Kenangan Membaca Serial Jaka Geledek Karya Djair

Dwi Klik Santosa

 

Jaka Geledek seri 1 – 12, Cakar Geledek seri 1-12, Guntur Geledek seri 1-12, Sejuta Geledek seri 1-12, Gajah Geledek seri 1-12, Membunuh Sang Naga seri 1-12.

Adalah serial komik “Jaka Geledek” karya Djair Warni. Beliau adalah salah satu komikus favorit saya, dan seringkali saya anggap sebagai legendanya komik Indonesia.

Sejak SD, saya dan Mas Agus, kakak saya, adalah maniak buku cerita. Terutama komik. Tidak saja serial Jaka Geledek, bahkan sebelum melalap serial komik itu dalam bentuk bendelan-bendelan, sebelumnya kami sudah habiskan dulu Serial “Jaka Sembung” yang berseri-seri hingga kepada sekuel-nya dan “Malaikat Bayangan” generasi penerusnya.

Membaca karya-karya Djair, yang tergambar dalam ingatan dan kenangan saya adalah sense of humanism dan nasionalism yang menyala dari sang seniman. Selain itu, bahasanya yang halus dan sangat dramaturgis serta pengetahuan antropologi yang elok dan mudah dipahami, dengan karakter manusia sebagai setting penokohannya yang dramatik dan kaya warna, merupakan kekuatan tersendiri dan indah serta unggul untuk dinilaikan sebagai karya sastra Indonesia.

Meski saya baca masing-masing itu notabene hanya sekali, namun rasanya, ingatan itu terus menerus muncul di era sekarang ini. Bacaan-bacaan saya yang dewasa kini sering bersentuhan dengan filosofi Nietsche, Gandhi, Foucoult, Montessori, Rendra, Mangunwijaya … setidaknya sangat bermanfaat untuk memunculkan kembali kenangan-kenangan lama tentang bacaan apa saja yang pernah saya sentuh.

Jaka Geledek dalam ingatan saya, dalam cerita awal serial itu, dilahirkan dalam kultur penjajahan Belanda. Kalau tidak salah berada dalam setting Perang Padri di Sumatera dan sekuel dari pergerakan perang Diponegoro di Jawa. Namun, anehnya, Jaka Geledek sejak bocah memiliki kekuatan ajaib. Jika marah ia bisa memunculkan pukulan yang sekeras geledek. Sangat lugu dan polos wataknya. Mudah tersentuh hatinya jika melihat penindasan dan ketidakadilan. Anehnya lagi ia dilahirkan oleh seorang wanita yang ayahnya adalah seekor ular bernama Ja Ukkoro. Setiap kali, Jaka Geledek menemui masalah dan sangat membahayakan, lalu muncullah Ja Ukkoro yang bentuknya kecil. Namun, kalau datang bisa dengan ribuan ular lainnya, sebagai anak buahnya. Saya agak lupa, untuk meneliti, logika dan klausul percintaan yang aneh itu hingga melahirkan Jaka Geledek. Namun yang tersimpan di memori saya, sewaktu membaca serial komik itu, saya seringkali menangis hingga tersedu-sedu. Dan merasa sangat semangat ketika lalu, Jaka Geledek yang lugu itu selalu berhasil keluar dari kepungan bahaya. Hanya karena Jaka Geledek yang budiman dan sangat pembela itu, ia selalu rela menempuh bahaya. Dan, begitulah, seperti menjelma inspirasi dan motivasi ke benak-benak kami ….

Nah, kita bayangkan siapa dan bagaimana seorang Djair itu berkarya? Demi Tuhan, dari karya-karya beliau ini, komik yang pada umumnya dikultuskan sebagai barang setengah haram oleh para orang tua dan guru-guru. Terlebih pada zaman saya kecil waktu itu … demikian, apinya menyulut dan menjadikan kenangan yang sangat berharga. Setidaknya bagi saya pribadi.

Zentha

 

4 Comments to "Kenangan Membaca Serial Jaka Geledek Karya Djair"

  1. Handoko Widagdo  14 May, 2012 at 11:40

    Dulu kalau mau baca komik harus sewa di persewaan buku.

  2. J C  14 May, 2012 at 09:41

    Wah, mas Dwi, aku juga suka banget baca komik. Dulu kalau liburan sekolah selalu naik sepeda ke tempat penyewaan buku dekat rumah. Komplet-plet…

    Komik yang ini juga ada, banyak juga dari pengarang lainnya. Misalnya: serial si Mata Setan, serial Mandala, si Buta Dari Goa Hantu, Reo Anak Serigala, dan masih buanyaaaakkk lagi… memang mengasikkan…

  3. nu2k  12 May, 2012 at 21:30

    Mas DKS, saya hanya ingat pernah baca buku Petualangan Wiro. Aduuuuh, itu plus minus 50 tahun lalu. Dulu bacanya sering ngumpet-ngumpet, karena masku (si pemilik banyak buku cerita) sangat apik dengan koleksinya dan aduuuhhh pelitnya.. Adik-adiknya nggak boleh pinjam…Cerita Wiro, semacam Tarzan kecil yang bisa menaklukan segala jenis binatang di hutan… Aduuuuhhh senangnya kalau mengikuti si Wiro yang berpetualang di hutan belantara naik “struisvogel” burung unta (?) tanpa gangguan berarti dari mahluk lainnya.. Itu hanya karena kehalusan budi pekertinya dan tidak pernah menyakiti mahluk lainnya sehingga semua mau membantunya…
    Mas DKS, melihat koleksi buku bacaan 2 anak saya, apakah saat kini masih ada ya cerita-cerita yang demikian..
    Salam, en fijne avond, Nu2k

  4. Dj.  12 May, 2012 at 13:39

    Dulu saat di SMP, masih suka baca ” Nogo Sosro, Sabuk Inten”
    Tterimakasih dimas dan selamat berakhir pekan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.