Probo Harjanti
Dulu sekali, mungkin 30 tahunan lalu, pagar-pagar rumah di desa berupa tanaman yang diberi bambu yang dibelah dan diikatkan di pepohonan yang ada di pagar. Biasanya dibuat 5 lapis, itu terkait juga dengan dasar negara kita, Pancasila, yang kian hari kian dilupakan. Pagar semacam itu tentu amat ramah lingkungan. Saat hujan, air dibiarkan masuk ke pekarangan yang sudah dibuatkan parit memanjang (kalen), yang kadang berfungsi sebagai jugangan, tempat membuang sampah juga. Saat musim penghujan, parit itu akan menampung air. Dengan begitu, saat kemarau, air tetap tersedia di sumur, tidak kekeringan.
Ternak tak pernah kekurangan makanan, karena tanaman pagar juga berfungsi sebagai pakan ternak. Jaman dulu, orang yang tidak memiliki hewan ternak, dengan senang hati membiar pemilik hewan memangkas ranting dan daun-daunan di pagar miliknya. Sekarang, masihkah berlaku?
Saat ini, biar pun di desa, pagar semacam itu, makin jarang ditemui. Atas nama modernisasi, pagar rumah dibuat dari batu bata, batako, atau pagar besi. Alasa lain tentu keamanan dan keindahan. Sekarang tidak mudah masuk halaman rumah tetangga. Jangankan manusia, air dan binatang saja tidak bisa leluasa. Jadi harap dimaklumi, kenapa kalau kemarau kekeringan, dan kalau hujan banyak air tergenang. Bukan banjir karena luapan air. Itu karena air tak boleh mampir ke pekarangan, tak bisa kembali ke dalam tanah. Jadi, saat kemarau banyak yang tak bisa mandi karena tak ada air, saat penghujan tak bisa mandi justru karena air ada di mana-mana.
Gerakan pagarisasi (jaman kuning dulu berjaya) amat gencar, bentuknya seragam, dengan kuncup melati sebagai togor, apa ya padanannya….Tetapi rumah saya tetap pagar hidup, togornya sama kakak dibuat joglo. Jadi CJDW, seje dhewe, berbeda dengan yang lain.
Saat nengok mbahe anak-anak, saya sengaja motret pagar yang masih hijau, segar dan sejuk.
Inilah foto-foto itu:
Pagar sejuk ramah lingkungan
Pohon yang jadi pagar sekaligus pakan ternak
Pagar kombinasi, bambu dan teh-tehan
Pagar tetangga depan rumah
Pagar tempatku ngglidhig, banyak bunga di tepi jalan
Tiga generasi
Togor joglo
Togor melati, dan masa kecil Anung Hartadi atau Mastok Setyanto
May 26th, 2012 at 19:06
Bu GuCan….
Saat itu Susi sudah pandai berbahasa Indonesia dan dia pikir cukup.
Tapi dia kecewa, karena Yangyut hanya bisa bahasa Jawa saja.
Tapi Yangyut berjanji, kalau satu saat kami pulang lagi, Yangyut sudah bisa sedikit bhs Indonesia.
2 tahun kemudian, kami mudik dan Yangyut sudah bisa bercakap-cakap dengan Susi.
Olehnya Susi malu dan janji, nanti kalau mudik lagi Susi harus bisa bhs Jawa.
2 tahun kemudian, Susi bisa sedikit bhs Jawa, tapi kromo. Sayang 1 bulan sebelum kami mudik, Yangyut sudah dipanggil TUHAN dengan umur 104 tahun. Jadi saat Yangyut belajar bhs Indonesia, sudah berumur 100 tahu.
Hebat kan…. Susi sangat menyesal, tidak dapat dipraktekan , dengan Yangyut apa yang dia pelajari.
Saat di kantor pos di Surabaya, kami akan beli peranko, Susi berbahasa Jawa kromo, yang jual perangko malah bengong. Tidak tau apa yang Susi inginkan…. Hahahahahahaha……!!!
