Catatan Usang Diariku: 23 September 1999

Dwi Klik Santosa

 

KETIKA ITU 23 SEPTEMBER 1999. Seperti biasanya, karena tugas sebagai wartawan muda yang penuh gejolak, kembali hadir aku di jalan memonitor aksi kekerasan. Kali ini bukan kejadian biasa. Sangat mengenangkan. Karena nyaris maut hendak merenggutku.

Peristiwa terjadi di Jalan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat. Di bibir sebelah kiri Jalan Sudirman, saat berlindung dalam keadaan tidak tenang.

Ya, Semanggi 2 mengingatkan kembali akan kejadian Semanggi 1. Kembali perang antara mahasiswa dan tentara yang membawa kematian empat nyawa. Tiga orang mahasiswa dan satu anak STM. Semanggi 2 nyaris menjadi lanjutan Semanggi 1. Meski dikabarkan tidak ada korban nyawa. Namun korban pun tak terhitung berjatuhan. Pada kenyataannya, itulah yang kulihat sendiri di tempat kejadian.

Kebrutalan tentara tak bermata lagi. Sadis dan lebih kejam dari skenario-skenario sebelumnya. Begitulah, yang ingin kuceritakan berkaitan rekat dengan peristiwa sial menimpaku.

Tertandai pukul 21.48. Aku tahu, gema revolusi mahasiswa ribuan jumlahnya di seputar Semanggi itu harus dihentikan oleh aparat. Feelingku kuat seperti berkata, korban akan berjatuhan lagi sebagai akibatnya. Maka aku pun tergerak untuk mencari sebuah klausul sebab musabab.

Mengikuti prosesi awal dari siang sampai malam, banyak sekali data kukumpulkan. Keterlibatan PRD, dan aksi gerakan mahasiswa radikal lainnya menjadikan semakin runcing saja gerakan anti militer. Proses yang berjalan, aksi tegang berubah menjadi perang fisik antara militer dengan mahasiswa plus massa.

Peluru-peluru karet dan tembakan-tembakan gas air mata mendesak para demonstran ini untuk mundur atau nekad dengan tubuh membengkak. Begitupun denganku, karena aku memastikan diri untuk maju, memperjelas perkembangan. Resikopun rela kutempuh.

Aku yang biasanya jeli memprediksi kemungkinan, kali ini tak berkutik menghadapi naas. Dua kali dalam satu hari itu, lontaran gas pedas cabai rawit menganiaya raga. Sewaktu berkonsentrasi mengikuti penggulingan mobil KOWAD itu, jadi terlena aku, tidak waspada akan datangnya celaka. Sebuah lontaran bom gas air mata menumbukku dari belakang. Pedas dan panas menjalari tubuhku. Tidak parah pedih mencelakai. Sedikit linu dan nyeri.

Dibantu beberapa mahasiswa dengan polesan odol dan kain basah, sakit ini berangsur-angsur hilang. Musibah ini bukan penghalang yang membuat jera aktivitasku. Kembali aku mengumpulkan data.

Selang tak berapa lama, kembali karena nasib apes, barangkali, sebuah bom gas air mata tak terduga meledak tepat dimukaku. Kali ini agak parah. Panas sekali menjalari seluruh permukaan wajah.

Setengah jam lebih, setelah dirawat para mahasiswa dan diolesi odol, rasa sakit itu mereda. Ya, … beberapa jam dengan dua ledakan bom menerpa tubuh.

Ending naas adalah ketika kesalahan telak kembali kulakukan.

Semakin malam, semakin banyak saja massa berdatangan di lingkar Semanggi membentuk barisan panjang ke arah Timur di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman. Karena letihku, aku bergerak mundur berniat istirahat. Karena lapar pula, ingin aku memesan makanan pada penjual nasi goreng yang terlihat di halte depan Bendungan Hilir.

Aku mendatangi penjual nasgor itu. Ternyata harus ngantri dulu. Karena banyak pula pemesannya. Saat menunggu giliran, terpana aku dengan figur sosok seorang cewek di depanku. Seraut wajah mirip gadis teman sekolahku dulu semasa SMP dan SMA. Aku tertegun lama menyapu wajahnya.

Pada sosok gadis beralmamater biru itu, persis senampaknya dengan teman masa remajaku dulu itu. Ya, ketika dia dicandai Pak Penjual nasgor itu, kemerah-merahan pipinya menahan malu.

Detik demi detik situasi berubah. Chaos tetap chaos. Keadaan yang kuperkirakan damai sekonyong-konyong bergejolak. Rentetan panjang suara senapan dari arah barat, membuyarkan massa yang lantas semerabut saling mendahului menghindari babatan tentara yang menyapu dengan barikade rapat.

Aku sempat memperhatikan arus itu. Tukang nasi goreng pun buru-buru mendorongkan gerobaknya. Motor, bajaj dan semua yang ada di ruas itu tunjang palang menyelamatkan diri. Cuma, anehnya cewek di depanku ini termangu bloon. Nasi goreng pesanannya memang buru-buru terbawa kabur bersama kekalutan Pak Penjual Nasgor. Entah itu karena apa, yang jelas dalam keadaan seperti itu siapapun harus buru-buru beranjak meninggalkan area siaga satu. Sebab bila tidak beringsut, tentara yang tak berhati lagi seperti tiba-tiba saja menjilma monster seram. Cewek, cowok, mahasiswa, penjual dan siapa pun akan disapunya tanpa pilih-pilih.

