Joko Prayitno
Tak pernah aku merasa segelisah saat ini…
Entah mengapa pikiranku berkecamuk ketika membaca berbagai berita-berita di media massa terutama media online mengenai begitu banyak kekerasan yang terjadi semenjak reformasi. Janji reformasi untuk kehidupan yang lebih baik seakan musnah dengan tidak membaiknya berbagai kondisi kehidupan dimasyarakat. Keterkekangan pada masa orba dan budaya politik yang monolitik dari orba membuat masyarakat seakan-akan buta akan keberagaman.
Ruang kebebasan yang muncul bukannya menjadikan masyarakat mencoba menggali kembali nilai-nilai keberagaman yang telah lama ada di dalam kehidupan masyarakat untuk saling menghargai keberagaman tersebut, tetapi malah sebaliknya masyarakat malah terjerumus menguatkan sekat-sekat antar kelompok dan menguatkan sentimen-sentimen perbedaan tersebut. Musyawarah bukan lagi menjadi sesuatu yang harus dilakukan dalam menyelesaikan masalah perbedaan tetapi telah digantikan oleh budaya “siapa kuat dia kuasa dan siapa lemah dia terpuruk”. Budaya musyawarah yang telah berurat berakar sejak jaman dahulu hanya menjadi lambang negara yang tertunduk lesu tanpa bisa memantulkan kekuatannya. Ia hanya membisu melihat pistol menyalak, pedang menyambar, api membakar meninggalkan puing-puing kedukaan di masyarakat.
Dan jangan tanyakan dimana nilai-nilai kemanusiaan di dalam masyarakat kita sekarang, ia telah membusuk bersama dengan kerakusan dan angkara murka masyarakat kita. Nilai agama yang menjadi pedoman dan sangat diagung-agungkan menjadi penyelamat sekarang berubah menyeringai mengiringi kekerasan-kekerasan yang terjadi di dalam masyarakat kita. Tidak akan saya sebutkan contoh-contohnya di sini sudah terlalu banyak dan mungkin akan terlupakan begitu saja bersama dengan tenggelamnya matahari senja. Sementara jargon-jargon negara hukum yang melindungi seluruh masyarakat dengan tanpa memandang bulu hanya memperlihatkan pedang keadilan yang menusuk dan membunuh masyarakat kecil dan tak berdaya. Pedang keadilan itu tak pernah menusuk ke atas, bila ia menghadap ke atas pedang itu hanya menusuk angin karena kebutaannya.
Dalam keputus-asaan ini akankah kita percaya tentang sebuah ramalan Jayabaya yang berbunyi:
“selambat-lambatnya kelak menjelang tutup tahun
(sinungkalan dewa wolu, ngasta manggalaning ratu)
akan ada dewa tampil
berbadan manusia
berparas seperti Batara Kresna
berwatak seperti Baladewa
bersenjata trisula wedha
tanda datangnya perubahan zaman
orang pinjam mengembalikan,
orang berhutang membayar
hutang nyawa bayar nyawa
hutang malu dibayar malusebelumnya ada pertanda bintang pari
panjang sekali tepat di arah Selatan menuju Timur
lamanya tujuh malam
hilangnya menjelang pagi sekali
bersama munculnya Batara Surya
bebarengan dengan hilangnya kesengsaraan manusia yang berlarut-larut
itulah tanda putra Batara Indra sudah nampak
datang di bumi untuk membantu orang Jawaasalnya dari kaki Gunung Lawu sebelah Timur
sebelah timurnya bengawan
berumah seperti Raden Gatotkaca
berupa rumah merpati susun tiga
seperti manusia yang menggodabanyak orang digigit nyamuk,
mati banyak orang digigit semut, mati
banyak suara aneh tanpa rupa
pasukan makhluk halus sama-sama berbaris, berebut garis yang benar
tak kelihatan, tak berbentuk
yang memimpin adalah putra Batara Indra,
bersenjatakan trisula wedha
para asuhannya menjadi perwira perang
jika berperang tanpa pasukan
sakti mandraguna tanpa azimatbergelar pangeran perang
kelihatan berpakaian kurang pantas
namun dapat mengatasi keruwetan orang banyak
yang menyembah arca terlentang
cina ingat suhu-suhunya dan memperoleh perintah, lalu melompat ketakutanputra kesayangan almarhum yang bermukim di Gunung Lawu
yaitu Kyai Batara Mukti, ya Krisna, ya Herumukti
menguasai seluruh ajaran (ngelmu)
memotong tanah Jawa kedua kali
mengerahkan jin dan setan
seluruh makhluk halus berada dibawah perintahnya bersatu padu
membantu manusia Jawa berpedoman pada trisula weda
tajamnya tritunggal nan suci
benar, lurus, jujur
didampingi Sabdopalon dan Noyogenggongtiap bulan Sura sambutlah kumara
yang sudah tampak menebus dosa
di hadapan sang Maha Kuasa
masih muda sudah dipanggil orang tua
warisannya Gatotkaca sejutaludahnya ludah api
sabdanya sakti (terbukti)
yang membantah pasti mati
orang tua, muda maupun bayi
orang yang tidak berdaya minta apa saja pasti terpenuhi
