Aisyah dan Sepuluh Anak Laki-laki di Dadanya

Seroja White

 

Jantung malam terkoyak oleh suara gedoran di pintu, perempuan paru baya itu tersentak dari kantung tidurnya, begitu juga gadis kecil yang terlelap hangat di bahunya. sejenak mereka menyimak suasana. Gedoran di pintu semakin gaduh.

“Mungkin itu ayah, bu..” gadis kecil itu mendekap lengan ibunya semakin erat, dan wajah perempuan paru baya itu seketika diliputi kecemasan. Mungkin benar itu suaminya, tetapi dua hari yang lalu suaminya itu menuju ke barat, ke hulu Sei Bederah. Mengapa sudah kembali, ia sempat mendengar malam itu sewaktu suaminya bertemu dengan tetua kampung Tengku Rajo Maringan, membicarakan tentang pasukan di sayap kanan kampung Sei Serayu lumpuh, bala bantuan harus segera didatangkan. Dan suaminya lah yang akan memimpin beberapa pasukan menuju ke sana.

Belanda semakin merengsek masuk ke Medan Area, ini tak dapat dibiarkan tanah Deli dalam incaran. Para Datuk di rumah tinggi tidak dapat diharapkan, mereka tampaknya telah kehilangan nurani. Acap tiap dua malam dalam sepekan mereka berdansa-dansi dengan Wolter van Smith, meracau kan tanah-tanah mana yang hendak disewa kompeni, Datuk-Datuk itu tak sadar tepat berada di depan moncong meriam. Ribuan hektar lahan penduduk dibabat, ditanami tembakau, kelapa sawit, dan karet. Ribuan monyet menjerit-jerit keluar dari hutan karena kehilangan ladang pisang.

Dan lembar-lembar daun tembakau itu nantinya akan dibawa terbang ke Amsterdam atau Bremen—Jerman—kota pusat penjualan tembakau terbesar di dunia—dijual seharga emas, sementara penduduk asli Melayu tanah Deli hampir mampus. Bagaimana tidak, Belanda menjadikan mereka keledai totol, merayu para Sultan dan Datuk-Datuk agar dapat melegalkan tanah pusaka demi segepok uang dan lintingan cerutu. Semetara orang awak—penduduk asli tanah Deli hanya penurut kata tetua. Apa yang mereka tahu tentang mencangkul? Ladang- ladang mereka hanya berisi pisang, kelapa, nangka, dan rukam. Dan kini mereka harus mengeruk tanah dan menyirami tembakau, mana mereka bisa. Yang mereka tahu hanyalah melaut, melempar jala dan pulang bersilul-siul di warung kopi. Tanah lebar mereka hanya ditamani hasil kebun, pelengkap dapur.

Kompeni adalah rubah putih yang licik, mareka tahu penduduk melayu tidak berbakat bercocok tanam, maka mereka pun tak kehabisan akal. Mereka datangkan berbondong-bondong pekerja transmigran dari tanah Jawa, dengan iming-iming mendapatkan kehidupan yang lebih layak di pulau Andalas, tanah Melayu Deli. Para pekerja yang patuh tidak banyak bicara dan rajin tentunya. Orang awak hanya melongo dikerjain Kompeni di depan mata, sepeti kerbau dicucuk hidung. Tapi itu tidak semua, di beberapa titik ada juga yang melakukan perlawanan, pembodohan ini tak dapat dibiarkan. Ini bukan hanya soal tanah, ini soal marwah, kehormatan leluhur.

