Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Aku, Gengsi dan Anakku

Friday, 11 May 2012

Viewed 1601 times, 4 times today | 25 Comments |

Linda Cheang – Bandung

 

Aku, Madam Li. Dengan tiga anak lahir dari rahimku, dari seorang suami, Tuan Wang, yang sepanjang umur pernikahan kami, lebih tahu diam tapi menekan dan menyakiti hatiku daripada bersikap ramah terhadapku. Kukisahkan penyesalanku kehilangan putriku Liqun, yang hidupnya penuh warna, gambaran kebalikan dari hidupku yang kelabu, karena kesalahanku : mempertahankan gengsi demi harga diri yang tak jelas. Ya, aku, ibu yang kejam.

Kini, di sisi sebuah peti putih, aku bersimpuh, bercucur air mata, menatap Liqun yang telah kaku. Dikelilingi para pelayat yang datang untuk turut berbelasungkawa.  Senyum damai menghiasi wajahnya. Tiada lagi penderitaan penyiksaan. Liqun telah meninggalku dengan jutaan penyesalan dan permintaan maaf yang tak sempat kuucapkan padanya. Gengsi demi harga diri telah membuatku menjadi seorang ibu yang kejam.

Semua berawal dari ketidakmampuanku menerima Liqun yang berani berbeda. Aku selalu mengganggup Liqun selalu melawanku, selalu kurang ajar denganku, padahal, banyak hal yang disampaikan Liqun, putriku itu benar belaka. Aku yang egois ini tak tahu bagaimana menjaga sebuah permata berharga. Ketika permata itu akhirnya pergi, hanya ribuan penyesalan yang tersisa, tanpa ku sanggup memperbaikinya.

Sejak Liqun memasuki dunia remaja, tampaklah dia berbeda dari kedua kakaknya. Anak sulungku, Chaowei, seorang lelaki gagah, pintar dalam studi tapi dia seorang yang sering tak  memikirkan tindakannya. Anak keduaku, Malian, dialah anak kesayanganku karena sebuah alasan, hidupnya sekarang adalah hidup yang keempat kalinya. Aku sangat memanjakan Malian begitupun ayahnya. Perilakunya manis, menuruti semua kemauanku, sebelum akhirnya Malian melukai hati orang tuanya dengan berontak, menikahi lelaki duda tiga kali beranak satu, yang sampai kapanpun tidak pernah kurestui kehadirannya. Pun begitu, di hatiku Malian menempati porsi terbesar ruang terdalam sebelum aku sadar telah kehilangan Liqun.

Liqun? Bagiku Liqun sulit diatur. Dia selalu punya alasan untuk mematahkan perkataanku. Ketika ku tak sanggup lagi menemukan kata-kata untuk mematahkan ucapannya aku, hanya bisa berlindung di balik ucapan “Kusumpahi kamu nanti.  Jaga jangan sampai Mama berucap yang tidak baik terhadapmu, Liqun!”. Setelahnya kulihat dengan terpaksa Liqun menutup mulutnya, kemudian menangis sambil berkata, “Mama, mengapa harus aku yang mengerti Mama, tetapi Mama tidak mau memahamiku bahwa aku berbeda?”

“Sampai kapanpun aku tak akan pernah menjadi seperti Ko Wei dan Ci Malian. Mama, terimalah aku apa adanya.”

Namun Aku selalu berhasil mematahkan pertanyaannya dengan bentakan kasar.

“Liqun, mengapa kamu tidak seperti cicimu Malian yang penurut? Kenapa kamu tak seperti kokomu yang pintar, selalu juara kelas? Mengapa kamu selalu tidak bisa bertutur kata yang menyenangkan hatiku?”

Aku tak pernah tahu bahwa perkataan-perkataan kasarku dan sikap gengsiku telah  melukai hatinya dan kelak menggerogoti livernya. Aku hanya merasa puas, bisa merasa menang terhadapnya. Karena aku ibunya orang yang telah melahirkannya dengan susah payah, jadi aku merasa layak berbuat sesukaku terhadap anakku yang pemberontak ini. Ini semua murni karena kepayahanku sendiri, tak mampu memutuskan apapun yang kumau. Tak kuduga Liqun menjadi korbanku.

Sebenarnya Liqun tidaklah sepemberontak seperti anggapan orang-orang. Itu semua aku yang menyebabkannya. Aku malu mengakui bahwa sebenarnya aku ingin memiliki hidup seperti Liqun. Berani mengemukakan pendapatnya secara terus terang. Berani pergi ke sana ke mari seorang diri tanpa takut. Berani menjadi berbeda. Atas nama gengsi dan harga diri, aku malu mengakui bahwa Liqun sebenarnya luar biasa. Walau dia tak sepandai kakaknya, tetapi prestasi belajarnya tidak bisa dikatakan jelek.

Aku terlalu angkuh mengakui bahwa sebenarnya aku sangat menikmati ketika aku berkeluh kesah, menggerutu, bersungut-sungut dan Liqun mau duduk diam mendengarkanku sampai selesai, bahkan ketika sesudahnya aku malah memarahinya pun, Liqun tetap mendengarkanku. Aku bahkan terlalu mengeraskan hatiku ketika satu saat Liqun sambil menangis setelah teguranku, berkata bahwa sebenarnya dia menginginkanku menjadi seorang ibu yang lebih punya empati. Aku tersinggung ketika Liqun satu hari protes kepadaku dan mengatakan bahwa aku Si Ratu Drama, padahal sumpah, sesunguhnya yang dikatakannya itu benar belaka. Sebenarnya pula, aku iri pada Liqun, namun karena aku merasa bahwa sebagai orang tua aku punya hak bersikap semauku, aku malah memarahinya lagi. Entah, banyak kali aku memarahi Liqun tanpa alasan yang jelas, demi menutupi kelemahanku.

Sebenarnya, aku suka sekali mendengarkan ketukan jari Liqun anakku, di atas bilah-bilah Clavinova, ketika dia memainkan karya yang amat disukainya, Romance ¹), dari komposer yang susah sekali kusebut namanya, Tchaikovsky. Biasanya berlanjut dengan Valse Sentimentale ²).  Liqun memainkan karya-karya itu dengan kesungguhan, membuat lagu yang dihasilkan begitu menenangkan. Atau ketika Liqun begitu  bersemangat memainkan karya Rachmaninov yang sama sekali aku tak mengerti karena bagiku, terdengar rumit. Nanti di saat lain, Liqun memainkan Arabesque, dengan indahnya, membuatku berimajinasi.  Akupun menyukainya, serasa tubuhku ingin bergerak mengikuti indahnya irama Salsa.  Tapi, aku terlalu gengsi untuk berekspresi.

Ah, aku tidak pernah mengerti musik klasik, jadi aku hanya mendengarkan diam-diam sambil takjub. Bagiku, not balok tak ubahnya barisan tauge yang diwarnai hitam dengan sesekali diberi bendera dan tanda-tanda kotak atau apalah yang tak kupaham. Apa bagusnya membaca barisan taoge hitam? Ketika kukatakan itu pada Liqun, aku bisa melihat api kemarahan di matanya, dan karena Liqun tak mampu membantahku, segera saja Liqun pergi memainkan Clavinovanya dan dengan marah, dia mainkan Piano Concerto³), karya Tchaikovsky lainnya, yang di telingaku, semula hanya terdengar seperti rentetan bantingan barang-barang berat dilemparkan. Bagaimana aku tak berpikir demikian, saat Liqun marah, lagu Piano Concerto itu, dentingan bilah-bilah tutsnya  betul-betul  tidak enak terdengar di telingaku, sehingga aku menggangap Liqun hanya bisa membuat bising. Tak kusangka di sebuah konser internal, dan itupun aku dipaksa Liqun menyaksikannya, lagu yang kuanggap terdengar seperti bantingan barang itu, ditingkahi suara alat-alat musik lainnya dalam sebuah orkestra, ketika Liqun memainkannya ternyata menjadi lagu yang amat indah menakjubkan. Liqunlah bintang di acara itu. Sungguh membangakan, tetapi aku menampilkan wajah yang biasa, keras kepada Liqun, dan aku masih ingat, wajah kecewanya, merasa ibunya ini tidak menghargai latihan kerasnya.

Sikapku seperti itu karena aku memang tidak tahu, bagaimana menghadapi Liqun yang lincah. Aku terlalu muda untuk menikah, usia sembilan belas tahun ketika Tuan Wang memperistriku, dan selama aku hidup dengan kedua orang tuaku, nyaris mereka tak mencontohkan sikap hangat kepada anak-anaknya. Aku mengikuti apa yang dilakukan ibuku terhadap Liqun dengan alasan agar Liqun tidak jadi keras kepala dengan semua kelebihannya. Tetapi aku mengakui dalam hatiku, betapa aku juga tidak adil karena dengan terang-terangan, aku  memanjakan Malian.

Satu hari, Liqun berkata,

“Liqun sayang Mama, tapi Liqun tidak bisa terus-menerus tahan mendapat perlakuan Mama yang selalu menghendaki Liqun untuk seperti yang Mama mau. Maafkan Liqun, bahwa Liqun bukanlah Malian yang selalu menurut”

Mungkin, itu suatu petunjuk bahwa Liqun akan pergi untuk selamanya tak lama sesudah itu…

***

Mei Hua, Mei Hua di Bulan Tujuh

semarak indah warna lembutnya

kesejukan tenang di tengah panas membakar

namun ketika

panas membakar melayukannya

tanpa sempat mekar sempurna

semarak lembutnya tak pernah kembali lagi

tercerabut badai malam ganas tak berampun

 

***

Liqun, anakku. Membaca tulisan puisi terakhirmu itu seolah menggambarkan hidupmu yang terenggut begitu cepat. Sesalku tak terhingga ketika kuteringat betapa rindunya engkau berada dalam pelukanku, namun kutepis tanpa merasa bersalah. Betapa engkau menatapku meminta perlindungan ketika menghadapi sakit hati, tapi aku aku peduli karena aku mengganggap kau hanya mengganggu kenikmatanku berleha-leha setelah penat seharian. Aku bernaksud memberimu pelajaran agar menurut saja kepada semua mauku, tetapi kemudian, aku menyesalinya, Nak.

Kini, aku hanya bisa merindukan engkau datang menghambur kepadaku, memelukku erat. Kau tak pernah tahu, Nak, kala kau pergi untuk tugasmu selama berhari-hari, sesungguhnya aku kehilangan hadirmu. Diam-diam aku merebahkan tubuhku di kasurmu, di kamarmu yang dingin. Aku menikmati caramu memelukku erat walau aku bergeming dalam beku.  Aku  menyukai caramu bernyanyi dengan unik, yang kulihat dengan diam-diam. Aku menikmati setiap buah tangan yang kau bawakan untukku, di balik sikapku yang dingin. Ah, ibu macam apa aku ini?

Aku rindu menikmati caramu berbicara dengan semangat, karena kau penuh keberanian. Aku menghendaki saat itu datang lagi, saat kau mendengarkan keluhanku dan tatapanmu menenangkanku, satu hal lagi yang tak pernah sudi kuakui di hadapanmu. Belum lagi ide-idemu yang suka memberi kejutan, di luar apa yang bisa kupikirkan. Kau luar biasa, Nak, namun aku terlalu lemah hati mengakui kelebihanmu. Anakku Liqun, ternyata jauh lebih bijak daripadaku.

Hatiku teriris manakala teringat ucapanmu lirih, meminta sangat,

”Mama, tolong jangan jadikanku tempat sampahmu kala berkonflik dengan Papa. Aku tak kuat lagi, Ma. Jangan salahkan aku terus karena aku berbeda …..”

