Aku dan Sahabat Mata (2): Dan Semua Gembira!

Wesiati Setyaningsih

 

Hari ini hari pertama lomba. Pagi-pagi saya sudah dibel panitia untuk datang lebih pagi karena akan minta persetujuan mengenai lembar penilaian. Buru-buru saya googling lagi mencari contoh ‘adjudication sheet’. Sampai di Islamic Center saya diskusikan lagi kriteria penilaian dengan mbak In, juri yang lain dari DPP PERTUNI sambil menunggu juri satu lagi, pak Zaenal yang dosen UDINUS itu. Masalah lembar penilaian selesai, aku dan mbak In ke ruang lomba.

Harap tahu saja, ruang lomba ini berada di lantai 3. Jadi bisa dibayangkan para tuna netra ini berjalan berduyun-duyun ke lantai 3 biasanya bersama-sama saling berpegangan. Hebatnya, tidak ada kasus salah injak tangga yang berakibat keseleo seperti yang saya alami beberapa waktu lalu. Tuhan memang maha baik. Tanpa penglihatan, mereka punya indera lain yang lebih hebat.

Acara dimulai dengan pembukaan, sambutan-sambutan oleh Dinas Pendidikan Propinsi dan wakil Gubernur yang masing-masing diwakili utusannya. Dilanjutkan dengan pemaparan apa itu komunitas sahabat mata dan penampilan musikalisasi puisi oleh teater Perca yang berisi anggota komunitas Sahabat Mata juga.

Semua selesai dan lomba pun dimulai. Aturan debat yang saya tahu adalah satu tim terdiri dari dua orang untuk British Parliament atau 3 orang untuk Australasian Parliament. Tapi ini debat one on one. Yah, meski tidak lazim, tapi biar saja. Saya mengikuti saja apa yang sudah dijalankan.

Peserta akan tampil di atas panggung dengan duduk berhadapan. Saya usulkan pada panitia agar peserta bisa berdiri menghadap ke hadirin saat presentasi. Tapi ternyata masalah aksesibilitas tidak memungkinkan, maka diputuskan meja yang saling berhadapan itu disejajarkan hingga kedua peserta menghadap ke depan.

Sebelum lomba dimulai, saya sebagai ketua dewan juri memaparkan kriteria penilaian. Babak pertama terdiri dari 20 peserta dan kami, dewan juri diminta mengambil 10 terbaik. Pada babak pertama ini saya dan kedua teman saya awalnya pusing mesti bagaimana. Penampil pertama memberikan argumen yang sama sekali tidak nyambung satu sama lain. Beruntung peserta-peserta berikutnya beberapa ada yang sudah lumayan.

Setelah selesai babak pertama, saya mengumumkan 10 orang yang masuk ke babak selanjutnya. Sebelum mengumumkan siapa saja yang lolos, saya memberikan catatan-catatan mengenai kesalah umum secara global. Maklum, ini debat untuk tuna netra yang pertama. Jadi bisa dipahami kalau mereka tidak tahu bagaimana cara berargumen yang benar. Kesalahan yang umum adalah saling membantah satu sama lain. Padahal tugas mereka adalah meyakinkan dewan juri bahwa argumen mereka lebih baik dari argumen lawan. Beberapa catatan yang lain juga saya sampaikan tapi terlalu panjang kalau ditulis di sini.

Babak selanjutnya para peserta tampil lagi. Kali ini penampilan mereka sudah lebih baik dari sebelumnya. Rupanya masukan saya waktu mengumumkan 10 peserta yang lolos tadi benar-benar diperhatikan. Debat di babak kedua ini sungguh luar biasa. Mereka sudah mulai paham debat itu bagaimana. Saya kagum pada mereka. Baru saja diberi masukan, sudah langsung bisa mempraktekkan.

Ohya, dalam debat biasanya ada building case dimana peserta diberi waktu untuk berpikir. Di dalam debat yang biasa mereka diberi waktu 15 menit. Lalu masing-masing peserta membuat catatan kecil. Di sini waktu building case hanya 3 menit. Saat building case mereka hanya diam dan berpikir. Iyalah, mau mencatat bagaimana? Maka saya salut ketika argumen yang mereka sampaikan mengambil kasus dari materi dengan cukup cerdik.

Dari 5 pasang (10 peserta) yang tampil luar biasa ini di akhir sesi, ada pasangan yang justru menghibur karena mereka masih saling berbantahan hingga seperti debat kusir. Semua hadirin yang ada di situ tertawa. Tapi toh dewan juri mesti mengambil salah satu. Jadi kami ambil yang paling konsisten argumennya.

Sepuluh peserta itu tadi diambil lagi 5 peserta dan ditandingkan dengan sistem 1/2 kompetisi hingga terjadi 10 ronde. Tujuh ronde ditandingkan di situ, sisanya lagi 3 ronde akan ditandingkan di pendopo Kabupaten Kendal. Seperti sebelumnya, sebelum mengumumkan 5 orang yang lolos itu, saya berikan dulu catatan-catatan secara umum mengenai kesalahan-kesalah dalam debat yang sudah dilangsungkan.

Lalu mulailah kami menilai lagi 7 pertandingan. Lagi-lagi kami melihat bahwa debat kali ini lebih bagus lagi dan catatan-catatan yang saya sampaikan tadi sudah dipatuhi dengan baik. Sungguh luar biasa. Murid-murid saya butuh latihan berkali-kali untuk melakukannya. Mereka hanya butuh beberapa menit untuk memahami dan mempraktekkannya. Menakjubkan.

Demikianlah. Acara hari ini selesai jam sekitar jam sembilan lebih. Saya sampai rumah jam sepuluh malam. Capek memang. Tapi apapun terasa ringan kalau hati senang. Banyak hal yang saya dapat hari ini. Seperti saat saya berjalan dari ruang sekretariat ke aula. Mbak In yang low vision itu menggandeng tangan saya. Saat ada lantai yang lebih rendah saya memberi tahu. Mbak In cuma bilang,

“Biarkan saya selangkah di belakang mbak Wesi, saya pegang siku mbak. Nanti tiap kali turun atau naik saya pasti tahu.”

Saya sudah merasa itu karena guncangan badan saya yang berat.

“Bukan karena mbak Wesi berat, tapi dari siku mbak Wesi saya tahu mbak Wesi sedang turun atau naik.”

Oh. Baru tahu. Iya, kalau saya di depan dan dia memegang siku saya, pasti ketauan kalau naik berarti pegangan dia turun dari siku. Kalau turun berarti pegangannya naik dari siku. Jadi begitulah cara mendampingi orang tuna netra. Bukan dengan menggandeng tangannya. Tapi membiarkan tangannya memegang siku kita dan kita berjalan selangkah di depannya.

Begitu banyak yang saya dapat hari ini. Terutama semangat para tuna netra ini. Tiap kali kami bertanya tentang teknis lomba, maka akan dipanggil mbak Resti yang segera tergopoh-gopoh datang dengan menggandeng tangan seorang relawan. Lalu dia dengan matanya yang selalu terpejam berdiskusi dengan kami. Semua lancar. Dia tahu apa yang dia inginkan, sekaligus mau menerima masukan.

Memang konsep awal debat ini jauh dari standar yang saya tahu. Tapi dengan masukan dan niat untuk melakukan perbaikan, pasti akan lebih baik lagi di masa depan. Itulah kenapa saya usul pada mbak Resti agar tahun depan diadakan lagi. Agar apa yang ada saat ini bisa diperbaiki lagi dan memupuk semangat para tuna netra untuk berekspresi meningkatkan wawasan mereka.

Apapun hasilnya, debat ini sudah mengawali. Dan itu sudah merupakan langkah awal yang luar biasa. Karena besok masih ada 3 ronde lagi, maka juara-juara baru bisa saya ceritakan besok. Yang jelas hari ini sepertinya semua bahagia. Semua tersenyum dan tertawa senang. Tidak ada peserta yang mendatangi kami dan mengajukan komplain apa lagi peserta yang nangis-nangis karena kecewa. Semua tersenyum menerima hasilnya.

Dan saya, saya bahagia karena mendapat pengalaman berharga, sekaligus bisa melakukan darma baik saya, hari ini.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

6 Comments to "Aku dan Sahabat Mata (2): Dan Semua Gembira!"

  1. wesiati  15 May, 2012 at 14:59

    wakkaka…sumpah aku suka komentar ini. sudrun yang mulia. kenthir in dignity. wkekekek…

  2. Kornelya  15 May, 2012 at 06:58

    Mba Wesi, sudrunmu sangat mulia. Mengabdi demi kemanusia’an. Salam.

  3. wesiati  14 May, 2012 at 14:19

    kenthir? itu yang asli. yang lain2, saya cuma mencatat apa yang saya amati. itu saja… terima kasih atas apresiasinya…

  4. J C  14 May, 2012 at 09:51

    Wesiati, luar biasa, luar biasaaaaa…ternyata di balik kekenthiranmu, ada ketegaran, semangat dan hati yang luar biasa…

  5. nu2k  13 May, 2012 at 15:51

    Mbak Wesiati, seperti yang anda tuliskan pada akhir alinea setidaknya anda telah membuktikan bahwa setidaknya dengan sekali loncat anda paling tidak sudah mencapai dua pulau … Luar biasa kesabaran, keuletan dan ketangguhan anda-anda semua demi mensukseskan program yang ada… Selamat dan semoga sukses dengan program lanjutannya…Groetjes dari Negeri yang mataharinya sedang bersinar, walaupun masih terasa dingin…. Nu2k

  6. James  13 May, 2012 at 11:02

    SATOE gembira

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *