Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Pagar

Monday, 14 May 2012

Viewed 2364 times, 2 times today | 48 Comments |

Probo Harjanti

 

Dulu sekali, mungkin 30 tahunan lalu, pagar-pagar rumah di desa berupa tanaman yang diberi bambu yang dibelah dan diikatkan di pepohonan yang ada di pagar. Biasanya dibuat 5 lapis, itu terkait juga dengan dasar negara kita, Pancasila, yang kian hari kian dilupakan. Pagar semacam itu tentu amat ramah lingkungan. Saat hujan, air dibiarkan masuk ke pekarangan yang sudah dibuatkan parit memanjang (kalen), yang kadang berfungsi sebagai  jugangan, tempat membuang sampah juga.  Saat  musim penghujan, parit itu akan menampung air. Dengan begitu, saat kemarau, air tetap tersedia di sumur, tidak kekeringan.

Ternak tak pernah kekurangan makanan, karena tanaman pagar juga berfungsi sebagai pakan ternak. Jaman dulu, orang yang tidak memiliki hewan ternak, dengan senang hati membiar pemilik hewan  memangkas ranting dan daun-daunan di pagar miliknya. Sekarang, masihkah berlaku?

Saat ini, biar pun di desa, pagar semacam itu, makin jarang ditemui. Atas nama modernisasi, pagar rumah dibuat dari batu bata, batako, atau pagar besi.  Alasa lain tentu keamanan dan keindahan. Sekarang tidak mudah masuk halaman rumah tetangga. Jangankan manusia, air dan binatang saja tidak bisa leluasa. Jadi  harap dimaklumi, kenapa kalau kemarau kekeringan, dan kalau hujan banyak air tergenang. Bukan banjir karena luapan air. Itu karena air tak boleh mampir ke pekarangan, tak bisa kembali ke dalam tanah. Jadi, saat kemarau  banyak yang tak bisa mandi karena tak ada air, saat penghujan tak bisa mandi justru karena air  ada di mana-mana.

Gerakan pagarisasi (jaman kuning dulu berjaya) amat gencar, bentuknya  seragam, dengan kuncup melati sebagai togor, apa ya padanannya….Tetapi  rumah saya tetap pagar hidup, togornya sama kakak dibuat joglo. Jadi CJDW, seje dhewe, berbeda dengan yang lain.

Saat nengok mbahe anak-anak, saya sengaja motret pagar yang masih hijau, segar dan sejuk.

Inilah foto-foto itu:

Pagar sejuk ramah lingkungan

 

Pohon yang jadi pagar sekaligus pakan ternak

 

Pagar kombinasi, bambu dan teh-tehan

 

Pagar tetangga depan rumah

 

Pagar tempatku ngglidhig, banyak bunga di tepi jalan

 

Tiga generasi

 

Togor joglo

 

Togor melati, dan masa kecil Anung Hartadi atau Mastok Setyanto

 

Share This Post

Posted by Monday, 14 May 2012 on 07:35.

Categories: Kehidupan. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

48 Responses to “Pagar”

Pages: « 5 4 3 [2] 1 »

  1. 20
    probo Says:

    Dimas JC, mbak Lani kan bingung mau nanya apa……
    wong lagi nggak konsentarsi yo Mbak ?
    konsentrasi untk hal lain hehehe

  2. 19
    probo Says:

    Pam…..malinge lupa tujuan nyuri, karena kesayikan ngadem…..

  3. 18
    probo Says:

    Mbak Lani , iya…itu ssimbok di usia 86
    pagar teh-tehan memang harus selalu dipangkas biar rapi
    nek neng desa sisan dinggo mepe bantal guling

  4. 17
    J C Says:

    Lani, kowe nanya apa ngenyek? Ya jelas mbakyu Probo yang paling kanan. Mosok paling kiri? Mosok yang tengah? Wis jiaaaannn…

  5. 16
    probo Says:

    Selamat sore Mbak Nunuk….yang dirasani mesam-mesem diingat sama budhenya….

    dev…makasih sudah mampir, jangan ketipu lo…sekarang tetep saja panas udaranya, meski kalau keluar rumah dan kena angin jadi adhem juga…
    rumah ortu saya dekat kali progo…..kira-kira 200-300 meter ke kiri…

  6. 15
    P@sP4mPr3s Says:

    Lho… commentnya blom di submit hahahaha…. kacau….

    Andaikan di jakarta, semua pagar seperti ini…. haiyaaa…. maling pada seneng kalik ya

  7. 14
    probo Says:

    Dimas JC, la iya toh…seperti teh, wong memang mrip…..kayaknya kambing juga mau ….

    anoew kok larinya ke kumis……kumis kucing ya maksudnya?

    CS, pohon jaranan kayak apa sih? di tempat saya apa ya namanya

    ya bagus Dimas HW, tempat saya, jaman si kunging berjaya ada gerakan pagariganti pagarsasi,
    warga diminta ganti pagar, dengan batako atau bata merah, akibatnya banayk pekarangan yang tidak mau kemasukan aliran air hujan
    berhubung ortu nggak ada uang, jadinya pagar tetap pohon klirisede (entah yang bener apa namanya), juga mlandhingan,
    kadang orang datang untuk meminta daun-daunannya untuk pakan ternak mereka

  8. 13
    probo Says:

    mbak. DA….njur pengin ndang mulih ya…..

  9. 12
    Lani Says:

    MBAK PROBO : foto dgn judul 3 generasi……itu mbak to yg disebelah kanan??????

    aku lbh suka pagar tanaman…….krn asri………cm ya hrs dibabat nek ora njur menjalar liaaaaaaaar

  10. 11
    probo Says:

    Nia…iya, itu ragil saya….
    item minimalis hidungnya, dia suka nari

    berarti tetangganya harus bayar parkir kalau seperti itu

Pages: « 5 4 3 [2] 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)