Aku sebenarnya bangga padanya. Di hatiku, aku bersorak girang ketika Liqun pulang dari sebuah negeri yang jauh, memberikanku sebuah tanda mata, sebentuk tas mahal yang diakuinya sebagai hadiah dari prestasi kerjanya. Hatiku tersentuh manakala Liqun menemaniku jalan-jalan seharian menikmati taman bermain dan akuarium besar penuh ikan eksotis, membuatku lupa sejenak akan kepenatan hidupku. Aku sebenarnya bahagia melihat Liqun, anakku begitu disukai banyak orang dari berbagai kalangan, mulai dari para pedagang keliling sampai pejabat-pejabat hebat. Betapa Liqun begitu cair dalam pergaulannya. Liqun tak pernah absen memperkenalkan semua temannya padaku, agar Mama tahu siapa saja temanku, begitu katanya. Tapi sikapku membeku. Bahkan terima kasihku tak juga terucap dari mulutku yang kukunci rapat. Hanya karena aku iri, Liqun lebih bisa menikmati hidupnya. Aku menyesal, Nak.

****

Tanah merah memeluk Liqun yang tidur damai dalam petinya. Aku memandang hampa. Mei Hua itu telah layu begitu cepat.

***

Aku masih belum menyadari kesalahanku hingga ketika sebuah berita mengejutkan datang tentangmu, aku masih belum yakin. Berita yang mengatakan bahkan kau mengalami penganiayaan sampai hampir mati, sebab Liqun, anakku yang kukenal, mampu mengatasi segala masalah sendiri. Sampai akhirnya ku melihat sendiri anakku terbaring lemah di ranjang rumah sakit, dengan selang di sana-sini, tak sadarkan diri. Aku akhirnya ambruk. Lemas. Dan lebih menyakitkan hatiku, ternyata liver anakku telah mengeras karena kanker.  Sebegitu beratkah Liqun menahan rasa kesedihan karena aku nyaris tak peduli padanya sebanyak peduliku pada Malian?

Hanya sejenak Liqun sadar untuk mengucapkan selamat tinggal. Tersengal-sengal mengumpulkan tenaga terakhirnya, di usia yang baru duapuluh dua tahun. Aku pilu melihatnya.

“Ma, rukun-rukunlah dengan Papa. Jagalah Koko Wei dan Ci Malian”

Aku tak bisa berkata.

“Maafkan aku, karena aku tidak bisa menjadi seperti yang Mama kehendaki.”

“Liqun, jangan begitu, Nak. Mama sebetulnya kagum padamu, Tolong jangan begitu!”

Tapi terlambat. Dengan sisa terakhir tenaganya, Liqun berkata lirih,

“Aku melihat Sesosok Agung ke arahku. WajahNya bersinar damai. Aku akan pergi bersamaNya. Selamat tinggal……”

Kemudian semua indikator kehidupan menunjukan tanda nol. Liqun telah pergi. Dalam tenang dan damai. Senyum kelegaan menghiasi wajahnya. Tinggal aku yang berasa bersalah besar.

***

Aku rindu melihat lagi seulas senyum di wajah Mama
Betapa cantik berseri Mama kala itu
Senyum tersembunyi ketika hatinya riang
 
Ah, Mama, mengapa Mama bersembunyi di balik gengsi
Aku ingin Mama  berekspresi bebas berseri
agar merdeka dari hati
beban tiada terperi pergi
 
Mama, aku merindukanmu….
Mama, aku ingin di dekapanmu
merasakan detak jatungmu
yang mungkin kan tenangkan
resah di hatiku

Mama… aku rindu Mama…..
Kumainkan Romance ini untuk Mama…
Kudentingkan pun Valse Sentimentale untuk Mama…
Kubayangkan senyum Mama…
Betapa manisnya…
Arabeque *) kan terdengar lebih indah
Bila bersama Mama yang tersenyum

 

***

Sepenggal lirik lirih tulisan Liqun, anakku ketika dia sedang di satu negeri di Utara, ku baca di catatan hariannya. Tersusun rapi, jelas menyatakan kerinduannya padaku, ibunya.  Aku tersenyum namun ku juga menangis. Betapa anakku Liqun berhati halus. Bahwa aku telah salah berlaku terhadapnya. Aku menyesal sekarang, tapi anakku telah terenggut dari dekapanku selamanya tanpa sempat menerima permintaan maafku. Tak ada lagi, jemari lincah mendentingkan Romance, Valse Sentimentale ataupun Piano Concerto. Tak akan ada lagi lirik indah puitis tertulis dengan begitu indah. Tak ada lagi semuanya.

