Teruntuk Wanita-wanita Hebat – Chapter 4

Yang Mulia Enief Adhara

 

Chapter 4

ALVINO

Di dapur aku masih menangis, rasa sakit di lututku tidak seberapa dibanding deritaku sewaktu nyaris tenggelam. Tinggiku yang hanya 163 Cm tentu tidak dapat menapak dasar kolam. Mak Beben menggandengku menuju kamarku, sekaligus membantuku mengganti pakaianku yang basah kuyup.

Insiden pagi itu cukup menyita perhatian Pak Effendi, A Nana, Entin dan Mak Ben, mereka sangat membenci Alvino yang merupakan adik bungsu Tuan Gun. Sikap congkak itu memang sudah sangat meresahkan, juga mengganggu semua staf rumah tangga, namun di lain pihak Tuan dan Nyonya Gun sangat baik hati dan pemurah, hingga semua staf mau tidak mau hanya mampu menerima kehadiran Alvino sebagai suatu cobaan hidup.

Alvino Steve Gunawan adalah anak bungsu Keluarga Gunawan, anak ke 4 yang berjarak cukup jauh dengan anak ke 3. Tuan Gun sendiri sebagai anak tertua kini berusia 40 tahun, lalu Tuan Alex anak ke 2 yang usianya 37 tahun, lalu Tuan Mario yang usianya 33 tahun, baru Alvino yang usianya 22 tahun, lebih muda dari yang kukira. Alvino lulusan S1 sebuah Universitas Swasta ternama di Jakarta, dan sempat mengambil akademi di Singapore. Sempat hendak melanjutkan S2 di Sydney namun baru 3 bulan dia kembali ke Indonesia dengan alasan dia tidak senang berada di Sydney.

Orang tua Tuan Gun tinggal di Hongkong namun sudah 8 bulan terakhir lebih sering berada di London karena sedang berobat, nah beliaulah sahabat Madam Wu. Di Jakarta Alvino tinggal bersama kakaknya yang nomer 3 yaitu Tuan Mario yang masih membujang. Dan sepertinya Alvin dibiasakan hidup manja dengan segala fasilitas.

Sebenarnya Alvin itu akan menarik bila saja dia murah senyum, sifatnya yang semaunya ditambah tabiatnya yang kasar membuat dia bagaikan monster. Menurut Mak Ben yang sudah bekerja selama 15 tahun dengan Tuan Gun, hanya 2 kali ia melihat Alvino tertawa, pertama saat Tuan Gun menciumnya dan memberikan pesta kejutan di hari ulang tahun Alvin tepat jam 12.00 malam, bahkan ia sempat tersenyum saat Mak Ben memberikan ucapan selamat ulang tahun. Waktu itu Alvin berusia 17 tahun.

Senyum ke dua terjadi saat Tuan Gun tiba-tiba memberinya hadiah seekor anak anjing yang diberinya nama Polonia. Dan 2 tahun kemudian itu satu-satunya masa dimana Mak Ben melihat Alvin menangis, yaitu ketika Polonia mati karena tersedak tulang yang ditemukannya di luar pagar.

Sisanya hanya wajah cemberut dan sejuta kata kasar menjadi ciri khas yang membuat Alvin begitu dibenci. Entahlah apa yang ada di pikiran Alvino, kekayaan dan kesempurnaan fisiknya terkubur oleh sikap yang arogan.

*****

Sore itu Tuan dan Nyonya mendatangiku ke dapur, wajah Tuan nampak kusut. Ternyata mereka baru tahu kalau aku tercebur kolam tadi pagi. “Uci, kamu tadi pagi nyaris tenggelam? Apa benar itu ulah Alvino??”, Tanya Tuan dengan wajah prihatin. Aku diam saja, mau menjawab iya namun tidak enak, apalagi Alvino itu adik dari bos-ku.

Nyonya memegang tanganku, tangan halusnya membelai punggung tanganku, aroma lavender ikut menempel di kulitku, “Uci, jujur saja sama kami, kalau memang Alvin yang berulah, maka kami akan hukum dia, apa kamu marah pada kami juga?”, Suara Nyonya Gun berbicara lembut. Tak terasa butiran airmataku membasahi pipi. Sebagai gadis yang sulit bergaul, berjumpa sosok seperti Alvin adalah musibah.

Mak Ben yang sedang merapihkan kulkas nampak tidak sabar melihatku yang lebih memilih menangis dari pada mengakui bahwa Alvin-lah yang membuatku nyaris tenggelam. Mak Ben langsung angkat bicara.

“Tuan, memang betul Tuan Alvin pelakunya, dari pertama dia datang, ia sudah terus mengumpati Uci, saya tahu dari Pak Effendi”, Seru Mak Ben dengan wajah kesal.

Tuan Gun mengenyitkan kening, sepertinya ia begitu kesal pada Alvino. “Uci, kami memohon maaf atas kelakuan Alvin, saya malah tidak tahu kamu nyaris tenggelam, saya pikir kamu disiram air olehnya”, Tuan Gun menatapku dengan penuh prihatin, “Nanti akan saya tegur anak itu!”, Lanjut Tuan dengan geram.

Nyonya Gun juga menunjukan wajah kesal, sepertinya Alvino ini kerap membuat ulah dan Nyonya pun begitu mendukung suaminya untuk segera menegor Alvin. “iya Pi, anak itu makin nggak bener, kamu tegor dia, biar saya yang bawa Uci kerumah sakit”, Ujar Nyonya Gun dengan tegas.

Aku tercengang, menegor Alvin? Membawaku ke rumah sakit? Wah aku tidak mau, dan aku buru-buru bicara, “Maaf Nyonya, saya baik-baik aja kok, saya rasa tidak perlu ke rumah sakit, dan tolong jangan tegor Tuan Alvin, mungkin memang saya yang salah”.

Nyonya menatapku, sementara Tuan Gun langsung keluar dari dapur. “Seminggu mengenalmu bagai sudah mengenal lama, seorang seperti Madam Wu jarang bisa begitu dekat dengan orang lain, dan saat Madam menelpon kami, hanya kamu yang dibicarakan, artinya kamu bukan sembarang orang, Alvino harus ditegor, titik!”, Ujar Nyonya dengan tegas. Aku hanya diam menunduk.

*****

Saat menyiapkan makan malam, aku sempat mendengar suara Tuan Gun yang tengah bicara dengan keras. Dari ruang makan menuju ruang keluarga dipisahkan koridor pendek sekitar 3 Meter, dikoridor itu terdapat sebuah powder room seperti kamar mandi kering untuk tamu sekedar membenahi riasan atau buang air kecil.

Di sofa besar Alvino duduk dengan wajah cemberut sementara Tuan Gun berdiri. Aku mendengar dengan jelas saat suara Tuan yang tengah mendamprat Alvin. Tak lama aku mendengar suara Alvin yang bicara seenaknya, “Oh ! Koko lebih belain babu babu ketimbang adek sendiri, dasar aneh”.

Tak sampai hitungan detik aku mendengar suara tamparan keras, rupanya Tuan Gun menampar pipi Alvino. Dan ku lihat Alvino setengah berlari ke lantai atas sambil memegangi pipinya disusul bunyi pintu yang dibanting keras.

Sejujurnya aku merasa tidak enak, semua ini terjadi karena diriku. Aku sempat termenung beberapa saat hingga tangan Mak Ben memegang pundakku, “Uci, ingat ya, ini bukan salahmu, bukan sekali ini Alvin ditampar Tuan, tapi lihat saja besok, si Alvin pasti berulah lagi, kamu yang sabar ya”, Ujar Mak Ben. Aku mengangguk walau hatiku masih diliputi perasaan tak enak.

*****

Saat makan malam, tak kulihat sosok Alvino, sepertinya dia tengah merajuk. Tuan dan Nyonya bersantap tanpa banyak bicara, dan keduanya tak sekalipun berusaha memanggil Alvino untuk bergabung di meja makan.

Selesai makan Tuan menyempatkan masuk ke dapur dan berbicara padaku juga Mak Ben dan Entin, “Sekali lagi saya minta maaf atas segala sikap Alvino yang buruk, saya sudah habis akal menghadapi dia, secara akademis otaknya cemerlang bahkan di atas rata-rata namun secara sosial sikapnya sangat buruk, semoga kalian tetap setia bekerja di rumah ini, tak mudah bagi saya untuk melepas orang-orang seperti kalian dari rumah ini”, Tuan berkata dengan tegas namun lembut, beda sekali saat ia tadi memarahi Alvino.

Bagai dihipnotis kami bertiga segera bicara bahwa kami akan selalu setia bekerja pada Tuan Gun, tidak ada alasan kami untuk pindah kerja. Tuan tersenyum getir, pasti di satu sisi dia khawatir kami tidak betah dan di sisi lain dia sadar adiknya butuh penanganan khusus.

*****

Hari dimana Tuan Gun sekeluarga harus pulang ke Amerika akhirnya tiba. Pagi itu kami saling berpamitan, nampak Nyonya Gun yang wajahnya prihatin, Alvino tak juga keluar kamar, diketukpun diam saja. Nyonya sebelum masuk ke dalam mobil sempat berpesan agar kami tidak terpengaruh oleh sikap Alvin, kami semua mengangguk setuju. Nyonya juga mengatakan semua kunci mobil disimpan oleh Nana, dan selama 2 minggu Alvin tidak diperbolehkan membawa mobil yang manapun juga termasuk motor.

Dua jam kepergian Tuan sekeluarga baru kusadari betapa rumah ini besar sekali, dan Mak Beben mengajakku menjelajahi rumah indah itu. Dari dapur kami melintasi ruang makan, melewati koridor pendek kami bertemu ruang keluarga yang luas dan sarat benda-benda indah. Di ruang keluarga itu berderet pintu kaca yang langsung menyuguhkan pemandangan ke kolam renang dari arah barat. Dari pintu ke kolam berjarak sekitar 20 meter, pantaslah bila Tuan Gun tidak sadar aku tercebur kolam. Di sisi kiri ruang keluarga terdapat hall yang terdapat tangga menuju lantai 2 dan lantai bawah, ini ruang yang pertama kali ku lewati sewaktu datang dulu.

Di hall itu selain ke arah ruang keluarga, terdapat juga sebuah ruang sebelum naik tangga, yaitu ruang tamu yang luas walau tidak sebesar ruang keluarga. Ruang tamu ini berdampingan dengan garasi di sisi timur. Di sebelah belakang ruang tamu terdapat area kamar tidur staf yang berakhir di kamarku, kalau dilihat bentuknya melingkar walau tak beraturan.

Di lantai 2 terdapat koridor yang diisi sekitar 6 kamar tidur dengan ukuran terkecil 5 x 5 meter. Dan paling ujung timur adalah kamar yang dihuni Alvino. Dari koridor itu masih ada beberapa ruangan, yaitu ruang duduk yang luas, ruang kerja berikut perpustakaan dan sebuah ruang billiard.

Dari hall ke lantai bawah terdapat ruang olah raga atau gym, ruang duduk dan sebuah ruang luas seperti aula dimana Tuan dan Nyonya kerap mengadakan pesta. Dari bagian ini disuguhi pemandangan kota Bandung dan kolam renang yang naik satu level. Penataan taman tropis makin memberi kesan asri hunian megah ini.

*****

Aku memutuskan kembali ke dapur, Mak Ben dan Entin menyedot karpet persia dan mengelap aneka perabot di ruang duduk dekat area gym. Saat aku mencapai lantai hal, aku berpapasan dengan Alvin yang turun dari lantai 2. Hanya memakai celana pendek dan kaos singlet yang kucel. Rambutnya yang pendek juga acak-acakan. Wajahnya masam dan sinis.

Aku ingin menyapanya namun takut, dan entah bagaimana aku tiba-tiba bicara, “Tuan mau sarapan apa langsung makan siang ?”

Alvin diam sesaat lalu menjawab, “Lo nggak usah sok baek sama gue, semua orang tuh nggak ada yang suka sama gue !”, Ujarnya pelan namun penuh penekanan.

Aku tak berani menyahut lagi dan buru-buru masuk dapur untuk melanjutkan memasak gudeg isi ayam dan krecek berikut peyek kacang resep warisan Nenekku. Lumayan ditinggal keliling rumah masakanku sudah hampir matang. Aroma gudeg semerbak, Pak Effendi bolak balik ke dapur sekedar memastikan jam di Pos Satpam dengan di dapur sama persis. Aku tertawa geli, kupeluk pinggangnya, kusandarkan kepalaku di dadanya, dia memelukku dan mengusap kepalaku. Aku rindu pelukan ini yang tak pernah ku dapat dari Ayah kandungku.

Pak Effendi berkata, “Neng, kehadiranmu di sini bagaikan sebuah taman bunga di padang pasir, kami selalu rindu masakan yang kamu sajikan juga keluguanmu yang selalu membuat kami ingin menggodamu”.

Aku menengadah memandang wajah Pak Effendi, “Ah bapak bisa saja, aku cuma bisa masak, tapi di bidang lain aku bukan siapa siapa, aku hanya orang jelek Pak”, Ujarku malu malu.

