Menulis Sebagai Kartasis

Ana Mustamin

 

Sumber asal:  http://www.investor.co.id/profil/menulis-sebagai-katarsis/34249 oleh Mardiana Makmun

Ibarat pisau, keahlian menulis harus terus diasah agar tidak tumpul. Ana pun mengasah hobinya melalui berbagai cerpen, puisi, dan tulisan di blog yang ditulis di sela kesibukannya mengurusi Sekolah Tinggi Ekonomi Dharma Bumiputera.

“Menulis itu ibarat pisau, harus terus diasah agar tidak tumpul,” kata Ana Mustamin, CEO Dharma Bumiputera Foundation sekaligus direktur Sekolah Tinggi Ekonomi Dharma Bumiputera (STDB), kepada Investor Daily di Jakarta, pekan lalu.

Karena itu, di sela kesibukannya, ia menyempatkan menulis. Belum lama, Ana meluncurkan buku antologi puisi berjudul Hati Perempuan bersama 22 perempuan penulis lainnya, termasuk seniman pencinta lingkungan Ully Sigar Rusady, dan lain-lain. Buku tersebut diluncurkan pada 22 Desember 2011 sebagai perayaan Hari Ibu.

Sejumlah cerpennya juga sudah dibukukan pada 2010 dengan judul Tukang Bunga dan Burung Gagak.

Soal hobi menulisnya, Ana menganggapnya sebagai katarsis dari rutinitas pekerjaannya. “Apa yang ada di kepala harus ditumpahkan. Nah, buat saya, menulis seperti katarsis dari rutinitas sehari-hari,” ujar mantan head of corporate communication PT Bumiputera.

Sesungguhnya, di bidang tulis menulis, nama Ana Mustamin bukanlah nama baru. Sejak kelas 5 SD ia sudah menulis cerpen anak dan dimuat di surat kabar di Makassar, tempat ia tumbuh hingga besar.

“Saya beruntung dibesarkan di tengah keluarga dengan tradisi membaca. Membaca sudah seperti makanan pokok. Di semua ruang di rumah selalu ada buku bacaan. Setelah agak besar, saya pikir, kalau Cuma membuat cerpen seperti ini pun saya juga bisa,” ujar penggemar buku 5 Sekawan dan Agatha Christie.

Makin besar, semangat menulisnya makin membara. Pada tahun 80-an, namanya terkenal sebagai penulis cerita remaja. Buah karyanya tersebar di majalah Anita Cemerlang, Hai, dan Gadis. Cerpen-cerpennya tidak melulu soal percintaan anak kuliahan, tetapi diselipi konflik jiwa, sesuatu yang tidak biasa, apalagi ditulis oleh Ana yang saat itu masih duduk di bangku SMA.

“Waktu itu saya tinggal di Makassar, saya pikir kalau tidak menulis cerita anak kuliah, karya saya tidak dimuat,” tutur Ana yang menjadikan kakak-kakaknya sebagai inspirasi cerpen-cerpennya.

Setelah kuliah, cerpen-cerpennya mulai menghiasi majalah Kartini dan Femina. Kini, Ana rajin menulis di blog pribadinya, terutama tentang smart travelling dan berbagi semangat serta berpikir positif dalam menghadapi penyakit kanker.

“Awalnya saya menulis tentang penyakit tumor saya di blog. Ternyata banyak penderita tumor dan kanker yang butuh berbagi. Lewat tulisan, saya menyemangati mereka bahwa ketika divonis kanker, itu bukanlah akhir segalanya dan obat yang utama adalah semangat dan berpikir positif,” ujar Ana yang akhirnya mendirikan Komunitas Lila untuk pendampingan penderita kanker secara moril.

Membesarkan Universitas 
Karier Ana dimulai di PT Bumiputera sebagai staf administrasi pada 1994 dan berlanjut ke bagian public relation. Sebelum ditarik ke Yayasan Dharma Bumiputera pada 2011, lulusan ilmu komunikasi di Universitas Hasanuddin, Makassar itu dipercaya menjadi kepala corporate communication Bumiputera.

“Cukup lama saya mengabdi di Bumiputera. Ini bagian dari nasionalisme saya mengembangkan satusatunya perusahaan asuransi milik pribumi,” jelas Ana.

