Wawancara yang Aneh

Handoko Widagdo – Solo

 

Bagaimana jika anda tidak bisa berbahasa Inggris padahal harus menghadapi wawancara Bahasa Inggris? Belajar semalaman? Tentu saja tidak bisa. Sebab bahasa adalah kebiasaan. Artinya, anda akan mahir menggunakan sebuah bahasa apabila anda secara aktif memakainya. Jadi, tidak mungkin bisa lolos kalau demikian? Tentu saja masih ada celah. Celah tersebut adalah kejujuran. Berikut adalah pengalaman saya saat pertama kali melamar kerja.

Setelah bangkrut sebagai petani, saya mencoba melamar ke beberapa lowongan. Salah satu lowongan itu tidak menyebutkan syarat-syarat lain, kecuali mahir bertani. Maka segera saya saya layangkan surat lamaran. Sebab saya yakin bahwa pengalaman saya bertani cocok sekali dengan yang mereka harapkan.

Saya mendapat panggilan untuk tes tahap kedua dua minggu setelah tes tertulis. Kali ini hanya ada enam orang yang dipanggil. Pertama-tama kami dites ketrampilan komputer. Kami diminta untuk menghidupkan komputer, kemudian melakukan tes kecepatan mengetik dengan game kata yang jatuh. Karena saya belum pernah memakai komputer, maka saya minta diajari bagaimana caranya menghidupkan komputer. Petugas yang melakukan tes tertawa atas permintaan saya. Namun dia meluluskan dan mengajari saya bagaimana caranya menghidupkan komputer. Saya mendapat nilai 98 untuk tes kecepatan mengetik. Tentu saja saya bisa cepat dalam mengetik, bukankah mengetik adalah sumber hidup saya saat saya kuliah? Saya lulus tes komputer.

Tes berikutnya adalah tes Bahasa Inggris. Saya menghadapi dua orang perempuan Indonesia dan satu orang bule laki-laki. Si perempuan mengatakan bahwa saya akan dites Bahasa Inggris. Secara spontan saya bilang: ”Mbak, saya tidak bisa Bahasa Inggris. Saya ini sekolah di desa yang guru Bahasa Inggrisnya tidak bisa berbahasa Inggris. Kalau mau dites pertanian saya tahu. Saya besar di desa, saya membantu ayah saya bertani, saya sekolah pertanian dan saya pernah bertani.”

Jawaban saya yang spontan tersebut membuat pria bule kaget dan minta terjemahan kepada teman perempuannya tentang apa yang saya katakan. Teman perempuannya menerjemahkan penjelasan saya. Yang terjadi kemudian sungguh aneh. Sebab si perempuan justru menjadi penerjemah percakapan antara saya dengan si bule. Tes Bahasa Inggris tidak jadi dilaksanakan, malah diskusi tentang pertanian yang terjadi. Diskusi berlangsung hampir dua jam. Padahal peserta yang dites sebelumnya hanya 20-30 menit saja. Setelah selesai diskusi, si bule menjabat tangan saya dan mempersilahkan saya untuk pulang. Begitu saja? Ya begitu saja. Saya takut untuk bertanya apakah saya diterima atau tidak.

Dua minggu kemudian saya mendapat surat dari organisasi yang membuka lowongan tersebut. Saya diterima sebagai staf. Posisi saya adalah Research Assistant. Mentereng untuk karier pertama seorang pemula.

Jadi, jika anda punya kelemahan, akuilah. Kejujuran sering menjadi cara yang jitu untuk menghadapi kekurangan.

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

69 Comments to "Wawancara yang Aneh"

  1. Afif  24 May, 2017 at 05:13

    Inspiring mas Handoko. Saya yakin cerita kebangkrutan bertani juga tak kalah inspiringnya.

  2. Handoko Widagdo  24 May, 2012 at 09:16

    Cak Warno dan Mbak Dyah, orang Jawa bilang Jujur agawe santoso. Maksud saya, bapaknya bernama Jujur dan anaknya bernama Santoso.

  3. Dyah  24 May, 2012 at 03:55

    Dan jujur membawa ketenangan, meringankan langkah dan Insya Allah berkah

  4. Cak Warno  23 May, 2012 at 09:50

    Pengalaman menarik Mas Han, aku yakin kalau tes ngetiknya Mas Han pasti lulus karena jaman itu meski sekolahnya Mas Han belum ada komputer, Mas sudah lulus kursus Bon A bon B, hehehe

  5. Handoko Widagdo  23 May, 2012 at 07:46

    Mbak Dyah, bagi saya jujur is mujur dan membawa makmur.

  6. Dyah  23 May, 2012 at 07:44

    Luar biasa … Nampaknya sekarang hal tsb menjadi hal yg sangat istimewa. Bahkan. Sekarang banyak kita dengar “jujur ajur”…. Mau dibawa kemana negeri tercinta ini

  7. Handoko Widagdo  18 May, 2012 at 09:28

    Imeii, bahasa itu memang harus dipakai supaya bisa lancar. Termasuk bahasa tubuh untuk berkomunikasi dengan pasangan kita.

  8. Handoko Widagdo  18 May, 2012 at 09:27

    Lani, hidup ini memang lucu kok.

  9. Imeii  17 May, 2012 at 07:36

    bung Hand, selain kejujuranmu, aku rasa kemahiranmu soal pertanian menjadi point penting untuk diterima..

    ngomongin soal bhs Inggris, walaupun sudah belasan tahun tinggal di Amrik, kadang masih kesulitan komunikasi, kadang perlu berbahasa tarzan ataupun main spelling saja, ama suamiku saja kadang masih salah mengerti

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.