[Serial Deliku] (I’m) Behind You, Don’t Move

Dian Nugraheni

 

Meski dapur adalah “kerajaanku” di rumah, tapi bekerja di dapur orang lain untuk mencari uang, baru kali ini aku lakukan. Ternyata, bekerja di dapur orang dengan beberapa rekan lain, yang notabene berasal dari berbagai negara, berbeda bahasa dan latar belakang kebudayaan, banyak seninya.

Sekarang, di Deli, Kedai sandwich tempatku bekerja, lima hari dalam seminggu, Senin sampai Jumat, sepuluh jam dalam sehari, aku berada di dapur. Hanya lima jam di hari Sabtu saja aku “kembali” ke posisi semula di meja kasir. Jadi judulnya, aku bekerja depan belakang untuk membantu kelangsungan usaha Delinya Pak John, sang Owner, sekaligus demi mencari nafkah bakal mengebulkan dapur pribadiku.

Dapur ala Amerika tentu sangat asing buatku, berbagai macam daging, dressing (saus), keju, roti, dan semua bahan makanan yang sangat banyak jumlahnya itu, masing-masing punya nama sendiri, dan harus di “match”kan dengan berbagai jenis sandwich yang dipesan oleh pelanggan.

Seminggu pertama, pastilah aku masih trunak-trunuk, bingung, dan harus selalu bertanya pada rekan-rekan di dapur. Belum lagi, setelah sandwich di’wrap, dibungkus dengan kertas dan alumunium foil, maka aku harus menuliskan harganya di bungkusnya tersebut. Tentu juga harganya, antara satu sandwich dengan sandwich yang lain, berbeda-beda. Dan yang nambah makin panik adalah, pelanggan berbaris mengular setiap saat berharap cepat dilayani…

Itu hanya minggu pertama, minggu selanjutnya aku sudah semakin banyak tau tentang apa yang harus aku lakukan ketika menghadapi pelanggan dan menyiapkan sandwich sesuai permintaan mereka. Terus terang, kerja di dapur lebih complicated dibanding ketika aku jadi kasir, cuma pencet tuts di mesin penghitung, menggesek kartu bayar atau menerima cash dan memberi kembalian pada pelanggan.

Tapi yang lebih seru, adalah bagaimana mengalir bersama irama ke enam teman Sandwich Maker lainnya. Dua orang adalah orang Vietnam, empat orang adalah orang Indonesia, termasuk aku, dan satu orang adalah Spanish. Di tengah kesibukan  membuat sandwich yang terasa tak pernah henti dalam sepuluh jam, selalu terdengar canda tawa, teriakan seronok, atau lontaran kalimat-kalimat “menggoda”. Yaa, karena semua Sandwich Maker, termasuk aku, adalah manusia-manusia “matang” berusia 40 tahun ke atas, jadi omongan dan candaan orang dewasa sudah tidak membuat kami “tergoda”, alias hanya omongan di lidah saja.

Di dapur yang seperti sebuah lorong yang cukup sempit, kami harus mentoast, menghangatkan semua jenis roti, dalam satu tempat yang sama, dan menggoreng atau memanaskan semua daging atau telor di satu wajan kotak, grill, yang sama, dalam irama yang serba ngebut, cepat, agar pelanggan tak terlalu lama berdiri menunggu pesanannya. Otomatis, senggolan dengan sesama Sandwich Maker tak terelakkan lagi, juga senggolan ke semua barang-barang panas yang pastinya akan membuat luka bakar, sekecil apa pun.Maka, kami Sandwich Maker, harus kompak, saling memaklumi, saling membantu, dan saling menjaga, agar semua selamat, dan sandwich tersaji dengan benar, dan cepat.

Yaa, menyajikan sandwich harus tepat seperti apa yang diminta pelanggan, misalnya, Cheese Steak, di hoagie roll (salah satu jenis roti sandwich yang berbentuk panjang), dengan mayones, provolone Cheese, letuce dan tomato. Kalau kita salah tangkap, maka nggak dikasih mayones tapi dikasih mustard, atau ketika pelanggan minta Provolone Cheese kita keliru ngasih American Cheese, maka nantinya pelanggan akan kembali dan komplain di meja kasir, lalu mengembalikan sandwichnya yang salah, dan biasanya minta lagi yang baru sesuai pesanannya.

