(Perempuan Berkerudung Ungu) Sunting Aku dengan Arrohman

El Hida

 

“Kekasih, telah kupajang pahatan-pahatan rindu yang aku guratkan saat kau menari di lantai kesucian hati mencintaku. Aku selalu menatapnya setiap saat, cintaku, seperti kutatap purnama dibalut aura yang melingkar di jiwamu”,Bait pertama puisi, aku bacakan.

Namanya Oyi. Aku mengenalnya saat acara pembacaan puisi di Gedung Kesenian daerahku. Wajahnya terlihat begitu memesona, apalagi dihiasi dengan kerudung ungu yang membuat dia terlihat begitu anggun dan sangat cantik. Aku rasa aku jatuh cinta, saat pertama aku melihatnya memerhatikanku membacakan puisi-puisi cintaku.

“kekasih, aku menginginkanmu ada di sini

mendekati setiap detakkan yang kudenyutkan padamu

lalu aku selipkan di sela-sela telingamu

sekuntum asmara dari hati terindahku

kau terlihat begitu anggun, kekasih,

dengan gaun pelangi yang kusulam dalam mimpi”, Bait kedua.

Perempuan berkerudung ungu itu, kulihat tersenyum menatapku. Aku semakin tak fokus kepada teks puisi yang telah aku pegang di tanganku. Aku justru menatap tajam kepada perempuan berkerudung ungu itu. sementara itu, orang-orang yang hadir di acara pembacaan puisi tersebut, tidak teralu memperhatikanku.

“Izinkan aku mengenalmu, wahai perempuan berkerudung ungu

Sebab aku telah melihatmu menjadi mawar yang aku tanam di taman hatiku”, bait ketiga. Padahal dalam teks tidak ada. Hingga akhirnya, kutamatkan puisiku justru dengan judul yang lain. Perempuan Berkerudung Ungu.

“matamu menajam di hatiku
wahai perempuan berkerudung ungu
mengukirkan namamu dan
yakinku tak akan terhapuskan
oleh badai terdahsyat sekalipun
matamu terlelap di jantungku
wahai perempuan berkerudung ungu
memimpikan indah bayangan
lalu dijadikanku nyata
oleh tiap lapadz kecintaan
matamu berwarna rindu

wahai perempuan berkerudung ungu
kuselendangkan di palung kalbu
menjadi pelangi di dinding rasa
oleh lantun setiap tatapan
matamu menjelma waruga sukma

wahai perempuan berkerudung ungu
mendetak setiap saat kudekap
sehingga pada sepertiga hening
olehNya dibuat mencandu
matamu gelisah saat aku basah

wahai perempuan berkerudung ungu
karena gemintang yang jatuh dalam dada
hanyutlah malam-malam
oleh setiap kedipan mesra”

Selesai membacakan puisi, aku segera menemui perempuan berkerudung ungu itu, kutanyakan siapa namanya, dan akhirnya, setelah beberapa lama dari pertemuan itu, Aku mengungkapkan padanya, bahwa aku mencintainya.

Namun dia tidak langsung menerimaku. Dia ceritakan padaku segala tentangnya yang akan dikiranya, mungkin akan membuat aku tak bisa menerimanya. Tapi aku tetap pada pendirianku. Aku mencintainya dengan apa-adanya. Lama Dia fikirkan untuk menerimaku. Sehingga membuatku lama menunggu. Tapi aku tetap pada pendirianku, akan selalu mencintanya bahkan jikapun dia tidak mencintaiku.

“Oyi, kenapa kau tak juga menerima cintaku. Apakah tak ada sedikitpun di hatimu kau menginginkan aku untuk mendampingi hidupmu…”

“Entahlah…”

“Kenapa, apa karena aku tak punya apa-apa?” Tanyaku mendesak, berharap dia mau berusaha memahamiku, bahwa aku benar-benar mencintainya. Tapi aku tak melihat sedikitpun di wajahnya guratan bahwa dia mencintaiku. Aku hanya melihat, sepertinya dia tidak mudah percaya pada ucapan dan puisi cintaku. Tak mengapa, aku akan terus bersabar menunggu jawabannya.