Perempuan paru baya itu turun dari ranjangnya dengan kaki gemetar, ia meminta putrinya agar tetap berada di bilik kamar,

“Tunggu di sini saja nak…” tatap mata putrinya merengek, namun tegas ditolaknya dengan gelengan. Gedoran di depan pintu semakin galak, lalu dibukanya ketika kuncup telinganya mengenali suara siapa di sebalik pintu. Dua orang segera masuk memapah sebatang tubuh, dadanya berdesir hebat, tubuh itu tubuh suaminya—Zulkifli. Perempuan itu menuntut jawab atas keadaan suaminya pada Husein dan Kohar, dua orang lelaki yang membawa suaminya yang pulang dengan tubuh penuh luka, apa yang sebenarnya terjadi. Tubuh suaminya itu lunglai tak berdaya, beberapa carik kain membebat luka di sekujur tubuhnya.

Lalu mereka bercerita, beberapa kilometer lagi menuju Sei Bederah pasukan mereka dihadang sekawanan musuh. Mereka bersarung menutup muka dengan jumlah yang cukup banyak, perjalanan selama dua hari membuat pasukan Zulkifli kelelahan dan tidak siap menerima serangan mendadak. Siapa yang membocorkan rute Sei Bederah, ini jelas pengkhianatan. Perut Zulkifli tertebas parang panjang, bahunya koyak oleh tombak. Pasukannya yang hanya berjumlah sepuluh orang habis terbantai kecuali kedua orang lelaki yang berhasil meloloskan diri dan menyelamatkan tubuh Zulkifli yang roboh bersimbah darah.

Perempuan itu tersungkur di samping tubuh suaminya, Husein dan Kohar mohon diri menemui Tengku Rajo Maringan, hal ini harus segera dilaporkan. Aisyah—gadis kecil itu keluar dari biliknya. Ia turut menangis di samping ibunya.

“Nak, ambilkan ibu segayung air hangat dan kain. Biar ibu obati luka-luka ayahmu ini..” Aisyah bergegas, ia bersegera menuruti perintah ibunya. Dan Zulkifli masih belum sadar, sesekali mengerang lalu kembali tak sadarkan diri. Lelaki itu terlalu banyak kehilangan darah. Perempuan itu kini hanya pasrah, hatinya tak berhenti berdoa, firasat hatinya tak enak. Sekelebat perasaan kalau suaminya itu tidak akan tertolong segera ditepisnya. Ia bersihkan luka-luka suaminya dan membebatnya kembali dengan kain besih dan ramuan obat luka.

Tengku Rajo Maringan dan beberapa orang datang menjenguk Zulkifli, semua turut bersedih. Zulkifli adalah sosok lelaki pemberani, pemimpin yang hebat dan petarung yang handal, tapi kini mereka sepertinya akan kehilangan seorang putra melayu yang gagah berani. Tengku Rajo Maringan mendekati tubuh Zukifli yang semakin melemah, dibisikkannya sesuatu di telinga lelaki itu, perlahan mata Zukifli terbuka, dengan sisa-sisa tenaganya ia memeluk Tengku Rajo Maringan yang mulai sepuh itu.

“Aku gagal Tengku Rajo, ada yang berkhianat, mereka membocorkan rute Sei Bederah…” dengan susah payah lelaki itu menjelaskan dengan suara teramat lemah dan penuh penyesalan.

“Tidak anakku, kau telah melakukan yang terbaik, buat tanah kita. Kau berjuang dengan gagah berani, banyak pertempuran yan telah kau menangkan dengan hati yang bersih. Dan musuh-musuh kita itu, mereka telah bersekutu dengan setan putih, kompeni durjana, bertahanlah, kami masih sangat membutuhkannmu.”

“Tengku, maafkan aku, aku mungkin tak akan bertahan. Telah lama aku bersumpah bila aku memiliki sepuluh anak lelaki maka semuanya akan kupersembahkan untuk tanah Deli.. agrrr..” Zulkifli mengerang kesakitan. Seluruh orang dalam ruangan itu menyaksikan Zulkifli merenggang nyawa, di akhir kalimat Tauhid Zulkilfi gugur, tepat di pangkuan istri dan anaknya. Semua menghela nafas berat. Pahlawan itu telah berpulang.