Itu artinya rugi sana sini, rugi waktu dan tenaga membuat, rugi bahan-bahan yang tadi sudah dikeluarkan utuk membuat sandwich (yang kemudian salah dan akan dibuang), dan rugi karena harus mengeluarkan bahan-bahan lagi untuk membuat sandwich baru. Ujung-ujungnya, pastinya si Ownernya yang banyak mengalami kerugian.

Bagaimana bisa terjadi kesalahan ketika membuat sandwich..? Karena jumlah pelanggan tidak sebanding dengan jumlah Sandwich Maker, alias jumlah pelanggan terlalu banyak. Jadi satu orang Sandwich Maker, akan “take order” lebih dari satu sandwich dalam waktu yang sama. Nahh, kalau nggak konsentrasi, pasti bisa terjadi kesalahan tadi.

Di tengah dapur yang sempit, intensitas kerja yang tinggi, tentu saja emosi juga akan cenderung meninggi bila masing-masing pribadi tidak saling menjaga hati. Tapi untungnya, formasi Sandwich Maker saat ini, bisa dibilang, semuanya cheer dan cool.

Kata-kata ini yang akan keluar bila, misalnya, aku sedang membalik meat, daging di grill, kemudian salah satu kawan lain akan memasukkan roti ke toaster yang ada di sebelahku, “…behind you, dont move…!”

Saking sibuknya, kadang kata-kata itu sudah nggak mempan, sudah diteriakin begitu yaa, kadang kita masih move aja…, akibatnya, selain akan bertabrakan dengan sesama kawan, juga akan bertabrakan dengan barang-barang panas lain, atau meat panas yang akan kita pindahkan ke roti sandwich terjatuh akibat bertabrakan tadi.

Kalau sampai bertabrakan, alias bersentuhan, biasanya akan keluar candaan seperti ini, “why you touch me..? I know you need me, but not now, please, wait until I finish my sandwich, oke..? this is the wrong time in the wrong place…”

Kadang-kadang, dalam keadaan seperti ini, ada saja salah satu kawan yang sedang sensitif, kemudian beneran marah…hmm…

Untung saja.., yaa.., untung saja, salah satu Sandwich Maker asal Indonesia, sebut saja namanya Oom Simon, sangat cool dan full senyum. Bekas boss di salah satu tambang minyak di Indonesia, yang sudah lebih dari sepuluh tahun menjadi Sandwich Maker ini, akan menjadi “penengah” kawan-kawan lain yang sedang “panas” .

Aku dengar Oom Simon lebih sering menyebut kami dengan panggilan “baby”.., panggilan yang sangat lembut dan menyenangkan, kiranya, orang marah pun akan sedikit luruh demi mendengar dirinya dipanggil “baby”. “Dont move, baby, behind you…” begitu selalu aku dengar dia bicara.

Dan karena orang Indonesianya jauh lebih banyak, maka aku sering juga keikut-ikutan mengalir bercanda di antara panasnya dapur sandwich yang sempit ini, “behind you, Oom, tahan, jangan goyang dulu…” Nahh, lalu temen-temen Indonesia pada ketawa, karena mengasumsikan kalimat “behind you, dont move”  menjadi candaan yang agak seronok.

Kalau sudah begitu, May, lady dari Vietnam biasanya akan sedikit tersinggung, karena kami ketawa bersama-sama, mungkin dikiranya mentertawakan dia, maka aku akan langsung menterjemahkan, ” I said, behind you, please dont move, in indonesian language, May…” Kemudian kulihat May akan tersenyum sambil bilang, “chooo yoooiii..”, aku enggak tanya artinya, tapi mungkin dia bilang, “ohhh..ohhh,he..he..he..”, tanda dia mengerti apa yang aku bilang, dan sepertinya dia lega, karena kami enggak mengatakan sesuatu yang nggak baik terhadap dia.

Atau tiba-tiba Oom Simon bersenandung lagu anak-anak, “banyak nyamuk di rumahku…uuu, gara-gara kamu, malas bersih-bersih…”

Untuk mengantisipasi terjadinya ketersinggungan, maka aku akan langsung menterjemahkan lagi, “he said, a lot of mosquito in my house, because you never clean my house up..”  Lagi-lagi May dan kawan-kawan lain akan tersenyum dan menimpali, “ohh really…?”

