Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Best Western Hotel di Solo

Wednesday, 9 May 2012

Viewed 3413 times, 6 times today | 141 Comments |

Nunuk Pulandari

 

Bertemu dengan dimas Handoko sesungguhnya tetap merupakan salah satu kekecualian. Komunikasi hanya terjadi beberapa kali saling mengirim sms atau e-mail untuk saling mencocokkan waktu yang tersedia. Dari Jakarta, dengan bantuan dimas JC untuk menanyakan nomor telefoon di Solo, kami berbincang mencocokkan kapan kiranya kita bisa saling jumpa. Ketika semua sudah menjadi agak jelas, lewat telefoon terakhir dimas Handoko masih menekankan: ”Mbak Nuk, kalau sampai nggak sempat ke Solo, saya juga bisa ke Yogya kok. Asal tahu adresnya dan kita bisa saling jumpa saja”. Aduuuhhh, berterima kasih sekali bisa saling jumpa pada akhirnya. Malah sempat merepotkan…Sayang foto makannya nggak jadi.

Pada akhirnya untuk pertama kali kami saling jumpa di salah satu peron station kereta api Solo. Setelah saling sapa dan menanyakan keadaan masing-masing kami berjalan beriringan menuju ke tempat parkir mobil. Sambil berjalan, kami membicarakan runtutan rencana yang bisa kita kerjakan dalam satu hari itu. Mengingat cepatnya waktu berlalu, dimas Handoko mengajak kita semua untuk mengunjungi dulu Museum Sangiran yang berada di luar kota. Setelah itu baru mengujungi obyek turis yang berada di dalam kota. Tentu sebelum ke Sangiran kami mengurus lebih dahulu hotel yang kiranya bisa kami tempati untuk bermalam selama di Solo. Pada saat itu dimas Handoko membawa kami ke hotel Lampion di dekat kota. Setelah semua beres kami menuju ke Sangiran (http://baltyra.com/2012/05/02/yogya-solo-juga-naik-kereta-api/).

Dari Sangiran kami kembali ke Pusat kota untuk mencari makan siang. Kali ini acara makan siang kami di Hoka Bento, di Solo Mall (?). Semua selera bisa terwakili. Pada saat makan siang ini, tiba-tiba mobiele telefoon kami menggonggong (suara anjing). Langsung dari seberang terdengar suara adik yang kebetulan sore itu juga ada di Solo. Dia menginap di Hotel Best Western . Wouwwww, adik meminta kami semua pindah saja ke Best Western agar dekat kemana-mana. Pada saat itu saya tidak dapat memutuskan karena Hotel Lampion sudah dibooking walaupun memang  belum bayar dan tidak perlu pakai uang muka. Jadi  saya hanya menjanjikan bahwa saya akan membicarakannya dengan dimas Handoko tentang apakah ada kemungkinan untuk membatalkan hotel Lampion. Kalau mungkin… Belum sempat saya membicarakan hal tersebut, gonggongan anjing sudah terdengar lagi dari Mobiele telefoon saya. Ketika diangkat ternyata yang menelefoon adalah manager Hotel Best Western sendiri…Dimas Herman. Dengan sedikit memaksa dimas Herman meminta kami untuk pindah ke hotelnya, dan kalau perlu akan menjemput dan mengurus kepinhdahannya dari hotel Lampion.

Singkat ceritanya, kami berhasil mengurus ke hotel Lampion dan sore itu juga langsung pindah ke Hotel Best Western. Ketika saya sedang mengurus di Receptionist, tiba-tiba di belakang saya seolah terdengar suara adik saya… Lalu ketika saya menengok… Yaaaa, adik saya memang ada di sana. Dengan ditemani oleh dimas Herman sang Manager yang berasal dari Brussel… Ha, ha, haaa.. Kami langsung bersapa ria dan mengobrol ngalor ngidul…

Foto 1. Birrutte, Lei dan Freddy dengan dimas Herman di lobby hotel.

Teman-teman saya bercerita tentang hotel Best Western dengan maksud untuk memperlihatkan betapa hebatnya para ahli bangunan menyulap sebuah gedung perkantoran menjadi sebuah hotel mewah.  Hotel Best Western Solo ini terletak berseberangan dengan kantor bank:  BCA Pusat Solo.  Di ujung pintu masuk alun-alun kraton Solo. Tarif hotel ini sekitar 500-rb-an untuk kamar yang paling murah.  Tentu dengan format kamar yang cukup mentereng dan sarapan yang bervariasi serta cukup enak. Memang dengan tarif harga yang ditawarkan, hotel ini termasuk dalam kategori hotel yang menyesuaikan  antara kwalitas dan fasilitas yang tersedia. Saya kira kita tidak akan rugi untuk menginap di hotel ini yang letaknya di tengah jantung kota Solo.  Yang mungkin perlu diperhatikan adalah minimnya ruang parkir. Saya hanya melihat ruang parkir  untuk kira-kira 2 puluhan  mobil, sehingga ketika kami datang dimas Handoko harus segera cari parkir di depan hotel, di pinggir jalan rayanya. Fasilitas lainnya memang ada, tetapi kami tidak sempat menggunakannya. Harap dimaklumi, karena kami selalu pulang cukup laat…

Foto 2. Di kanan lobby ada ruang duduk-duduk untuk minum kopi sambil menikmati kue.

Memasuki lobby  terasa sekali suasana yang asri , sejuk  dan nyaman …  Di sebelah kanan terlihat banyak cake mini dan tidak jauh dari sini terlihat  botol-botol wine yang sedang menunggu para penggemarnya…

Foto 3. Petugas bagian ruang duduk.

Teman-teman semua tentunya bisa membayangkan betapa betahnya kita semua duduk-duduk disana sambil minum dan makan kue ketika melihat dan dibantu petugasnya yang terampil menolong kita dan tetap dalam keramah tamahan yang sangat professional sekali.

 Berjalan menuju  ke arah receptionist  nampak hampir  semua hiasan yang terdapat disana bernuansa Indonesia sekali. Tampak banyak sekali di gunakan hiasan wayang golek dengan tokoh-tokoh punakawan dan tokoh penting dalam pewayangan Jawa/ Sunda. Juga penggunaan berbagai motief batik klasik  sebagai pelindung patung, hiasan dinding, hiasan bantalan kursinya, hiasan  taplak mejanya, sangat menarik perhatian. Ukiran Jepara digunakan dalam bagian meja tamu dan latar belakang dindingnya. Desain interior Hotel Best Western secara menyeluruh dan terutama kamar-kamarnya sangat menawan. Sebuah hotel yang dapat mewakili dan  memiliki karakter khas kota Solo.

Foto 4. Hiasan wayang golek (Sunda ) yang tertata dengan rapih di salah satu bagian dinding kiri lobby hotel.

Foto 5. Dua petugas Receptionist sedang membantu kami.

Nampak di belakang meja receptionist terpampang  sekelompok Punakawan dalam pewayangan Jawa dengan latar belakang ukiran Jepara yang halus dan indah.. Di bawah meja terhampar motief Truntum yang menghiasi dinding dalam warna keemasan yang megah.

Foto 6. Motief kain yang digunakan untuk meyelubungi badan patung yang ada.

Foto 7. Motief batik lain yang menghiasi tubuh patung di ruang Lobby.

Teman-teman, terutama yang sangat menyenangi dan mengagumi detail interior hotel,  anda bisa mendapatkannya di hotel ini. Tidak hanya di ruang tamu atau lobbynya saja tetapi hampir di semua ruang hotel anda akan menemukannya. Anda dapat menikmati tampilan  interior dan budaya disertai dengan keramahan para “penghuninya”.

Setelah berbincang ria dengan dimas Herman dan adik serta beberapa teman lainnya, kami segera menuju ke ruang kamar tidur yang ada di lantai 9.  Kamar tidur yang sangat baik dan sangat luas. Sangat bersih dan rapi. Tampak betapa terjaganya kwalitas kebersihan dan pemeliharaannya.

Foto 8. Ruang duduk di kamar kami; di sebelah kiri ada pintu tembus ke kamar kedua

Foto 9. Kamar tidur utama yang ada di sebelah kanan ruang duduk

Foto 10. Kamar mandi yang dilengkapi dengan segala macam kebutuhan mandi.

Di ruang kamar mandi, selain badkuip, juga ada ruang douche  yang cukup besar dengan kucuran airnya yang cukup deras dan hangat airnya..

Foto 11. Lemari dinding, yang berisi alat setrika,  kamer jas,  sandal dan perlengkapan  minuman serta di lengkapi pula  dengan savingsboxsnya.

Semua fasilitas yang ada di dalam lemari bisa kita gunakan tanpa mengeluarkan biaya ekstra lainnya.

Tidak hanya di dalam kamar saja yang dilengkapi dengan peralatan canggih Wi-Fi gratis di semua ruang dalam hotel kita bisa mengaksesnya melalui peralatan yang kita bawa. . Interior ruangan kamar yang sangat  elegan dan tidak terlalu menyolok penampilannya sangat menyenangkan untuk meninggalinga.

Apa yang saya kira juga akan teman-teman sukai bila bermalam disana adalah jendela di ruangan yang bisa dijadikan tempat untuk bisa melihat sampai ke seberang luar nan jauh di bawah sana…

Foto 12. Pemandangan di pagi hari dilihat dari  kamar tidur.

Foto 13. Indahnya angkasa dengan warna awan di pagi hari.

Foto 14. Pergantian warna awan di angkasa

Foto 15. Melihat ke arah berlawanan tampak  keindahan  sepasang gunung di keremangan sinar pagi.

 Di pagi hari,ketika kami berempat sudah siap segera kami bersama untuk pergi sarapan. Kami menuju ke ruang makan di lantai dasar. Memasuki ruang makan, nampak segala sesuatunya teratur dengan baik. Untuk sarapan pagi ini kami semua dimanjakan dengan menu sarapan yang terdiri  dari banyak dan berbagai pilihan. Pilihan yang ada terdiri dari  jenis makanan tradisionil dan jenis makanan Eropa. Suatu suguhan makan pagi  yang fantastis!

Di bawah ini saya tayangkan beberapa jenis makanan yang bisa kita nikmati bersama di pagi itu.

Foto 16. Jenis minuman yang sangat juicy dari berbagai buah-buahan.

Foto 17. Makanan pendamping “manis”

Foto 18. Berbagai roti tersedia untuk disantap bersama

Foto 19. Makanan sarapan tradisionil, bubur ayam dan sup

Foto 20. Sarapan ala Eropa, dengan wafelnya yang khas dari Brussel

Foto 21. Pada mas yang ahli menggoreng telur, anda bisa dibuatkan pesanan yang sesuai.

Foto 22. Lontong sayurnya yang gurih

Foto 23. Berbagai makanan spt nasi goreng, bakmi goreng dll.

Foto 24. Perbagai buah-buahan segar dan hasil produk susu sebagai penutup makan pagi…

Foto 25. Piring-piring dengan berbagai tokoh pewayangan tergantung di dinding sebagai hiasan di salah satu sudut ruang makannya

Foto 26. Salah satu motief batik melatar belakangi kursi makan yang ada.

Untuk makan pagi ini kita semua bisa menikmati dari yang namanya nasi  gudeg (makanan Jawa), lontong sayur, croquet monsieur (telus, ham, tomat dan keju), spaghetti, sepuas-puasnya…Asal maag anda untuk menampunya saja. Suatu kesempatan makan pagi dengan jenis  makanan yang fantastis! Tidak ada salahnya kalau teman-teman mau makan pagi disana walaupun mungkin kita memang harus membayar “agak”mahal.

Staf dan para petugasnya yang sangat ramah dan siap membantu tentunya menambah nilai plus untuk hotel ini. Dari perbincangan dengan adik di kemudian hari, sesungguhnya banyak teman-teman yang memang telah merekomendasikan (bukan iklan lho ya) saya  untuk sebaiknya menginap di hotel ini saja. Mereka pernah mengatakan, you pasti akan kembali dan tinggal di hotel ini ketika  ke Solo lagi.

Foto 27. Saya dan dimas Herman.

Meskipun Dimas Herman berasal dari Eropa, tetapi ternyata dia juga senang sekali untuk disapa dengan panggilan dimas.

Teman-teman, Best Western Hotel Premier di Solo, memang  dikenal sebagai satu-satunya Hotel Batik di Indonesia. Sebuah hotel yang berlokasi di  pusat kota di wilayah Slamet Riyadi yang termasuk daerah berprestise di Solo. Untuk kami semua, merupakan suatu hotel yang dapat menjamin kemudahan sebagai toeris yang ingin bisa mencapai akses mudah kesegala  tujuan wisata yang ada. Terutama dalam mencapai akses wisata di sekitar kota Solo nan kaya dengan warisan sejarah kerajaannya dan kekayaan motief batiknya.

**Dimas Herman, suatu hari saya akan sampai lagi di hotel anda. Semoga kita masih bisa saling bersapa ria. Nu2k**

 

Share This Post

Posted by Wednesday, 9 May 2012 on 11:00.

Categories: Jalan-jalan. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

141 Responses to “Best Western Hotel di Solo”

Pages: [15] 14 13 12 11 10 9 8 7 6 5 … 1 »

  1. 141
    Esti Yoeswoadi Says:

    Ibu Nunuk, Jadi pingin ke Solo. Baiklah, coba bujuk bocah – bocah saya nanti libur Lebaran untuk ke Solo. Terimakasih sharingnya. Salam, Esti

Pages: [15] 14 13 12 11 10 9 8 7 6 5 … 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)