Lewat dua pekan setelah kejadian itu, makam Zulkifli masih ramai dikunjungi para peziarah. Keluarga, tetangga dan para sahabatnya tak henti manghantarkan doa-doa dan pujian buatnya. Sementara di rumah duka janda Zulkifli itu masih berkabung, perempuan itu masih sangat terpukul atas kematian suaminya. Sudah dua hari tubuhnya membisu mematung tepat di depan pintu. Rasanya baru kemarin ia melepas suaminya itu melangkah ke luar dari pintu, dengan bekal tiga bungkus nasi ketan yang dibungkusnya dengan daun jati, beberapa potong ikan asin dan teri. Lalu dibekap dalam sebuah sarung beserta beberapa potong baju. Ia masih ingat betul sore sebelum malam itu suaminya berangkat menuju Sei Bederah, lelaki itu mengasah parang panjangnya sampai mengkilat di bawah pohon Rukam.

“Jangan kau risau begitu Maimunah, suamimu ini tak sekali ini hendak pergi pertempur. “

“Perasaan adik tak enak bang, menuju Sei Bederah medannya sangat berbahaya. Banyak lembah curam dan sungai-sungai penuh buaya.”

“Tak ada rute lain lagi, kalau abang dan pasukan menyusup lewat tenggara, di sana tanah begitu landai, musuh akan mudah melihat kita, bisa habis kita seketika, bedil Belanda laknat itu akan dengan mudah mengoyak dadaku dengan peluru.”

“Tapi abang….” Segera Zulkifli memeluk dan membujuk istrinya agar tenang.

“Sudah lah doakan saja abang, dan kau jaga baik-baik Aisyah di rumah. Abang percaya kau dapat menjaga diri dengan baik. Bila terjadi sesuatu segera lah mengungsi ke rumah Tengku Rajo Maringan, aku akan ke sana nanti menitipkan kalian padanya.” Maimunah hanya terguguh sedih, entah mengapa ia tak rela melepas kepergian suaminya itu kali ini. Lalu lusinan derap kaki mungil mendekat dari kejauhan, tampak putri mereka—Aisyah pulang mengaji dari Surau. Mereka sepakat tersenyum menyambut putri mereka itu. Tidak baik menunjukkan wajah gelisah dan sedih di depan anak-anak, bisik Zulkifli di telinga Maimunah.

Kenyataanya berkata lain, firasatnya benar kali ini, maut telah menjemput Zulkifli. Dan Maimunah masih belum bisa menerimanya, sosok suaminya itu kerap masih membayangi benak Maimunah. Hingga pelukan Aisyah lah yang menyadarkannya. Direngkuhnya Aisyah dalam pelukan. Tatapan mata Aisyah kembali mengingatkannya dengan Zulkifli, mata yang teduh sekaligus mata jalang seorang pemberani. Ucapan terakhir Zulkifli kembali tergiang. Bila mereka memiliki sepuluh anak lelaki pasti semuanya akan dipersembahkan untuk memperjuangkan tanah Deli, tapi mereka hanya punya seorang anak perempuan.

“Ibu, aku ingin menjadi seperti ayah…” suara halus Aisyah membuat dadanya penuh haru.

“Tidak sayang, anak perempuan tidak turun ke medan perang, tugas kita hanya menanak nasi..”

“Tapi ibu, Aisya ingin seperti ayah. Belajar silat bersama anak laki-laki, mengayun pedang menebas musuh..”

Maimunah tak dapat berkata-kata lagi, tidak ingin ia memadamkan nyala api semangat pada kedua mata putrinya itu. Ia seakan melihat Zulfikli hidup kembali di sana. Siapa pun tidak dapat memungkiri darah yang mengalir dalam tubuh Aisyah adalah darah Zulkifli yang kental sebagai seorang pejuang.

