Saturday, 12 May 2012
Leo Sastrawijaya
Sebuah rumah kayu tua di tepi hutan pinus
Adalah rumahku
Di sana aku memiliki segalanya
Angin yang membawa harum bunga hutan
Kecipak air sungai kecil berirama lembut
Riang nyanyi burung nan tak putus sepanjang terang
Dari ilalang yang tumbuh pada bukit bertanah liat di sebelah rumah
Aku bisa belajar tentang usaha tanpa henti
Tentang sikap rendah hati
Dari malam gelap dan kerlip bintang gemintang
Aku belajar tentang sikap setia memberi titik terang
Kepada semesta, kepada kehidupan yang berpendar
Di rumah tuaku itu
Aku selalu memiliki segalanya
Kasih Bapak
Senyum lembut si Mbok
Lalu setiap kerat singkong yang berubah menjadi kerat daging
Serta tenaga hidupku
Terhidang dari darah, keringat dan doa ayah bundaku
Di rumah kayu tua itu
Tak kutemui derita
Sebab semua tentang sakit dan kesakitan
Telah dilebur dengan mantra sakti bapakku
Sepasang mata ikhlas senantiasa
Sesungging senyum penuh harapan
Yang selalu kutemui menjelang fajar
==================Denpasar 2011
May 15th, 2012 at 16:55
Mas Leo…ini tempat impianku yang sangat sulit terwujud…kalau di lereng Merapi sangat rawan bencana, mertua adik saya saja yang punya rumah dan kebun salak di wilayah Kembangarum Pakem….dampaknya sangat parah. Tapi setelah erupsi terakhir waktu itu….banyak sekali pengunjung…seperti tempat wisata alam yg indah sekali.
May 15th, 2012 at 16:01
Rupanya banyak juga yang memiliki kenangan tentang hutan pinus yaaaaaaaaa????
May 14th, 2012 at 09:37
Hutan pinus selalu menarik. Dulu pas kemah bakti awal kuliah juga si satu hutan pinus yang apik banget…
May 13th, 2012 at 22:50
Tahun 1994, Merapi erupsi parah, kampung temanku itu musnah…menurut kabar, ayah temanku kena awan panas saat mencari rumput, temanku…entah, dimana sekarang aku ngga tau….saat itu aku sedang di Jakarta,
May 13th, 2012 at 22:48
Tempat idaman….seperti lalu, aku mempunyai seorang teman, namanya Ismini, cantik sekali, rambut bergelombang, kalau memakai seragam sekolah selalu dilipat bagian lengannya, mempunyai rumah yang asri…sangat asri dan tentram…di lereng gunung Merapi , ayahnya bertani dan beternak sapi, setiap hari ayahnya mencari rumput…aku bersahabat baik ketika itu, dan satu kelompok dalam belajar, Ismini kost deket sekolah, karena rumahnya terlalu jauh jika harus PP setiap hari, setiap Sabtu ke rumahnya. Aku berkali kali menginap di rumahnya, tidak ada air panas…harus merebus air untuk mandi, karena airnya dingin seperti air es. Masyarakat di kampung itu setiap pagi menyapu halaman, lalu membakar sampah..
May 12th, 2012 at 17:23
hutan pinusnya sekarang jadi tempat outbound sama camping
May 12th, 2012 at 13:33
Dj. jadi teringat hutan pinuus di dekat rehab yang sangat rindang dan sejuk….
May 12th, 2012 at 11:24
Mungkinkah sekarang hutan pinusnya sudah tergusur keserakahan para penjarah?