Teruntuk Wanita-wanita Hebat (3.2)

Yang Mulia Enief Adhara

 

Kakiku rasanya lemas, tatapan Tuan Gun begitu lurus kepadaku. Nyonya Gun kini ikut menatapku, membuatku bagai seorang terdakwa. Tuan kemudian berbicara lagi, “Saya pecinta kuliner, dan apa yang kamu sajikan ini istimewa, kaldu daging begitu ringan namun memiliki sentuhan bumbu yang begitu kuat. Yang saya mau tahu, kenapa kamu tidak menjadi juru masak di restoran atau di hotel? Kenapa justru memilih bekerja di rumahan seperti ini? “, suara Tuan Gun yang berat begitu tegas.

Nyonya Gun kini ikut menimpali, “Iya Uci, kamu ini sangat sempurna untuk urusan dapur, Apa yang Madam Wu cerita, ternyata benar adanya. Kenapa kamu tidak bekerja di tempat yang seharusnya kamu berada? “

Aku menunduk salah tingkah, perasaanku tak menentu, ku coba menjawab pertanyaan mereka dengan apa adanya, “Saya ndak cukup biaya untuk bersekolah lebih tinggi, jadi bekerja di hotel atau resto besar bagi saya hanya impian Tuan … Nyonya … ijazah saya tidak memadai.

Tuan Gun nampak kurang puas dengan apa yang menjadi jawabanku. Mungkin saja di pikiran Tuan Gun aku hanyalah seorang pecundang, mungkin saja!

*****

Mak Beben dan Entin merapihkan ruang makan, sementara aku menyiapkan aneka perlengkapan makan malam untuk kami para staf rumah tangga di meja pantry. A Nana dan Pak Effendi sibuk mengendus aroma daging yang menebar aroma harum yang menggugah rasa lapar, dan menunggu Mak Beben dan Entin rasanya bagai belasan tahun, lama sekali. Hingga akhirnya Entin dan Mak Beben sudah siap bersantap malam bersama.

Saat Entin menyuap potongan daging, aku melihat wajah yang serius, lalu dia bicara pada A Nana meniru gaya Pak Bondan di acara kuliner di TV, “Dagingnya empuk ya A, udah gitu bumbunya meresap dan ini asli mak nyus”, Ujar Entin.

A Nana yang hobi melucu menjawab dengan wajah kocak, “Nu penting tong seueur teuing barang dahar bisi lintuh jiga emak-emak …. (Asal kamu jangan makan banyak-banyak, nanti badanmu gemuk seperti emak-emak)”, Sahut A Nana sambil melirik Mak Beben yang memang tubuhnya subur. Mak Beben dengan gemas menarik jambul kebanggaan A Nana. Suara derai tawa membuat malam yang dingin itu menjadi hangat. Dalam hati aku terharu, kami bagaikan satu keluarga. Pak Effendi sebagai Ayah dan Mak Ben sebagai Ibu, aku, A Nana dan Entin jadi anaknya. Sebuah keluarga utuh yang bahagia, yang tidak pernah aku punya.

****

Sudah seminggu aku bekerja di kediaman Keluarga Gunawan, dan selama seminggu aku memanjakan mereka dengan hidangan yang lezat. Dari sekian banyak penghuni rumah hanya Entin yang mulai gelisah, dia mengalami kenaikan berat badan sampai 2 kg. Diet yang kerap dicanangkan selalu gagal lantaran A Nana selalu berhasil melukiskan nikmatnya hidangan dengan ekspresi wajah yang sangat pas, dan Entin tak kuasa menahan hasrat untuk tidak mencicip makanan.

Dan Nyonya Gun sore itu tiba-tiba datang ke dapur, tepat sekali klapertart yang aku buat tadi siang sudah siap untuk dihidangkan sebagai teman minum teh. Aku meletakkan sepotong di piring dan kuberikan kepada Nyonya. Beliau duduk di meja pantry dan mulai menikmati klapertart buatanku. Wajah Nyonya Gun terlihat puas dan beliau bahkan meminta sepotong lagi.

“Uci, sungguh semua masakanmu selalu saja lezat, sejujurnya kamu ini lebih dari pada Master Chef, ahh sayang lusa kami sudah harus pergi dan kembali 3 atau 5 bulan lagi. Kedua anak saya liburnya tinggal minggu depan, kami ada rencana menginap di Dubai untuk 2 malam”, Nyonya Gun berbicara dengan ramah.

Kadang wajah cantik di hadapanku memejamkan matanya seperti berusaha meresapi cita rasa klapertart buatanku. Aku merasa bahagia, orang sekelas Nyonya Gun, begitu terpesona dengan masakanku, dan semua ini adalah warisan Almarhum Ibu yang terus membuatku seolah merasakan kehadirannya.

