Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Upacara Sewindu

Wednesday, 16 May 2012

Viewed 2677 times, 4 times today | 63 Comments |

Josh Chen – Global Citizen

 

Di keluarga kami, ulangtahun ke 8 selalu diperingati secara khusus. Saya tidak tahu apakah ini adat istiadat Jawa ataukah Tionghoa Peranakan yang sudah langka dan tidak banyak orang yang mengetahuinya. Kami empat bersaudara mengalami semua perayaan ulangtahun ke 8 ini.

Seminggu sebelum ulangtahun, Papa dan Mama akan memersiapkan segala sesuatunya, terutama memesan tumpeng khusus yang untuk perayaan ini. Tumpeng untuk perayaan sewindu ini terdiri dari dua tampah[1]. Tampah pertama berisi nasi tumpeng lengkap dengan uba rampenya[2], dan tampah kedua berisi anyaman kacang panjang mentah dengan segala uba rampenya juga.  Menurut Papa dan Mama, usia delapan tahun adalah usia akil balik, adalah usia dimana seorang anak mulai memasuki jenjang kehidupan berikutnya, peralihan dari masa anak-anak memasuki masa remaja untuk menyongsong kehidupan dewasa.

Arti dan makna di balik simbolisasi tumpeng adalah:

Nasi tumpeng putih dan kuning

Bentuk dari tumpeng sendiri adalah lambang dua tangan yang rapat melakukan sembah sujud syukur kepada Sang Pencipta. Sekaligus bentuk kerucut yang melambangkan kehidupan yang semakin naik dan tinggi ke puncak (kesuksesan dan kemuliaan hidup) juga melambangkan gunung yang dipercaya sebagai awal sumber kehidupan dimana air mengalir dari atas gunung menghidupi manusia, hewan dan tumbuhan yang bermukim di lereng dan kakinya. Sementara warna putih melambangkan kesucian dan kebersihan segala sesuatu dalam kehidupan manusia. Warna kuningnya adalah lambang emas yang dimaksudkan untuk kesejahteraan.

Telur rebus dan cabai merah

Di pucuk tumpeng ditancapkan telur rebus utuh dan cabai merah. Telur rebus utuh berwarna putih melambangkan awal mula kehidupan yang putih bersih yang siap dijalani untuk menuju puncak. Cabai merah memiliki dua makna yaitu sebagai lidah api yang menerangi perjalanan hidup sekaligus perlambang ‘pedasnya’ kehidupan manusia yang tidak selalu mulus untuk menuju kesuksesan.

Ayam ingkung (utuh)
Ayam jantan yang dimasak utuh dengan bumbu kuning/kunyit dan diberi areh (kaldu santan yang kental), merupakan simbol menyembah Tuhan dengan khusuk (manekung) dengan hati yang tenang (wening). Ketenangan hati dicapai dengan mengendalikan diri dan sabar (nge”reh” rasa). Pemaknaan ini sarat dengan simbol: ayam ingkung = manekung atau khusuk, bumbu kuning = wening, tenang, areh = ngereh rasa, pengendalian diri.

Menyembelih ayam jantan yang juga disebut dengan ayam jago juga mempunyai makna menghindari sifat-sifat buruk yang dilambangkan oleh ayam jago, antara lain: sombong, angkuh, tinggi hati, merasa benar sendiri, congkak, tidak setia dan tidak perhatian kepada anak istri. Dimana ayam jantan selalu menengadahkan kepala tinggi-tinggi jika berjalan.

Ikan
Biasanya adalah ikan gurame atau lele. Ikan lele atau gurame adalah ikan sungai yang tahan hidup di air yang tidak mengalir dan di dasar sungai. Hal tersebut merupakan simbol ketabahan, keuletan dalam hidup dan sanggup hidup dalam situasi ekonomi yang paling sulit sekalipun.

