Sekali Lagi Tentang Asisten Rumah Tangga

Yeni Suryasusanti

 

Masalah asisten rumah tangga alias PRT atau pengasuh anak merupakan masalah yang cukup krusial terutama bagi Ibu bekerja, termasuk saya.

Dalam banyak keluarga, cukup banyak yang salah menempatkan fungsi mereka dalam rumah.

Sesuai dengan namanya, Asisten atau Pembantu seharusnya merupakan unsur tambahan, bukan utama.

Pengerjaan tugas rumah tangga dan pengasuhan anak hendaknya tidak melupakan point utama : bahwa pemilik rumah dan anak tetaplah kita.

Ketika kita mendelegasikan sebagian besar pekerjaan di rumah karena kita memilih berkarya di luar rumah, yang tidak boleh kita lupakan adalah tugas utama pengawasan dan keputusan ada di tangan kita.

Ini berarti, adalah tugas kita untuk mengawasi apakah nilai-nilai yang kita anut juga di dukung oleh para asisten rumah tangga.

Untuk membantu saya dalam menjalankan operasional rumah tangga, kami memiliki 2 orang asisten : satu orang yang menginap, bertugas memasak, mencuci baju dan membantu mengawasi anak-anak ketika saya di kantor, dan satu orang lagi hanya datang sebentar untuk menyapu, mengepel dan menyetrika. Keduanya sudah bekerja pada keluarga kami selama bertahun-tahun. Selama itu, nilai-nilai mereka sejalan dengan nilai utama yang kami tanamkan dalam keluarga : Agama, kasih sayang dan kejujuran. Saya cukup bisa menoleransi berbagai kekurangan selain ketiga nilai tersebut :)

Bulan Maret yang lalu, dengan berbagai pertimbangan saya memutuskan mengakhiri kerja sama dengan asisten yang menginap. Alasan yang utama tidak dapat saya tuliskan disini dengan pertimbangan menghindari membicarakan aib sesama muslim. Namun, alasan penting lainnya adalah karena berkurangnya nilai kejujuran.

Saya adalah seorang penganalisa, karenanya – tanpa bermaksud untuk menyombongkan diri – bisa saya katakan bahwa tidak mudah untuk berbohong kepada saya.

Jika ada yang berkata bahwa “Untuk menghindari hukuman atau mempertahankan image itu mudah, berbohonglah”, maka saya adalah orang pertama yang akan berkata bahwa keputusan itu sungguh salah. Berbohong itu memang mudah, tapi mempertahankan kebohongan yang bisa diterima dengan wajar sangatlah sulit.

Ketika kita memutuskan untuk berbohong, kita harus memiliki daya ingat yang tinggi karena kita harus ingat setiap kebohongan yang kita ucapkan. Kita juga harus menyiapkan setting yang tepat sehingga kebohongan itu terasa nyata. Itu tidak mudah.

Maka ketika beberapa kejadian yang janggal terjadi karena bagi saya terlihat jelas ada yang tidak pada tempatnya, apalagi ditambah dengan bahasa tubuh, alarm di kepala saya langsung berbunyi.

Kejadian pertama sudah cukup lama berlalu, dan cukup sederhana, terkait dengan instruksi saya agar asisten sesekali menggantikan saya untuk memeriksa buku-buku yang Ifan (usia jelang 12th) bawa ke sekolah. Namun, instruksi saya untuk memeriksa di depan Ifan dengan meminta izin seperti dahulu seperti yang terkadang saya lakukan mungkin tidak dijalankan karena asisten menghindari konflik. Memang Ifan terkadang suka membawa majalah ke sekolah untuk dibaca-baca usai mengerjakan tugas, yang mana hal ini tidak diiizinkan pihak sekolah dan bisa mengakibatkan penyitaan.

Pada suatu pagi saya mendapati Ifan ribut marah-marah sebelum berangkat ke sekolah. Setelah saya telusuri, ternyata Ifan menuduh si asisten mengambil buku “Kecil-kecil Bisa Bikin Game” yang pernah saya belikan untuknya, tentang pembuatan game dengan macromedia flash.

“Waktu ekskul computer club, Ifan praktekkan buat game. Bu Pranti tanya siapa yang ajari Ifan. Ifan bilang, belajar dari buku yang dibelikan Bunda. Jadi Bu Pranti minta Ifan bawa pas pelajaran komputer hari ini, mau pinjam untuk dilihat… Mau untuk materi tambahan pelajaran komputer, Bun,” jelas Ifan.

“Oke, udah dibawa di tas?” tanya saya.