garis sabdanya tidak akan lama
beruntunglah bagi yang yakin dan percaya serta menaati sabdanya
tidak mau dihormati orang se tanah Jawa
tetapi hanya memilih beberapa sajapandai meramal seperti dewa
dapat mengetahui lahirnya kakek, buyut dan canggah anda
seolah-olah lahir di waktu yang sama
tidak bisa ditipu karena dapat membaca isi hati
bijak, cermat dan sakti
mengerti sebelum sesuatu terjadi
mengetahui leluhur anda
memahami putaran roda zaman Jawa
mengerti garis hidup setiap umat
tidak khawatir tertelan zamanoleh sebab itu carilah satria itu
yatim piatu, tak bersanak saudara
sudah lulus weda Jawa
hanya berpedoman trisula
ujung trisulanya sangat tajam
membawa maut atau utang nyawa
yang tengah pantang berbuat merugikan orang lain
yang di kiri dan kanan menolak pencurian dan kejahatanpantang bila diberi
hati mati dapat terkena kutukan
senang menggoda dan minta secara nista
ketahuilah bahwa itu hanya ujian
jangan dihina
ada keuntungan bagi yang dimintai
artinya dilindungi anda sekeluargadi hadapan Begawan
bukan pendeta disebut pendeta
bukan dewa disebut dewa
namun manusia biasa
bukan kekuatan lain diterangkan jelas
bayang-bayang menjadi terang benderangjangan heran, jangan bingung
itulah putranya Batara Indra
yang sulung dan masih kuasa mengusir setan
turunnya air brajamusti pecah memercik
hanya satu ini yang dapat memberi petunjuk
tentang arti dan makna ramalan saya
tidak bisa ditipu
karena dapat masuk ke dalam hati
ada manusia yang bisa bertemu
tapi ada manusia yang belum saatnya
jangan iri dan kecewa
itu bukan waktu anda
memakai lambang ratu tanpa mahkota
sebab itu yang menjumpai segeralah menghormati,
jangan sampai terputus, menghadaplah dengan patuh
keberuntungan ada di anak cucuinilah jalan bagi yang ingat dan waspada
pada zaman kalabendu Jawa
jangan melarang dalam menghormati orang berupa dewa
yang menghalangi akan sirna seluruh keluarga
jangan keliru mencari dewa
carilah dewa bersenjata trisula wedha
itulah pemberian dewamenyerang tanpa pasukan
bila menang tak menghina yang lain
rakyat bersuka ria
karena keadilan Yang Kuasa telah tiba
raja menyembah rakyat
bersenjatakan trisula wedha
para pendeta juga pada memuja
itulah asuhannya Sabdopalon
yang sudah menanggung malu tetapi termasyhur
segalanya tampak terang benderang
tak ada yang mengeluh kekurangan
itulah tanda zaman kalabendu telah usai
berganti zaman penuh kemuliaan
memperkokoh tatanan jagad raya
semuanya menaruh rasa hormat yang tinggi”
Ramalan yang mejanjikan sebuah jaman baru di bumi pertiwi bukan saja di tanah Jawa untuk sebuah kedamaian, untuk sebuah keadilan dan untuk menghentikan kekerasan yang telah mendarah daging dalam diri masyarakat kita.
Solo, 10 Mei 2012.
Semoga Kedamaian segera terwujud dan Kekerasan Hanya sebuah mimpi tidur yang lenyap ketika kita bangun dari tidur kita…..
May 14th, 2012 at 22:12
baik buruk tetaplah negeri kita, yang sedang berantem dan hobi berantem juga warga negri ini, yang suka “slinthutan” colong jupuk, apus2 juga warga negeri ini.
kalau manusia sudah tidak bisa dinasehati oleh manusia yang lain trus gimana? apa harus alam yang menasehati? banyak yang ceroboh membuang kulit pisang, bisa bisa terpeleset sendiri.
klo udah nggak bisa menyalahkan orang lain.
tik…tik…..tik detik demi detik semakin dekat.
May 12th, 2012 at 19:34
Tindak kekerasan adalah bentuk lain dari kemalasan yang digunakan oleh orang-orang yang tidak mau bergumul dengan karunia akalnya. Mereka enggan menempa diri dengan belajar, menganalisis persoalan secara cermat, berargumen, apalagi berdialog. Meskipun begitu, kekerasan tetap diperlukan, apa lagi dalam rumah tangga. Seandainya “kekerasan” tak terdapat di rumah tangga, bagaimana bisa hangat dan harmonis hubungan suami-istri?
May 12th, 2012 at 02:30
Mas Joko, inilah yang dinamakan Reformasi yang keblinger.
Kadang sedih memang kalau membaca berita-berita ditanah air, yang jujur sangat Dj. rindukan.
Akhirnya hanya kekecewaan saja.
Coba lihat saja di Kompas on-line, dimana berita yang ada, komentarnya banyak yang hanya berisi keluhan atau makian. Memang sangat aneh, masyarakat kita yang dulu terkenal peramah, sekarang jadi pemarah….
Salam sejahtera dari Mainz.
May 12th, 2012 at 00:31
Pa Joko, gelisah, aku yang dari jauh hanya bisa gregeeet. Indonesia banyak kemajuan, buktinya dgn tingkat korupsi yg tinggi GDPnya tetapi naik. Salam.