Tuesday, 8 May 2012
Kang Putu
GELOMBANG lautan adalah karib para nelayan. Di atas gelombang lautan, orang-orang perkasa itu menumpukan hajat kehidupan mereka. Di atas gelombang lautan, mereka menyabung nyawa justru untuk memperpanjang usia segenap keluarga.
Mengagumkan! Namun, serentak muncul pula perasaan miris: betapa dahsyat tantangan alam yang harus mereka hadapi untuk mencari sesuap nasi. Maka, setiap kali melihat gelombang laut yang terus-menerus mengalun, ingatan pun melejing ke sosok Bima. Anak Pandu itu harus menyelam ke dasar samudra dan bertempur melawan Dewa Laut sebelum menemu air kehidupan. Menemu sari pengetahuan tentang sangkan paraning dumadi, asal-muasal kehidupan.
Keperkasaan para pelaut, keperkasaan para nelayan, menggugah pula kenangan akan tembang masa bocah: “Nenek moyangku orang pelaut….” Ya, ya, bukankah orang-orang yang tergiring angin, memuncaki gelombang, itu adalah anak turun para pelaut? Dulu, dulu sekali, bukankah nenek moyang kita telah jauh melanglang ke berbagai kawasan membelah lautan dengan perahu, sebagaimana tergambar dalam relief Candi Borobudur?
Namun, wahai, apa pula yang terjadi jika kini lautan membadai? Gempa tektonis yang memunculkan gelombang tsunami teramat sangat dahsyat telah meluluhlantakkan sebagian tanah Aceh, Sumatera Utara, dan berbagai kawasan di berbagai negara kita. Kejadian itu tentu menjadi peringatan pula bagi siapa pun, terutama nelayan, untuk menyadari posisi sebagai makhluk tak berarti di hadapan keperkasaan alam, cermin kuasa ilahiah, itu.
Dalam perspektif inilah, kekhawatiran Sultan Hamengku Buwono X yang memperkirakan bakal terjadi badai tropis di Segara Kidul atau Laut Selatan pun menggema lebih keras dan lama. Dia mengimbau para nelayan agar menunda dulu turun ke laut dan wisatawan bergegas menjauhi pantai. Imbauan itu mewujud sebagai benar-benar sabda sang raja dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Apalagi lontaran pemimpin dari tlatah Yogya itu diperkuat oleh data klimatologis dari Meteorologi Landasan Udara Adisucipto, Yogyakarta, bahwa pada 5, 6, 7, 9, dan 10 Februari akan terjadi badai berkecepatan antara 75 km dan 175 km/jam dari arah Darwin, Australia, di Laut Selatan. Tak ayal, pantai-pantai di tepian Laut Selatan pun sepi wisatawan. Dan, diam-diam, kecemasan menghinggapi benak para kawula.
Tolak Bala
Masyarakat, sebagaimana dilaporkan Agung PW (Suara Merdeka, 7 Februari 2005, halaman 24), menyikapi dengan kearifan mistis: menyajikan tolak bala. Dan penolak bencana itu adalah sayur lodeh. Ya, berbagai kalangan masyarakat di Yogyakarta pun memasak dan menyantap sayur lodeh beserta bubur beras bersama-sama. Mereka menaruh harapan, seperti dulu, puluhan tahun silam, saat pagebluk melanda, mereka bakal terhindar dari segala bencana.
Daya tolak sayur lodeh berlipat kali lebih mujarab bila dibarengi kewaspadaan dan, tentu saja, kekuatan doa. Doalah wujud pengakuan ketakberdayaan sang makhluk ke hadapan Sang Mahapencipta.
“Boleh percaya atau tidak, yang jelas tradisi sayur lodeh tolak bala sudah ada sejak zaman leluhur saya dahulu dan sampai kini masih dipercaya oleh penduduk Yogyakarta,” tutur Caritas Warun Kusumo, penduduk Perumahan Nogotirto, Sleman (Suara Merdeka, 7 Februari 2005, halaman 24).

Barangkali karena daya magis sayur lodeh dan doa kawula Ngayogyakarta Hadiningrat serta daya tawar sang raja di hadapan penguasa Laut Selatan, sampai hari ini, 13 Februari 2005, air samudra tidak juga membadai dan menghembalangkan segala apa yang terapung di atasnya. Bukankah secara mistis para raja di tanah Jawa, trah penguasa Kerajaan Mataram (II), adalah suami Nyai Roro Kidul atau Kanjeng Ratu Kidul, penguasa Laut Selatan? Jadi, mana mungkin sang ratu tega secara semena-mena membuncang kaum nelayan, kawula Ngayogyakarta Hadiningrat, dari pangkuan laut yang menghampar sebagai pelataran istananya?
Angin kencang memang kerap bertiup dan merubuhkan rumah-rumah dan pepohonan. Hujan deras pun melongsorkan tanah di berbagai kawasan. Namun Laut Selatan tak juga membadai. Karena, memang, badai tropis berskala besar sangat kecil kemungkinan melanda Indonesia. Itulah pernyataan Prof Ir Widodo MSCE PhD dari Pusat Studi Kegempaan, Efek Dinamika, dan Bencana Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta (Kompas, 11 Februari 2005, halaman G).
Sepanjang sejarah, menurut pendapat dia, badai tropis semacam itu hanya terjadi di kawasan yang relatif agak jauh dari garis khatulistiwa. Padahal, seluruh wilayah Indonesia (tentu saja termasuk Jawa) berada sangat dekat dengan, bahkan sebagian dilalui, garis khatulistiwa.
Mituhu
Namun mampukah argumentasi ilmiah, yang mematahkan prediksi klimatologis, itu memunahkan kekhawatiran yang kadung merebak? Agaknya sangat mungkin, hanya jika penyangkalan berdasar pendekatan keilmuan (modern) tersebut diekspose dengan perangkat ngelmu (kalakone kanti laku) oleh sang raja. Karena, pada dataran inilah, ada legitimasi mistis-spiritual yang melekat pada sang raja — yang tak tertemukan dalam kajian keilmuan. Ya, sekali lagi, bukankah Sultan Hamengku Buwono X pun “suami” Nyai Roro Kidul, penguasa Laut Selatan? Dan, karena itulah, selalu ada sesuatu (misalnya perangkat pakaian sang saja) yang dilarung ke lautan dalam nglabuh atau labuhan

Karena itulah jika para nelayan, pelaut perkasa, itu seolah-olah takut, tak berani melaut, sebenarnya bukan karena kehilangan nyali. Mereka tidak melaut karena justru sangat mengenali “perilaku” Laut Kidul, yang diyakini (sebagaimana dicatat Y Argo Twikromo, 2000: 55) mempunyai kekuatan supranatural. Dan, tentu saja, karena mereka mituhu maring sabda sang raja. Badai di Laut Selatan, jika benar-benar terjadi, sesungguhnya adalah pepeling bagi mereka, dan bukan pembuncang nasib tak berketentuan.
Minggu, 13 Februari 2005
May 8th, 2012 at 19:46
Pak Hand : whatever, deh. Mau Nyi Roro Kidul, kah, mau Kanjeng Ratu Kidul, kah, saya, mah, tidak peduli. Tapi bukan berarti saya tak menghargai kepercayaan penduduk setempat akan adanya mahkluk-makhluk itu.
yang jelas saya sudah berhasil mematahkan mitos tidak boleh berenang di Laut Selatan dengan baju renang hijau atau biru, ntar klelep diambil makhluk itu, Mungkin Ratu Kidulnya atau Nyi Roro Kidulnya takut sama saya, hehehe…
May 8th, 2012 at 12:58
sayur lodeh memang tolak balak, apalagi klo diguyur sambal pecel..wahh pasti hilang lapernya..hehehehe
May 8th, 2012 at 12:53
Hhhhmmm…kisah-kisah seperti ini selalu menarik untuk disimak. Percaya tidak percaya…walahualam…
Btw, Itsmi percaya tidak ya? Atau mungkin Itsmi malah kepingin jadi raja-raja Mataram?
May 8th, 2012 at 07:45
Suka sekali tulisan tentang kanjeng Ratu Kidul, sama Nyai Roro Kidul….mitos yang merasuk ke jiwa sampai ke akar,
May 8th, 2012 at 07:31
Nyai Roro Kidul berbeda dari Kanjeng Ratu Kidul. Yang menjadi istri dari raja-raja Mataram adalah Kanjeng Ratu Kidul.
May 8th, 2012 at 07:24
Mitos Nyi Roro Kidul versus kenyataan, memang ada Palung Jawa yang dalam sebagai penyebab gelombang laut besar di Laut Selatan yang langsung menghadap Samudra Hindia.
Nikmati saja perbedaannya.