Sendang Pengantin

Awan Tenggara

 

Masih saja gadis itu berdiri di sana, pada tengah sungai di sebuah lembah yang airnya mengalir bening hanya selutut. Ia dari pagi menunggu seseorang dengan hati yang riang hingga hari hampir senja seperti ini. Lelah sebab yang ia tunggu tak kunjung datang, maka iapun akhirnya duduk di sebuah batu besar yang ada di sungai itu.

Tangannya yang mungil tampak melayarkan sesuatu yang putih ke tengah sungai—sekuntum bunga teh yang sedari pagi ia genggam dan ciumi aromanya. Kakinya merencah air, mendorong bunga itu agar lekas hilang sebab aliran sungai yang menurutnya terlalu lambat untuk membawa bunga itu lenyap. Seperti waktu yang saat ini ia hitung dari mulai detik-detiknya.

Tak ada yang datang, demikianlah hari berlalu tak seperti yang ia bayangkan. Ia menengadahkan kepala ke langit seraya menyunggingkan sebuah senyuman kecil, meski saat itu perasaannya hancur berkeping-keping. Tak ada airmata yang luruh, ia memilih tegar seperti apa yang telah ia tekadkan jika waktu akan menjadi seperti saat ini.

Langit menjingga, batu-batu membasah sebab kabut yang meriap dan melindap sesuatu yang sebelumnya tampak. Gadis itu pulang menyusuri jalan-jalan batu, menaiki lembah, membelah perkebunan teh yang terhampar dengan ekspresi muka yang tak bisa dibaca. Kunang-kunang tampak pendar berterbangan, menemani setiap langkah gadis itu menuju gubuknya. Jika tahu, mungkin ia akan pulang dengan berlari, karena sebenarnya di gubuknya, orang yang ia tunggu itu telah ada di sana.

                                                          **

Di sebuah lembah, 3 tahun silam.

Seorang pendaki gunung terlihat begitu lemas tergeletak di tepi sungai, barangkali jika ketika itu Marni tak menemukannya saat dia mencari kayu bakar, pendaki gunung itu pasti akan mati karena kehabisan banyak darah dan bekal makanan.

Pendaki gunung itu bernama Kapi, ia adalah seorang lelaki yang berasal dari Jakarta, ia mendaki berdua bersama seorang temannya. Sebab kabut yang begitu tebal dan menghalangi pandangannya, mereka berdua terjatuh ke jurang. Beruntung sekali Kapi hanya mengalami patah tulang dan tidak mati seperti temannya yang kepalanya membentur batu dengan keras dan oleh penduduk desa akhirnya dikuburkan di dekat sebuah sendang di bawah jurang dekat tempat ia terjatuh..

Dua bulan Marni merawat Kapi, gadis itu dulu memapahnya dari sungai bawah hingga menuju gubugnya yang berada di sebuah desa di tengah-tengah perkebunan teh. Kecantikan dan kebaikan hati Marni tak ayal membuat Kapi jatuh hati, cinta tumbuh dalam dua bulan yang terasa singkat itu. Setelah sembuh total dan tiba waktu untuk berpamitan dengan Marni, Kapi berjanji akan melamar gadis itu kendati keadaan hidup Marni sangat sederhana dan hanya tinggal bersama ibunya sebagai seorang pemetik teh di desa terpencil yang terletak di tengah gunung itu. Jantung Marni berdebar keras saat mendengar kata lamaran itu. Jelas saja, Kapi adalah lelaki yang gagah dan tampan. Selain itu, sepertinya dia juga sangat kaya raya. Dari kota Jakarta pula! Aduhai, Marni bakal tak bisa tidur jika lelaki yang dua bulan dirawatnya itu pergi dengan meninggalkan sebuah janji untuk melamarnya seperti itu.

Di sebuah sungai di bawah lembah itulah Marni melepas kepergian Kapi, sungai tempat di mana pertama kali mereka berdua dulu bertemu.

“Tiga tahun tepat setelah saat ini, di tanggal yang sama dengan bulan ini, temui aku di sungai ini, karena tempat ini adalah tempat yang tak bisa kulupakan, aku pasti akan datang, karena sahabatku juga dimakamkan di sini. Aku tak tahu bagaimana nanti memberitahu keluarganya, paling tidak mereka akan mengerti, karena anaknya seorang pecinta alam, pasti sangat suka jika beristirahat di tempat ini untuk selamanya.”

“Baiklah, aku akan menunggumu datang membawa keajaiban dalam hidupku itu.”

Marni tersenyum, sejak itulah mereka tidak lagi pernah bertemu. Tiga tahun, pasti waktu yang sungguh sangat lama bagi mereka yang sedang merasakan jatuh cinta. Sebelum berpisah, Kapi menyelipkan sekuntum bunga di telinga Marni.

“Apa ini?”

“Bunga teh. Aku memetiknya dari samping rumahmu. Kau tampak begitu cantik dengan bunga di telingamu ini.”