Sejak saat itu Aisyah menjelma sebagai Zulkifli muda, berlatih silat, mengayun pedang. Tubunhya mulai tertempa berbagai latihan, Maimunah bertekad, ia dan Zulkifli mungkin hanya memiliki satu anak perempuan tapi dengan sepuluh pejuang lelaki dalam dadanya, Aisyah, anak perempuan mereka. Ini tanah mereka sampai mati pun akan tetap tanah mereka, maka lahirlah dan matilah di harum hamparan tanah, Deli.

Bertahun tahun kemudian seorang perempuan berdiri tonggak pada sebuah bukit, beberapa jam lalu musuh berhasil dipukul mundur, ia Aisyah, putri Zulkifli si pemberani. Dan hari itu ia pulang membawa kemenangan.

***

Maimunah berseri seketika wajahnya, saat dari kejauhan ia melihat sosok anak perempuannya itu berseru memasuki kampung. Segera ia turun dari rumah panggung dengan membawa segayung air untuk membasuh putrinya itu. Konon agar arwah para musuh-musuh itu tidak akan mengikuti Aisyah.

Mereka berangkulan, seperkasa apa pun Aisyah, putrinyanya itu masih lah ia menganggapnya bocah. Aisya sering merajuk kalau ibunya itu terlalu mencemaskannya. Mereka lalu duduk di anak tangga, dan seketika tatapan cemas Maimunah singgah pada lengan Aisyah yang terluka.

“Tak apa ibu, ini hanya luka kecil..”

“Luka kecil katamu? Ingat nak telah berlusin luka bersarang ditubuhmu. Kau perempuan anakku seharusnya kau berlulur dan berpupur bukan bertempur” Aisyah hanya tersenyum mendengar omelan ibunya.

Ya, kini ia tengah menjelma menjadi perempuan dewasa. Tidak seperti gadis seumurannya yang selalu tampak melentik, Aisyah malah terlihat seperti anak lelaki dengan tubuh kekar dan kulit terpanggang matahari.

“Kemarin Tengku Rajo Maringan berkunjung, beliau menanyakan padamu apakah kau sudah kembali dari Sei Agul. Beliau sedikit cemas, karena kau hanya berangkat sendiri tanpa paman Husain dan Kohar. Aku saja mengidik membayangkanmu di tengah laki-laki itu dalam perjalanan berhari-hari dan hendak berperang pula!” Maimunah merapikan rambut sebahu Aisyah, menyisirnya rapi lalu menggelungnya.

“Percaya padaku, ibu. Aku tahu cara menjaga diri. Bila macam-macam denganku, akan kutebas mereka” mata Aisyha berubah jalang. Benar adanya, siapa kawan dan lawan yang tak sungkan pada Aisyah, putri Zulkifli itu. Ia bukan perempuan sembarangan, geraknya lincah, matanya selalu waspada, dan tidak ada yang berani bermain-main kepadanya walau hanya mengodanya sedikit saja. Sesungguhnya Aisyah memiliki wajah yang cukup manis, dan senyum yang selalu mengundang nyaman bila berada di dekatnya. Hanya saja Aisyah terlalu susah ditaklukan sebagai perempuan. Kini usianya menjelas enam belas tahun, teman-teman sepermainannya telah ramai-ramai menikah. Sedangkan Aisyah belum ada tanda-tanda yang hendak Marisik—melamar—nya.

Dua pekan setelah hari raya Haji, datang lah sebuah rombongan menuju rumah Maimunah, tampak Tengku Rajo Maringan memperkenalkan mereka sebagai saudara jauhnya. Pemuda dari keluarga itu hendak meminang Aisyah. Gayung pun bersambut, kali ini Aisyah tidak mau memupus binar bahagia dari wajah ibunya. Kini waktunya membuktikan baktinya pada orang tuanya. Dan segera lengkung janur menghias seluruh rumah, bale ditinggikan, nasi hadap-hadapan disiapkan, dan hari itu Aisyah tampak cantik sekali. Merah inai terukir di jemarinya.

