Surat

Abu Waswas

 

Aku semakin sering mengirim surat ke kotamu semenjak merebak hiruk pikuk kerusuhan di tempatmu merantau. Kulihat dari televisi sekumpulan demonstran dan massa membumihanguskan kotamu. Tentang mahasiswa-mahasiswa yang dadanya bolong diterjang peluru panas. Tentang himpunan jiwa yang terkurung dalam kubus kaca yang mengobarkan api kematian. Tentang kamu?

Aku baik-baik saja di Jakarta. Wilayah selatan relatif terkendali, meski ada saja massa yang menjarah pertokoan. Kalau kondisi tak memungkinkan, bos kami menyuruh kami pulang lebih cepat.

Tak perlu mengkhawatirkanku.

Jakarta, 14 Mei 1998.

Secuil kelegaan terbit usai membaca penggalan suratmu. Aku membaui kertas folio itu. Aku ciumi baumu. Baumu sudah menguap jadi kenangan. Tulisan tanganmu masih serapi dulu tatkala kita  sekelas. Tulisanmu pun sudah membeku jadi kenangan di buku catatanku. Diam-diam aku merindukanmu.

***

Kudeta Berdarah. Aku tegang  membaca judul suratmu. Aku lebih dulu tahu itu dari media massa. Apa pun itu aku memang suka caramu bercerita. Berkisah dari sudut pandangmu. Sudut pandang bujang desa yang baru setahun merantau ke kota juragan. Menggantung cita-cita semenjulang monumen berpucuk emas atau bahkan setinggi rembulan berona emas. Namun takdir seakan banting kemudi. Kemudi reformasi. Menjungkalkan tirani dari tahta berumur empat windu.

“Apa cita-citamu?” tanyaku begitu. Kamu diam sejenak sambil menggulung celana abu-abumu yang terlampau panjang.

“Aku ingin merantau ke ke Jakarta.”

“Ah, kamu ikut-ikutan orang-orang di sini. Belum tentu kalau ke Jakarta itu sukses.” Kucoba menasihatimu agar urung meninggalkan desamu. Meninggalkan aku. Diam-diam aku mencintaimu. Tetapi aku terlalu lugu.

“Aku ingin bekerja di kantoran. Walau aku sadar ijazah SMA-ku cuma mampu mendudukkanku di kursi pegawai. Pegawai rendahan.”

***

Kamu memang tipe laki-laki yang pandai mempermainkanku. Surat-suratku tak lagi kamu balas. Pun kamu tak lagi menghubungiku dari wartel. Masih ingat ketika aku tersipu malu lantaran berlama-lama berbicara denganmu di rumah pak kades. Tak lagi kudengar suara rendahmu nan lembut. Diam-diam aku kehilangan dirimu. Diam-diam kamu menghilangkan dirimu.

“Pos!” Suara yang kunanti diiringi klakson. Rupanya kamu tak kuasa melupakanku.

Suratmu lebih besar sampul coklatnya. Kuduga semacam kejutan. Mungkinkah kamu naik jabatan atau isinya foto 4 R yang merekam dirimu bersama artis Jihan Fahira. Aih… kamu memang tipe pria yang pandai meremas-remas perasaan perempuan.

Aliran darahku mengalir berbalik arah saat kurobek sampul dan kumunculkan isinya. Telingaku mendengar reruntuhan rembulan emas yang menghambur di area sawah yang siap panen. Sekali pun tak pernah kamu bicara hal ini. Aku pun keliru sebab teramat takut mengungkapkan bahasa itu. Aku diam-diam telah mencintaimu. Tak bisakah kamu diam-diam memahamiku? Tak pernahkah nalurimu mengajarimu untuk mengerti aku?

Masih, aku membaui suratmu  dengan bodohnya. Tiada lagi baumu. Surat ini sangat harum. Aku mengeja isi suratmu. Tak ada lagi tulisanmu yang dulu. Namamu bersanding dengan nama perempuan yang entah siapa. Belum berani mataku menangis. Kabarmu lebih mengerikan daripada kabar kotamu.

***

Kamu semakin sering mengirim surat ke rumahku sejak berumah tangga dengan wanita pilihanmu. Kubaca dengan sabar pucuk demi pucuk suratmu yang amplopnya selalu melekat dua perangko 2000 dan 1000. Tentang anak laki-lakimu yang tampan sepertimu. Tentang pekerjaanmu yang banyak kemajuan. Tentang istrimu yang dari Padang tapi pintar memasak rawon kesukaanmu. Tentang aku?

Aku mengaku kalah di desa dan memutuskan merantau sepertimu. Aku juga ingin sukses sepertimu. Aku betah sekali di sini dan tak mau buru-buru pulang untuk kawin.

Kamu tak perlu lagi mengirim surat ke rumahku. Tak usah mencemaskanku. Aku baik-baik saja.

Dari sahabat kecilmu

Riyadh, KSA, March, 31, 2002

***

JKT, 12/05/12, 23.53

 

About Abu Waswas

Penulis lepas dengan ketertarikan khusus akan film. Tulisannya tersebar di banyak media sosial.

My Facebook Arsip Artikel

10 Comments to "Surat"

  1. anoew  20 May, 2012 at 21:29

    Walah ucul..

  2. Abu Waswas  18 May, 2012 at 20:19

    Aku request rasa rendang bisa gak Mbak?

  3. Dewi Aichi  17 May, 2012 at 06:31

    Abu Waswas ha ha ha…kamu itu lucuuuu…..ohhh…truffa……kalau mau ketemu sama aku di Jakarta nanti …aku bawain deh…

  4. Abu Waswas  17 May, 2012 at 01:17

    Mas Chadra, disembunyikan di mana?
    Jangan-jangan sembunyi di kolong kasur ^ ^

    Betul Mbak Linda, isi suratnya menarik, isi cerpennya mendorong
    *gak lucuuuu

    Mrucut apa tuh Mas Han?
    Topiku merucut… ^ ^

    Betul Mas JC, kasih tak sampai ini.
    *setel lagu Padi dulu.

    Mas Paspampres, kalau merantau ke Hongkong nanti ditanya?
    “Mana duitnya?”
    “Duit dari Hongkong!!!”

    Bukan tempe goreng, Mbak Dewi, tapi trufla, eh traflu. Apa sih makanan itu yg dari Brasil?

    Makasih semua udah baca.

  5. Chadra Sasadara  16 May, 2012 at 14:51

    14 Mei tahun itu, aku sedang sembunyi, tepatnya di sembunyikan. tapi tidak seorangpun yg kirim surat kepadaku..hehehe

  6. Linda Cheang  16 May, 2012 at 12:50

    lebih menarik isi suratnya…

  7. Handoko Widagdo  16 May, 2012 at 12:13

    Mrucut…

  8. J C  16 May, 2012 at 09:26

    Apakah ini kisah kasih tak sampai?

  9. [email protected]  16 May, 2012 at 09:09

    wuiih… satu merantau ke jakarta, satu merantau ke riyadh….
    edan….

  10. Dewi Aichi  16 May, 2012 at 08:48

    14 Mei wah ultah anakku …

    Asik nih ada surat dari Abu Waswas untuk Katty Perry nggoreng tempe…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.