Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Aku dan Sahabat Mata (1): Chief Adju

Wednesday, 9 May 2012

Viewed 970 times, 2 times today | 17 Comments |

Wesiati Setyaningsih

 

Tuhan selalu punya rencanaNYA sendiri dan itulah yang terjadi. Sebuah sms dari mas Budi Maryono muncul pada 14 April 2012 pukul 21.36.51 (masih saya simpan smsnya),

“SAHABAT MATA, komunitas tunanetra, butuh 1 juri lagi untuk lomba debat 25 n 26 April, 24 e TM, kau bisa bantukah?”

Saya yang sudah hampir lelap mesti memutuskan apakah saya bersedia. Kalau diminta membantu, pasti saya mau. Tapi apakah saya punya kualifikasi yang cukup untuk itu? Dalam lomba debat bahasa Inggris yang pernah saya datangi karena mengantar murid-murid saya, setahu saya juri lomba debat atau adjudicator (disingkat adju) harus punya kualifikasi tertentu. Saya bisa apa? Saya cuma punya sedikit pengetahuan dan tanpa pengalaman ngadju atau menjuri.

Mas Budi meyakinkan bahwa saya memenuhi syarat dan saya setuju saja. Hari berganti tapi tidak ada kabar sama sekali hingga tanggal 20 April saya sms mas Budi menanyakan kelanjutan kabar tersebut dan mendapat kepastian bahwa saya telah tergantikan orang lain. Pendek kata, tidak jadi.

Meski awalnya berharap hal itu akan menjadi pengalaman pertama ngadju yang pasti sangat mengesankan, tapi saya ikhlas saja. Ada mid test di sekolah dan saya melanjutkan hari-hari saya dengan mengawas tes.

Selasa pagi saya ke SMA 5 untuk koordinasi dengan teman-teman MGMP (musyawarah guru mapel). Di tengah acara, sebuah nomor masuk ke hape saya dan suara di seberang memperkenalkan diri sebagai Basuki dari Sahabat Mata yang meminta saya menjadi juri lomba debat yang akan mereka adakan. Juri yang tadinya menggantikan saya ternyata sakit tipus.

Antara senang, kaget dan ragu, saya setuju saja. Karena hari itu tanggal 24 April yang sedianya technical meeting, saya tanya kapan TMnya. Ternyata TM diadakan malam hari jam tujuh di Islamic Center Manyaran. Wah, itu jauh dari rumah saya. Lomba akan diadakan hari Rabu di situ juga untuk babak penyisihan, sementara hari Kamis akan diadakan di pendopo Kabupaten Kendal.

Saya mengiyakan apa kata mas Basuki meski dalam hati masih ragu. Karena Kamis itu pagi sekali mesti sampai Kendal. Saya disarankan tidur di Islamic Center untuk Rabu malam. Saya belum bisa mengiyakan karena Izza selalu keberatan kalau saya tidak pulang malam hari. Masalah ini belum bisa saya putuskan tapi saya sudah bisa menyanggupi. Biar nanti selanjutnya urusan Tuhan saja. Yang penting saya datang TM dulu.

Selasa malam, dengan taksi saya ke Islamic Center Manyaran. Sorenya saya sudah sempat buka-buka internet tentang penjurian lomba debat bahasa Inggris. Siapa tahu berguna untuk berbagi karena ini nanti lomba debat bahasa Indonesia. Saya pikir teman-teman saya juri yang lain pasti sudah punya konsep sendiri- sendiri.

Sampai di Islamic Center saya ditunjukkan tempat TM berlangsung. Saya masuk di tempat para peserta sedang mendapat pengarahan dari panitia. Tidak ada yang menyambut saya, jadi saya mengambil tempat duduk begitu saja. Para panitia yang ada sibuk sendiri. Mengikuti jalannya TM yang sudah separuh jalan, saya baru tahu kalau TM dipimpin oleh mas Basuki yang tadi menelpon saya. Saya mengirim sms pada mas Basuki bahwa saya sudah datang. Tidak ada jawaban.

Saya melihat tulisan di dinding depan, “LOMBA DEBAT TUNA NETRA TINGKAT NASIONAL”. What? Nasional? Oh, my… Ternyata yang datang adalah delegasi dari beberapa daerah. Saya bertanya pada bapak di depan saya yang bermata normal, dia darimana. Ternyata dia dari Jogja.

“Jauh ya?”

“Masih deket, mbak. Ada yang lebih jauh lagi, Bandung!”

Hah? Ini enggak main-main nih.

Suasana TM sedang agak panas karena pembimbing delegasi yang agak ngeyel dengan keputusan panitia masalah sistem lomba. Dengan lancar panitia mengumumkan sistem gugur dan sistem setengah kompetisi. Layar LCD di depan hidup tapi tidak ada tayangan bagan. Kenapa tidak ditayangkan saja. Ah, bodohnya. Untuk siapa? Mengamati TM saya agak curiga bahwa panitia yang ada kurang bisa melihat juga. Ah, jangan-jangan panitianya juga tunanetra, pikir saya.