Kedua tangan Pak Effendi memegang pundakku, wajahnya ramah menatapku, “Uci, kalau mau jadi anak Bapak, kamu nggak boleh ngomong gitu, kamu harus percaya diri, selain jago memasak, kamu juga ramah, sopan, dan lembut, tanya aja sama Emak, Entin dan Nana”, Pak Effendi berbicara lembut, aku hanya menunduk malu.

*****

Tak seberapa lama Pak Effendi kembali ke pos, tiba-tiba masuk Alvino ke dalam dapur. Aku bagaikan anak kelinci bertemu macan. Ia masih memakai pakaian yang tadi, rupanya dia habis tiduran di sofa di ruang keluarga.

Dibukanya kulkas lalu diambilnya sekaleng orange juice. Minum sambil cemberut. Aku memberanikan diri untuk kembali berbasa-basi menawarkan makan, “Tuan mau makan siang sekarang? Saya membuat gudeg dengan ayam dan krecek, tidak terlalu pedas kok”

Alvin menatapku dengan pandangan aneh, seolah aku sejenis makhluk luar angkasa, “Gue gak doyan makanan manis, bisa muntah gue karena eneg”, Sahutnya ketus.

Dengan takut takut aku menjawab, “Tuan cobain dulu sedikit, gudeg saya tidak terlalu manis kok, mau saya siapkan??”.

Namun bukan senyum ramah yang ku dapat yang ada justru pandangan masam dengan bentakan seperti yang sudah sudah, “Heh, elo nggak usah sok baik sama gue !!!”.

*****

Suasana tegang itu tak berlanjut, tiba-tiba muncul Pak Effendi, Mak Ben, Nana dan Entin. Suara Pak Effendi begitu tegas, seolah aku baru kali ini menyadarinya, “Heh Alvino, kita semua tidak senang dengan manusia congkak, kamu memang adik Tuan, tapi Tuan sudah memberi amanat agar kamu mengikuti tata tertib, atau terpaksa kami lapor kepada Tuan Gun”.

Wajah Alvino nampak marah, memerah, ditatapnya Pak Effendi, “Sombong amat lo, mentang-mentang Koko gw lebih belain elo, liat aja pembalasan gue !!”, Ujar Alvino penuh emosi.

Mak Ben walau wanita nampak tidak takut sedikitpun, dia maju 3 langkah lalu bicara, “Alvin !! Kami memanggil kamu Tuan karena kami menghormati Tuan Gun, tapi kali ini kami tidak sudi memanggil kamu Tuan, dasar anak bau kencur tapi songong sama orang tua !!!”.

Bibir Alvin menipis, jelas sekali ia sudah siap mengamuk, dibantingnya kaleng orange juice ke lantai, “Liat aja nanti pembalasan gue”, desisnya dengan penuh kebencian.

Mak Beben tak bergeming, “Ganteng dan kaya tapi kok urakan, bikin malu aja, kaya anak nggak pendidikan aja ! Kalo kami kesal kami laporin polisi baru nyaho kamu”, Ujar Mak Beben sinis.

Wajah Alvino pucat pasi, lengan, pundak dan tubuhnya mengkilat karena keringat, jelas pemuda itu sudah di puncak emosinya. Tanpa berbicara dia meninggalkan kami di dapur dan menghilang di lantai atas.

 

7 Comments to "Teruntuk Wanita-wanita Hebat – Chapter 4"

  1. Alvina VB  16 May, 2012 at 19:45

    Lanjut ceritanya mas….. (Alvino bukan saudara kembarannya aku loh…..ngilani punya adik kaya gini dibuang ke laut aza, hi..hi….)

  2. Linda Cheang  16 May, 2012 at 12:48

    menunggu sambungannya.

  3. J C  16 May, 2012 at 09:27

    Sepertinya Alvino akan takluk oleh Uci. Ditaklukkan dari mulut terus ke perut (entah kalau berlanjut ke lainnya juga… ).

    Serial ini asik banget disimak…

  4. [email protected]  16 May, 2012 at 09:07

    lanjut… jangan pake lama yaaa….

  5. Dewi Aichi  16 May, 2012 at 08:58

    Sierli ha ha…..sama…..lanjutannya cepetan….pengen tau bagaimana Alvino selanjutnya

  6. Sierli  16 May, 2012 at 08:56

    Ayooo..terus..teruss…di tunggu kelanjutannya…

  7. Dewi Aichi  16 May, 2012 at 08:46

    Harus dikasih pelajaran tuh….biar sadar…sayang sekali, ganteng, pinter, tapi arogan..!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.