Ikan Teri/Gereh Pethek
Gereh pethek atau ikan asin dari bahan ikan pethek melambangkan kebersamaan dan kerukunan dengan sesamanya dalam dunia yang luas karena dua jenis ikan ini biasanya hidup bergerombol di lautan luas.

Gudhangan/urap

Berbagai jenis sayuran yang direbus dan dibumbui dengan bumbu gudhangan atau urap. Tidak dimasak dengan cara lain, hanya direbus melambangkan kesederhanaan hidup yang tidak neka-neka[3]. Berbagai jenis sayuran seperti kangkung, bayam, tauge, kacang panjang, kluwih (sejenis sukun) dan berbagai jenis sayuran lainnya, bermakna tumbuh (berkecambah, tauge), pemikiran jauh ke depan, berpikir panjang (kacang panjang), tentram (ayem, bayam), memiliki keunggulan (linuwih, kluwih).

Makna dalam tampah kedua:

Untaian kacang panjang yang dirangkai membentuk satu wadah yang diisi berbagai jenis buah, dengan puncaknya nenas utuh. Kacang panjang bermakna harapan untuk berpikiran panjang, masa depan yang panjang (cerah), panjang umur dan berwawasan jauh. Nenas melambangkan mahkota dan juga dalam budaya Tionghoa mengandung makna keberuntungan yang terus mengalir (往往来, wang wang lai). Buah pisang yang bermakna membawa harum nama keluarga dan keharuman nama (香蕉, xiang jiao), buah jeruk yang bermakna keberhasilan (大吉大利, da ji da li). Dan juga buah-buahan lain sebagai pelengkap.

Dua tampah dan daun pisang di pinggirannya juga memiliki makna tersendiri. Masing-masing tampah melambangkan matahari dan bulan, penerangan yang menyinari kehidupan manusia sepanjang hayatnya. Daun pisang yang dibentuk segitiga dan dirangkai dengan biting/tusuk lidi dari pohon kawung melambangkan bentuk matahari dan kawung menyiratkan Sang Suwung atau Yang Maha Kuasa sebagai Pencipta Kehidupan. Dalam perkembangannya dua-dua tampah dihias semua dengan daun pisang untuk alasan estetika semata, dimana seharusnya hanya satu yang dihias.

Tepat pada hari ulangtahun, sejak pagi hari saya sudah sangat excited untuk acara malam harinya. Undangan untuk selametan[4] sudah diberitahukan secara lisan kepada para tetangga dekat, terutama kepada tokoh masyarakat dan sesepuh kampung kami. Saya masih ingat benar, di sebelah kanan rumah pak Kayat, depan rumah ada Mbah Isak, pak Amir, pak Di. Ada juga oom nDon, oom To, Mbah Wagiman (Ketua RT seumur hidup pada waktu itu), dan juga beberapa tetangga lain yang saya tidak ingat lagi nama-namanya.

Menjelang sore, tumpeng pesanan akan diantar ke rumah. Tumpeng akan diletakkan di meja tamu di rumah mungil kami. Kemudian akan dihias dengan tulisan nama dan tanggal lahir yang ditempelkan di nasi tumpengnya, juga lilin angka 8 untuk ditancapkan di atas nenas. Mama biasanya menyiapkan kardus-kardus atau besek[5] kosong yang sudah dibeli sebelumnya, untuk para tamu nanti membawa pulang tumpeng dan uba rampenya. Sebelum maghrib para tamu mulai berdatangan dengan busana khas sarung, baju longgar (lengan pendek atau panjang), peci dan bersandal jepit saja.

Di ruang tamu rumah kami yang mungil segera penuh para tetangga yang berdatangan. Kursi-kursi tamu dan beberapa meja sudah kami singkirkan digantikan dengan dua lembar tikar besar di lantai. Hanya meja tamu kecil di samping untuk meletakkan dua tampah yang berisi tumpeng dan uba rampenya. Para tetangga bercakap dengan hangat sambil menunggu acara mulai. Kemudian pak modin[6] akan mengajak yang hadir untuk bersiap-siap memulai acara. Semuanya duduk melingkar di tikar mengelilingi dua tampah tumpeng dan uba rampenya yang sudah dipindahkan dari meja ke lantai.