Kapi mencium kening Marni sebelum akhirnya mereka berdua benar-benar berpisah. Dan bunga teh, bagi Marni, barangkali itulah sesuatu yang tepat untuk mengingat sosok Kapi, bukan kabut, bukan kayu bakar, apalagi makam sahabatnya. Bukan.

                                                    **

Di depan gubug itu, sebuah mobil jip terparkir. Terdengar kelakar dari dalam gubug kayu itu, betapa kagetnya Marni melihat bahwa ternyata sosok yang tengah bercanda dengan ibunya adalah Kapi, lelaki yang tiga tahun lalu berjanji padanya akan datang ke desa ini lagi untuk melamarnya. Marni tampak begitu bahagia, ia tak menyangka bahwa apa yang dikatakan Kapi ketika itu benar-benar serius. Jantungnya berdegup kencang saat matanya bertemu dengan mata Kapi, namun tidak setelah ia melihat seorang gadis cantik yang keluar dari arah kamar mandi. Mukanya langsung menjadi cemas, seperti ada sesuatu yang tidak ia harapkan akan terjadi.

“Hei, Marni. Kenapa hanya bengong di depan pintu seperti itu? Apa kau sudah lupa dengan Nak Kapi ini? pemuda yang tiga tahun lalu kamu temukan lemas di pinggir sungai?” kata ibunya.

“Ah, jadi ini Marni?” Gadis yang baru keluar dari kamar mandi itu langsung menghampiri dan memeluk Marni. “ Terimakasih banyak Mbak Marni, saya berhutang budi pada anda.”

Marni juga menyambut gadis itu dengan hangat, di depannya, Kapi tersenyum manis melihat pemandangan itu, begitu pula dengan Ibu Marni.

                                                  **

Gadis itu bernama Adelia, ia sengaja dibawa Kapi ke desa ini untuk ziarah ke makam mantan kekasihnya—teman Kapi yang tiga tahun lalu meninggal karena jatuh ke jurang itu. Begitu santun dan rupawan, begitulah yang terlihat dari sosok Adelia. Marni bahkan merasa minder saat berhadapan dengan gadis itu, ia merasa sangat cemas dengan keadaan ini. Ia berpikir jangan-jangan saat ini Adelia telah berpacaran dengan Kapi.

Di ruang tempat mereka semua berkumpul, akhirnya Kapi angkat bicara.

“Dulu Adelia adalah kekasih Anton, sahabat saya yang meninggal ketika mendaki gunung bersama saya dulu. Namun kini dia sudah resmi menjadi milik saya.” Kapi memeluk Adelia mesra, “Seminggu lalu kami menikah, karena itulah kami datang ke sini untuk memohon restu Anton.”

Ibu Marni sangat bahagia mendengar kabar itu, karena ia benar-benar tak tahu tentang janji Kapi kepada Marni tiga tahun lalu. Namun tidak dengan Marni sendiri, hatinya sangat hancur mendengar apa yang dikatakan Kapi, dadanya menjadi sesak. Lantaran tak kuat menahan sakit hatinya, Marni begitu saja keluar dari gubug itu, ia sendirian menangis di bawah langit malam. Beberapa saat kemudian, Kapi datang seorang diri menghampirinya.

“Kenapa kau menangis, Marni?”

“Tega sekali kau berkata seperti itu! Bukankah tiga tahun lalu kau telah berjanji akan melamarku?! Kau tahu, seharian ini aku menunggumu di tempat yang dulu pernah kau janjikan akan menemuiku pada hari ini di sana, tapi lihat, kau malah datang ke rumahku membawa istrimu! Apa maksud semua ini, hah?!!”

“Ah, aku lupa pernah berjanji seperti itu, mungkin saja tiga tahun yang lalu pikiranku masih kacau, aku bahkan belum sepenuhnya sadar tentang siapa aku karena kepalaku ketika jatuh dulu sempat terbentur pohon dengan keras.”

“Mustahil! Itu hanya sebulan, kau sadar setelah itu! Lalu tinggal sebulan lebih lama lagi di desa ini untuk menyembuhkan traumamu.”

Kapi berpaling, ia tersenyum sinis, jelas ia tidak lupa tentang janjinya kepada Marni, namun pertemuannya dengan Adelia di kota membuat ia berubah pikiran. Marni, gadis desa yang miskin dan Adelia yang cantik dan kaya raya. Jelas saja ia memilih yang ke dua.

“Aku benar-benar lupa, kau harus paham itu. Lagian saat ini aku sudah menikahi Adelia. Jadi tolong jangan sekali-kali kau ungkit masalah itu lagi. Sekarang ayo kita pulang?”

“Tidak, kau saja duluan. Aku ingin menyendiri malam ini.”

Kapi akhirnya kembali ke gubuk sendirian. Ia mengintip dari balik pintu, di sana ia melihat kehangatan masih terasa dari pembicaraan dua orang wanita—Adelia dan Ibunya Marni.

