Bisikan Hati Seorang Anak

Angela Januarti Kwee

 

Aku bersemangat memulai hari untuk mengikuti training yang diadakan kantorku. Meski awalnya aku belum terdaftar menjadi peserta, aku meminta HRM memasukkan namaku. Mudah-mudahan quotanya mencukupi, harapku. Dan benar saja, aku mendapat kesempatan itu. Sungguh gembira hatiku.

Sebelum acara dimulai, para peserta menyantap menu sarapan di ruang makan dekat dapur. Aku bergegas karena waktu tinggal sedikit. Seorang bapak berusia 63 tahun terlihat tengah asyik berbincang bersama panitia seraya menikmati bubur.

“Pagi pak,” sapaku dibarengi senyuman. Ia membalasnya dan kami makan bersama di meja bundar sembari berbincang.

Jam-jam awal training kami disugukan materi yang ringan. Perbincangan tentang motivasi diri. Beliau menceritakan sebuah dongeng dan menampilkan gambar-gambar pada layar pancaran LCD di depan kami. Motivation by imagination benar-benar memacuku untuk berimajinasi dengan baik. Aku mencatat banyak hal penting dalam cerita dan menunggu kesempatan bilamana dipanggil kedepan untuk menceritakannya kembali pada seluruh peserta. Kami membahas materi ini dengan gembira hingga menjelang jam istiharat makan siang.

Beliau senang berbagi pengalaman. Ia menceritakan satu pengalaman yang menyentuh hatiku dan semua peserta. Ia mulai bercerita dan kami mendengarkan dengan seksama.

Satu ketika, ia diajak istrinya mengunjungi kenalan yang tengah sakit di salah satu rumah sakit swasta. Beliau punya kebiasaan merokok, satu hari bisa dua bungkus. Karena di rumah sakit tidak boleh merokok, ia memilih merokok di parkiran sebelum mengunjungi kenalan istrinya.

Mereka menuju satu ruangan dan terheran melihat ruangan itu dipenuhi banyak orang. Ia berusaha mengintip, melihat ke dalam ruangan. Seorang lelaki berusia 35 tahun tengah berjuang melewati masa kritis. Napasnya tersenggal-senggal dan harus dibantu oksigen. Selang lima belas menit kemudian, lelaki itu meninggal dunia. Beliau penasaran dan menanyakan penyakit yang diderita pasien tersebut pada salah satu perawat.

“Bapak itu sakit apa?” tanyanya.

“Kanker paru-paru,” jawab perawat tersebut.

Kejadian itu sebenarnya biasa saja. Toh semua orang akan meninggal, pikirnya. Memang bapak itu meninggal karena kebiasaan merokok, sama seperti beliau yang juga perokok. Tapi ada hal lain yang terjadi di sana. Saat mereka tengah berdiri dekat jenasah, dua orang anak lelaki itu menangis dan berkata: “Papa, kami nanti dengan siapa?”

Sontak ucapan dua anak tersebut menyentuh hati beliau. “Umurku 35 tahun sama dengan bapak itu, juga punya dua anak, laki-laki dan perempuan. Usia anak kami juga sama, aku juga merokok, bahkan lebih banyak dua bungkus sehari. Bila aku meninggal seperti ini, bagaimana anak-anakku? Seperti kedua anak itu, bagaimana nasibnya? Bila ibunya menikah lagi, apa ayah tiri mereka akan menyayanginya?” Berbagai pertanyaan memenuhi pikirannya.

Sepanjang jalan menuju parkiran, beliau merenung. Sang istri berpikir ia takut melihat orang meninggal. Cukup lama ia merenung dan akhirnya membuat satu keputusan dalam hidupnya: Aku akan berhenti merokok! Ia membuang bungkus rokok yang masih banyak isinya ke tempat sampah, sontak sang istri marah karena buang-buang uang dan berkomentar: “Palingan, nanti merokok lagi.” Dengan yakin beliau mengatakan pada sang istri: “Mulai detik ini dan selamanya, aku janji tidak akan merokok lagi!”

Beliau mengutarakan: “Saya pernah mengatakan kepada istri, bahwa saya akan memimpin perusahaan tempat saya bekerja saat ini. Hanya kami berdua yang mengetahui tekad saya. Usia saya masih muda dan untuk berprestasi saya harus selalu sehat.”

