Upacara Sewindu

Josh Chen – Global Citizen

 

Di keluarga kami, ulangtahun ke 8 selalu diperingati secara khusus. Saya tidak tahu apakah ini adat istiadat Jawa ataukah Tionghoa Peranakan yang sudah langka dan tidak banyak orang yang mengetahuinya. Kami empat bersaudara mengalami semua perayaan ulangtahun ke 8 ini.

Seminggu sebelum ulangtahun, Papa dan Mama akan memersiapkan segala sesuatunya, terutama memesan tumpeng khusus yang untuk perayaan ini. Tumpeng untuk perayaan sewindu ini terdiri dari dua tampah[1]. Tampah pertama berisi nasi tumpeng lengkap dengan uba rampenya[2], dan tampah kedua berisi anyaman kacang panjang mentah dengan segala uba rampenya juga.  Menurut Papa dan Mama, usia delapan tahun adalah usia akil balik, adalah usia dimana seorang anak mulai memasuki jenjang kehidupan berikutnya, peralihan dari masa anak-anak memasuki masa remaja untuk menyongsong kehidupan dewasa.

Arti dan makna di balik simbolisasi tumpeng adalah:

Nasi tumpeng putih dan kuning

Bentuk dari tumpeng sendiri adalah lambang dua tangan yang rapat melakukan sembah sujud syukur kepada Sang Pencipta. Sekaligus bentuk kerucut yang melambangkan kehidupan yang semakin naik dan tinggi ke puncak (kesuksesan dan kemuliaan hidup) juga melambangkan gunung yang dipercaya sebagai awal sumber kehidupan dimana air mengalir dari atas gunung menghidupi manusia, hewan dan tumbuhan yang bermukim di lereng dan kakinya. Sementara warna putih melambangkan kesucian dan kebersihan segala sesuatu dalam kehidupan manusia. Warna kuningnya adalah lambang emas yang dimaksudkan untuk kesejahteraan.

Telur rebus dan cabai merah

Di pucuk tumpeng ditancapkan telur rebus utuh dan cabai merah. Telur rebus utuh berwarna putih melambangkan awal mula kehidupan yang putih bersih yang siap dijalani untuk menuju puncak. Cabai merah memiliki dua makna yaitu sebagai lidah api yang menerangi perjalanan hidup sekaligus perlambang ‘pedasnya’ kehidupan manusia yang tidak selalu mulus untuk menuju kesuksesan.

Ayam ingkung (utuh)
Ayam jantan yang dimasak utuh dengan bumbu kuning/kunyit dan diberi areh (kaldu santan yang kental), merupakan simbol menyembah Tuhan dengan khusuk (manekung) dengan hati yang tenang (wening). Ketenangan hati dicapai dengan mengendalikan diri dan sabar (nge”reh” rasa). Pemaknaan ini sarat dengan simbol: ayam ingkung = manekung atau khusuk, bumbu kuning = wening, tenang, areh = ngereh rasa, pengendalian diri.

Menyembelih ayam jantan yang juga disebut dengan ayam jago juga mempunyai makna menghindari sifat-sifat buruk yang dilambangkan oleh ayam jago, antara lain: sombong, angkuh, tinggi hati, merasa benar sendiri, congkak, tidak setia dan tidak perhatian kepada anak istri. Dimana ayam jantan selalu menengadahkan kepala tinggi-tinggi jika berjalan.

Ikan
Biasanya adalah ikan gurame atau lele. Ikan lele atau gurame adalah ikan sungai yang tahan hidup di air yang tidak mengalir dan di dasar sungai. Hal tersebut merupakan simbol ketabahan, keuletan dalam hidup dan sanggup hidup dalam situasi ekonomi yang paling sulit sekalipun.

Ikan Teri/Gereh Pethek
Gereh pethek atau ikan asin dari bahan ikan pethek melambangkan kebersamaan dan kerukunan dengan sesamanya dalam dunia yang luas karena dua jenis ikan ini biasanya hidup bergerombol di lautan luas.