Kini, aku keras berusaha berdamai dengan diriku. Aku berterima kasih kepada anakku, demi telah mendapat pelajaran berharga. Hal semestinya kulakukan semasa anakku masih hidup. Aku menyesal, menunda-nunda menyatakan padanya bahwa sebenarnya  aku sayang padanya, bahwa aku bangga padanya. Dan, bahwa aku amat kehilangan dia.

Anakku, kini hampir setiap hari, jemariku menekan bilah-bilah Clavinova yang dulu kau mainkan. Namun jemariku tak akan pernah sanggup memainkan Romance dan Valse Sentimentale seindah kau memainkannya. Aku mengakui dengan jujur, bahwa akupun merindukanmu. Andai aku bisa memutar waktu dan  kau masih ada, tak akan pernah kutunda lagi untuk memperbaiki sikapmu padamu, Nak.

Aku sangat merindukanmu……

 

Linda Cheang

April 2012

 

Untuk Hari Ibu Internasional 2012

 

Keterangan:

¹) Six Pieces, Opus 51 No. 5, Andante Cantabile – P.I. Tchaikovsky

²) Six Pieces, Opus 51 No. 6, Tempo di Valse – P.I. Tchaikovsky

³) Piano Concerto No. 1 B Flat minor First movement, Allegro non Troppo – P.I Tchaikovsky

*) Arabeque no. 1, Andantino con moto – Claude Debussy

 

Share This Post

Posted by Friday, 11 May 2012 on 10:32.

Categories: Kehidupan. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

25 Responses to “Aku, Gengsi dan Anakku”

Pages: [3] 2 1 »

  1. 25
    Linda Cheang Says:

    Fidelis R Situmorang terima kasih untuk apresiasinya.

  2. 24
    Fidelis R. Situmorang Says:

    Suka banget baca catatan ini…

  3. 23
    Linda Cheang Says:

    Da ternyata asyik jauga bikin kisah dari hasil p[engamatan dan comot kejadian sana-sini. Obrigado!

  4. 22
    Dewi Aichi Says:

    Linda, tulisan fiksimu atau semi fiksimu…atau apapun itu, semakin bagus…sipp deh…suka aku bacanya..

    Bagi ibu di seluruh dunia..HAPPY MOTHER DAY, mari berbahagia bersama, ..!

  5. 21
    Linda Cheang Says:

    Oom Dj salam dari Bandung.

    Tadi pagi di kotbah memberingati Hari Ibu, pengkotbah membagikan kesaksian, si pengkotbah bertemu dengan seorang pemuda yang sudah kaya raya pada usia 23 tahun, namun rela menukarkan seluruh hartanya demi mendapatkan hubungan yang harmonis dengan Mamanya.

    Rupanya Si Mamanya itu menyimpan kepahitan mendalam di hatinya sehingga Si Mama itu hanya bisa mengeluarkan ucapan-ucapan yang menyakiti hati si anak dan biasanya komunikasi antar keduanya selalu berakhir dengan pertengkaran. Kasihan si anaknya Oom. Ternyata harta dan kondisi kaya raya tidak menjamin seseorang bahagia, karena si anak itu tidak mendapatkan kasih sayang tulus ibunya.

    Kornelya sepakat denganmu! Urusan tumbuh kembang ternyata bukan ada anak saja, tetapi para orang tua juga semestinya bertumbuh secara mental.

Pages: [3] 2 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)