Sampai akhirnya, sebulan kemudian, setelah aku tak pernah menghubunginya lagi. Baik di pesbuk ataupun di telepon. Dia mengajakku bertemu di taman dekat rumahnya, tempat dulu aku nyatakan cinta padanya. Entahlah, aku sangat was-was, sekaligus bahagia. Karena ternyata dia masih mengingat, bahwa ada satu pertanyaan yang harus dia jawab. Kami lalu duduk di kursi yang sama dengan saat pertama aku menyatakan cinta. beruntung, sore itu begitu sepi sehingga hanya ada aku dan Oyi.

“Aku merindukanmu…” Oyi memulai perbincangan kami. Hatiku tersentak. Sungguh aku seperti tak percaya.

“Apa?”

“Iya, aku merindukanmu. ternyata, setelah sebulan ini aku mencoba tak menghubungimu, aku merasakan ada satu ruang hampa dalam hatiku. Aku kesepian tanpamu, tanpa canda dan tawamu. Aku tersiksa. Dan ini membuatku merasakan, ternyata aku tak bisa tanpamu.” Jawabnya dengan manatap mataku sayu.

“Benarkah itu? Jadi, apakah engkau sudah bisa mencintaiku?” Tanyaku sembari kupegang pundaknya untuk meyakinkannya, bahwa aku sangat butuh jawaban itu.

“Iya, aku mencintaimu.” Jawabnya dengan satu sunggng senyum tergaris di bibirnya.

“Terimakasih, Sayang…” Aku sangat bahagia. Aku memeluknya erat, seakan tak kubiarkan satu spasipun yang bisa memisahkan aku dan kekasihku. Sungguh hari itu, adalah hari di mana aku merasakan kebahagiaan yang maha. Terimakasih Tuhan, terimakasih cintaku. Kami larut dalam candu rindu yang kami tuang pada gelas-gelas cinta. Kami mabuk. Kami dimabuk cinta.

Hari berganti kami lewati dengan penuh kemesraan dan puisi-puisi. Aku begitu yakin bahwa cinta kami tulus, kami saling mencintai hanya dengan satu tujuan, yaitu keridhoanNya. Hingga akhirnya aku mematangkan hati untuk melamarnya.

“Maukah engkau menikah denganku, Cinta, sedangkan aku tak punya apapun untuk kubawa ke hadapan orang tuamu. Mungkin aku akan direndahkan oleh orang-orang yang mencintaimu, yang kedudukannya lebih dari aku..”

“Sayang, Aku mencintaimu hanya semata karena Alloh, bukan karena yang lain. Tak penting bagiku hartamu, kedudukanmu, dan segala atribut keduniaanmu. Karean Aku yakin semua fana, sayang,rusak. akan ada hancurnya.” Aku mendengarkan kekasihku, dan membiarkannya meneruskan kalimat-kalimat indahnya, sehingga hatiku semakin tenang dibuatnya.

“Sayang…” Kekasihku meneruskan kalimatnya. Senja yang sangat teduh, seteduh tatapan mata kekasihku. “Sungguh aku tak mengharapkan sesuatu apapun darimu, kecuali ketulusanmu mencintaiku. Sungguh segala seuatu itu akan rusak, bukan,kecuali yang dilakukan karena Alloh saja? Aku takut, Sayang, cinta akan kan menemui kefanaan jika tiada kita simpan ketulusan yang Maha dalam jiwa. Jangan takut,sayang, bahkan jikapaun kau hanya sanggup memahariku sebuah Surah Al Ikhlash saja, aku terima, sayang, aku rela menjadi isterimu meskipun hanya dengan kau mahariku satu surah Al-Ikhlash”.

“Tapi, apa kau tak merasa aku hinakan, Cinta, bukankah mahar adalah harga dari seorang perempuan yang akan diperisteri seorang lelaki?” Tanyaku dengan segenap rasa ketakutan menjalar di kening batinku.

“Hina, kenapa harus merasa hina, Sayang…” Jawab kekasihku dengan nada yang menenangkan.

“Kau lihat, Cintaku, apa kau tak malu, di saat orang-orang menikahi perempuannya dengan memberikan Mahar yang begitu gemerlap? Uang tunai jutaan rupiah, lah. Cincin dan kalung emas ratusan gram, lah. Sedangkan aku tak punya apa-apa untuk kuberikan padamu sebagai mahar…??

“Tidak, Sayang, Demi Tuhan, tidak ada aku merasa malu sedikitpun. Aku justru takut kehilangan harga diriku di hadapanNya, Sayang. Boleh aku merasa bangga di dunia dengan mendapatkan mahar yang begitu berlimpah dan mahal, tapi rendah di hadapanNya karena hanya menghargakan diriku sebatas perhiasan dan harta benda saja. Aku takut, Sayang. Aku lebih bahagia jika hanya kau mahariku dengan ayat Al-qur’an saja, sehingga aku merasa dihargai sebagai seorang perempuan.” Kudenagar Kekasihku menghela nafasnya, kulihat sesungging senyum di bibirnya merekah. Membuat hatiku berbunga, mekar, harum dan wangi.

“Benarkah, Cinta… Engkau sedang tidak bercandakan, Sayang?” Tanyaku, seolah tak percaya.

“Apakah selama ini aku pernah berkata bohong kepadamu, Cinta…?” Kekasihku menatapku dengan penuh keyakinan.

“Aku percaya, Sayang, terimaksih engkau begitu tulus menctaiku. Inilah yang membuatku takut kehilanganmu, Sayang, Aku yakin tak ada perempuan yang akan mampu mencapai ketulusan, seperti tulusmu mencintaiku. Jikapun ada, Aku yakin sangat langka.”

“Cintaku, dengarkan aku ya, Sayang…” Subhaanalloh, aku semakin larut pada keteduhan demi keteduhan yang diguratkan kekasihku di dinding jiwaku. kata-katanya tak ada yang menyakitkanku.

“Iya, Cintaku…” Kekasihku mendekatiku, dan seraya berbisik, ia berkata kepadaku;

“Aku yakin engkau sungguh-sungguh mencintaiku. Karena itu, suntinglah aku dengan Surah Arrohmaan. Sehingga bisa kita rasakan RohmanNya selalu berada dalam ikatan pernikahan kita. Tak perlu kau bawakan aku cincin permata, emas dan berlian. Bawakan Aku dan berikan kepadaku Cinta yanghanya tulus demi mendapat keridhoanNya. Itu saja.”

MaasyaAlloh. Aku hanya bisa menahan airmataku agar tak jatuh di hadapan kekasihku. Agar kekasihku tahu, betapa aku akan datang melamarnya dengan membawakan Surah Arrohman sebagai Maharnya.

“Terimakasih, Sayang, Tunggu Aku pada waktu yang telah aku janjikan. Semoga Alloh meridhoi, dan semua akan indah pada masanya.” Lalu kami berdua melangkah, menuju Mesjid dekat Taman tempat kami biasa bercakap. Karena tak terasa, Adzan Maghrib telah terdengar dari pengeras suara mesjid itu. Kami berjalan dengan penuh keyakinan. MenujuNya, mencintaNya.

*Sesungguhnya keindahan cinta itu terletak pada ketulusan yang kita curahkan, bukan pada harta benda, tahta dan kekayaan yang kita berikan.

 

elhida

06(12)0512

 

10 Comments to "(Perempuan Berkerudung Ungu) Sunting Aku dengan Arrohman"

  1. el hida  13 November, 2017 at 13:00

  2. anoew  29 September, 2012 at 21:26

    Weeeh, jadi pengen kawin lagi

  3. Sebuah Pelarian  29 September, 2012 at 15:37

    Yuup, yang langka amat beharga. Aku percaya itu..

  4. Sebuah Pelarian  17 May, 2012 at 19:46

    Sepertinya kisahku bersama orang2 itu juga langka,,,

  5. Linda Cheang  14 May, 2012 at 23:52

    yang langka itu amat berharga, lho

  6. elhida  14 May, 2012 at 10:14

    memang langka, tapi cerita di atas adalah cerita nyata

  7. J C  14 May, 2012 at 09:48

    Hhhmmm…sepertinya sekarang sudah rada langka ada yang seperti ini…

  8. Dewi Aichi  13 May, 2012 at 22:07

    Sapa nih yang ditantang hayooooooo…!

  9. nu2k  13 May, 2012 at 15:55

    Wahhhh, no comment.. gr. Nu2k

  10. James  13 May, 2012 at 11:03

    SATOE kerudung ungu

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *