jalan saja.
Kota Darwin, atau City meliputi area seluas 112 Km2 dengan jumlah penduduk kira-kira (sensus tahun 2009) 75.908 orang.
Dewan kota dan distrik pertama kali terbentuk pada tahun 1874. Sedang Dewan kota Darwin disahkan pertama kali pada tahun 1915.
Walikota pertamanya adalah seorang perempuan Dr. Ella Stack yang menjadi walikota pada bulan Mei 1975-November 1979, kemudian dilantik menjadi Walikota Utama (Lord Mayor) dengan masa pemerintahan mulai dari November 1979-Mei 1980.
Kota Darwin terbagi menjadi 4 wilayah besar dengan 12 pemerintahan yang di kepalai oleh seorang Lord Mayor (mungkin kalau di Jogja menjadi 4 bagian : Sleman, Bantul, Gunung Kidul, Kulon Progo + DIY, yang masing-masing daerah dipimpin oleh Bupati, di bawah seorang walikota, sedang ke 5 walikota berada di bawah satu gubernur).
Jadi ke-empat wilayah di Darwin itu adalah :
Chan Wards-wilayah barat (dengan pusatnya di Nightcliff), Lyons Wards-wilayah selatan (dengan pusatnya di Darwin), Richardson Wards-wilayah utara (dengan pusatnya di Casuarina) dan Watters Wards-wilayah timur (dengan pusatnya di Annula/Berrimah). Dari ke 4 wards tersebut terbagi menjadi 42 kota (suburbs). Saya sendiri saat itu tinggal di Casuarina, yang tidak terlalu jauh dari Nightcliff, tetapi cukup jauh dari City.
Seperti cukup itu saja. Saya akan melanjutkan cerita jalan-jalan saja.
Perjalanan diawali tidak terlalu pagi. Seperti biasanya, berjalan sepanjang kurang lebih setengah kilometer menuju bus stop, menunggu sekitar 10 menit sampai bisnya datang. Tujuan kali ini pertama kali adalah museum maritim.
Darwin kota yang dikelilingi lautan. Hampir setiap hari saya melihat mobil-mobil di jalan membawa kapal/ boat untuk memancing atau sekedar bersenang-senang bersama teman atau keluarga. Kapal-kapal kecil tersebut ditarik dalam gandengan mobil. Tempat-tempat persewaan kapal kecil seperti itu juga banyak ditemui di berbagai wilayah. Dan banyak juga keluarga yang memiliki kapal-kapal kecil pribadi.
Dari perhentian bis, kami masih harus berjalan kaki, karena bis tidak berhenti di depan museum.
Papan penunjuk jalan menuju Museum, dari jalan raya
Museum ini besar sekali. Terletak Conacher St., Fanny Bay. Masuknya gratis. Museumnya sangat bersih dan tak ramai pengunjung. Hanya ada beberapa pengunjung saja. Mungkin karena bukan hari libur. Di dalamnya terdapat banyak sekali jenis-jenis kapal kuno. Di antaranya bahkan ada kapal-kapal layar yang berasal dari Indonesia, yaitu dari Makasar dan P.Tanimbar (nama kapalnya adalah Kole-Kole).
Kapal yang berasal dari Pulau Tanimbar-Indonesia, bernama Kole-Kole
Rata-rata kapal yang ada adalah kapal kuno dengan ukuran besar. Namun ada juga perahu-perahu nelayan berukuran kecil.
Kapal layar berukuran besar dan kecil
Museum kapal mempunyai 2 lantai yang penuh dengan aneka jenis kapal. Di antaranya ada juga peralatan kapal, seperti kemudi kuno, pengatur jarak, teleskop yang semuanya dalam keadaan bagus dan terawat.
Setelah puas berjalan-jalan melihat aneka macam kapal, kami bermaksud pergi ke kantin. Sekedar ngemil dan mengisi tenaga untuk perjalanan berikutnya. Berjalan kaki menuju Sky City. Mengunjungi museum seni, kemudian bertemu dengan beberapa teman untuk melepas matahari tenggelam di balik cakrawala.
Di kantin saya memesan satu iris blueberry cheese cake dengan rum cream dan sebotol jus apel. Bluberry Cheese cakenya sangat enak. Lembut dan memikat lidah.
Blueberry cheese cake, yuum dan berbotol-botol wine dan sebotol jus apel
Setelah melepas lelah sejenak dan mendinginkan suhu tubuh, kami memulai perjalanan kembali. Melintasi jalanan yang sudah mulai saya hafal.
Sky City tidak jauh dari Museum maritim, itu sebabnya sepotong kue kecil cukup sebagai pengganjal perut, karena sebelum berangkat saya sudah makan.
Museum maritim termasuk dalam bagian museum besar yang bernama Museum and Art Gallery NT. Di samping museum maritim masih ada bagian-bagian lainnya. Saya juga mengunjungi Museum seni dan art gallery, yang merupakan bagian lain dari Museum besar. Di dalam museum seni tersebut kita bisa melihat hasil karya seni seniman-seniman Australia, khususnya seniman Aborigin. Karya lukis, patung dan kerajinan yang khas dan unik. Lukisan dengan teknik dot (titik-titik), dengan warna-warna alam seperti coklat, merah marun, hitam, oranye, kuning yang semuanya diambil dari ebbatuan berwarna. Untuk ini akan saya ceritakan pada jilid tersendiri, ketika saya tinggal bersama suku Aborigin di pulau mereka selama 4 hari.
Mobil dari anyaman rumput
Foto mobil di atas besarnya 1:1 dengan mobil asli. Terbuat dari rumput yang dipilin dan dianyam secara khusus. Dibuat oleh seniman Aborigin.
Perpaduan gaya moderen dengan klasik tradisional
Sedangkan foto berikutnya menampilkan karya seorang seniman Australia putih. Dia membuat komposisi karya-karya tas anyam tradisional Aborigin menjadi karya bergenre kontemporer.
Karya-karya seniman Aborigin
Masih banyak karya-karya lain yang tidak boleh dipotret. Jadi daripada saya bermasalah dengan petugas museum, lebih baik saya menghabiskan waktu dengan menikmati karya-karya seni yang ada sepuas hati.
Selain Museum maritim dan museum seni dan art gallery, masih ada lagi museum lain, yaitu museum yang menyajikan kehidupan di Australia dari jaman dahulu kala, hingga kini. Di sana juga ada beberapa macam jenis hewan langka yang sudah dan nyaris punah. Diantaranya adalah burung kiwi, platypus dan beberapa macam burung serta hewan liar lainnya. Tentu saja tidak dalam keadaan hidup. Suasananya remang-remang, dan ada larangan memotret.
Benar-benar sebuah perjalanan yang mengasyikkan. Memakan waktu berjam-jam pun tidak akan puas.
Karena hari sudah menjelang sore, tiba saatnya untuk keluar dari museum menuju Sky City yang tidak jauh dari lokasi museum. Kami hanya tinggal melintasi taman luas yang sangat asri. Ada beberapa bangku dan patung-patung seni di taman tersebut.
Taman museum dan patung karya seni yang berada di taman
Sky City sebenarnya lebih dikenal untuk menyebut kasino. Berlokasi di dekat pantai Mindil. Kasino ini adalah satu-satunya kasino yang ada di Darwin. Mendapatkan surat ijinnya pada tahun 1979, tetapi baru resmi dibuka pada tahun 1983. Di dalam gedungnya juga terdapat restoran, hotel, lapangan golf, kolam renang besar dan tentu saja arena perjudian. Dari pengamatan saya selama berada di Darwin, kebanyakan pengunjungnya adalah para Cina-cina tua, baik perempuan maupun laki-laki, bahkan lebih banyak perempuannya dibandingkan lelakinya. Itu yang saya lihat setiap kali saya naik bis menuju City (kota), yang memencet bel tanda berhenti di depan Sky City adalah Cina-cina tua berpakaian bagus dengan membawa tas tangan yang besar. Saya tidak tahu kenapa mereka naik bis kota. Sebab saya juga melihat ada banyak sekali mobil-mobil berjajar terparkir rapi di sana. Saya sendiri belum pernah mencoba untuk masuk.
Kami tidak menuju kasino, melainkan ke tempat lain di dekat bangunan kasino tersebut, tepatnya terletak di belakang kompleks kasino. Ada sebuah taman besar, lengkap dengan area parkir, beberapa restoran, dan kursi-kursi plastik warna putih serta meja-mejanya. Letaknya tepat di tepi pantai. Di tempat itu banyak sekali orang-orang berkumpul setiap sore. Ada yang bersama keluarga beserta anak-anak kecil mereka, ada yang bersepeda, jogging atau sekedar ngobrol sambil makan dan minum. Kadang-kadang juga ada pertunjukan life musik di panggung yang didirikan di tempat itu secara todak permanen. Hari itu ada seorang wanita usia sekitar 45 tahun, membawa gitar, sebuah electone, dan saxophone. Dia menyanyikan beberapa lagu country dan meniup saxophone dalam irama blues. Sayang sekali tidak banyak yang memperhatikannya, karena semua orang sibuk dengan kelompok masing-masing.
Beberapa anak muda juga tampak ngobrol dan bersenang-senang di sana.
Beberapa teman berkumpul bersama
Sampai di tempat tujuan sudah ada beberapa teman yang datang. Kami segera bergabung setelah sebelumnya memesan sebotol bir dan sepiring kentang goreng. Teman-teman kami ini adalah para seniman Darwin. Salah satu di antaranya adalah direktur sebuah gallery yang cukup terkenal di Darwin, yaitu 24 Hours Art Gallery. Yang lainnya adalah para seniman, disainer dan kurator. Senang gobrol dengan mereka. Banyak hal diperbincangkan, tidak hanya mengenai seni saja, namun juga politik, budaya, sex dan makanan.
Langit tidak selamanya cerah. Hari itu langit bernuansa mendung. Bahkan sempat turun hujan sebentar yang membuat kami lari kalang kabut menyelamatkan diri.
Meskipun hanya sebentar, tapi cukup membuat semua kursi menjadi basah. Setelah hujan reda, kami memutuskan untuk pulang saja. Besok masih ada acara piknik bersama : nonton pertunjukan Ramayana a la anak-anak Darwin di Botanic Garden.
Laut saat mendung sebelum matahari terbenam, sebelum hujan turun
Keesokan harinya saya dibangunkan oleh kicauan ribut para burung di depan dan belakang rumah. Suasana lengang. Saya menuang segelas susu, membuat kopi hitam kental dan memanaskan beberapa buah pie sayur untuk sarapan. Masih ada sepotong besar Coklat cheese cake Sara Lee di kulkas. Saya potong sedikit sebagai tambahan sarapan. Kemudian ditambah semangkuk salad dengan pesto. Tidak karu-karuan menunya, tapi saya makan dengan lahap.
Tidak banyak yang saya lakukan hari itu. Sampai sore, baru kami bersiap-siap pergi ke Botanic Garden. Kami punya janji untuk bertemu dengan kawan dan berpiknik sambil nonton Ramayana.
Suasana sudah ramai ketika kami sampai di sana. Tapi masih cukup banyak tempat untuk menggelar selimut pantai dan membuka bekal. Saya hanya membawa minuman dalam botol dan beberapa macam crackers beras. Teman kami membawa banyak sekali bekal. Ada buah alpukat, strawberry, ham, beberapa macam keju, buah zaitun, manisan buah-buah kecil, keripik kentang, dan salami kesukaan saya.
Senang sekali rasanya piknik seperti ini. Seperti masa-masa kecil saya. Kami juga bertemu dengan beberapa teman yang lain secara tidak sengaja.
Suasana piknik sore itu di Botanic Garden
Menikmati bekal piknik (saya dan teman. Seorang disainer dan penulis)
Pertunjukan baru dimulai setelah gelap. Diawali dengan seorang penari perempuan yang membawa semacam dupa dalam mangkok leramik. Cahaya api dan asap yang keluar memberikan kesan “magis”. Baju si penari berwarna putih. Selanjutnya kami dikejutkan dengan munculnya beberapa anak-anak yang berperan sebagai para kera, berlarian dari arah para penonton. Wah, anak-anak Darwin ini rupanya bias juga bikin acara yang seru dan menarik bertema Ramayana!! Salut !
Setting panggung sudah siap sejak siang dan para penari menghaturkan sembah di akhir pertunjukan
Para penari adalah anak-anak sekolah berusia antara 8-12 tahun. Semuanya orang Darwin. Tidak ada orang Indonesia. Pelatihnya memang orang Indonesia. Begitu juga salah satu penabuh gamelannya, adalah orang Indonesia. Pertunjukan ini menggunakan gamelan asli, bukan kaset maupun CD. Meskipun jalan ceritanya agak berlepotan, tapi secara umum pertunjukan ini sangat menghibur.
Hari sudah sangat malam, ketika kami beranjak pulang. Karena hanya tinggal satu bis terakhir, maka kami pulang naik taksi.
Saatnya beristirahat. Karena masih akan ada perjalanan lainnya yang menanti.
Dua perjalanan penting lagi akan saya kisahkan pada jilid berikutnya. Semoga tidak bosan dan tetap setia mengikuti cerita saya.
Salaaaaam………
May 30th, 2012 at 11:10
Iya bener, Darwin itu tenang, sepi & menghanyutkan. Yg suka tanam2, disinilah tempatnya. Yg suka punya tanah lapang disinilah tempatnya. Kalau udah bosen jalan2 keluar kota saja. Gak macet & gak kemruyuk. Gak bikin mumet setiap harinya lancar saja.
May 10th, 2012 at 12:17
Cie Lani : aku suka ketenangan, gak suka yang berisik2, tapi kalo terlalu tenang ya bosenlah lama-lama….pokoknya tenang tapi dinamis, hahhahaa…
Mbak Dewi, saya tuh biasanya kalo traveling lebih suka sendirian atau berdua saja, gak kebayakan orang lah…naah di tempat-tempa tujuan baru deh dapet temen2 baru yang seru….atau ketemu sama temen2 baru dan lama….itu baru seru !
May 7th, 2012 at 23:02
EQ : naaaaaaah, bener to????? dirimu yg bosenan……..pdhal didlm ketenangan itu yg nyaman….tentram………klu brisik bikin kemrungsung