Gudhangan/urap

Berbagai jenis sayuran yang direbus dan dibumbui dengan bumbu gudhangan atau urap. Tidak dimasak dengan cara lain, hanya direbus melambangkan kesederhanaan hidup yang tidak neka-neka[3]. Berbagai jenis sayuran seperti kangkung, bayam, tauge, kacang panjang, kluwih (sejenis sukun) dan berbagai jenis sayuran lainnya, bermakna tumbuh (berkecambah, tauge), pemikiran jauh ke depan, berpikir panjang (kacang panjang), tentram (ayem, bayam), memiliki keunggulan (linuwih, kluwih).

Makna dalam tampah kedua:

Untaian kacang panjang yang dirangkai membentuk satu wadah yang diisi berbagai jenis buah, dengan puncaknya nenas utuh. Kacang panjang bermakna harapan untuk berpikiran panjang, masa depan yang panjang (cerah), panjang umur dan berwawasan jauh. Nenas melambangkan mahkota dan juga dalam budaya Tionghoa mengandung makna keberuntungan yang terus mengalir (往往来, wang wang lai). Buah pisang yang bermakna membawa harum nama keluarga dan keharuman nama (香蕉, xiang jiao), buah jeruk yang bermakna keberhasilan (大吉大利, da ji da li). Dan juga buah-buahan lain sebagai pelengkap.

Dua tampah dan daun pisang di pinggirannya juga memiliki makna tersendiri. Masing-masing tampah melambangkan matahari dan bulan, penerangan yang menyinari kehidupan manusia sepanjang hayatnya. Daun pisang yang dibentuk segitiga dan dirangkai dengan biting/tusuk lidi dari pohon kawung melambangkan bentuk matahari dan kawung menyiratkan Sang Suwung atau Yang Maha Kuasa sebagai Pencipta Kehidupan. Dalam perkembangannya dua-dua tampah dihias semua dengan daun pisang untuk alasan estetika semata, dimana seharusnya hanya satu yang dihias.

Tepat pada hari ulangtahun, sejak pagi hari saya sudah sangat excited untuk acara malam harinya. Undangan untuk selametan[4] sudah diberitahukan secara lisan kepada para tetangga dekat, terutama kepada tokoh masyarakat dan sesepuh kampung kami. Saya masih ingat benar, di sebelah kanan rumah pak Kayat, depan rumah ada Mbah Isak, pak Amir, pak Di. Ada juga oom nDon, oom To, Mbah Wagiman (Ketua RT seumur hidup pada waktu itu), dan juga beberapa tetangga lain yang saya tidak ingat lagi nama-namanya.

Menjelang sore, tumpeng pesanan akan diantar ke rumah. Tumpeng akan diletakkan di meja tamu di rumah mungil kami. Kemudian akan dihias dengan tulisan nama dan tanggal lahir yang ditempelkan di nasi tumpengnya, juga lilin angka 8 untuk ditancapkan di atas nenas. Mama biasanya menyiapkan kardus-kardus atau besek[5] kosong yang sudah dibeli sebelumnya, untuk para tamu nanti membawa pulang tumpeng dan uba rampenya. Sebelum maghrib para tamu mulai berdatangan dengan busana khas sarung, baju longgar (lengan pendek atau panjang), peci dan bersandal jepit saja.

Di ruang tamu rumah kami yang mungil segera penuh para tetangga yang berdatangan. Kursi-kursi tamu dan beberapa meja sudah kami singkirkan digantikan dengan dua lembar tikar besar di lantai. Hanya meja tamu kecil di samping untuk meletakkan dua tampah yang berisi tumpeng dan uba rampenya. Para tetangga bercakap dengan hangat sambil menunggu acara mulai. Kemudian pak modin[6] akan mengajak yang hadir untuk bersiap-siap memulai acara. Semuanya duduk melingkar di tikar mengelilingi dua tampah tumpeng dan uba rampenya yang sudah dipindahkan dari meja ke lantai.

