Agama Itu Pilihan

Anwari Doel Arnowo

 

Saya tidak menghendaki para pembaca akan terlibat debat seru yang bisa saja keluar dari topik, yakni masalah pilihan. Ketika saya masih memegang PR (Permanent Resident Card) di Canada, saya tidak menemukan kolom agama yang harus diisi. Dulu di jaman saya masih muda sekali, ketika saya berstatus penduduk kota Tokyo di Jepang, juga tidak ada masalah agama disebut-sebut di dalam perolehan Kartu Tanda Kenal Diri yang manapun, Kependudukan, Kesehatan atau kartu-kartu yang lain manapun dan apapun juga.

Selama beberapa tahun saya praktek kerja di sebuah Galangan Kapal Tsurumi ZosenJo (Nippon Koukan Kabushiki Kaisha). Pada waktu jam istirahat siang ada salah satu karyawan laki-laki tiba-tiba saja berdiri dan bersuara dengan nada tinggi. Sehari-harinya saya kenal dia sebagai seorang yang correct dan amat sopan. Suranya yang menggelegar sama sekali di luar dugaan saya, bahwa suara seperti itu akan bisa keluar dari mulutnya. Apa yang sesungguhnya dibicarakannya, karena toh semua rekannya berbondong-bondong pergi ke luar ruangan dan pergi makan siang di shokudou atau ke benjou (kamar kecil) atau memainkan alat musiknya selama istirahat.

Apa yang dibicarakan oleh teman saya itu, yang saya mulai dengar suaranya menjadi parau? Itu adalah masalah perpolitikan di negeri Jepang. Negeri ini dipimpin oleh seorang Kaisar, tetapi mempunyai pemerintahan yang dipimpin oleh seorang Perdana Menteri dan didampingi oleh sebuah Parlemen yang kuat, demokrasinya okay juga. Politik? Silakan berteriak. Tetapi bagaimana agama? Jangan sekali-kali, karena menurut yang saya dengar waktu itu, agama itu adalah murni urusan pribadi, jadi tidak boleh dilakukan ritualnya di dalam lingkungan Perusahaan, Sekolah atau di depan Umum di manapun. Di televisi sekalipun, katanya, tidak boleh. Saya lihat demonstrasi dengan nuansa politik bisa puluhan ribu manusia berjalan dan berbaris bergandengan lengan bisa delapan orang per baris dan panjangnya mengular-ular. Agama? Itu ritualnya bisa dan boleh dilakukan di tempat-tempat sembahyang yang ada di mana-mana, saya lihat mereka, biarpun berdiri berdampingan, mereka melakukan gerakan ritualnya bisa berlain-lainan. Pakaian dan bajunya, ya sesuka hatinya.

Dalam hal ini saya hanya memberi latar penggambaran bagaimana saya telah merasa nyaman hidup di antara mereka waktu itu. Saya tidak terlalu suka dalam membandingkan dengan apa yang sedang terjadi di Jepang dengan apa yang sering diberitakan oleh media kita, dilakukan oleh para elite kita yang suka gontok-gontokan karena perbedaan pandangan tentang segala macam hal, yang tidak penting atau perlu untuk dipertengkarkan. Bila yang dilakukan orang Jepang itu baik untuk negeri mereka, dan dianggap tidak sesuai dilakukan oleh NKRI yang saya adalah salah seorang penduduknya, saya berketetapan menuliskan segala isi hati saya agar dapat dipakai sebagai masukan. Bilamana bisa diterima yang baiknya saya akan bersyukur. Ditolak karena dianggap tidak sesuai untuk Republik Indonesia, saya tidak akan melakukan perlawanan yang sifatnya akan bisa saja nantinya dinilai sebagai sesuatu yang negatif. Saya serahkan kepada para yang lebih muda (generasi ini) untuk mengatur kehidupan, agar saya, dan  juga termasuk pula banyak (mayoritas) orang Indonesia lain yang diam saja, karena tidak pernah mau berani mengutarakannya.

Soal agama sensitive, katanya ! Saya bilang tidak perlu ribut, kan?

Agama itu sebenarnya hanyalah alat. Iya, hanya alat.

Alat apa? Alat untuk menyembah Tuhannya.

Tuhan Yang Mana? Ya Tuhannya agama masing-masing menurut versi masing-masing.

Saya sendiri mempercayai bahwa Tuhan itu hanya satu saja, karena alam dan isinya itu semuanya hanya satu. Hanya ada satu Anwari yang berwujud sebagai saya sendiri, yang tidak sama, berbeda sekali dengan saudara kandungnya sendiri yang sepuluh orang. Kami besebelas TIDAK SAMA. Dari sejak muda saya amati hal ini. Makanan, kegemaran lain-lain juga banyak yang berlain-lainan.

Tetapi kami bersebelas adalah saudara sekandung. TITIK HABIS. Tidak saya cari perbedaannya yang akan mengganggu hubungan batin sesamanya. Saya mempercayai kalau kami itu diciptakan oleh satu Tuhan. Orang lain boleh saja tidak setuju, tetapi saya berharap tidak menjadi marah karena pendapat saya ini. Pendapat saya adalah urusan saya. Anda tdak perlu sama berpendapat seperti saya, dengan berpendapat yang sama. BOLEH LAIN bahkan BOLEH SEBALIKNYA, dan saya akan masih bisa menjadi teman anda. Berteman dengan saya, biasanya nyaman, akan bisa membuat anda tertawa lebih banyak dalam menikmati hidup kita.

