Aku dan Sahabat Mata (3): Happy Ending

Wesiati Setyaningsih

 

Pagi-pagi setengah enam hape saya sudah bergetar. Nomor mbak Resti, dia pasti lebih mudah ngebel daripada sms. Dia meminta saya sampai di Islamic Center Manyaran pukul setengah tujuh pagi dan dia minta taksi yang saya naiki untuk membawa dua teman juri dari Islamic Center ke Kendal sekalian. Saya oke saja. Dengan taksi saya berangkat sekalian mengantar Izza.

Sampai di Islamic Center pak Zaenal sudah menunggu. Beliau ngobrol bersama mbak In yang memang menginap di situ. Ketika berangkat, saya minta sarapan dulu. Maklum, enggak sempat sarapan. Kadang panitia lupa menawari makan. Pak Zaenal yang sedari tadi menunggu saja ternyata belum makan juga. Maklum, panitia adalahpara tuna netra juga. Agak sudah aksesnya.  Sementara para relawan sibuk mengurus pada peserta yang tuna netra untuk pemberangkatan ke Kendal. Jadi saya mesti minta kalau enggak mau kelaparan. Daripada kelaparan dan sakit, lantas tidak bisa menjalankan tugas, malah repot.

Kami bertiga, para juri ini, mendapat hikmah dengan perjalanan naik taksi ke Kendal ini. Sepanjang jalan saya jadi tahu kiprah mbak In selama ini. Dia ternyata banyak berkecimpung dalam masalah psikologi juga. Tahu banyak tentang pendidikan, child abuse, hypnoterapi dan bahkan ketika di Kendal saking keasyikan ngobrol sejak di jalan, kami lanjut ngobrol lagi menunggu dimulainya acara. Dari ngobrol itu, saya tahu kalau mbak In juga suka menganalisa karakter berdasar personality plus! Sesuatu yang sedang saya pelajari dan mulai membuka simpul-simpul kerumitan hidup saya (akan saya tulis note tentang Personality Plus nanti).

Semua seperti kebetulan. Padahal tidak ada kebetulan sehingga saya bertemu orang seperti mbak In yang nyambung dengan interest saya akhir-akhir ini. Semua ‘undangan’ saya sendiri. Saya yang tadinya sudah dikonfirm tidak jadi, akhirnya jadi juga. Mbak In bilang, orang-orang yang terlibat dalam peristiwa ini adalah orang-orang terpilih. Hm.. Bisa jadi dia benar.

Debat dimulai lagi dengan melanjutkan 3 ronde yang tersisa. Map saya hilang! Saya langsung enggak pede. Seingat saya, map itu saya bawa pulang. Kok di tas tidak ada? Meski sedih, saya usahakan untuk santai dulu. Saya ikuti ronde yang sedang berjalan. Tiba-tiba relawan yang membantu mbak In bilang, “bu, ini punya ibu?”

Hah? Kok bisa map saya di situ? Alhamdulillah. Soalnya semua catatan ada di situ. Sejak malam sebelumnya saya sudah menanyai kedua teman saya setiap kali selesai satu ronde, siapa pemenangnya. Jadi saya punya catatan pemenang tiap ronde. Maksud saya akan saya rekap kemenangan tiap peserta 5 besar ini. Dan dengan catatan itu segera tampak bahwa dari masing-masing tampil 4 kali : Elisabet sudah menang 4 kali, Arisky menang 2 kali, Ronal menang 2 kali, Endy menang sekali dan Rohmiyanto belum pernah menang. Ronde terakhir adalah Arisky dan Rohmiyanto. Dengan penampilan yang tenang dan argumen yang sistematis, Arisky kami putuskan untuk menang.

Sehingga tampak sudah, pemenang pertama adalah Elisabeth dari Jakarta. Dia berhak atas hadiah notebook dan uang sebesar 2 juta rupiah. Arisky dari Probolinggo Jatim menjadi juara kedua dengan hadiah uang sebesar 1,5 juta dan Ronal dari Bandung duduk sebagai juara ketiga dengan uang sebesar satu juta. Kami puas karena juara mewakili 3 daerah yang berbeda. Mbak In juga puas karena keinginan dia untuk ‘meninggalkan jejak yang indah’ benar-benar tercapai.

Dia menyebut saya “pahlawan kita” karena saya membuat mereka memahami debat dan membawa kami bertiga untuk membuat keputusan yang jelas dan tidak sumir. Dia trauma karena pernah suatu kali menjadi juri lomba dimana ternyata kunci soalnya memang salah dan ketika dikoreksi oleh orang tua peserta panitia mengatakan “keputusan juri tidak dapat diganggu gugat”. Itu sungguh membuat dia malu hati dan dalam lomba debat yang dia sama sekali tidak tahu awalnya ini dia takut melakukan hal yang sama.

Bersyukur akhirnya kami bisa mengambil keputusan yang jelas dan para pemenang yang ada memang layak menjadi pemenang. Tidak ada penyesalan bahwa seseorang harusnya menang tapi ternyata tidak. Waktu mengumumkan pemenang pun saya jelaskan kekuatan para pemenang itu dari yang lain. Saya berharap mereka yang belum menang bisa memperbaiki diri bisa lomba semacam ini diadakan lagi.

Banyak keajaiban tampak dalam lomba ini. Pak Zaenal yang menjadi juri semata-mata karena teman pak Basuki, waktu babak penyisihan masih bingung mau menilai bagaimana dan mengeluh, “biasanya saya tuh cuma jadi juri lomba ngaji dan adzan bu,”. Tapi kemudian dia bisa menikmati lomba dengan senang karena mulai paham bagaimana mesti menilai sebuah debat. Dia juga ikut takjub dengan kemampuan para peserta yang luar biasa meski mereka tuna netra.

Mbak In yang dari Jakarta sempat berbincang dengan Elisabet yang juga dari Jakarta. Dia terkagum-kagum bahkan sampai di jalan waktu kami pulang naik taksi bertiga lagi dari Kendal ke Manyaran karena Elisabet berprofesi sebagai pemijat. Profesi yang sama sekali tidak membuat dia mengakses informasi. Berbeda dengan Arisky yang guru SD dan Ronal yang mahasiswa. Tapi Elisabet dengan cerdik mampu mengambil case yang kuat dan konsisten dari awal sampai akhir. Bahkan kata mbak In, “kemampuan verbalnya luar biasa.” Itu benar. Saya saja terkagum-kagum dengan cara dia menyampaikan argumen. Apalagi mengingat profesi dia yang tidak membuat dia bersentuhan dengan media. Gadis cantik itu memang ajaib.

Begitulah, lomba ini memang penuh keajaiban. Sejak mula terjadinya, hingga berakhirnya. Lomba ini berawal dari ide mbak Resti ingin bikin lomba debat saja. Sudah. Padahal dia tidak tahu sama sekali debat yang standar itu seperti apa. Tapi tanpa ‘kegilaan’ dia, semua ini tidak akan ada. Tidak akan ada yang tahu ada orang seperti Elisabet. Peserta-peserta lain tidak akan tahu kalau mereka mampu berdebat seperti yang sudah mereka lakukan. Dan teman-teman saya para juri ini, tidak akan tahu bagaimana menilai sebuah lomba debat. Yang paling akhir, kami semua tidak akan bertemu, saling mengenal, saling memperkaya wacana dan bersahabat.

Demikianlah satu event penuh keajaiban ini berakhir. Dengan happy ending.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian “kesasar” menjadi guru. Mencoba mendobrak “pakem baku” proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya.

Sering dianggap “off-track” bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

10 Comments to "Aku dan Sahabat Mata (3): Happy Ending"

  1. wesiati  18 May, 2012 at 21:48

    mbak Linda. pancen rak mudeng ok.
    mas Anu : po kuat? gayane dukung barang… heseleh…

  2. anoew  18 May, 2012 at 08:35

    Kalau Wesiaty jadi ketua, aku pasti dukung. Syaratnya, jangan berat-berat.

  3. Linda Cheang  18 May, 2012 at 07:53

    Mbak Wes : japri = Jalur Pribadi, atawa Jaringan Pribadi, alias alamat e-mail’e dhewek. Masak ora mudheng, seh?

  4. wesiati  18 May, 2012 at 07:21

    makasih mas JC. saya memang biasa di luar. (di luar kotak maksudnya) hehehe…

  5. J C  17 May, 2012 at 22:54

    Luar biasa, Wesiati, benar-benar luar biasa!! muanteeeppp…

  6. wesiati  17 May, 2012 at 22:20

    linda : benar. menyenangkan tiba-tiba diterjunkan Tuhan di sebuah peristiwa ajaib seperti itu.
    meita: japri tu apa? aku ga mudeng…. inbox di fb aja gimana?

  7. Meitasari S  17 May, 2012 at 20:09

    Mb wes, japri no hape dong!

  8. Linda Cheang  17 May, 2012 at 19:27

    memang menyenangkan bisa melihat keajaiban.

  9. wesiati  17 May, 2012 at 18:29

    long week end…..!

  10. [email protected]  17 May, 2012 at 14:58

    Hari ini baltyra sepi sekali…..

    krik….
    krik….
    krik….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *