Kajian Alam dan Lingkungan dalam Lingkup Filsafat dan Sosiologis (2)

Dinanda Nuswantara Buwana

 

Hari Bumi, 22 April telah berlalu begitu saja, tenggelam dalam rutinitas kehidupan kita. Khususnya di negeri ini, Hari bumi  terlewatkan begitu saja di tengah isu isu yang lebih menarik dan Hot, Isu-isu politik, mumetnya ekonomi, ketatnya persaingan dalam dunia Olahraga, berita kriminalitas dan Sensasi selebritis. Dan sepertinya tidak banyak yang bisa kita perbuat yang berkaitan dengan upaya pelestarian Alam, dibandingkan dengan laju kerusakan yang terjadi dan kita rasakan secara langsung.  Karena hingga detik ini manusia masih merasa superior terhadap alam, karena manusia adalah sang penakluk Alam. Berjalan gagah dengan pedang kerakusan. Ada perlunya kita menengok ke belakang, meniti kembali pandangan filosofis dan sosiologis  hubungan Manusia dengan alam.

 

Pandangan terhadap Alam, kajian Sosiologis

Mari kita perhatikan pandangan Freud, yang menyatakan  bahwa hubungan antara sosial dan tatanan alam tidak dapat hanya dipisahkan secara radikal antara alam dan sosial, tetapi hubungan itu hendaknya memperhatikan bahwa dasar hati manusia perlu ditata, karena manusia mempunyai Libido id yang dengan segala hawa nafsunya yang agresif dan berpotensi menimbulkan kerusakan.

Libido di sini beorientasi pada sifat menguasai, menggagahi, dan segala kerakusan.  Eksistensialisme memunculkan apa yang namanya sebagai ideologi ekspansi   untuk menguasai, yang selanjutnya melahirkan imperialisme. Das es atau id disebutkan oleh Sigmund Freud sebagai sumber hawa nafsu, yaitu kumpulan destruksi nilai yang hanya mengejar kesenangan belaka. Dari posisi inilah segala khayalan dan keinginan tentang kenikmatan organisme terbentuk. Dari posisi ini pulalah tragedi buah Khuldi terjadi, tragedi habil dan Qabil terjadi. Dan sesungguhnya segala dosa dunia bersumber dari das Es. Ultra materialisme dan atheisme atau berhalaisme yang menjadikan duniawi sebagai tujuan akhir bersumber dari das es. Kutipan menarik ini saya peroleh dari  sahabat saya Dani dan Tedi Ruchiyat,  pada Buku Budaya, Bahasa, Semiotika, sebuah catatan Kecil.

Dalam pandangan Plato, hasrat atau libido menghalangi manusia dari philosophia.  Das Es juga dapat diistilahkan sebagai hasrat atau libido, yang berakar dari alam bawah sadar manusia, dalam wacana aspek konstruktif,  Di sisi lain Hasrat atau libido adalah suatu tungku api yang memanaskan, sebagai motivator dalam mencapai tujuan dan cita-cita, menjadi energi yang luar biasa, dan gairah untuk  melakukan sesuatu yang bermanfaat, berkreasi dan  melakukan inovasi, untuk mencapai kesejahteraan hidup.

Bagaimana pandangan Marxis? Seperti yang diuraikan oleh Soyomukti, Sistem pemikiran Marxisme dapat dikatakan sebagai penolakan terhadap kapitalisme, Filsafat Marxis merupakan suatu filsafat yang sepenuhnya ekologis: manusia diletakan dalam rahim alam secara utuh, adalah bagian dari alam, sarana yang diciptakan oleh alam demi perkembangan lebih lanjut alam sendiri, demi pemanusiaan terakhir alam, bagi Marxis tak ada satupun dalam diri manusia menyeruak mengatasi alam). Dalam pemikiran Marxisme  hubungan dengan obyek lingkungan adalah keterlekatan masyarakat dengan alam, dan ketergantungan produksi manusia pada kekuatan produksi dan regeneratif alam.

Ronaldo Munck dalam artikelnya yang berjudul “Red and Green : Marxism and Nature”. Memberikan pandangan yang cukup menarik, ada suatu yang kontradiktif pada diri Marx, Bagi Marx, alam adalah sebuah objek yang harus dikuasai, namun bagaimanapun harus ada batas-batas tertentu dalam prosesnya, yang mana batas tersebut bukan berarti batas alami, yang sudah ada dan merupakan bagian dari alam, namun batas tersebut ada atas hasil dari interaksi manusia dengan lingkungan alamnya. Akan tetapi Marx menyalahkan determinasi teknologi, kapitalisme dan Tekanan-tekanan ekonomi menyebabkan terganggunya hubungan interaksi antara manusia dan bumi. Demikianlah manusia secara angkuh merasa drinya dapat memerintah dan membentuk alam berdasarkan kemauannya.