Lalu Susi dengan bhs Indoensia, saya kira bapak orang jawa, kok tidak bisa berbahasa jawa….???
Itu orang di jenggung oleh teman-temannya, yang turut mendengarkan percakapan nya dengan Susi.
Dj. hanya senyum, melihat tingkah orang Surabaya…..
Sayang, karena tidak pernah dipakai, akhirnya luntur juga bhs jawanya Susi…
Tapi pernah saat di Jogja, mencari rumah seseorang, Dj. bingung dengan kata “mencari”.
Malah Susi yang nyeletuk… Bade madosi grriyanipun bu Sri….???
Yang diajak bicara malah bengong nglihati Susi, tanpa sapatah katapun….
Salam manis dari Mainz
May 26th, 2012 at 18:47
saya justru suka dua-duanya…jambu kluthuk dan jambu sukun……jambu air juga suka……jadi ternyata suka semua PakDJ hehehe
wah…seneng ya sempat punya YangYut…..
salam buat kelg ya…..
May 22nd, 2012 at 20:13
Kenangan Yangyut sangat indah…
Dulu kalau Dj. main kenecker ( Stien ), Yangyut pasti nemani.
Yalau menang dan ada yang beli, uangnya Dj. kasikan yangyut untuk beli kinang….
Yangyut sampai umur 104 dan masih bisa lihat Susi dan Dewo.
Hanya badannya menjadi sangat kecil.
Ini photo Susi ( saat itu berambut hitam, karena saat nikah adat Jawa )
May 22nd, 2012 at 20:04
Bu GuCan….
Justru enakan yang berbiji lho….
Tapi dua-duanya Dj. kurang suka, kecuali jambu Bol.
Ada rasa aem-manis, dulu dibelakan rumah banyak pohon buah-buahan….
Salam manis dari Mainz….
May 16th, 2012 at 22:31
jambu sukun nggak segede jambu bangkok mbak…..enaknya sama dengan jambu kluthuk, cuma tanpa biji……jadi mudah dinkmati, karena tak ada gangguan biji….
suk mben lungguh lincak sinambi menikmati gebleg ya…….
May 16th, 2012 at 22:28
seneng banget ya PakDj…sempat punya yang-yut
saya hanya sampai simbah, itu pun saat saya setingkat SMP sudah meninggal….
May 16th, 2012 at 22:27
Hennie…asyik kan…..dulu di perempatan depan rumah ertutup pohon bambu, karena keempat rumah semua menanam bambu, jadi bambunya mulung ke jalan…..teduh sih…tapi gatel saat musim lugut beterbangan…..
May 16th, 2012 at 01:53
MBAK PROBO : Mbak Lani, yang dipegang mbahe cah-cah adalah jambu sukun, seperti jambu biji tapi tanpa biji, tengahnya ada yang bolong seperti rongga di buah pear, tapi kosong, bentuknya bergelombang, tidak bunder kayak jambu biji
+++++++++++++
jambu sukun=jambu bangkok? mmg gede, tp rasane kok ora seenak jambu kluthuk biasa tp yg tdk berbiji, bentuknya mulus dan kecil tp lbh enak rasanya
++++++++++++++++++++++++++
kok malah nggeret dhingklik barang……kalau dicari anoew ddhingklike piye? ganti lincak apa amben? eh berapa tahun nggak lihat amben sama lincak mbak? kok masih ingat? juga pincukan pecel….
diampet sik mbak….
++++++++++++++++++++
nek dicari kang Anuuuuu ya dia boleh nyilih……krn dia ndak setinggi genter koyok lurah kita disini kkkkkkkkk………
wah suweeeeeeeeeee banget ora pernah liat amben, lincak…….yo tak ampet sek mbak, mengko nek ketemu kita jalan2 bareng golek dan beli, disatroni tempat makan yg berbau masa/zaman baheula……….asal jok kalap krn weteng udah ndak bs diajak kompromi……..
selamat ngorok mbak