Audrey (3): Aku tak mau kawin

Anastasia Yuliantari

 

Hai, dear

Sore ini aku menerima telepon dari seorang teman, setelah sebelumnya dikirimi SMS bernada gawat darurat: Drey, kamu di mana? Aku pingin bicara, PENTING! Karena saat itu aku sedang sibuk cuap-cuap di depan kelas tak kuhiraukan dentingan kecil di dalam tas pertanda ada sebuah pesan masuk. Apa, sih yang tak bisa ditunda di dunia ini? Perang Dunia saja membutuhkan proses perundingan panjang sebelum kebuntuan dan harga diri tokoh-tokohnya terciderai sehingga genderang permusuhan  dibunyikan. Jadi, demikianlah saat akhirnya ponsel itu kukeluarkan dari dalam salah satu saku tasku, telah berderet pesan menantiku dengan nada tak sabar yang meningkat setiap kalinya.

Kuhubungi si pengirim pesan setelah aku duduk nyaman di rumah sambil menghirup secangkir teh panas, kata orang teh lebih manjur untuk mengendorkan syaraf daripada kopi. Bukan berarti aku senewen menghadapi temanku itu, tapi perlu juga berjaga-jaga. Siapa tahu temanku itu benar-benar histeris sehingga aku harus meredakannya.

“Halo,” panggilanku diangkat pada dering pertama.

“Audrey?”

Tentu saja. Bukankah namaku yang telah tercetak di monitor ponselnya? Namun demi tak memperpanjang kata kujawab saja, “Ya.”

“Drey,” Jeda sejenak,  “Aku tak mau kawin!”

Aku tersedak seketika, teh yang sedang kuhirup muncrat membasahi celana pendek yang kukenakan. Sialnya sore itu aku memadankan kaos putih polos untuk atasannya. Tak ayal lagi beberapa percikan menciptakan titik-titik kecoklatan di sana.

“Demi Tuhan, Ren! Tak bisakah kau bicara tanpa menjerit-jerit begitu!” Ujarku kesal.

“Aku memang ingin menjerit-jerit. Kalau bisa membanting sesuatu atau meninju seseorang.” Katanya.

Temanku ini bernama Renata, dia adalah seorang manager di sebuah kantor tertentu, dengan kedudukan tertentu, dan kini kelihatannya juga mengalami gangguan kejiwaan yang tertentu bila melihat gelagatnya.

“Aku, kan tak memintamu untuk kawin, Ren.” Kataku setengah bingung. “Mengapa kau berteriak kepadaku?”

“Memang seharusnya bukan kau. Tapi orang yang berpengaruh dalam hidupku!”

Aku meringis, konsekwensi logis dari kalimat: Orang yang berpengaruh dalam hidupnya, berarti aku tak berpengaruh. Namun bila demikian mengapa dia meneriakkan kata-kata itu padaku dan bukan pada orang yang berpengaruh itu.

Seakan bisa membaca pikiranku Renata berkata dengan nada tinggi,”Aku pasti sudah gila bila berani meneriaki orang yang melahirkanku.”

Wah, sekarang jadi jelas mengapa Renata lebih memilihku. Mana berani temanku itu membantah perkataan Ibunya. Seingatku perempuan setengah baya itu tak banyak berkata-kata, kalem pembawaannya, namun mempunyai kekuasaan memerintah anak-anaknya tanpa bisa dilawan. Menurut istilah politik termasuk pola kepemimpinan besi berlapis beledu.

“Mengapa mendadak dia menyuruhmu kawin?”

“Biasa, syndrome bulan kondangan.” Jawabnya jengkel.

“Hah???”

“Sekarang musim orang menikah, yang artinya bencana bagi yang belum kawin.”