Sejak tahun 80-an memang kesadaran ekologis (Ecological Awareness) manusia secara kolektif semakin massif. Ini merupakan suatu respon atas segala kegelisahan yang terjadi, terhadap segala bencana demi bencana alam yang dialami alami umat manusia. Muncul suatu kesadaran bahwa alam tidak hanya diam lewat kebisuan tetapi ternyata alam berdialog dengan kita umat manusia dengan caranya sendiri.

Kini jelas kita lihat, dan telah nampak sejelas jelasnya bahwa karena maksimalisasi keuntungan yang merupakan salah satu prinsip kapitalisme, memberikan tekanan yang luar biasa hebat terhadap Alam, eksploitasi atas nama kesejahteraan, yang justru distribusinya tidak dirasakan secara merata, sementara Alam dan lingkungan menjadi budak yang penuh dendam. Akhirnya ketika berbagai bencana ekologis terjadi, yang menjadi korban adalah manusia secara spesies, bukan manusia-manusia secara personal sebagai perusak alam.

 

10 Comments to "Kajian Alam dan Lingkungan dalam Lingkup Filsafat dan Sosiologis (2)"

  1. dinanda  18 May, 2012 at 20:05

    Terimakasih semua atas komen dan tanggapannya. , maksud tulisan in sih ….., hemm sebenarnya tidak bermaksud berberat berat sampai mengerinyitkan kening, (mas Iwan,,,, ) , hanya sumbangsih pemikiran disertai data-data yanf ada…, dan betul juga, ini tidak semata-mata menyalahkan kapitalisme tapi kita sendiri menikamti sebagai korban dan perilaku kita sendiri memang meyebabkan penurunan kualitas lingkungan (betul mbak Kornelya), ketidakdisiplinan, sanksi yang tidak tegas, dan tingkat pendidikan yang tidak memadai…

  2. Kornelya  12 May, 2012 at 00:26

    Secara global kapitalisme disalahkan, tetapi kenyata’annya kultur hidup jorok dan tak ada hukum yg membentengilah penyebab rusaknya lingkungan. Sungai Ciliwung/Cisadane contoh dipelupuk mata pemerintah Indonesia. Air kotor sumber segala penyakit. Selama pemerintah tidak berhasil mengatur drainase dan zoning system, lingkungan hidup yg sehat hanya menjadi impian. Salam.

  3. Dj.  11 May, 2012 at 23:52

    Kang Dinanda….
    Sayang tidak semua orang berpikir seperti anda….
    Entah kemana Dunia ini akan mereka bawa….
    Mungkin sudah akhir dari akhir ajam, tidak ada yang biisa menahan lagi.
    Kalau manusia sudah tidak takut akan TUHAN, mana manusia bisa takut akan alam.
    Yang ada hanya merusak dan pemboorosan belaka, hampir tidak ada yang berakal dan berbudi lagi.

    Salam Sejahtera dari Mainz

  4. IWAN SATYANEGARA KAMAH  11 May, 2012 at 19:29

    Artikel berat tetapi senang bacanya, karena menghujat kapitalisme yang berefek negatif kepada banyak umat manusia.

  5. Alvina VB  11 May, 2012 at 19:15

    Kajian yg serius sekali….musti bacanya nanti kl dah di depan kompu di rumah…

  6. J C  11 May, 2012 at 15:26

    Haha…malah mesem sendiri baca komen Kang Chandra, mosok sampai “memperkosa alam”. Tapi memang benar sih. Sampai sekarang alam masih dianggap sebagai objek saja, diperkosa ramai-ramai selama berabad-abad…

  7. Chadra Sasadara  11 May, 2012 at 14:38

    selama alam masih ditempatkan sebagai obyek (the other), alam akan tetap menjadi LIYAN, sesutu diluar diri kita. maka manusia akan terus membangun argumentasi untuk terus “memperkoasa” alam.

  8. [email protected]  11 May, 2012 at 13:37

    Hmmm… harus dibaca lagi nih…. nggak mudheng

  9. nu2k  11 May, 2012 at 11:12

    Mas DNB, baca duariusnya nanti sore, boleh? Groeten, Nu2k

  10. Handoko Widagdo  11 May, 2012 at 10:48

    Terima kasih DNB. Menjadi semakin mengerti kaitan satu dengan yang lain.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.