Acara doa segera dimulai. Pembacaan doa secara Islam yang saya tidak mengerti sama sekali terdengar mengalun di ruang tamu rumah kami. Setelah doa selesai, pak modin atau yang dituakan akan memberikan sedikit pengarahan untuk saya (atau saudara lain yang berulangtahun), tentang kebijakan hidup. Setelah semuanya selesai, potong tumpeng yang merupakan puncak acara segera dimulai. Saya dengan gembira memotong pucuk tumpeng dan dengan takzim menyerahkan potongan pertama ke Mama sebagai bentuk penghormatan kepada beliau yang mengantarkan kehidupan ke dunia, potongan kedua dihaturkan ke Papa sebagai bentuk penghormatan yang memberikan kehidupan ke dunia ini.

Setelah itu para tamu beramai-ramai memotong-motong dan membagi-baginya dalam kardus atau besek yang sudah disediakan. Dan sisanya dinikmati bersama di tempat dengan piring-piring yang sudah kami siapkan sebelumnya. Minuman teh manis hangat segera dikeluarkan untuk melancarkan tenggorokan setelah menikmati hidangan sederhana. Kebersamaan yang indah dan luar biasa benar-benar kami rasakan setiap kali ada acara seperti ini.

Tahun 2010, empat tahun setelah saya dan keluarga pindah ke Serpong, kami sekeluarga merayakannya untuk putra pertama kami. Kami memesan tumpeng dari seorang sahabat yang membuka rumah makan yang cukup dikenal di Jakarta dan sekitarnya di kawasan Jakarta Barat dan beberapa cabangnya di seluruh Jakarta. Memang lain dibandingkan dengan bentuk tumpeng seperti saya dulu, namun yang terpenting adalah makna perayaannya. Kami merayakannya hanya dengan kalangan dekat dan beberapa tetangga yang kami undang untuk ke salah satu rumah makan favorit keluarga kami di dekat rumah.

Tahun 2012 ini, putra kami yang kedua juga akan memasuki usia sewindunya. Tentu kami juga sudah memersiapkan untuk perayaan yang sama dengan tumpeng juga. Hanya saja kami tidak bisa merayakan upacara sewindu kedua putera kami dengan doa bersama dan selametan seperti masa saya kecil karena para tetangga yang sudah berbeda dan gaya yang berbeda dengan masa kecil saya dulu.



[1] Tampah = nyiru, semacam nampan lebar berbentuk bulat terbuat dari anyaman bambu

[2] Uba rampe = pernik-pernik pelengkap, garnish nasi tumpeng dalam konteks ini

[3] Neka-neka = berlebihan, boros, dsb

[4] Selametan = kenduri

[5] Besek = semacam kotak terbuat dari anyaman bambu

[6] Modin = pemimpin selamatan

 

Share This Post

Posted by Wednesday, 16 May 2012 on 08:14.

Categories: Budaya. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

63 Responses to “Upacara Sewindu”

Pages: « 7 6 5 4 [3] 2 1 »

  1. 30
    Mpiet Says:

    JC, kenangan yang pasti indaah sekali ya seneng bacanya. masa kanak2 yg bahagia memang salah satu hadiah terindah yg ada di hidup ini ya…

  2. 29
    Dj. Says:

    Dimas Joosh Chen….
    Matur Nuwun, satu informasi yang bagus, karena di keluarga kami tidak menganal ritual ini.
    Jangankan ritual sewindu ini, lha UlTah saja tidak pernah dirayakan ( maklum kami dulu tidak mampu ).
    Tapi sampai di Mainz, walau mampu, tapi memang tidak mengenal, jjadi ya tidak juga merayakannya.
    Tapi kalau nanti tidak lupa, untuk cucu tahun depan, UlTah yang ke 8 akan Dj.ingat-ingat.
    Bagaimana kalau 10 windu, apa juga dirayakan…???