Aku mulai bisa meraba maksudnya. Terbayang sebuah pesta dengan sepasang penganten yang berseri-seri dan para undangan berkerumun mengelilingi di dalam sebuah gedung serba semarak. Para orangtua biasanya hadir ditemani anak-anak mereka. Setelah menanyakan kabar dan basa-basi, pertanyaan berikutnya yang mendebarkan para bujangan adalah “Kapan menyusul, nih?” Lalu wajah-wajah ceria akan mulai meredup, sebagian karena tak punya jawaban sebab pacar belum bicara yang mengarah pada dentang lonceng, sebagian lagi karena jomblo alias belum punya pasangan. Apapun itu dampaknya sama saja, para bujangan akan menyingkir dan bersatu di pojok-pojok ruangan untuk menghindari pertanyaan repetisi yang menggalaukan hati.

“Katakan padaku Drey, apakah orang yang menikah itu dijamin lebih bahagia daripada yang tidak menikah?”

Aduh, jawabannya pasti sulit dan membutuhkan pemikiran, pertimbangan, bukti, serta analisis mendalam dari berbagai aspek. Sayangnya Renata pasti tak bisa menunggu berlama-lama, ya katakanlah memberi kesempatan bagiku dengan menutup telepon sore ini dan kembali setengah abad lagi.

“Nah, kamu tak bisa menjaminnya, kan?” Tuntutnya tajam.

“Eerr…bukan begitu,”

“Atau kau juga beranggapan sama dengan ibuku bahwa aku tidak eligible untuk menarik minat seseorang?”

Tentu saja tidak! Renata berwajah manis, otaknya sangat cerdas dan kelihatannya itu yang merupakan daya tarik terkuatnya, rajin bekerja, mempunyai bakat jadi pemimpin karenanya dalam usia akhir dua puluhan telah mencapai posisi cukup tinggi di kantornya, serta mempunyai penghasilan besar. Menurut artikel di sebuah situs pandangan lelaki dalam memilih pasangan telah mengalami pergeseran, di jaman yang sulit dan penuh persaingan ini lelaki menghendaki perempuan yang cerdas dan mandiri secara financial. Sementara perempuan yang mempunyai jabatan penting dianggap seksi. Walhasil, tanpa diragukan lagi Renata adalah magnet kuat bagi lelaki masa kini. Dengan mengutip sana-sini dan menambahinya untuk menekankan dukunganku kupaparkan hal tersebut.

Temanku itu tertawa gelak, “Masa begitu?”

“Tak tahulah, Ren aku hanya membaca apa yang dikatakan orang.”

“Mungkin juga benar,” katanya. “Kau sendiri termasuk perempuan semacam itu. Dan lihatlah betapa sukses dirimu menjadi magnet.”

“Hah! Kau mengejekku, ya?”

“Aku sedang geram, Drey. Pantas saja bila aku ingin menusukkan pisau pada siapa pun yang ada di sekitarku.”

“Jangan bilang hatimu terluka karena desakan itu.” Pancingku.

Hasilnya sungguh luar biasa. Setelah menggumamkan makian yang terlihat tak pas diucapkannya Renata berkata seakan kehilangan akal.

“Mengapa kami selalu dikatakan mempunyai luka batin, trauma, atau secara emosional terganggu bila menolak untuk menikah? Padahal aku tak mengenal satu pun di antaranya.”

Keterangannya adalah Renata tumbuh wajar dalam keluarga yang saling menyayangi, tak pernah mengalami tindak kekerasan atau pelecehan, punya sederet pacar yang normal-normal saja, saat ini pun dia mempunyai kekasih yang sangat baik  serta penuh perhatian, dan tak pernah kekurangan teman. Pantaslah dirinya sebal sekali dianggap menyimpan sesuatu yang membuatnya enggan menikah.

“Tak bisakah jawabannya hanya karena aku tak ingin menikah?’

Kelihatannya sulit. Segala sesuatu di muka bumi ini mengandung hukum kausalitas. Bila melakukan sesuatu harus bisa dirunut motivasinya, bahkan banyak orang percaya peristiwa yang paling muskil pun tak terjadi secara kebetulan.

Setengah mengeluh Renata melemparkan pertanyaan berikutnya. Memang bukan untukku karena dia tahu aku tak akan berbuat apapun selain menghiburnya. “Tak bisakah aku dibiarkan sendiri untuk menentukan apakah hendak berpasangan atau memilih membujang?”

Nah, kiranya usulan ini lebih baik dikatakan pada ibunya, bukan padaku. Aku tak berkeberatan sama sekali akan pilihan hidup Renata. Bagiku kebahagiaannyalah yang utama. Bagaimana bentuk dan cara mencapainya tak berpengaruh untukku.

“Aaahhhrrgg, mau tak mau aku harus menanyakan hal paling tak kusukai pada Peter.” Ya, itulah nama pacar Renata. Cakep, tinggi, pintar, karenanya menjadi dosen di sebuah perguruan tinggi swasta, dan sedang berusaha mendapatkan bea siswa S3 bidang biologi.

“Dan pertanyaannya adalah…?”

“Mau di bawa ke mana pertemanan kita ini?!” ujar Renata dengan geram.

“Bukan pertanyaan yang buruk, kan Ren.” Aku tertawa gelak setelah mengatakannya. Tentulah hal itu sangat buruk karena siapa pun tahu mereka sedang berusaha mengejar karir, sangat menikmati hubungan yang dikombinasikan dengan kepentingan masing-masing, supportif tapi tak mengekang, serta bebas mengembangkan diri seluas-luasnya tanpa beban.

“Kadang kita melanggar prinsip dan kenyamanan diri demi kebahagiaan banyak orang.”

“Anggap saja sacrifice untuk orang yang telah lebih banyak berkorban untukmu.”

Renata menghela napas. “Jadi pengorbanannya ternyata menuntut balasan juga, ya?”

“Huuusshhh…! Bisa kuwalat kamu.” Desisku.

Setelah basa-basi yang terlambat Renata memutuskan hubungan. Ketika pembicaraan berakhir aku teringat padamu. Betapa beruntungnya kita yang tak perlu dibebani segala embel-embel dalam hubungan ini. Aku dan kau menikmati setiap detiknya tanpa memikirkan bagaimana semua bermula dan akan ke mana nantinya menuju. Kita menjalaninya dengan keikhlasan yang tak kusangka demikian besar, sampai-sampai kita tak tahu hendak dikatakan apakah kebersamaan ini. Kiranya memang tak ada sebutan apa pun untuk melabelinya. Tak ada rasa apapun yang pantas disematkan untuk menyebut nuansanya. Bahkan kita juga tak pasti menentukan kapan kiranya bisa bermuka-muka secara nyata. Atau memang kita tak menghendakinya karena hal itu akan merubah apa yang telah kita jalani?

“Harapan itu meneguhkan, Dey” katamu.

Aku menyunggingkan senyum. Bagiku harapan tak sejauh itu. Bisa menyapamu beberapa kali dalam seminggu telah menenteramkan hatiku, karena aku tahu kebersamaan lebih penting dari ikatan-ikatan kosong yang lebih disukai sebagai label sebuah hubungan.

 

16 Comments to "Audrey (3): Aku tak mau kawin"

  1. Dj.  12 May, 2012 at 02:33

    Kalau belum nikah, memang sebaiknya tidak kawin…..
    Shalooom…!!!

  2. Kornelya  12 May, 2012 at 00:28

    Renata bilang sama emaknya, emang kalau kawin harus bilang-bilang emak? entar malah dilaporin ke pa RT lagi. Sudrun!!

  3. Linda Cheang  11 May, 2012 at 23:08

    Ayla : yang jelas sangat tidak mungkin kalau dirimu Belum Kawin, hahaha…

  4. [email protected]  11 May, 2012 at 15:44

    ASL plz….photo jg jgn lupa

  5. J C  11 May, 2012 at 15:24

    Mosok tho, beneran gak mau kawin?

    Ayla, setelah lolos “kapan punya momongan”, berikutnya: “kasihan tuh, sendirian, kapan nih adiknya”…tobaaaatttt…

  6. HennieTriana Oberst  11 May, 2012 at 15:20

    Menyambung komentar mbak Nunuk (#10), awal tahun depan keluarga Baltyra bakalan nambah ya Ayla?
    Renata disuruh kawin karena Ibunya pingin gendong cucu ya?
    Menanti serial Audrey berikutnya.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.