Telepon di Udara

Anwari Doel Arnowo

 

Salah perhitungan waktu dan tempat bisa merepotkan. Terjadi kepada saya bersama istri pada tahun 1998. Karena seringnya saya take off dan landing di lapangan udara di banyak kota, termasuk di hutan belantara, saya dan istri mengalami kerepotan juga. Waktu itu tahun 1998 saya berangkat ke New York melalui Singapore. Saya tidak memeriksa dengan teliti saya ini akan melalui route mana? Saya sudah beberapa kali melalui Hong Kong – Alaska (Anchorage) –Vancouver – Toronto – New York atau melalui Hong Kong – Tokyo – Vancoucer dan seterusnya. Atau juga melalui Seoul – Vancouver dan seterusnya, dan melalui HongKong langsung ke Toronto.

Waktu di Singapura saya baru sadar bahwa saya akan transit di Frankfurt, Jerman. Saya juga tetap tenang-tenang saja. Mendekati Frankfurt saya baru ingat bahwa saya sudah berjanji dengan anak dan menantu saya bertemu di New York dan akan menginap di hotel Marriott atas nama pesanan menggunakan nama saya. Di depan tempat duduk saya waktu itu ada petunjuk bagaimana menggunakan perangkat telephone untuk berhubungan ke semua tempat di dunia yang ada fasilitas sambungan telepon.

Saya telepon Cellular telephone menantu saya, tidak berhasil sambung. Saya telephone ke rumah di Jakarta diterima oleh anak bungsu saya mengatakan ada telephone dari menantu saya di New York yang mengatakan bahwa dia tidak berhasil check in ke hotel, karena nama saya telah dicoret dari daftar reservation karena no show (tidak datang sesuai tanggal pesanan). No show ini sebagai akibat keteledoran soal perbedaan waktu Jakarta dengan Eastern Time di USA. Saya tidak bisa menghitung jam berapa di New York dan jam berapa saya akan mendarat di sana. Jadi saya minta anak saya yang di Jakarta itu menghubungi menantu atau istrinya yang adalah kakaknya, memberi tau nomor penerbangan saya menggunakan Singapore Airlines.

Beruntunglah  semua lancar karena saya duduk di First Class: didahulukan keluar dari pintu pesawat dan berarti bisa lebih awal dibandingkan dengan para penumpang lainnya, sampai di Immigrasi, Mengambil Bagasi dan Bea Cukai. Saya pakai limousine yang panjang merek Continental dan menuju ke Marriott. Wah dasar wong ndeso saya lupa mengingat Marriott yang mana, karena kemudian saya baru mengetahui ada lebih dari dua buah Hotel Marriott di New York. Setelah berputar-putar akhirnya ketemu yang ada di 525 Lexington Ave, 10017 New York. Saya lihat menantu dan anak saya berdiri di bagian luar dari hotel menunggu kami berdua. Haaah, baru lega rasanya karena saya ketahui mereka berangkat dari Toronto ke New York itu melalui jalan darat menggunakan Bis. Jadi meskipun bisnya comfort bagaimanapun, pasti badan mereka berdua capai sekali. Kursi yang saya duduki sejak Singapore juga amat super comfort sesuai kemodernannya (sampai pada waktu itu) saja, badan sayapun mengalami rasa letih juga.

Iya, semua ketidak-nyamanan dan kusut pikiran itu hanya disebabkan oleh karena saya teledor memberi instruksi yang lebih teliti tentang penyediaan tiket saya bersama istri keliling dunia waktu itu. Oleh karena perjalanan terusan saya setelah New York adalah Toronto dan Vancouver – Tokyo – Osaka – Hong Kong dan Singapura – Kuala Lumpur serta kembali ke Jakarta. Sebenarnya bermaksud ke Pilipina sih, tetapi kenyataannya saya sudah amat capai. Saya sedang berada di tengah hutan belantara di Kalimantan Tengah waktu saya minta staff di kantor saya di Jakarta menyiapkan segala reservasi tiket dan hotel melalui hubungan komunikasi menggunakan telepon satellite, yang pada waktu itu juga sebagai gadget mutakhir, yang tidak banyak orang lain memilikinya.

Saya merasa heran sekali, sampai sekarang, mengenai membuat hubungan percakapan per telepon di dalam pesawat terbang komersial, yang katanya mengganggu alat komunikasi dan penerbangan para pilot dengan sarana pengamanan pesawat udara dengan peralatan yang ada di darat.  Meskipun saya selalu comply (menuruti) peraturan, tetapi pada suatu saat ketika saya sadar belum mematikan telepon ketika sudah lepas landas, ternyata toh pesawat telepon genggam saya tidak mendapat sinyal. Apakah tanpa sinyal ini hanya di pesawat telepon genggam saya saja? Pertanyaan saya: Apa benar sih larangan ini selalu berlaku dan benar sampai saat ini? Di dalam sebuah adegan film diperlihatkan ada komunikasi antara mereka yang naik sebuah Helicopter dengan mereka yang ada di permukaan daratan melalui masing-masing dengan menggunakan cellular phone, apakah benar memang bisa dan sampai batas-batas seperti apa ke-bisa-annya??

Karena saya mempunyai logika sendiri, saya suka mendengarkannya. Logika saya, kalau kita sudah mendarat, tentu seharusnya tidak ada keberatan terhadap pemakaian alat elektronik. Waktu di udara dekat Frankfurt, saya boleh menggunakan telepon milik perusahaan penerbangan yang saya tumpangi, membayar dengan Kartu Kredit. Saya bisa menelepon ke New York dan ke Jakarta dengan baik. Bolehkah saya bilang bahwa perusahaan penerbangan yang saya tumpangi dengan cara membayar, masih mau cari untung lagi dari pembayaran melalui Kartu Kredit tadi? Ingat yang saya ceritakan sebagai contoh di atas adalah kejadian hampir 15 tahun yang lalu?!! Masa teknologi sekarang masih belum mampu mengubahnya??

Sebagai masukan saya muat hasil pencarian dari beberapa SEARCH ENGINE

Ini pendapat di dalam sebuah blog:

http://hurek.blogspot.com/2012/01/pakai-hp-di-pesawat.html

Lihat pendapat orang-orang mengenai pemakaian telepon setelah pesawat sudah mendarat di link berikut: http://www.flyertalk.com/forum/alaska-airlines-mileage-plan/1339735-cell-phone-use.html

Ini pendapat seorang pilot bernama Jim Tomson:

“People don’t understand why they can’t use their cell phones. Well, what can happen is 12 people will decide to call someone just before landing, and I can get a false reading on my instruments saying that we are higher than we really are.” -Jim Tilmon

Sedikit lelucon dari seorang pilot lainnya :

“We don’t make you stow your laptop because we’re worried about electronic interference. It’s about having a projectile on your lap. I don’t know about you, but I don’t want to get hit in the head by a MacBook going 200 miles per hour.” -Patrick Smith

 

Anwari Doel Arnowo

2 Mei, 2012

 

11 Comments to "Telepon di Udara"

  1. cindelaras  12 May, 2012 at 03:34

    Saya jenis penurut pada peraturan, malah akan sangat anti bila ada yang nekat melawan peraturan. Terlebih peraturan yang mengatur penumpang agar tidak menelepon saat di pesawat, atau pengisi BBM agar tidak mengaktifkan hp saat mobilnya diisi bensin di pom bensin. Cukup dengan penjelasan sederhana maka saya akan menurut untuk mentaati peraturan yang ada, selama alasan yang digunakan adalah untuk keselamatan bersama. Tidak akan berandai-andai dengan logika apakah alasan itu secara ilmiah masuk akal atau tidak. Seperti kepatuhan orang jaman dulu yang menuruti peringatan berbahasa Jawa dengan huruf hanacaraka di pintu luar gardu PLN yang kalau dibaca akan berbunyi = “Sing ngemek mati”. Saya tidak akan bermain-main dengan keselamatan, karena saya tahu kesempatan hidup saya hanya sekali (kecuali Tuhan memberi mukjijat atas hidup saya ini).

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.