Di link berikut, setelah saya membacanya, harapan saya meninggi menjadi amat berpengharapan lebih baik bagi bangsa dan Tanah Air karena perbedaan-perbedaan masalah agama yang mencuat. Apa pasal? Kami, rakyat Indonesia, diperkenankan untuk BOLEH TIDAK MENGISI apapun di kolom agama yang di sediakan di dalam E-KTP yang akan datang. Silakan buka: http://www.thejakartapost.com/news/2012/05/02/faith-optional-e-id-card.html. Semoga terjadi perekatan persatuan yang lebih baik untuk selanjutnya.

Satu lagi pokok masalah Islam Kristen di Bogor juga mempunyai harapan lebih baik bila kita membaca link ini: http://www.thejakartapost.com/news/2012/05/03/mosque-solution-gki-saga.html . Membangun sebuah gereja harus juga berdekatan dengan masjid adalah sikap sejuk hati dari Walikota Bogor yang selama ini bersikap sebaliknya dengan sikapnya sekarang, apalagi dituangkannya secara tertulis. Gereja berdampingan dengan Masjid  sesungguhnya sudah ada di kota Malang, Jawa Timur sejak saya masih anak kecil, karena saya lahir di kota itu. Juga ada di Taman Mini di Jakarta Selatan. Jadi sesungguhnya bukanlah sesuatu yang luar biasa.

Sayangnya harapan lebih baik itu rusak oleh karena adanya pemberitaan keesokan harinya, yang memuat berita yang berlawanan:

http://www.thejakartapost.com/news/2012/05/04/bogor-sticks-church-closure.html

Saya berkeyakinan bahwa selama ini, ada yang mengoperasikan penyebaran ideologi-ideologi negatif, berupa ajakan agar terjadi perpecahan bangsa kita. Dengan kondisi,  yang sifatnya negatif, antara lain mengadu domba ajaran agama dan ideologi, rakyat kita tidak akan bisa berkerja dengan nyaman dan bangkit dengan normal

Kita sibuk memadamkan api perbedaan, tetapi tidak dapat menangkap siapa yang menyulut apinya.

Kita menjadi korban dari konspirasi yang menghasilkan keterpurukan yang terjadi selama ini, diguncang issue-issue yang membuat jalannya pemerintahan dan moral pejabat menjadi menurun setiap saat ke arah lebih rendah. Ingatlah uang dan keuntungan materi yang besar itu biasanya menimbulkan biaya yang akan ditanggung oleh rakyat yang kecil di tingkat bawah.

Marilah kita bersatu teguh sebagai sesama manusia dan juga sesama makhluk yang hidup di dalam Planet Bumi ini. Pilihlah agama yang terbaik bagi diri anda sendiri dan tidak menggaggu orang lain yang kepercayaannya berbeda dengan anda. Tindakan yang berlawanan seperti biasanya telah terjadi, akan tidak menguntungkan bagi siapa-siapapun di pihak sendiri maupun di pihak yuang lain.

Mari kita pertahankan kesatuan kita ini, manakala ada gangguan berupa apapun dari luar bangsa kita.

 

Anwari Doel Arnowo

3 Mei, 2012

 

15 Comments to "Agama Itu Pilihan"

  1. Chadra Sasadara  17 May, 2012 at 14:45

    berbeda agama, mengapa mesti diributkan? bukankah Tuhan bisa membuat semua manusia beragama satu, beretnis satu, bahkan berasal dari satu ibu . tapi mengnapa Tuhan memilih kita berbeda seprti pelangi? Mas Doel sangat tepat, PELANGI ITU INDAH. tks Mas Doel

  2. Swan Liong Be  16 May, 2012 at 16:40

    Sebetulnya agama an sich sih baik; cuma orang² atau oknum² yang menyalahgunakannya.,bertindak anarchis dengan topeng agama. Seperti senjata api aja, kalo disalahgunakan maka bisa membawa malapetaka.

  3. Dj.  15 May, 2012 at 19:28

    Cak Doel….
    Terimakasih….!!!
    Satu pemikiran yang sangat luas dan benar.
    Seandainya, para pemimpin kita juga berpikir demikian, maka Indonesia akan lebih teteram.
    Kalau baca atau lihat video tentang perselisihan yang di akibatkan oleh agama di Indonesia,
    sebenarnya sangat memalukan.
    Karena agama seharusnya membawa damai dan kketenteraman dan bukan sebaliknya.
    Tapi itu satu kenyataan, dengan agama malah terjadi peprselisihan….

    http://vimeo.com/40989443

    http://vimeo.com/40669418

  4. Handoko Widagdo  15 May, 2012 at 18:39

    Agama tanpa kasih memang berbahaya.

  5. Linda Cheang  15 May, 2012 at 14:54

    setuju dengan Cak Doel.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.