“Nak Anton di makamkan di sekitar sendang dekat tempat ia terjatuh. Tak ada cara lain. mustahil membawanya ke kota, karena ketika itu Nak Kapi hilang ingatan selama sebulan. Mereka berdua tidak membawa identitas diri, jadi kami tak tahu harus diserahkan ke siapa mayat Nak Anton.” Cerita Ibu Marni kepada Adelia..

“Saya rasa itu pilihan yang bijaksana.” Kata Kapi sambil menghela napas saat ia memasuki ruangan itu.

“Lhoh, Nak Kapi sudah datang. Gimana nostalgia dengan kebun teh di malam hari? kok cepat sekali.”

“Ah, di luar dingin.”

“Lha ndok Marni ke mana tadi?”

“Katanya mau nyari kayu bakar, Bu. Nggak mau ditemani.”

“Anak itu aneh-aneh saja. Ia jadi seperti itu sejak tiga tahun lalu. Entah apa yang terjadi ibu juga tak tahu.”

Jauh dari gubuk itu, pada jalan menuju sendang tempat Anton dimakamkan, seseorang memindah papan penunjuk jalan dengan tawa yang puas, ia seperti akan menyaksikan sebuah tontonan yang menarik esok hari.

Di tempat itu juga, bersamaan dengan lengking tawa orang tersebut, burung Serak berkoak-koak di atas langit yang gulita—burung yang oleh penduduk setempat dipercaya selalu membawa kabar kematian.

                                                               **

“Jadi, kalian bermaksud ke sana berdua? Kalau begitu hati-hatilah, karena jalan menuju sendang itu bercabang. Cabang satunya adalah jalan menuju ke Jurang Kabut. Kalau musim badai seperti ini jalan itu berbahaya. Pandangan sering kabur karena kabut. Oleh sebab itu, orang yang tidak mengetahui medannya bisa terjatuh ke jurang yang sangat dalam. Tapi kalian tenang saja, karena di tempat itu sekarang sudah diberi papan penunjuk jalan.” Jelas Ibu Marni.

“Terimakasih, Bu. Kami berangkat dulu. Titip mobil saya dulu, ya..”

“Iya, hati-hati di jalan.”

Dibalik pintu, Marni menatap mereka berdua dengan iri. Ia tak mau keluar melepas mereka lantaran sakit hati yang masih dirasakannya.

Menjelang senja, penduduk desa dibuat gempar karena dua sejoli yang ziarah ke makam sahabatnya itu tak jua kunjung kembali. Hingga seminggu pencarian, akhirnya mereka berdua dinyatakan hilang. Penduduk setempat mempercayai bahwa sepasang pengantin baru tersebut diserap oleh kekuatan ghaib dari sendang yang terletak dekat dengan makam orang yang juga memiliki ikatan batin dengan mereka itu. Kemudian mulai hari itu, oleh penduduk setempat, sendang tersebut diberi nama Sendang Pengantin. Penduduk setempat memberi peringatan kepada semua orang bahwa tidak boleh ada pengantin baru yang mengunjunginya. Sebab katanya, jika peraturan itu dilanggar, maka pengantin baru tersebut bisa meninggal atau hilang diserap kekuatan sendang tersebut.

Marni menjadi satu-satunya orang di desa itu yang tak mau ambil pusing. Hatinya lega karena tak ada lagi orang yang ditunggunya. Ia kini menjalani hari-harinya dengan bahagia. Barangkali tak seperti itu seandainya malam itu dia tak memindah papan penunjuk jalan yang menunjukkan arah sendang. Ya, dialah satu-satunya orang yang tahu kemana sebenarnya sepasang pengantin baru itu hilang.

Dan pagi ini ia masih saja puas memandangi tempat itu. Tempat yang hanya ia sendiri yang tahu, tempat yang dasarnya tak terlihat, tempat yang dihuni oleh binatang-binatang buas—Jurang Kabut. (*)

 

Bekasi,  Februari 2011

 

8 Comments to "Sendang Pengantin"

  1. Alvina VB  16 May, 2012 at 20:26

    Cinta itu memang buta….kl melek gak ada kejadian kaya cerita ini, he..he…….

  2. Lani  16 May, 2012 at 04:44

    AKI BUTO : nah aku jd gumun…..sampai aki bs terkejut-kejut……ato mengejut-ngejut……baca cerpen Awan

  3. Kornelya  16 May, 2012 at 04:14

    Awan Tenggara alur cerita yg tak bisa ditebak. Tegahnya -tegahnya si Kapi. Menepati janji dengan membawa luka. Salam.

  4. Handoko Widagdo  15 May, 2012 at 18:51

    Gaya menulis yang sangat menarik

  5. Dewi Aichi  15 May, 2012 at 16:58

    Aduh Marni…..kok dendam sih….?

    Ciamikkkkkk…….cerpennya mantep

  6. [email protected]  15 May, 2012 at 16:22

    mantep nih…… lanjut…..

  7. Linda Cheang  15 May, 2012 at 15:04

    wuih, kepahitan jadi balas dendam… serem amat!

  8. J C  15 May, 2012 at 08:16

    Keren, keren…cerpen Awan Tenggara memang keren dan selalu punya sedikit kejutan di sana sini…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.