Atau, Huan, pemuda asal Vietnam, dia punya nama Amerika, Kevin Nguyen, dan akan sangat suka bila kita memanggilnya Kevin, bukan Huan. Pemuda ini sangat kemayu, dan dia bisa marah gara-gara ini, “hai…who take my chicken..?” Dia berkata begitu dengan nada galak ala bencis.

Kebetulan aku juga tadi ngegril chicken, tapi karena cepat-cepat, aku tak memperhatikan lagi, yang mana chickenku, yang mana chickennya Kevin, karena nampaknya memang sama saja, “Chicken..? Ohh, I did, Kevin, sorry, aku pikir sama-sama ayam inih…” kataku.

Maka dia akan melanjutkan marahnya sambil cemberut,”No..not same, aku selalu memotong chickenku menjadi tiga irisan, karena ini buat my boy friend…”

Akhirnya aku yang akan selalu bersorry-sorry, dengan ketawa-ketawa. Maka kalau sudah demikian, marahnya akan luntur, selanjutnya sudah akan kembali ceria.

Lhaaa, kalau sangat panas, maka akhirnya aku akan bernyanyi keras dan lepas, kemungkinan besar juga akan terdengar oleh Pelanggan“…mengapaaaa…..mengapaaa…., mengapa hatiku selalu merana…., (mungkin lagunya Koes plus, aku cuma sekilas aja keingetan lagu yang pernah aku dengar ketika aku masih kecil, dan juga ga tau lanjutannya..ha..ha..ha..) . Nahh, lagi-lagi, untuk menghindari salah paham, aku harus bernyanyi lagi dalam terjemahan bahasa Inggris, “why why why….why..why..why, why my heart always full of sorooooooowwwww….”

Ha..ha..ha.., di mana pun, hidup penuh warna, jangan sia-siakan warna-warna itu, jangan bebani hati dengan mengedepankan hal-hal yang buruk dan tidak menyenangkan. Maka, meski di dapur sandwich yang sempit dan panas, aku selalu ingin bergembira.., I wanna be happy everywhere…! Uhhh…uhhh…yeahhhh..!!

 

Salam dapur sempit dan panas,

Virginia,

Dian Nugraheni,

Sabtu, 31 Maret 2011, jam 2.39 siang

(I wanna be happy everywhere….)

 

15 Comments to "[Serial Deliku] (I’m) Behind You, Don’t Move"

  1. dian nugraheni  19 May, 2012 at 21:45

    NB: James, sorry salah ketik..meet, maksudnya meat..paas…ha2…

  2. dian nugraheni  19 May, 2012 at 21:44

    Mbak Kornelya Agus, makasih banyak yaa..kapan2 kalau ke DC mampir ke tempat aku kerja yaa…aku bikinkan sesuatu yang deliii…cious….he2…(New York gudangnya best Deli…he2..tapi yang ini juga gak kalah deh…beneran…

  3. dian nugraheni  19 May, 2012 at 21:43

    anoew.., makasih banyak yaa…ke mana…ke mana..ke mana-nya sudah tak nyanyikan, sambil mincek2 sembari nyekel capit yang biasa aku pakai buat ngambil meat panas di grill…ha2…

  4. dian nugraheni  19 May, 2012 at 21:42

    JC, you must find this place..!! Guampange pol, di G street dalam kampus George Washington University, dan aku akan bikin my best sandwich buat JC, Steak and Cheese (Phily_ Philadelphia) Steak, atau Boneless Barbeque Rib Sandwich..atau apa pun JC suka…he2..oke…, makasih banyak ya JC

  5. dian nugraheni  19 May, 2012 at 21:39

    Dewi Murni..ha2.., memang dangdut tak ada matinya, saiki malah laguku ditambah lagi, setelah Sekuntum Mawar Merah, trus Roma Irama “kau yang mulai kau yang mengakhiri…”, trus “Darin..Darin..Darin…(Jacky-nya Rita Sugiarto), sekarang ditambah “ke mana..ke mana…ke mana…” Ayu Tong2…ha2….thanks banyak Dewi….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *