Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Surat, Surel, SMS, BlackBerry dan Saya

Wednesday, 16 May 2012

Viewed 1181 times, 2 times today | 25 Comments |

Nyai EQ – sedang membaca surat lama

 

Udara sore sangat gerah. Hujan yang turun beberapa menit tidak mampu mengusir hawa panas yang tersimpan dari siang.

Sore ini, jam 5, seperti biasanya saya berada di rumah seorang kawan lama, untuk mendampingi anaknya belajar dan mengerjakan PR. Kali ini si anak sedang kumat malesnya. Membantah semua yang dikatakan mamanya. Berkeras di depan tv nonton sinetron entah apa judulnya. Saya sedang tidak ingin “eyel-eyelan”, jadi saya bilang, biarin sajalah.  Pada Akhirnya anak kelas 1 SD itu pun benar-benar tidak belajar apapun. Tak apalah.

Lalu, karena tidak ada kesibukan, saya ngobrol dengan sang mama, teman saya yang sudah seperti keluarga sendiri. Bahkan mungkin malah lebih dekat ketimbang saudara kandung saya.

Saat sedang ngobrol, blackberynya berbunyi, berkali-kali. Notifikasi tentunya, dengan suaranya yang khas, “klunthang-klunthing”. Dan teman saya juga berkali-kali memusatkan perhatiannya pada sang BB, bahkan kadangkala saat sedang asyik mengobrolkan sesuatu, harus terputus karena bunyi notifikasi yang nyaris tak henti, sehingga saya harus mengulangi setiap perkataan saya yang luput dari pendengarannya, karena pikirannya terpusat pada BB. Bukan itu saja, tak jarang topiknya kemudian berubah tiba-tiba, disesuaikan dengan topik BBnya. Saya jadi agak tersinggung, sebel dan bingung.

Ini bukan pertama kalinya.

Saya tidak menggunakan blackbery, bahkan boleh dibilang saya sangat tidak suka dengan BB, yang menurut saya sangat menganggu.

Pada saat-saat seperti itu, saya bahkan berharap bahwa teknologi blackberry tidak pernah ditemukan.

Jaman dulu, sebelum handphone menguasai peradaban manusia, saya merasakan masa-masa romantisme yang bagi jaman sekarang sudah sangat ketinggalan jaman. Ngobrol bersama teman di angkringan, di warung kopi, di warteg, atau di cafee tanpa harus diganggu suara “klunthang-klunthing”, tanpa harus mengulang-ngulang satu kalimat yang sempat “hilang”, tanpa harus berganti topik dengan tiba-tiba, atau harus terdiam dan jengkel karena ngomong panjang lebar dengan teman yang ternyata tidak memperhatikan, karena perhatiannya lebih tertuju kepada alat berbentuk persegi panjang di tangannya, ketimbang pada mahluk hidup berstatus teman di depan atau di sampingnya.

Dulu, ketika ada teman yang berulang tahun, selain menyiapkan kado, saya pasti akan sibuk memilih kertas yang indah (fancy paper), mengguntingnya, membuatnya menjadi kartu ucapan yang unik. Menyampaikannya dengan pelukan dan cipika-cipiki. Makan sepotong kecil kue coklat, minum kopi bersama, atau setidaknya makan traktiran mie ayam dekat kampus, sambil ngobrol asyik.

Kado-kado yang saya terima pun nyata, meskipun cuma sebentuk anting-anting murah, atau selembar handuk kecil untuk lap muka, atau bahkan jika itu sebuah buku dongeng yang dibungkus dengan kertas koran dan diberi pita yang dibuat sendiri dari tali sepatu. Tapi nyata. Bukan kado virtual yang ringkas, tidak perlu kotak atau lemari untuk menyimpannya. Dan bisa hilang kapan pun kita mau men-delete-nya. Sama seperti jika kita membakar kenang-kenangan dari mantan pacar yang tega mengkhianati (duh, kayak sinetron).

Ketika saya masih giat traveling ke sana-kemari, backpacker, hampir di setiap perjalanan saya akan bertemu dengan teman-teman baru yang kebanyakan bukan orang Indonesia. Dari perkenalan di perjalanan, akan bersambung menjadi pertemanan yang mengasyikkan, meskipun masing-masing sudah tidak lagi berada di tempat yang sama. Saling mengirim dan menerima surat atau kartu pos.

Saya ingat rasanya ketika saya menerima selembar kartu pos atau selembar surat tebal dengan perangko dari sebuah negara di benua yang lain. Senang sekali !

Saya akan menyimpan amplop beserta perangkonya. Membaca isinya yang biasanya berisi cerita-cerita panjang lebar tentang kehidupan teman saya. Kadang-kadang disertai beberapa lembar foto. Saya pun akan melakukan hal yang sama. Menulis surat berlembar-lembar, dengan kertas surat yang lucu-lucu dan cantik. Kadang kala saya membuat sendiri kertas surat dan amplopnya. Lalu pergi ke kantor pos untuk mengeposkannya. Bertemu dan melihat berbagai macam manusia di kantor pos. Kadangkala, kalau sedang beruntung, akan menemui beberapa hal yang lucu di jalan, di kantor pos, atau disekitarnya. Ada keunikan tersendiri ketika melakukan ritual mengirim kabar ke teman. Dan ada rasa yang sekarang hilang, ketika surat sudah tidak lagi dibungkus dengan amplop dan dibubuhi perangko serta cap yang khas.

Membuka amplop dan membuka email sungguh berbeda rasanya. Tidak begitu asyik lagi. Seseorang hanya tinggal duduk manis menghadap alat, mesin yang tidak bernyawa. Tidak lagi mengucapkan “terimakasih pak” kepada pak pos, sambil tersenyum senang. Tidak lagi bisa melihat hal-hal unik, mengamati tingkah laku dan cara berpakaian orang-orang, mendengarkan percakapan-percakapan dari berbagai kalangan manusia yang tidak dikenal. Tiba-tiba bertemu teman lama, dari hai, hai lalu berakhir di warung soto dengan segelas es jeruk yang segar dan obrolan yang menyenangkan.

Ketika masih SD, saya mempunyai beberapa kawan pena atau penpals. Tentu saja dari berbagai negara yang berbeda. Beberapa penpals bertemu melalui majalah anak-anak. Biasanya terhubung dari puisi, gambar atau kisah-kisah pendek saya yang dimuat di majalah tersebut. Kami bertukar kisah dengan asyik. Saya menganggap kegemaran saya menulis surat yang panjang lebar itu sebagai pelajaran pertama saya menulis cerpen, puisi dan artikel. Ketika menceritakan keadaan saya kepada teman di seberang lautan, yang berbeda cuaca, berbeda budaya dan lain-lainnya, saya akan berusaha sebaik mungkin, agar teman yang membaca memiliki gambaran yang tepat seperti yang saya ceritakan. Pun teman saya akan melakukan hal sama. Tidak semua teman pena saya pandai menceritakan kisah-kisah mereka dengan detail, tapi membaca apa yang mereka tulis itu sudah hal mengasyikkan.

Jaman sekarang orang semakin lama semakin malas menulis dengan cara klasik. Dulu ketika handphone belum secanggih saat ini, email masih mempunyai keasyikan, meskipun tidak seunik surat yang dikirim melalui pos. Namun sekarang, orang lebih mengandalkan sms atau pesan-pesan pada facebook. Tulisan tangan menjadi barang langka.

Bahkan orang tidak lagi bicara menggunakan mulut, namum bicara menggunakan jari. Suara yang keluar pun bukan lagi suara manusia, melainkan suara ketak-ketik tuts. Dalam suatu pertemuan, suasananya begitu sepi, karena masing-masing bicara pada alat atau mesin mereka.

Ya, teknologi memang membawa berbagai macam kemudahan. Surat yang dulunya memakan waktu berhari-hari, bahkan minggu untuk bisa sampai. Dan mendapatkan balasannya dalam hitungan bulan, sekarang bisa dipersingkat menjadi hitungan menit, bahkan jika koneksi lancar, maka hitungannya makin mengecil, menjadi hitungan detik. Mengirim foto cukup klik, klik beres.