Tiba-tiba lampu mati. Beberapa pembimbing yang tidak tuna netra berkeluh. Saya juga. Tiba-tiba saya malu hati. Saya ingat bahwa banyak orang yang ada di situ bahkan sudah berada dalam kegelapan seumur hidupnya. Listrik menyala tak lama kemudian dan kembali kami yang bermata normal mendesah gembira.

Orang di depan saya yang berkacamata hitam dan sejak tadi diam mendekat pada orang di sebelahnya yang tadi saya tanya asal mana.

“Ada apa sih?”

“Enggak pa-pa. Tadi lampu sempat mati sebentar.”

Hati saya perih. Kegelapan lampu mati tidak lagi dia rasakan karena kegelapan yang lebih pekat sudah lebih dulu dia alami sejak lama. Tak lama TM selesai. Mas Basuki keluar ruangan dan saya menghadang langkah beliau.

“Mas, saya bu Wesi yang tadi di telepon.”

“Oh, iya…” dia menyambut dengan ramah.

Uluran tangan saya terhenti ketika mata saya melihat tongkat kecil warna metalik di tangan mas Basuki. Mas Basuki juga tunanetra! Bersama mas Basuki saya diajak ke ruang sekretariat karena ternyata di sanalah mestinya para juri berada. Woalah. Saya kesasar tapi itu membawa saya pada pengalaman-pengalaman yang memperkaya.

Di ruang sekretariat, asumsi saya hancur berantakan. Saya mengira panitia atau setidaknya teman juri yang lain punya konsep penjurian dan itu salah besar. Panitia menyerahkan pada saya dan dua teman lain untuk merumuskan sendiri kriteria penjurian. Wow. Lebih mengejutkan lagi, ternyata cuma saya yang pernah berkecimpung di dunia debat. Pak Zaenal, dosen UDINUS, adalah teman mas Basuki yang menggantikan teman mas Basuki lain yang berhalangan datang. Mbak Iin, dari Jakarta, juga sama sekali tidak tahu debat. Dia hanya mewakili sebuah organisasi tuna netra dan dia seorang low vision (istilah yang baru saya tahu di sini). Dua-duanya sama sekali enggak tahu debat itu gimana.

Akhirnya, hasil saya baca-baca sekilas di internet tadi saya sampaikan dan mendapat tanggapan yang luar biasa dari mbak Iin yang ingin ‘meninggalkan jejak yang indah’ dalam lomba debat yang baru diadakan Sahabat Mata ini. Karena pengetahuan saya, semua setuju saya nanti jadi juri ketua atau bahasa kerennya di debat bahasa Inggris, chief adju! Antara senang dan gamang.

Saya selalu terkagum-kagum dengan chief adju yang memberikan verbal adjudication atau komentar penilaian pada kedua tim yang baru saja selesai bertanding. Cara-cara mereka memberikan alasan sungguh sistematis dan menurut saya, keren. Dan sekarang saya mesti jadi chief adju? Oh my God!

Pulang dari Manyaran di taksi saya laporan pada mas Budi. Ada apa dengan semua ini? Dia cuma bilang, “kalau ingin tahu, nanti menjelang tidur.”

Sekarang saya sedang menjelang tidur. Dan apa yang saya rasakan? Saya membayangkan saya berada di antara saudara-saudara saya yang tidak bisa melihat, sesuatu yang selama ini saya nikmati dengan gratis hingga kadang lupa bersyukur. Besok, keputusan saya akan sangat berkuasa atas apa yang telah mereka usahakan selama ini.

Entah kenapa tiba-tiba hati saya disergap rasa haru yang luar biasa. Air mata meleleh tanpa terduga. Pada Tuhan saya hanya mampu tenggelam dalam kata,

“Aku bukan siapa-siapa.”

(Doakan saya dan teman-teman juri agar mampu memutuskan dengan adil dan bijaksana. Amin)

 

Share This Post

Posted by Wednesday, 9 May 2012 on 10:59.

Categories: Kehidupan. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

17 Responses to “Aku dan Sahabat Mata (1): Chief Adju”

Pages: [2] 1 »

  1. 17
    wesiati Says:

    emoh. mas Anoew terlalu menarik. mengko guru kepencut murid kan rak lucu. dikira pedopili….

  2. 16
    anoew Says:

    Aku ikut jadi muridnya wis

  3. 15
    wesiati Says:

    makasih mbak probo. mbak nino : sukses berat. berakhir di kisah ke 3.

  4. 14
    elnino Says:

    Pengalaman yang sangat berharga. Trus gimana akhirnya? Sukses kan, proyeknya chIef adju?
    *kalo punya guru seperti Wesiati aku bakal semangat juga pasti

  5. 13
    probo Says:

    setuju dan idem komen 11

  6. 12
    wesiati Says:

    hehe… makasih ya. jadi malu. *tersipu2…

  7. 11
    Dewi Aichi Says:

    Wesiati…dirimu memang canggih, hebat, bu guru yang asik..pokoknya hebat…aku apresiasi setinggi-tingginya dengan kiprahmu ini..! Salam semangat dan sukses…!

Pages: [2] 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)