Benar, hal itu menjadi kenyataan. Beliau memulai dari salesman hingga menuju jabatan direktur. Merangkap sebagai presiden direktur di tempat yang sama dan sebagai wakil presiden direktur dan presiden direktur PT yang berbeda.

Sesuatu hal yang baik, akan membuahkan hasil yang baik pula. Beliau kembali bercerita anak-anaknya tumbuh menjadi anak yang baik, tidak merokok dan minum alkohol. Ia juga sering mengajak orang terdekatnya untuk berhenti merokok. Satu kejadian yang menginspirasi, ia masuk ke kamar temannya dan mendapati asap rokok menggepuh di seluruh isi ruangan. Ia menyarankan temannya untuk berhenti. Ketika terucap kata “Aku mau berhenti” dari mulut temannya; Ia meminta sang teman menghubungi orang terdekatnya untuk memberitahukan tekadnya. Temannya menelpon anaknya yang saat itu masih kuliah, dan terjadi perbincangan mengharukan lewat telepon. Temannya menangis, jelas beliau kebingungan. “Apa yang terjadi?” pikirnya.

“Kenapa kamu menangis?”

“Anakku bilang: Aku tahu sangat berat bagi papa untuk berhenti merokok. Pengorbanan papa ini akan aku bayar dengan kuliah yang serius dan berjanji tidak akan terjerumus dalam dunia gelap anak muda.”

Selanjutnya ia bertanya pada peserta, berapa banyak yang merokok dan 18 orang mengangkat tangan. Satu demi satu diajak untuk bertekad berhenti merokok, demi masa depan dan keluarga. Ada yang ragu menyambut tangan kanan beliau untuk bertekad, namun pada akhirnya 18 dari mereka optimis melakukannya. Bukan hanya sampai di situ, korek dan rokoknya juga diminta untuk diserahkan. Kami yang tidak merokok menghancurkan tiap puntung rokok itu, terdengar suara berat dari mulut mereka karena beberapa rokoknya masih utuh.

Tiap alasan terlontarkan untuk mewujudkan tekad mereka; semuanya demi keluarga, anak dan masa depan. Haru merasuki seluruh ruangan. Ini menjadi moment yang tak terlupakan.

Aku teringat orang rumah. Papa dan abangku juga perokok. Bahkan papa punya kebiasaan minum di malam hari, aku tahu ini untuk menghilangkan lelahnya dalam bekerja. Tapi aku sangat khawatir akan kesehatannya. Aku terpikir mempraktekkan hal yang sama, menjadikan diriku pada posisi anak dari teman beliau. Aku mengajak adik-adikku untuk serentak mengirimkan sms yang berbunyi: Pa, kalau papa berhenti merokok dan minum. Kami anak-anak papa janji akan menjadi orang-orang sukses dan membanggakan orangtua. Kami ingin papa mama selalu sehat dan menikmati jerih payah dalam perjuangan kami. 

Malam hari saat kami masih mengikuti training, aku menerima sms dari adikku yang berada di rumah: Ce, berhasil. Papa malam ini hanya minum kopi. Aku tersenyum membaca sms tersebut dan mengucap syukur.

Perjuangan 18 teman tadi juga tidak mudah. Dua hari training bibir mereka terlihat pucat, beberapa terdengar berkata mulutnya tawar. Bahkan panitia harus membelikan permen untuk membantu mereka melawan rasa ingin merokok. Kami mendukung dan memberikan support agar mereka terus bersemangat.

Bagiku pengalaman ini luar biasa. Sangat masuk logika bahwa orangtua harus memberikan contoh yang baik bagi anak-anaknya. Bukan hanya masalah merokok, tapi banyak hal lain yang menjadi perhatian. Pergaulan bebas, perselingkuhan, keserakahan akan harta dan kedudukan, rumah tangga yang berantakan, penggunaan obat terlarang, alkohol dll.

Keharmonisan rumah tangga, perhatian, kesederhanaan, cinta kasih dan dasar iman yang teguh akan membuat anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang baik dan bahagia.

Setiap anak pasti ingin membahagiakan orangtuanya. Mereka melihat contoh pada pribadi yang paling dekat dengan mereka, yaitu orangtuanya. Semoga tiap orangtua tergerak dengan bisikan hati anak-anaknya. Kami kaum muda, memerlukan panutan yang benar, bukan yang menyesatkan.