Dengan alat yang bernama blackberry, seseorang bisa melakukan perdagangan apa saja, dan meraup keuntungan jutaan rupiah dalam hitungan jam, bahkan menit. Tanpa harus meninggalkan rumah, tanpa harus menyewa bangunan toko, tanpa harus membayar pajak (khususnya di Indonesia, gejala seperti ini sangat marak).

Seorang teman berjualan obat pelangsing badan yang katanya berbahan herbal melalui BB. Omsetnya berkisar 1 juta IDR sampai dengan 10 juta IDR dalam hitungan kurang dari 8 jam (jam kerja normal orang kantoran). Belum lagi kalau dia juga menjual produk yang lain seperti obat pemutih kulit, shampo penghitam rambut, obat-obat perawatan alat genital perempuan. Bahkan juga tas, sepatu, baju, rumah dan makelar’an tanah serta kendaraan bermotor.

Wanita memang pengusung terbesar BB. Selain untuk melakukan jual-beli, juga untuk “ngobrol” atau chatting.

Seorang teman curhat pada saya, sejak usaha jualan tas melalui BB, istrinya jadi seperti melupakan sang suami. Bangun tidur yang pertama dipegang adalah BBnya. Sepanjang hari hanya duduk, diam, sibuk dengan BBnya, bahkan sampai tidak masak, tidak mengurus anak, semuanya dilakukan oleh pembantu. Ketika malam hari, yang semestinya digunakan untuk bercengkerama dengan keluarga dan bercumbu dengan sang suami, malah tetap asyik dengan BBnya, sampai mengantuk dan kemudian tertidur. Ketika hal tersebut dikomunikasikan dengan istrinya, sang istri menjawab bahwa dia sedang bekerja, mencari uang untuk keluarga (padahal jelas kalau mereka bukan keluarga yang kekurangan secara finansial, melihat jumlah BB yang mereka miliki, termasuk BB anaknya yang masih duduk di kelas 4 SD).

Ya, memang semua itu ada baik dan buruknya. Perkembangan teknologi yang semakin pesat juga berdampak baik dan buruk. Namun bagi saya, yang mungkin jadi terlihat konvensional, saya masih lebih suka ngobrol dengan mulut, bukan dengan jari. Saya tidak terlalu suka sms, lebih baik menelpon saja, lebih jelas maksudnya. Apalagi jika menerima sms dari keponakan yang masih sekolah di bangku SMU, dengan gaya tulisan yang seringkali absurd dan susah dibaca. Singkatan-singkatan kata yang membingungkan dan rancu, seperti misalnya : plg>>>>bisa dibaca paling atau pulang. Kata “gak ada” disingkat menjadi “g d”, kata aku menjadi “aq”, kalimat “g brk bsk” bisa dibaca “gue berangkat besok” atau “gak berangkat besok”. Pendek kata kadang saya harus menanyakan apa maksudnya. Jadi pada akhirnya saya yang terpaksa harus menelpon jika ada hal yang saya anggap penting, tapi smsnya membingungkan.

Menulis email masih lumayan jelas ketimbang sms yang sangat singkat seperti itu.

Ya saya memang mungkin agak kuno untuk hal yang satu ini. Saya memilih memakai handphone android yang komunitasnya tidak sebanyak BB dan tidak memerlukan PIN khusus untuk bisa bergabung dalam komunitasnya. Privasi saya masih cukup aman. Handphone saya juga jarang berkumandang dan jika saya sedang hang out dengan teman-teman, biasanya akan saya simpan dalam tas. Terutama jika sedang latihan teater atau menari, bisa dikatakan handphone akan tersembunyi dalam tas. Bahkan jika sedang dengan pasangan, handphone akan kami matikan, atau dihidupkan dengan mode silent.