“Itu diaaaaa…. tadi pagi udah Ifan masukin, tapi setelah mbak masukin bekal Ifan ke tas, dan Ifan periksa bukunya nggak ada…”

Saya berpaling kepada si asisten dan bertanya tanpa nada menuduh, “Apakah mbak mengeluarkan dari tas Ifan?”

Asisten menginap saya itu pun menggeleng dan bertahan, “Nggak, aku nggak ambil! Demi Allah!”

Dug! Rasa di tinju dada saya mendengar betapa mudahnya kata “Demi Allah” keluar dari mulutnya. Setahu saya, penggunaan kata “Demi Allah” sebaiknya hanya digunakan ketika kita tidak memiliki cara lain untuk membela diri atau terancam hukuman, terutama di depan sebuah pengadilan.

“Oke, sekarang Ifan berangkat saja ke sekolah dulu, nanti Bunda dan Mbak akan cari di rumah, siapa tahu terselip bukunya. Nanti Bunda akan antarkan ke sekolah sebelum berangkat ke kantor. Satu lagi, tidak boleh menuduh siapa pun tanpa adanya saksi.”

Ifan pun berangkat sekolah, dan saya menyuruh asisten menginap untuk berangkat ke pasar dulu berbelanja.

Saya mencari buku tersebut bersama asisten pulang hari yang kebetulan sudah datang, dan kami menemukan buku tersebut diatas lemari di ruang keluarga. Lemari tersebut tinggi, dan bukan tempat Ifan biasa meletakkan buku favoritnya.

Ternyata, sebelum keributan terjadi, asisten menginap sempat bercerita kepada asisten yang pulang hari bahwa dia menemukan Ifan membawa buku yang tidak terkait sekolah dan menyembunyikannya.

Sepulang dari pasar, saya mengajak asisten menginap berbicara secara baik-baik.

“Mbak, buku sudah ketemu di atas lemari. Saya sangat bisa mengerti jika memang kamu yang mengeluarkan buku itu dari tas Ifan karena mengira itu buku Game biasa. Saya mengerti bahwa niat itu baik. Sekali lagi saya tanya, apakah mbak yang mengeluarkan bukunya?”

Si asisten sempat terdiam sebentar, namun kemudian bertahan, “Nggak Bun, benar aku nggak ngeluarin.”

Saya menghela nafas, “Oke, meskipun saya rasa buku itu nggak bisa berjalan sendiri ke atas lemari, masalah ini saya anggap selesai sampai di sini. Mulai sekarang, tugas sesekali memeriksa buku Ifan biar saya saja yang menjalankan. Dan, meskipun saya berterimakasih karena kamu sudah membantu memasukkan bekal Ifan ke dalam tasnya, mulai sekarang biar Ifan saja yang mengerjakannya. Biar Ifan mandiri, dan kamu tidak menjadi tertuduh jika Ifan kehilangan apa pun.”

Kejadian kedua, lebih sederhana lagi. Ketika itu kami mau pergi ke acara keluarga suami saya.

“Fian, tolong bilang mbak cepat ganti baju, kita udah mau berangkat,” perintah saya kepada Fian (usia jelang 4th).

Fian pun berlari ke dapur, namun sejurus kemudian sudah kembali sambil berkata, “Mbak lagi nangis, Bun!”

Saya pun ke dapur, dan mendapati si asisten sedang menyiangi sayuran tanpa ada airmata sama sekali di wajahnya.

“Ada apa, mbak, kata Fian kamu nangis?” selidik saya.

“Nggak nangis kog Bun…” jawabnya enteng.

Setelah saya selidiki, ternyata si asisten – mungkin karena ingin bercanda – menyuruh Fian berkata bahwa dia sedang menangis, padahal tidak.

Jangankan dengan ditambah alasan utama yang tidak bisa saya sebutkan, ketika seorang asisten sudah tidak bisa mendukung nilai-nilai yang kami tanamkan kepada anak-anak saja sudah cukup membuat saya mengambil keputusan bahwa dia tidak bisa menggantikan saya ketika saya sedang bekerja di luar rumah.

“Tidak beriman seorang hamba dengan keimanan yang sepenuhnya sampai ia meninggalkan bohong meski dalam bercanda dan meninggalkan perdebatan meskipun dalam posisi benar.” (H.R. Ahmad dari Abu Hurairah r.a.)

Jadi, akhirnya saya dan asisten menginap memutuskan mengakhiri kerjasama dengan baik-baik segera setelah dia mendapatkan pekerjaan di tempat lain. Hingga kini kami masih berhubungan baik melalui sms :)

Sampai saat ini, saya belum mendapatkan asisten menginap sebagai pengganti.