    Wah kapan di kecil dirayakan dengan tumpengan….
    Mudah-mudahan saat kami ada di Jakarta, bisa turut menyaksikan…..

    Ini ada photo tumpengan, saat beli rumah, oleh kaka yang islam juga didoakan….

  3. 28
    elnino Says:

    Buto nih dialem bagus kok dicuekin sih Gimana tuh, Wik?

    Mbakyu Probo, wah bisa rebutan tenan ini. Apalagi sego gurihnya ada sambel gepengnya, waaah, nikmat banget…

    Yu Lani, urap plus gereh pethek, trus ndog godog disigar 8, hahaha… Enak tenan! Bancakan selapanan bayi..

  4. 27
    Chadra Sasadara Says:

    keluarga Kang JC ini selalu menyimpan hal-hal luar biasa. banyak “kode” toleransi yg dalam setiap momen dalam kluarga. senang sekali melihat kenduri dg melibatkan berbagai keyakinan dan budaya. terima kasih Kang JC, indah sekali

  5. 26
    Lani Says:

    EL-NANO-NANO : 11 klu aku paling seneng urab2, gereh pethek…….dan sambel goreng kentang, krecek, kapri, asat/garink…….itu yg aku sikat duluan……..wuenaaaaaak banget

  6. 25
    probo Says:

    wah gaswat…karemanku sama dengan elnino di komen 11……isa rebutan ki……nek mbukak kendhuren bareng…..

  7. 24
    probo Says:

    saya juga tahu belum lama DImas, kalau tumpeng seyogianya dibelah dulu baru dipotong ada makna khusus, tapi agak lupa untuk menjelaskan, nanti tak nanya-nanya lagi biar lebih yakin njawabnya,

  8. 23
    Lani Says:

    AKI BUTO : waaaaaaah, jebule sejak kecil hingga buto dewasa wajahnya ora berubah…..podo wae…..
    Soal ultah, aku ndak mengenal sewindu-an….cm ultah ktk usia setaon, kmd ktk usia 17 wis njur ora tau dipestakan lagi.
    Seterusnya cm diajak makan2 oleh teman2, bedanya klu ultah di indo, yg ultah bangkrut hahahah…….
    Sebaliknya sejak menetap di LN, tiap ultah malah dimanjakan bak ratu sehari, diajak makan, ditawari lagi kepingin makan apa? Msh dikado lagi……hahahah pokok-e seneng banget.
    Soal tumpeng plg seneng klu diundang kenduren, krn sll dpt besek-an…mmgnya gereh pethek itu ikan laut to? Baru tau, aku kira ikan air tawar, wis suwe ora pernah mangan gereh pethek, apakah msh ada? Plg seneng dimakan sama segomegono yum!
    Aku pernah bikin tumpeng komplit dgn uba rampene, ktk mendptkan pesanan utk ultah perkawinan teman kami, mrk pasangan bule, jd sebelum upacara makan, aku hrs pidato dulu, apa makna dibalik tumpeng, jian mrk menyimak dgn seksama……
    Nah, ttg pesanan tumpeng buat anakmu, aku tau itu tumpeng made in mana kkkkkkk………
    Yg penting biar berbeda tp kan enaknya sama to?

  9. 22
    JL Says:

    Foto opo sing nang fb kuwi blm sd… foto2 pas jaman sd mbuh nang ndi disimpen karo mbok ku hahahaha

  10. 21
    Esti Yoeswoadi Says:

    Oom JC; Hayo undang saya, pasti deh datang,hehehehehe….

Pages: « 7 6 5 4 [3] 2 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)