Saya sendiri seorang pengguna teknologi yang cukup aktif. Dan saya juga suka penasaran dengan hal-hal baru di dunia IT. Tak habis-habisnya saya mempelajari hal-hal baru yang terus berkembang tanpa bisa dicegah. Namun bagi saya, laptop masih lebih menyenangkan dibanding handphone yang ukurannya jauh lebih kecil. Jaman sekarang ada teknologi notebook yang kecil, kemudian muncul iPad, Tablet dan benda-benda berteknologi canggih lainnya yang mudah pengoperasiannya, portable, ringan, nyaman, mudah ditenteng dengan desain cantik dan harga cukup terjangkau oleh kalangan tertentu. Sarana dan prasarana bisnis dan kerja apapun menjadi lebih mudah dan menguntungkan banyak pihak.

Saya tidak berjualan secara online. Media virtual hanya saya gunakan untuk sarana iklan dan pamer karya untuk dijual. Acara jual belinya tetap menggunakan cara lama, dengan tambahan email dan telpon, sekedar untuk konfirmasi.

Terus terang saya juga merasa tertolong dengan adanya kemajuan teknologi ini, saya tidak menyangkal atau menolaknya dan tidak melakukannya. Ya, saya juga melakukannya. Saya juga chating dengan teman yang jauh, namun tidak menghabiskan seluruh waktu saya untuk ngobrol dengan mesin, di beberapa sudut, saya masih menyukai hal-hal “kuno”, termasuk ngobrol dengan suara mulut, bukan suara tuts. Satu hal yang tidak bisa digantikan oleh benda-benda canggih tersebut, yaitu nyawa (soulnya) serta kebersamaan yang hangat dan manusiawi.

 

Note :

Bagaimana pun juga, ini adalah pendapat saya, seseorang yang menolak menggunakan BB, bahkan ketika ada yang menawari untuk membelikan, saya bersikukuh tidak mau. Bagi saya, mesin yang satu itu sudah menyinggung perasaan manusiawi saya berkali-kali, merenggut banyak kesenangan berbincang dengan teman secara alami. Mungkin itu sebabnya hidup saya lebih terasa stressless dibanding teman-teman. Saya masih bisa tertawa lepas dan bicara dengan bahasa manusia.

 

Share This Post

Posted by Wednesday, 16 May 2012 on 08:14.

Categories: Kehidupan. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

25 Responses to “Surat, Surel, SMS, BlackBerry dan Saya”

Pages: [3] 2 1 »

  1. 25
    EQ Says:

    hihihi…ternyata banyak juga baltyrans yang gak pake BB…soalnya di kampus sekarang lagi demam BB….ih ! saya juga dibilangin sombong dan sok aristokrat, cuma karena gak mau make BB hahhaha…..
    btw, tengkiyu udah pada sharing di sini…….eh, btw lagi, saya juga mau lho dihibah’i perangko hehhee…saya juga sangat suka ngumpulin perangko dan kartu pos (yang makin sulit dapetnya )

    salam cap tempel,

  2. 24
    Dewi Aichi Says:

    Lani..Alvina..lha ya itu aku udah bilang to….sssttttttt….kan kita bertiga group gaptek….diem aja dong…..!

  3. 23
    Lani Says:

    ALVINA : la iya…….krn duduk saling berhadapan……berjejeran………tp ndak saling peduli, tp malah nuthul2…..BBBBB…….opo talenan? kkkkk

  4. 22
    Dj. Says:

    Hallo EQ….
    Sangat benar, jadi ingat saat masih pacaran…
    Buat surat dan si mbok yang ngantar dan disuruh nunggu jawabannya….
    Hahahahahahahaha….!!!
    Satu hal yang sangat indah yang sekarang sudah tidiak ada lagi…

    Tapi saat di rehab, Dj. masih mendapatkan kartu-kartu ucapan semoga cepat sembuh dengan gambar
    bunga dan juga gambar binatang yang lucu-lucu….
    Ternyata masih ada juga orang yang senang nulis post card….

    Salammmanis dari Mainz….

  5. 21
    Alvina VB Says:

    Mbakyu Lani,
    Bisa jadi begitu ya, back to the old days, pake sign language, soalnya gap mudeng ngomong apaan…lah yg menang oscar aja film the Artist, film bisu, he….he….

Pages: [3] 2 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)