“Lihatlah, Zul…anak perempuanmu itu akhirnya dilamar seorang pemuda. Biar kutanggalkan dulu sepuluh anak laki-laki di dadanya itu, waktunya kini ia menjadi seorang perempuan…” Maimunah berlinang air mata. Samar dilihatnya dari kejauhan Zulkifli tersenyum memberi restu.

Mulai hari itu Aisyah mulai menggantung parang panjang dan tombaknya. Menjadi sesungguhnya perempuan, menanak nasi, menggulai sayur, memberus pakaian dan mengharumkan badan. Walau lewat perjodohan pasangan itu tampak bahagia, Hambali—suami—Aisyah seorang lelaki yang baik.

Hingga pada suatu hari tersiar kabar Belanda semakin membenamkan taring dan cakarnya semakin dalam. Kampung Hamparan perak telah rata, berganti kebun sawit berhektar-hektar dan penduduk semakin tersudut ke pinggiran laut, pesisir utara. Beberapa daerah kembali melakukan perlawanan, dan kini siapa yang akan menjadi utusan dari kampung mereka? Darah Aisyah menggelora seketika. Tapi belum selangkah kakinya keluar dari pintu menuju medan juang, ia terbentur fatwa suami. Ia kini hanya penghuni rumah panggung, suaminya melarangnya ikut berperang.

“Kau bukan Aisyah yang dulu, biarkan mereka yang maju..” sentak suaminya.

“Tapi abang, tak ada yang selihai aku menebas parang dan menghujam tombak, izinkan aku..” bujuk Aisyah.

“Sekali tidak! Akan tetap tidak Aisyah!” perempuan itu hanya menunduk pasrah. Maimunah pun turut menghalangi Aisyah, biar lah ada atau tanpa Asiyah sekali pun tanah Deli akan tetap membara. Perjuangan ini tak akan pernah lunas, Belanda itu entah kapan akan sirna, seharusnya mereka tenggelam ditelan ketamakan mereka.

Medan semakin tunduk, takluk. Perkebunan-perkebunan semakin marak dan orang awak semakin menyedihkan. Mereka hanya bisa merambas bakau, membangun bilik-bilik di rawa mangruf. Hanya dapat memandangi pohon sawit menghisap sari tanah tanpa menyisakan sedikit pun untuk sebatang ubi kayu sekali pun.

Dan pada seraut wajah terpahat sebuah keputusasaan, ia pasrah. Merelakan dadanya diamuk bimbang antara keluarga dan tanah kelahiran. Tangannya mengelus perutnya yang tampak membesar,

“Sabar lah nak, akan tiba masanya untukmu. Kelak akan ada semangat Zulkifli, Aisyah dan sepuluh anak laki-laki yang akan kutempa di dadamu, walau kau jua akan lahir sebagai perempuan, seperti aku ibumu…”

******

 

16 Comments to "Aisyah dan Sepuluh Anak Laki-laki di Dadanya"

  1. Seroja  15 May, 2012 at 15:10

    mba [email protected] d lanjut? kata DJ wes kepanjangan mbakyu, hihihi…

  2. Seroja  15 May, 2012 at 15:09

    mba [email protected] makasin cynnn….^_^

  3. Seroja  15 May, 2012 at 15:08

    mbak [email protected] perempuan penurut, perempuan penakluk…

  4. Seroja  15 May, 2012 at 15:07

    [email protected] kepanjangan ya? hehe…benar DJ, bahkan nenek saya adalah termasuk transmigran yg didatangkn dr jawa dn sampai sekarang pun menetap d medan. terima kasih DJ sudah menyempatkan membaca..^_^

  5. Seroja  15 May, 2012 at 15:04

    ibu [email protected] terima kasih sdh sempat mampir dan membaca…salam seroja

  6. Seroja  15 May, 2012 at 15:03

    Pak [email protected] awalnya sy ragu untuk memposting cerpen ini, syukurnya maam itu sy beruntung bisa pendapat anda, terima kasih jgn bosan ya klu sy sering mintai saran dan pendapat..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.