“Nah Uci, selama saya dan Tuan tidak berada di rumah ini, kamu tetap akur yaa dengan Mak Ben, Pak Effendi, Nana dan Entin. Biasanya adik Tuan tinggal di sini. Dia bertanggung jawab memegang operasional rumah ini, seperti membayar gaji, listrik, telpon dan lain lain. Dia adik ipar saya. Harusnya sore ini dia sudah tiba”, Nyonya Gun memberikan sederet info, tak lama ia meninggalkan dapur, sepertinya dia akan melanjutkan kesibukannya, menata kopernya.

*****

Keesokan paginya selepas aku menyiapkan sarapan, ku lihat suasana rumah megah itu masih lengang. Nampaknya Tuan dan Nyonya masih pulas dibalik selimut, juga Koko Marcell dan Cici Josephine kedua anak Tuan Gun nampak masih belum terdengar suaranya. Jam menunjukan pukul 5.35. Kabut agak tebal dan udara cukup menggigit. Ku kenakan sweater lalu keluar melalui pintu hall. Di halaman depan yang luas ku lihat Pak Effendi sibuk mengelap mobil sedan milik Tuan. A Nana tidak nampak batang hidungnya, hingga ku ingat hari ini jadwal Mak Ben dan Entin belanja ke pasar.

Tiba-tiba terdengar suara klakson yang cukup berisik mengusik pagi yang tenang itu dan ku lihat Pak Effendi tergopoh gopoh menuju gerbang dan menekan tombol otomatis diikuti gerbang yang terbuka lebar. Mobil Jeep mewah berwarna hitam dengan paduan orange memasuki halaman. Di belakang kemudi ada seorang pria tampan berwajah masam memakai kacamata aviator.

Ternyata pria itu masih belia, ku rasa usianya tak lebih dari 23 tahun. Berbadan atletis dengan kaos ketat dilapis cardigans warna cerah. Pria itu turun dari mobil dan langsung memerintah Pak Effendi untuk mengeluarkan 3 kopor dari bagian belakang mobil. “Pendi! Keluarin tuh koper gw, bawa ke atas”, Ujar pria itu ketus.

Aku heran, bukankah Pak Effendi sudah berusia 55 tahun? Lantas kenapa pria muda ini tidak menggunakan kata ‘Bapak’? Gayanya angkuh dan tidak sopan. Tiba-tiba jantungku nyaris meledak, pria itu sudah berdiri di hadapanku dengan gusar, rupanya aku sempat larut dengan pikiranku hingga tak mendengar ia bicara padaku.

“Heh lu siapa? Kalo diajak ngomong jangan bengong ya! Dasar tolol”, Sembur pria itu seenaknya. Sungguh aku sangat tercengang namun aku buru-buru mengangguk.

“Iya A, maaf, saya Uci … Sa ….”, Namun aku tidak dapat melanjutkan kalimat yang keluar dari bibirku. Pria itu berbicara dengan sinis.

“Heh! Lu manggil gw Aa? Kapan gw pernah punya adek kaya elo? Mau nama lu siapa kek emang gw pikirin, lu pembokat baru ya? Artinya lo bawa tuh koper gw yang satu lagi, jangan malah berdiri aje kaya juragan! !”, Ujarnya dengan keji, wajahku memanas, aku merasa takut dan sekaligus terkejut harus berjumpa orang berprilaku kasar.

Aku buru-buru menuju sebuah koper kotak yang ternyata berat. Sebenarnya aku tidak yakin dapat mengangkatnya, namun rasa takut dibentak, membuatku nekat mengangkat koper itu, namun karena berat aku pun kehilangan keseimbangan dan aku terjungkal menimpa koper itu.

“Astaga! !!”, bentak pria itu gusar. “Dasar lu pembokat sialan, lu tau gak berape harga koper itu? Lu jual diri tiap hari juga gak bakal bisa beli itu koper! Dasar goblok! Liat aja sampe ada besot tu koper, gw tabok lu”, Pria itu dengan tanpa ampun memaki diriku yang tengah meringis mengusap lututku yang berdarah terkena carport yang terbuat dari batu candi. Pak Effendi muncul dari pintu dan tergopoh-gopoh menuju ke arahku.

“Neng, kamu nggak apa apa-kan? Aduh ini mah tugas Bapak, berat neng, pasti isinya buku sama aneka game player, kasian kamu sampe jatuh”, Ujar Pak Effendi berusaha memeriksa lututku. Dari sudut mata ku lihat pria muda itu semakin masam wajahnya.

“Pendi! Lu ngapain ngurusin perempuan itu? Huh dasar goblok semua! Lu liat koper gw ada yang rusak gak? “, Ujar pria itu seenaknya.

Pak Effendi menggeleng, dan menjawab “Tidak Tuan, kopernya baik-baik saja, tapi neng Uci ….”

