Kecoa Merah Jambu

El Hida

 

Namaku Rudi,

“Oo…”

Aku tinggal di istanaku seorang diri. Istana yang kubuat dari kardus bekas, di dekat taman pemakaman daerah terpinggir kota Anu.

“Istana kardus?”

Saudaraku entah di mana, tak ada di daerah manapun. Aku bahkan lupa dari mana asalku dulu, sebelum aku tersadar dari sakit jiwaku dan berhenti jadi gelandangan. Ah, sungguh hidup terasa punya sendiri. Orang lain hanya sibuk untuk dirinya sendiri. Begitupun aku. Prinsip hidupku saat ini dan selamanya adalah, pantang menyusahkan orang lain, walaupun aku hanya seorang diri. Sungguh ringan hidup ini aku rasa. Tak harus kutanggung hidup sisapapun kecuali diriku sendiri. Makan sendiri. Minum sendiri. Tidur sendiri. Akupun sibuk buat diriku sendiri.

“Si Udin?”

Ah, si Udin hanya orang gak penting yang hanya jadi teman kalau aku lagi puya uang saja. Jadi, saat aku makan di warteg dekat belokan tempat para ojeger bertengger, dia ikut makan dan minta aku bayarin.

“Enak sekali!!!”

Memang. Tapi biarlah. Boleh saja orang lain merepotkanku, tapi aku jangan sampai merepotkan orang lain. Walau kebiasaan orang memang saling merepotkan antara satu sama-lain, maka aku keluar dari kebiasaan itu. Aku ingin menjadi diriku sendiri.

“Berarti kau merepotkan sendiri dong?”

Kau salah. Yang namanya untuk keperluan diri sendiri, baik itu pencaharian untuk nafkah, sandang-pangan dan sebagainya, itu bukan merepotkan diri sendiri. Itu kan sudah jadi kewajiban untuk menghidupi diri sendiri.

“Oooh…”

Diam ah. Aku sedang sibuk. Kau jangan ganggu. Aku kan gak pernah ganggu kamu.

“Sibuk apa?”

Mencari kecoa.

“Kecoa?”

Ya, aku sedang sibuk mencari kecoa. Dia telah menghabiskan rotiku yang kubeli tadi malam. Padahal tuh roti mau aku makan buat sarapan. Gara-gara tuh kecoa, aku jadi gak brekpes.

“Apa?”

Jangan ngeledek. Sekali-kali pakai bahasa orang luar, gak apa-apa dong. Sudah, kau diam saja kenapa? Jangan jadi seperti kecoa. Memakan hak orang lain. Padahal orang itu sudah susah payah untuk bisa mendapatkan makanan. Eh dia makan tanpa dosa. Itu kan dolim.

“Dzalim…”

Berisik. Aku harus mendapatkan kecoa itu. Aku akan memberinya pelajaran. Akan kuhajar dia. Kuberi banyak jurus dia. Pukulan matahari. Tendangan tanpa bayangan. Jurus kunyuk melempar buah. Jurus kuda liar.

“Jurus apaan tuh…?

Kamu diam saja, apa!!! Pokoknya akan kuhabisi dia. Lihat aja entar. Tertangkap, berarti mampus!

Namaku Rudi,

“Kan tadi sudah ngenalin diri…”

Gak apa-apa dong, kan biar aku dikenal banyak orang. Siapa sih yang gak mau terkenal. Banyak cara dilakuakan orang untuk bisa terkenal. Dari mulai ikut lomba nyanyi idol-idolan, mempertunjukkan kemampuan yang lebih dari orang. Banyak. Makan beling, makan silet, makan ular, segalanya dimakan. Ah, tapi itu biasa. Aku ingin beda dari yang lain. aku ingin terkenal dengan caraku sendiri. Dengan menangkap kecoa yang makan rotiku tadi malam. Aku pasti jadi terkenal.

“Yakin?”

Ya. Karena kecoa yang ingin kutangkap juga beda dari kecoa yang lain.

“Beda apanya….”

Ya beda. Kakinya beda. Wajahnya beda. Sayapnya beda. Terutama warnannya. Dia berwarna merah jambu.

“Hah, merah jaaambu.”

Iya, merah jambu. Beda kan? Kecoa yang mencuri rotiku itu memang beda dari yang lain. Dia, mungkin dilahirkan pas hari balentin.

“Valentine….”

Nah iya, itu. Mungkin karena itu warnanya jadi ping, alias merah jambu. Hmm, aku yakin, kalau aku bisa menangkap kecoa itu, akan banyak wartawan memburuku.

“Kalau gak ada wartawan yang ngeburu?”

Gak mungkin, wartawan kan kerjaannya mencari berita yang aneh-aneh. Supaya bisa hedlen.

“Headline…”

Kau lihat saja ini. Telah kubawa segala jenis perkakas dalam rangka menyukseskan pemburuanku ini. Parang, palu, arit, tombak, panah, golok, pisau cukur, telah aku siapkan. Hanya saja, aku tak punya pestol. Duh, kalau saja aku punya pestol kayak pak Polisi di jalan raya, pasti akan sangat lancar pemburuanku ini. Hahaha, tapi ini semua aku fikir sudah cukup.

“Kalau kamu mau, aku punya pistol. Nanti aku pinjamkan.”

Tidak usah, jangan repot-repot. Merepotkanmu adalah salah satu pantanganku. Kalau kau unya pestol, kau pakai saja sendiri. Untuk apa kek. Darimana kamu punya pestol? Kalau aku tahu tempatnya, aku juga mau beli.

“Boleh nyuri.”

Yah, kamu bisa dipidanakan nanti. Kamu bakal kena pasal 378, tentang pencurian. Kamu bisa dipenjara.

“Aku tidak takut.”

Koq tak takut? Di penjara itu menyeramkan.

“Tapi juga menyenangkan.”

Sejak kapan dipenjara menyenangkan. Jangan omdong kamu. Berbicara itu harus sesuai pakta.

“Fakta…”

Grrrrrrr. Sebenarnya kamu ini siapa? Dari tadi koq nimpalin aku terus. Padahal aku tak mengenalmu. Siapa kamu? Suaramu baru aku kenali. Tak seperti si Udin, si Kusmin, si Bambang. Kau bukan mereka. Lalu siapa kamu?

“Aku adalah…”

Hayo ngaku, siapa kamu. Dimana kamu? Muncullah!! Jangan sembunyi. Keluar kalau berani. Lawan aku!!

“Aku Kecoa.”

Kecoa? Jangan ngaku-ngaku kamu.

“Aku adalah kecoa yang kau cari.”

(Tiba-tiba seekor kecoa berwarna merah jambu, muncul depan mata Rudi. Membawa pistol dan berpakaian rapi)

Ternyata benar, kamu kecoa yang mengambil rotiku tadi malam. Kamu harus bertanggung jawab. Akan kutangkap kamu, dan akan kuhabisi. Menyerahlah, dan serahkan pestolmu itu. Itu pestol kan?darimana kau dapat itu!?

“Dari atasanku. Aku polisi.’

Polisi kecoa? Jangan bercanda kamu. Aku serius. Akan kuhabisi kamu. Rasakan ini!!! Ciaaaaaaaaaaaatttt!!!!!!

“DORRR!!!”

Elhida, 040611

 

11 Comments to "Kecoa Merah Jambu"

  1. el hida  19 May, 2012 at 09:14

    tidak harus ngakak, koq. sumpah !!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.