Namun, alhamdulillah Allah memberikan kemudahan. Asisten yang semula hanya datang sebentar, untuk sementara waktu hingga saya dapat pengganti asisten menginap berkenan untuk bekerja seharian di rumah hingga saya pulang kerja menggantikan tugas si asisten menginap, sementara saya mengambil satu lagi asisten yang datang sebentar untuk mengambil alih tugasnya.

Beberapa rekan kerja saya di kantor sempat berkata, “Mbak, kog berani sih seketika ganti asisten? Nggak takut anak-anak – terutama Fian – kehilangan?”

Si asisten menginap memang sudah bekerja dengan kami sejak saya hamil Fian.

Saya tersenyum dan berkata, “Saya tidak pernah membiarkan posisi saya di hati anak saya tergeser, meskipun seharian mereka ditemani asisten. Ketika saya di rumah, anak-anak tetap lebih senang saya temani. Fian juga lebih memilih diurus dan disuapi saya ketika saya ada di rumah. Dan alhamdulillah, terbukti, Ifan dan Fian sama sekali tidak terganggu dengan pergantian asisten di rumah.”

“Wah, kalau anakku lebih suka disuapi pengasuhnya mbak dari pada aku…” kata salah seorang rekan kerja.

“Kenapa? Jangan merasa gengsi belajar dari pengasuh lho triknya… Mungkin si pengasuh lebih sabar dari kamu kalo menyuapi hehehe…” seloroh saya.

“Iya sih mbak, aku sudah pengen buru-buru selesai aja…”

“Hmmmm…. Hati-hati kalau begitu. Bisa-bisa anakmu mogok makan sampai sebulan lho kalo pengasuhnya berhenti…” ujar saya.

Yah, sharing saya kali ini, juga untuk mengingatkan diri sendiri, agar tidak terlena dengan kenyamanan memiliki asisten rumah tangga yang “piawai” mengurus rumah dan anak-anak. Rumah tangga dan anak-anak adalah amanah kita. Jadi, tetap harus kita yang memegang fungsi utama pengurusan atau minimal pengawasannya :)

 

Jakarta, 6 Mei 2012

Yeni Suryasusanti

 

13 Comments to "Sekali Lagi Tentang Asisten Rumah Tangga"

  1. Kornelya  12 May, 2012 at 09:26

    Mba Yenni, memilki pembantu di Indonesia mudah tetapi kadang merepotkan. Tetapi dgn adanya mesin cuci dan pengering, kealpa’an pembantu tidak akan menjadi masalah, selain untuk menemani anak-anak sepulang sekolah. Selain itu budaya kita yang tidak membiasakan anak makan sendiri sejak kecil, memperlambat mereka mandiri. Disini preschool atau setidaknya usia TK mereka sudah bisa makan sendiri. Salam.

  2. Yeni Suryasusanti  11 May, 2012 at 13:31

    Linda : iya, enak kalo tidak ketergantungan gitu… ada pembantu seneng, nggak ada juga nggak terlalu masalah
    Dev : terima kasih juga sudah baca dan tinggalkan comment
    Lani : lah soalnya prt di indo kan termasuk murah, makanya jadi pada manja. belum lagi fungsi prt dan nanny yg suka campur kalo disini hehehe…
    Mbak Nunuk : wah… itu laptop takut dilaporin ke polisi yaaaa jadi dia muncul sendiri wkwkwkwk parah tuh prt.
    Dewi : waktu mau melahirkan anak pertama, sempat tertarik sama day care karena malas pakai baby sitter. tapi ternyata di indonesia day care malah lebih mahal daripada hire pembantu heheheh…. ya akhirnya pake pembantu deh

  3. Dewi Aichi  10 May, 2012 at 21:57

    Saya tidak pernah sekalipun membayar asisten rumah tangga, dari awal menikah, sampai saat ini, semua saya kerjakan sendiri, saya anggap semua pekerjaan rumah sebagai kegiatan fisik, olah raga, dan saya tidak pernah jadi pengangguran, eh pernah ding..nganggur 2 tahun mengasuh anak full…selanjutnya ya bekerja lagi, memang anak di day care, selanjutnya pekerjaan rumah tangga , saya dan suami yang kerjakan, setiap weekend…semua kerjaan rumah juga kami kerjakan bersama, dibagi…yang brat berat kasih suami ha ha …setrika saya memang suka, jadi enjoy, sambil denger musik.

    Terima kasih sekali Yeni…tulisan sangat bermanfaat….bisa belajar denganmu…!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.