“Cuihhh! !!”, pria itu meludah, “Gw bukan serikat babu ya?! Jadi gw nggak ada urusan, lo bawa koper gw ke atas, dan pembokat baru itu suruh siapin kopi buat gw! Gw mau sarapan di pinggir kolam renang”, Pria itu bicara ketus ke arah Pak Effendi, lalu masuk ke dalam rumah dengan membanting pintu.

*****

Di dapur aku buru buru menyiapkan sarapan buat pria congkak tadi. Dua potong sosis, sebuah telor mata sapi setengah matang, roti bakar polos, beberapa iris tomat dan selada berikut secangkir kopi dan segelas juice jeruk. Lututku yang masih perih berusaha ku abaikan walau rasanya seperti tebal.

Dan pria muda itu nampak sudah tiduran di bangku panjang dinaungi tenda payung warna merah tua. Ia hanya memakai celana renang. Saat aku mendekat nampak sekali wajahnya seperti terganggu. “Mau apa lo? Susah bener ya privacy di rumah ini? “, Pria itu bicara sambil tetap tiduran terlentang, rupanya sengaja berjemur.

“Maaf Tuan, ini sarapannya”, ujarku singkat seraya meletakkan nampan kayu besar di meja yang menyatu dengan payung. Namun karena meja itu berdekatan dengan bangku dimana Pria tadi tiduran ditambah rasa takut yang merasuki diriku, aku agak limbung dan gelas juice jeruk terguling dengan sebagian isinya menyiram perut pria tadi. Spontan ia mengamuk, dengan kasar ia bangkit dan menarik lenganku.

“Dasar goblok! ! Lo cari masalah ya sama gw hah? ?? Liat nih ulah lo, badan gw jadi lengket! Dasar pembokat sialan lo”, Teriaknya dengan bengis, walau ia memakai kacamata hitam namun aku tahu pasti mata pria itu menyala-nyala. Belum sempat aku berkata maaf, lenganku yang dicengkramnya disentak dengan kasar, berhubung luka di lututku terasa sakit aku tak mampu menjaga keseimbangan, dan aku terpelanting ke arah kolam renang.

“Byuurrr” aku masuk ke dalam kolam tanpa ampun, dan masalahnya adalah aku sama sekali tidak bisa berenang maka aku megap-megap dengan panik. Pria itu nampak acuh tak bergeming, bahkan asyik menyantap hidangan yang tadi ku hidangkan sambil mengomel. Lebih parah dia justru berteriak memanggil Entin agar dibawakan segelas juice jeruk menggantikan yang tadi tumpah tanpa belas kasihan yang melihat aku megap-megap di dalam kolam.

Entin tergopoh-gopoh membawa gelas juice rupanya ia sudah pulang dari pasar. Dan segera ia menyadari aku yang tengah melawan maut di dalam kolam sedalam 2 M itu. Entin berteriak panik, kesadaranku sudah hampir hilang, aku benar-benar lemas karena takut tenggelam.

Tiba-tiba antara sadar dan tidak, aku ditolong seseorang, A Nana yang ternyata terjun ke dalam kolam. Di pinggir kolam aku terbatuk-batuk, tubuhku menggigil dan wajahku pucat pasi. Pak Effendi dan Mak Ben sudah ada juga di sana, mereka memandang pria itu penuh kebencian dan pria itu justru makin bertingkah.

“Kenapa lo? Nggak suka? Minggat sana! ! Lo disini kan cuma doyan duit Koko gw! Pada mau nantang ya? “, Ujarnya sambil bertolak pinggang.

Tiba-tiba terdengar suara menggeledek dari arah pintu kaca di ruang keluarga yang terbuka lebar, “ALVINO! !!!!!!!!”, dan itulah suara Tuan Gun yang marah, rupanya beliau mendengar suara gaduh dari kamarnya. Pria angkuh tadi langsung diam, dan berlalu menuju pintu pantry sambil menggerutu seolah dia tidak bersalah sama sekali.

 

7 Comments to "Teruntuk Wanita-wanita Hebat (3.2)"

  1. Linda Cheang  14 May, 2012 at 23:43

    mau klapertaartnya aja…

  2. Sierli  14 May, 2012 at 15:03

    Aiyaaa..emang ada cowo segalak dan sesadis itu?
    Tapi teuteup ditunggu kelanjutannya…xixixii..

  3. [email protected]  14 May, 2012 at 10:06

    sinetron indonesia banget nih…..

  4. J C  14 May, 2012 at 09:55

    Wah, wah, kok masih ada jenis manusia seperti Alvino ya… hhhhmmm…tapi dugaanku nanti si Alvino malah jatuh cinta sama si Uci nih…

    Kalau ketemu orang yang model kayak Alvino beneran asli kepingin ngaplok

  5. Dewi Aichi  13 May, 2012 at 22:04

    Huhhhhhhhh…pengen masak baceman teklek aja nih buat Alvino……arogan banget….!

  6. probo  13 May, 2012 at 18:01

    wah! galak banget!

  7. James  13 May, 2012 at 11:00

    SATOE Klpaertaart

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.