Thursday, 17 May 2012
Kang Putu
MBOK Salinah dan Mbok Sarni, atau Mbok Nah dan Mbok Ni, sesungguh benar rewang. Mereka benar-benar rewang, bukan sekadar ewang-ewang.
Dua perempuan perkasa itu memang pembantu rumah tangga kami. Mbok Nah adalah pengasuh saya sejak lahir. Ketika saya berusia sekitar lima tahun, Bapak dan Ibu ditahan di Cepu. Mereka mengajak serta adik lelaki saya. Dua kakak perempuan saya diungsikan ke Blora, ngenger pada Eyang Kakung dan Eyang Putri. Di rumah tinggal saya sendirian, ditemani Mbok Nah.
Pagi dan sore hari, Mbok Nah memasak masakan kesukaan Bapak atau Ibu. Entah dari mana dia memperoleh bahan pangan. Pagi dan sore hari pula Mbok Nah mengajak saya ke gedung bioskop (kalau tak salah ingat:) Juwita. Di sanalah, Bapak dan Ibu beserta adik ditahan bersama ratusan orang lain. Di sanalah, setiap pagi dan sore Mbok Nah dan saya mengirim ransum makanan bagi Bapak, Ibu, dan adik.
Itulah kegiatan rutin yang menjadi ritual harian yang memerihkan. Betapa tidak! Di lobi gedung bioskop, Mbok Nah dan saya diadang tentara berseragam loreng, bersenjata laras panjang, bertampang sangar. Saya selalu ketakutan, bersembunyi di balik pantat Mbok Nah.
Seorang tentara dengan kasar menerima rantang makanan dari Mbok Nah. Tentara itu membuka tiga tumpuk panci rantang, menuang sayur (apa pun sayur itu) dan lauk pauk ke sebuah tong di depan pintu yang senantiasa tertutup. Lalu, dia pun menyuntak nasi dari panci ke tong lain. Ya, ke dalam dua tong itulah segala makanan yang dikirim keluarga para tahanan diaduk dan kemudian dibagikan ke para narapidana politik di Gedung Juwita.
Pastilah masakan kesukaan Bapak dan Ibu, yang dibuat Mbok Nah, tak terlacak lagi rasa, bau, dan rupanya. Namun, setiap pagi dan sore hari, Mbok Nah selalu mengirim masakan untuk Bapak dan Ibu. “Barangkali sekitar sebulan dia lakukan itu. Tanpa jemu, tanpa keluhan,” ujar Siti Rahayu (68), ibu saya, semalam.
Sekarang, setelah hampir 40 tahun berselang, saya tetap tak tahu dari mana dan bagaimana cara Mbok Nah memperoleh bahan pangan.
Pada sepenggal perjalanan hidup keluarga kami terbuktilah bahwa Mbok Nah bukan sekadar ewang-ewang, ngrewangi, membantu. Perempuan itu adalah rewang (karib), bahkan ibu, bagi kami sekeluarga, justru ketika roda kehidupan berada di titik nadir. Dia melakukan semua itu tanpa berpikir tentang bayaran, imbalan, ganjaran, atau apa pun namanya.
Bukan Babu
Mbok Ni pembantu keluarga Eyang. Dia mengasuh Ibu dan seluruh pakde dan paklik sejak kecil hingga mereka beranak-pinak. Jam kerja tanpa batas dan imbalan sekadar untuk bertahan hidup, itulah yang dilakoni Mbok Ni sepanjang hayat.
Ketika Eyang meninggal, “secara resmi” Mbok Ni bukan lagi pembantu rumah tangga kami. Namun dia selalu hadir kapan pun, terutama pada saat keluarga kami punya gawe atau Hari Raya. Dia hadir tanpa diminta dan senantiasa soroh bahu, tanpa berharap beroleh imbalan.
Mbok Ni meninggal — sesuai dengan keinginannya — di rumah keluarga kami, di Blora. Dia meninggal pada usia tua, suatu malam tujuh tahun lalu di pangkuan saya.
Mengenang Mbok Nah dan Mbok Ni adalah mengenang perempuan-perempuan perkasa. Mereka bukan babu. Mereka sesungguh benar ibu. Merekalah perempuan yang memberikan penghidupan bukan dengan pernyataan, melainkan dengan laku perbuatan.
Boleh jadi era Mbok Nah dan Mbok Ni telah berlalu. Kini, pembantu rumah tangga (PRT) cenderung dihayati dan dipersepsikan sebagai profesi. PRT adalah pekerjaan dengan jam kerja yang seharusnya tak lagi tidak terbatas serta beroleh insentif yang jelas. Tak mengherankan bila kalangan pekerja, yang kebanyakan perempuan itu, menyebut diri bukan lagi pembantu pembantu rumah tangga. Kini, bagi mereka, PRT adalah singkatan dari pekerja rumah tangga.
Mereka mempunyai organisasi, perkumpulan, serikat pekerja. Di Yogyakarta, misalnya, ada Serikat PRT Tunas Mulia. Mereka pun menerbitkan Suara Serikat PRT, media penguatan dan pemberdayaan pekerja rumah tangga. Ada pula sekolah pekerja rumah tangga, yang memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan sebagai pekerja rumah tangga.
Kini tak ada lagi babu, buroh, rewang, bedinde, batur, kacung, jongos. Tidak seperti dulu, ketika Mbok Nah, Mbok Ni, atau Maria Magdalena Pariyem tak pernah mengenal sekolah. Namun benarkah zaman telah berubah, ketika PRT pun telah mempunyai sekolah? Berubah pulakah harkat dan martabat mereka, menjadi lebih baik, menjadi lebih terhormat?

Bukankah kini kita masih kerap menyaksikan bahwa ketika Pariyem atau Inem “si pelayan seksi” dijadikan istri oleh pria (anak atau sanak majikan) berarti sinengkakake ing ngaluhur, bak kere munggah bale? Benarkah era para babu telah berakhir? Era yang tabu bagi siapa pun untuk memperlakukan PRT selalu sebagai objek pelengkap penderita: bisa diperkosa, tanpa jaminan keselamatan dan kesehatan, tanpa kejelasan jam kerja? Jika benar, saya yakin, Mbok Nah dan Mbok Ni pun bakal tersenyum lega. Meski, dulu, mereka tak pernah memperoleh perlakuan yang sama.
Minggu, 27 Februari 2005
May 18th, 2012 at 08:15
Pembantu rumah tangga, kan, masih manusia juga. Tinggal manusianya saja mau bagaimana?
May 17th, 2012 at 22:52
Kang Putu, orangtua almarhum selalu mengatakan “nguwongke uwong”
May 17th, 2012 at 14:57
lho..
jam 3:57 PM… blom ada yang komeng…..
masih no 1?
wheew