Acara doa segera dimulai. Pembacaan doa secara Islam yang saya tidak mengerti sama sekali terdengar mengalun di ruang tamu rumah kami. Setelah doa selesai, pak modin atau yang dituakan akan memberikan sedikit pengarahan untuk saya (atau saudara lain yang berulangtahun), tentang kebijakan hidup. Setelah semuanya selesai, potong tumpeng yang merupakan puncak acara segera dimulai. Saya dengan gembira memotong pucuk tumpeng dan dengan takzim menyerahkan potongan pertama ke Mama sebagai bentuk penghormatan kepada beliau yang mengantarkan kehidupan ke dunia, potongan kedua dihaturkan ke Papa sebagai bentuk penghormatan yang memberikan kehidupan ke dunia ini.

Setelah itu para tamu beramai-ramai memotong-motong dan membagi-baginya dalam kardus atau besek yang sudah disediakan. Dan sisanya dinikmati bersama di tempat dengan piring-piring yang sudah kami siapkan sebelumnya. Minuman teh manis hangat segera dikeluarkan untuk melancarkan tenggorokan setelah menikmati hidangan sederhana. Kebersamaan yang indah dan luar biasa benar-benar kami rasakan setiap kali ada acara seperti ini.

Tahun 2010, empat tahun setelah saya dan keluarga pindah ke Serpong, kami sekeluarga merayakannya untuk putra pertama kami. Kami memesan tumpeng dari seorang sahabat yang membuka rumah makan yang cukup dikenal di Jakarta dan sekitarnya di kawasan Jakarta Barat dan beberapa cabangnya di seluruh Jakarta. Memang lain dibandingkan dengan bentuk tumpeng seperti saya dulu, namun yang terpenting adalah makna perayaannya. Kami merayakannya hanya dengan kalangan dekat dan beberapa tetangga yang kami undang untuk ke salah satu rumah makan favorit keluarga kami di dekat rumah.

Tahun 2012 ini, putra kami yang kedua juga akan memasuki usia sewindunya. Tentu kami juga sudah memersiapkan untuk perayaan yang sama dengan tumpeng juga. Hanya saja kami tidak bisa merayakan upacara sewindu kedua putera kami dengan doa bersama dan selametan seperti masa saya kecil karena para tetangga yang sudah berbeda dan gaya yang berbeda dengan masa kecil saya dulu.



[1] Tampah = nyiru, semacam nampan lebar berbentuk bulat terbuat dari anyaman bambu

[2] Uba rampe = pernik-pernik pelengkap, garnish nasi tumpeng dalam konteks ini

[3] Neka-neka = berlebihan, boros, dsb

[4] Selametan = kenduri

[5] Besek = semacam kotak terbuat dari anyaman bambu

[6] Modin = pemimpin selamatan

 

About J C

I’m just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

63 Comments to "Upacara Sewindu"

  1. J C  28 September, 2012 at 14:42

    Juwandi Ahmad: matur nuwun sudah mampir ke tulisan lama ini. Memang benar sekali…masa lalu yang seperti ini tak tergantikan kapan pun. Bahkan ketika anak-anakku merayakan ultah ke 8 mereka, suasana seperti ini tak bisa diulang…

  2. Juwandi Ahmad  28 September, 2012 at 14:35

    Unik, menarik dan sekaligus menyentuh. Masa kini hanya mungkin lebih baik, tapi tidak akan pernah lebih indah dari masa lalu. Terimaksih Mas Josh

  3. Lani  25 May, 2012 at 05:09

    BJ : lodeh KLUWIH mmg wuenaaaak…..opo meneh klathak-e……mempur (opo bhs indonesianya?) dan gurih…….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *