Thursday, 17 May 2012
Meitasari S
Ini adalah statusku di sebuah jejaring sosial, saat aku merasa terbanting oleh idealisme yang tak dapat aku penuhi. Beruntung aku selalu mempunyai sahabat-sahabat yang baik, yang selalu menjadi malaikat penolong yang dikirimkan Tuhan untukku.
Celoteh dan komen-komen sederhana, sungguh mampu membuat bibir ini tersungging, dan hati ini menertawakan kekerdilan diri serta kecengengan yang seharusnya tak kulakukan. Kata para bijak,
“Dalam kelemahanku nyatalah kekuatanNYA.’
Dan memang demikianlah adanya. Dalam ketakberdayaan serta keterbatasanku sebagai manusia yang seringkali merasa super, mampu melakukan segalanya, dan ingin segala sesuatu sempurna, aku justru merasa lemah dan kehilangan semangat.

Sudah dua bulan ini, aku tak mempunyai pembantu. Setelah dia, yang 20 tahun mengabdi pada keluargaku menemukan belahan hatinya dan memutuskan untuk menikah. Hal ini dibarengi, asisten pengajarku juga mendapat pekerjaan yang lebih baik. Bukan cuma satu orang, tapi dua sekaligus.
Jadilah aku berusaha tampil sebagai seorang super woman. Aku menjanjikan pada para muridku bahwa aku akan tetap mendampingi mereka dengan berbagai persyaratan ini itu, antara lain mereka harus membuat janji dulu denganku, bla bla bla.
Bukan cuma itu. Aku juga menolak menggunakan mesin cuci untuk meringankan pekerjaan rumah, karena aku anggap mesin pintar itu cuma sekedar mesin penggiling, sedangkan jasa laundry aku anggap jorok, tidak bisa menjamin kesterilan dlsb.
Bisa dibayangkan, aku berangkat kerja pukul 7 pagi, pulang dan tiba di rumah pukul 5 sore.
Di rumah, sudah menunggu murid-muridku. Mereka belajar hingga pukul 7 malam. Lanjut jika ada yang meminta les di rumah aku langsung meluncur ke rumah mereka hingga pukul 20an. Tiba di rumah, di hari-hari tertentu rumahku dipakai untuk latihan paduan suara hingga pukul 22.
Sungguh kadang aku merasa tenaga dan pikiranku terkuras. Sebetulnya hal ini tak terlalu menjadi beban, jika saja asisten di tempat usahaku yang satu lagi tak bermasalah. Sudah 2 minggu ini orang tuanya opname. Tentu saja para orang tua itu mengeluh. Hal inilah yang membuat semangatku tercecer. Idealismeku, untuk komitmen yang telah kujanjikan serasa kuabaikan. Aku sungguh kecewa pada diriku sendiri yang tak mampu memberikan pelayanan yang terbaik.
Dalam keputus-asaanku, aku menulis status tersebut di atas. Pak Handoko, motivator dan inspiratorku memberi komen sederhana yang membuatku terperangah.
“Tema bagus untuk jadi tulisan, besok jadi ya!” tulis Pak Handoko dalam komennya.
“Jiah, hadhoh lha wong ini aja sendang nglokro kok malah suruh nulis,” begitu balasku.
“Mosok, orang hebat bernama Nur (Demikian teman-teman Baltyra meledekku) kok mau hanya jadi pengganti si mbak. Lha sejak si mbak nikah kok gak pernah menulis. Saya pikir cukup puas jadi sulihnya.”
Komen sederhana penuh motivasi ini membuatku tersenyum dan menertawakan diriku sendiri. Betapa bodohnya aku yang begitu cengeng dan mengasihani diriku sendiri. Aku bersyukur mempunyai teman-teman dan sahabat-sahabat yang selalu menghiburku. Tuhan selalu mengirimkan malaikat penolongku.
Dalam ketidak berdayaanku, justru aku menemukan sesuatu yang indah : KekuatanNya yang luar biasa dan maha dahsyat. Indah sekali rasanya, menyadari betapa aku selalu ditopangNya, dihiburNya.
Senyum kecil yang tersungging di bibirku ternyata mampu mengubah dan mencerahkan pikiranku. Aku mulai menyusun rencana-rencana yang aku harap bisa berjalan dengan baik. Aku menyadari bahwa aku tak sempurna, tapi aku telah berusaha untuk memegang komitmen di tengah segala keterbatasanku.
Terimakasih untuk sahabat-sahabatku yang telah memberi semangat, yang meminjamkan bahu untuk sekedar bersandar. Aku bahagia memiliki kalian.
“That’s friends are for”
Semarang, 24 April 2012
May 18th, 2012 at 13:37
Kak Meita, temanya hampir mirip ya dengan tulisanku? Para sahabat selalu dikirim tepat waktu oleh Tuhan dalam suka duka kita ^_^
Yang sederhana terkadang memiliki jawaban penuh makna. Aku juga telah merasakannya, seperti sebuah keajaiban kecil.
May 18th, 2012 at 12:20
Lho? Jadi awalnya gara-gara pak Hand tercecer di komen status pesbukmu? Woalah lain kali hati-hati ya, biar gk tercecer lagi. Kasihan pak Handoko..
May 18th, 2012 at 10:35
Makanya lain hari hati-hati supaya semangatnya gak tercecer.
May 18th, 2012 at 09:54
Yu Lani, ya betul. Smua itu tgantung kebiasaan aja. Buat yg di LN pasti bilang bgtu. Tp di indo pasti kalo di tawarin mrk lbh suka pny pembantu. Krn dulu kan cr pembantu mudah n baik2.
Tp skrg ini trend cenderung berubah. Pembantu skrg bnyk maunya. Mgkn nantinya akan spt di LN .,
anyway mtrnwn yu …
May 18th, 2012 at 09:48
JC, trus kerjaan e nggoleke juragan e duwit yo? Ha ha ha
May 18th, 2012 at 02:43
MEITA : tuh aki buto nglamar arep dadi ajudan keluargamu………….piyeeeeeee? kuat nggaji buto opo ora???? jgn2 rumahmu jadi ambrolllllllllll…………brodollllllllll……….wakakakak
May 18th, 2012 at 02:42
MEITA : tuh dibaca komentar kakang DJ……..semuanya klu dikerjakan gotong royong pasti BISA……aku yakin yg menetap di LN semuanya dikerjakan sendiri, krn mana kuat nggaji PRT??????
lagian dibantu dgn mesin lbh enak, drpd mesin yg bensinnya sego wakakakak……….
aku sdh merasakan dua2nya, dgn adanya PRT ktk msh di Indonesia dan sejak menetap di LN semua dikerjakan sendiri……diatur sendiri…….dan tetep bisa……..
krn klu capai ya dikerjakan lain kali kan msh ada hari…….cm sdh ndak pernah setrika…………krn baju kebanyakan tanpa di setrika keluar dr dryer udah licin……….
May 17th, 2012 at 22:59
Aku yang nglamar jadi ajudan keluargamu piye?
May 17th, 2012 at 21:15
Mb Heni, btul mb. Mgkn itu mslh kebiasaan.
Hampir seluruh hdup sy bersama pembantu, makanya adaptasinya jg susah. Skrg sdh agak normal.
Tx smangatnya ya mb henie
May 17th, 2012 at 21:01
Meita, bisa kok nggak pakai asisten RT, walaupun capek tapi hati lebih lega. Itu menurut cerita adik yang di Indonesia. Kalau di Jerman nggak ada asisten RT, semua dikerjakan sendiri seperti kata Dj. Tetap masih ada waktu ketemu teman, untuk hobby, dll. Semangat ya