Kini tantangan Ana di STDB yang berlokasi di daerah Warung Buncit, Jakarta Selatan, makin besar. Di Bumiputera, kata dia, biasanya dia berhadapan dengan para stakeholder dan media. Di sini, dia menghadapi para dosen dan mahasiswa.

“Tantangan juga makin besar karena tahun ini STDB bertransformasi menjadi universitas. Saya harus membesarkannya dan memikirkan funding-nya. Tapi di manapun, buat saya kuncinya adalah manajemen dan bagaimana menggerakkan orang,” jelas perempuan yang jago bermain gitar.

Alasan berubah menjadi universitas, kata Ana, karena visi Bumiputera adalah pendidikan. “Kalau universitas pilihan program studinya banyak, sehingga sesuai dengan misinya memberikan pendidikan dan pengajaran seluas-luasnya,” jelas Ana.

Alasan lain karena awarness masyarakat terhadap STDB yang didirikan pada 1999 belum tumbuh. “Pasar sekolah tinggi juga sudah jenuh dan banyak yang abal-abal, sehingga yayasan memutuskan mengubahnya menjadi universitas,” jelas Ana.

Dia menargetkan, izin universitas sudah turun tahun depan. Universitas Dharma Bumiputera nantinya akan terdiri atas 14 program studi, termasuk yang akan dirintis adalah program studi khusus ilmu asuransi, yaitu S1 Manajemen Asuransi dan S1 Aktuaria.

“Dua program studi ini nantinya akan menjadi kekuatan kami,” tegas dia. Ana mengungkapkan, di tengah industri asuransi yang kian tumbuh pesat, masih sedikit sekali SDM yang ahli di bidang asuransi. Selama ini, ahli-ahli asuransi di Indonesia, khususnya di Bumiputera, kuliah S2 asuransi di Filipina. Bahkan UI dan ITB pun hanya memiliki D3 asuransi.

“Pasar asuransi terbuka lebar, karena itu saya harap Universitas Dharma Bumiputera bisa mengisi pasar itu dengan SDM yang ahli di asuransi,” tandas Ana. (*)

 

9 Comments to "Menulis Sebagai Kartasis"

  1. ana mustamin  21 May, 2012 at 13:22

    @chadra: makasih
    @alvina: tengkyuuu banget, mbak. semua milik-Nya. saya coba memanfaatkan sebaik-baiknya.
    @abu waswas: ntar kalo novelnya jadi, ngundang puput novel saat launchingnya? hehehe…

  2. ana mustamin  21 May, 2012 at 13:20

    @mbak dewi: makasiiihhhh… doain, ya…
    @JC: semoga terus diberi kekuatan untuk nulis. makasih ya, mas.
    @handoko: thanks, mas.
    @linda: semoga bisa

  3. Abu Waswas  18 May, 2012 at 20:25

    Artikelnya menggugah. Aku rencana nulis novel deh. Belajar sama Mbak Puput. Puput Novel hehehehehe

  4. Alvina VB  16 May, 2012 at 20:17

    Mbak Ana, Se-77777 & keep on writing.
    Ada banyak org yg gak pinter ngomong sec. lisan, ttp kl disuruh nulis wuihhhhh ciamki banget dech. Sebaliknya ada org yg ngomongnya pinter buanget pas disuruh nulis, waduh berantakan berat, makanya perlu editor. Suatu anugrah kl bisa nulis dan ngomong dengan bobot yg sama.

  5. Chadra Sasadara  16 May, 2012 at 14:52

    lura biasa

  6. Linda Cheang  16 May, 2012 at 12:52

    terus menulis saja, deh.

  7. Handoko Widagdo  16 May, 2012 at 12:14

    Setujuh.

  8. J C  16 May, 2012 at 09:25

    Mbak Ana, sekali menulis tetap akan terus menulis, sepertinya seperti Panjenengan tidak mungkin meninggalkan dunia tulis menulis…hehehe…

  9. Dewi Aichi  16 May, 2012 at 08:57

    Wah keren mba Ana….sepertinya bisa meloloskan SDM yg makin berkualitas dalam bidang ini.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.