Aku sayang keluargaku dan ingin membahagiakan mereka dengan prestasiku.

*Satu siang dalam keheningan, mendengarkan bisikan hati seorang anak yang ingin diutarakan pada orangtuanya ^_^*

Sintang, 4 Mei 2012

 

About Angela Januarti Kwee

Tinggal di Sintang, Kalimantan Barat. Bersahaja namun sangat dalam memaknai kehidupan. Banyak sekali kegiatan yang berkenaan dengan kemanusiaan, kebhinnekaan dan wujud Indonesia yang plural. Menembus batas benua dan samudra membagikan cerita kesehariannya melalui BALTYRA.com

My Facebook Arsip Artikel

19 Comments to "Bisikan Hati Seorang Anak"

  1. Wahnam  11 May, 2012 at 10:55

    Merokok selain bahaya bagi kesehatan si perokok sendiri karena bisa mengakibatkan penyakit, kanker, paru dan jantung, juga membahayakan pula orang2 yang orang2 disekitarnya yg tidak morokok (second hand smoke). karena mereka secara langsung menghisap asap rokok yang di keluarkan oleh para perokok tsb.

  2. Handoko Widagdo  11 May, 2012 at 07:23

    Itsme, itu ada bukti dari Kang Candra Sasadara bahwa Al’quran bisa membuat orang berhenti merokok

  3. Angela Januarti  10 May, 2012 at 19:53

    ^_^ senang banyak yang komentar. hehhe
    Berbagi cerita seperti ini menyenangkan.

  4. Chadra Sasadara  10 May, 2012 at 19:42

    saya berhenti merokok karena takut di minta menghafal Juz Ammah (surat-surat pendek dalam Al-qur’an) pada saat di pesantren. hukuman merokok sebenarnya hanya dipetak’i (dipotong rambut secara tidak rata), karena rambut dah habis dipotong tiap malam. hukuman dinaikkan menjadi menghafal al-qur’an

  5. Itsmi  10 May, 2012 at 18:16

    Dulu kalau bangun, minum kopi baca surat kabar dan merokok hmmmm enaknya…

    Sekarang mencium aja sudah grrrrr

  6. [email protected]  10 May, 2012 at 15:26

    LAPOR…. saya tidak merokok…. tapi kadang2 terpaksa menghisap asap rokok dari rokok orang lain….

  7. nu2k  10 May, 2012 at 15:20

    Ini cerita lainnya tentang 2 orang kakak ipar saya yang berhenti merokok. Keduanya telah merokok untuk jangka waktu yang lama.. Plus minus 35 tahun. Ketika berumur 56-an mereka berhenti merokok… Betul-betulll berhenti dan tidak pernah merokok lagi… Setelah berhenti merokok, badan mereka memang terlihat agak segar (gemuk) dan tidak pernah sakit yang berarti., .. Dalam perjalanan waktu yang ada, kurang lebih 25 tahun kemudian, seperti juga yang tidak pernah merokok, mereka kadang juga batuk-batuk kecil..Sebentar sembuh… Dan kalau mereka terlalu kecapaian bekerja atau agak sibuk, timbul lagi batuk-batuknya..Kadang disertai demam .. Suatu ketika karena batuknya tidak juga membaik dan demamnya tidak juga hilang, dokter menganjurkan untuk dicek semuanya…..Dan teman-teman, hasil pemeriksaan mengatakan bahwa paru-parunya sudah dipenuhi kangker dan sudah menjalar ke organ lainnya..Hanya dalam hitungan beberapa minggu kemudian , keduanya dalam waktu yang tidak berbeda lama telah dipanggil oleh Sang Penciptanya..Pastikan bahwa ketika berhenti merokok anda-anda tidak ditinggali “sampah” hisapan rokok yang telah dihisap dan terhisap … Semoga kita semua diberikan kesehatan yang utama. Amien.. Gr. Nu2k

  8. Handoko Widagdo  10 May, 2012 at 14:13

    Lho kan umum terjadi di kampung

  9. Lani  10 May, 2012 at 14:07

    10 HAND : waaaaaaaah?! edun tenan…….usia dini begitu udah mengenal rokok, memangnya ndak dimarahin sama ortu????

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.