Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Sebuah Rumah Tua di Tepi Hutan Pinus

Saturday, 12 May 2012

Viewed 654 times, 1 times today | 8 Comments |

Leo Sastrawijaya

 

Sebuah rumah kayu tua di tepi hutan pinus

Adalah rumahku

Di sana aku memiliki segalanya

Angin yang membawa harum bunga hutan

Kecipak air sungai kecil berirama lembut

Riang nyanyi burung nan tak putus sepanjang terang

Dari ilalang yang tumbuh pada bukit bertanah liat di sebelah rumah

Aku bisa belajar tentang usaha tanpa henti

Tentang sikap rendah hati

Dari malam gelap dan kerlip bintang gemintang

Aku belajar tentang sikap setia memberi titik terang

Kepada semesta, kepada kehidupan yang berpendar

 

Di rumah tuaku itu

Aku selalu memiliki segalanya

Kasih Bapak

Senyum lembut si Mbok

Lalu setiap kerat singkong yang berubah menjadi kerat daging

Serta tenaga hidupku

Terhidang dari darah, keringat dan doa ayah bundaku

 

Di rumah kayu tua itu

Tak kutemui derita

Sebab semua tentang sakit dan kesakitan

Telah dilebur dengan mantra sakti bapakku

Sepasang mata ikhlas senantiasa

Sesungging senyum penuh harapan

Yang selalu kutemui menjelang fajar

 

==================Denpasar 2011

 

Share This Post

Posted by Saturday, 12 May 2012 on 11:17.

Categories: Pojok Sastra. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

8 Responses to “Sebuah Rumah Tua di Tepi Hutan Pinus”

  1. 8
    Dewi Aichi Says:

    Mas Leo…ini tempat impianku yang sangat sulit terwujud…kalau di lereng Merapi sangat rawan bencana, mertua adik saya saja yang punya rumah dan kebun salak di wilayah Kembangarum Pakem….dampaknya sangat parah. Tapi setelah erupsi terakhir waktu itu….banyak sekali pengunjung…seperti tempat wisata alam yg indah sekali.

  2. 7
    Leo Sastrawijaya Says:

    Rupanya banyak juga yang memiliki kenangan tentang hutan pinus yaaaaaaaaa????

  3. 6
    J C Says:

    Hutan pinus selalu menarik. Dulu pas kemah bakti awal kuliah juga si satu hutan pinus yang apik banget…

  4. 5
    Dewi Aichi Says:

    Tahun 1994, Merapi erupsi parah, kampung temanku itu musnah…menurut kabar, ayah temanku kena awan panas saat mencari rumput, temanku…entah, dimana sekarang aku ngga tau….saat itu aku sedang di Jakarta,

  5. 4
    Dewi Aichi Says:

    Tempat idaman….seperti lalu, aku mempunyai seorang teman, namanya Ismini, cantik sekali, rambut bergelombang, kalau memakai seragam sekolah selalu dilipat bagian lengannya, mempunyai rumah yang asri…sangat asri dan tentram…di lereng gunung Merapi , ayahnya bertani dan beternak sapi, setiap hari ayahnya mencari rumput…aku bersahabat baik ketika itu, dan satu kelompok dalam belajar, Ismini kost deket sekolah, karena rumahnya terlalu jauh jika harus PP setiap hari, setiap Sabtu ke rumahnya. Aku berkali kali menginap di rumahnya, tidak ada air panas…harus merebus air untuk mandi, karena airnya dingin seperti air es. Masyarakat di kampung itu setiap pagi menyapu halaman, lalu membakar sampah..

  6. 3
    Linda Cheang Says:

    hutan pinusnya sekarang jadi tempat outbound sama camping

  7. 2
    Dj. Says:

    Dj. jadi teringat hutan pinuus di dekat rehab yang sangat rindang dan sejuk….

  8. 1
    Sumonggo Says:

    Mungkinkah sekarang hutan pinusnya sudah tergusur keserakahan para penjarah?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)