Aku menghitung langkah. 20 langkah kaki militer dari jarakku. Dari jarak sependek itu aku perkirakan masih bisa berlari secepat mungkin menghindar dari sapuan tanpa ampun tentara. Cuma, gadis yang berdiri di depanku itu, berada pada 16 langkah dari laju tentara. Kenapa tidak segera beranjak? Wajahnya panik. Kelihatanya dia bingung.

Ya, Tuhan. Cewek ini dalam posisi celaka! Di hitungan langkah ke 10, buru-buru instingku menyambar tangannya. Mengajaknya berlari dan berlari mencari tempat aman.

Saat itu pada waktu yang kritis — tentara yang mengeluarkan tembakan-tembakan dan pengrusakan tempat-tempat yang dipikir sebagai tempat berlindung mahasiswa — aku bermain pikiran. Menebak-nebak kemungkinan. Maka, sebat kugandeng tangan cewek itu sembari berpikir mencari tempat berlindung yang aman.
Kami berlari ke arah Jalan Pasar Benhil. Aku terkejut. Di tempat itu ternyata telah sepi. Orang-orang sudah jauh berlari dan berlindung. Aku melirik tempat yang kuprediksi tak tersentuh libasan tentara. Di pinggir jalan terdapat rumah-rumah sepertinya warung kelontong. Berjajar tiga. Setiap jajar di antaranya terdapat celah sempit. Kugandeng mahasiswi itu untuk berlindung di situ. Aku berkeyakinan kuat, tentara tak akan melakukan sweeping masuk ke dalam. Soalnya pengalaman peristiwa Semanggi 1 dulu, memang penyapuan tak sampai masuk ke dalam. Cuma sepanjang ruas jalan besar saja.
Di dalam bilik sempit yang terjepit itu, tiba-tiba kekhawatiran muncul. Bagaimana kalau tentara nekad memasuki sampai ke lorong. Aku merasakan kemarahan yang amat sangat pada peristiwa kali ini. Aku memberanikan diri melongok ke luar. Benar! Dengan kemarahan luar biasa, serdadu-serdadu itu berteriak, “habisi anjing-anjing itu!”

Dan seng-seng penutup warung itupun menjadi sasaran kemarahannya. Hatiku kalut dan tak tenteram. Tanpa pikir panjang dalam jarak pendek tersebut aku menghentak agar cewek itu segera kabur berlari. Untung cewek itu segera ambil keputusan untuk berlari dan berlari. Aku lega dia selamat. Kupastikan tentara tak menjangkaunya.

Aku sedikit berpikir lambat. Tentu aku ingin selamat pula. Tetapi ketika lontaran niat itu baru saja keluar dari benak. Ketika kepalaku baru saja tersembul keluar untuk meyakinkan, tentara sudah menghampiriku. Dengan refleks, kuacungkan kartu pers ke atas dan berteriak, “saya pers, Pak.”

Baru satu kalimat keluar. Sekonyong-konyong popor laras senapan keras mendarat telak di kepala bagian kanan. Aku terjerembab. Darah muncrat melumuri seluruh permukaan wajah dan kepala.

Sepatu-sepatu keras itu telah mendarat pula menginjak-injak kaki sebelah kiri, lalu dada kanan, dan tangan kiri yang terlentang.

Tangan kananku masih memegang tape recorder yang masih ku-on kan. Dalam keadaan limbung, aku terus berteriak. “Saya Pers, Pak! … Saya wartawan, Pak!”. Berulang kali.

Tiba-tiba ada yang menarik kartu pers dari belakang hingga talinya terputus. Aku sadar benda itu senjataku untuk membuktikan bahwa aku wartawan yang tak boleh dilibatkan sebagai obyek kekerasan, secara hukum. Susah payah berusaha aku mencari lepasnya benda itu.
Tapi satu tendangan di bagian perut, mempelantingkanku. Dalam keadaan sakit luar biasa serta pandangan kabur karena tertutup darah, aku melihat seorang militer berpakaian lain (mungkin komandannya).

Spontanitas aku merangkul dia. Lantas berteriak, “lindungi saya, Pak. Saya wartawan.” Sambil masih terus kurangkul tubuhnya. Dalam keadaan begitupun beberapa tendangan dan pukulan rotan, beberapa kali menerpa tubuh dan kepala.

Meski Pak Komandan sudah menerangkan, “jangan, jangan, ini wartawan!”

Satu tendangan dari arah belakang membetot pelukanku dari tubuh komandan itu. Dengan tubuh terjerembab, aku terus saja teriak, “Saya Pers, Pak”.

“Anjing, luh. Mana kartu persnya.”

Satu tendangan ke arah perut, mendekatkan posisiku merapat ke diri Pak Komandan. Lalu aku kembali meminta perlindungan ke dia.

“Kartu pers saya lepas, Pak. Tolong lindungi Saya, Pak.”
Aku kembali mengekap tubuhnya. Ada seorang aparat yang merogoh saku kananku yang berisi dompet –berisikan kartu nama, kartu pegawai, struk-struk, dan beberapa uang dan ATM.

Aparat ini berusaha menghilangkan semua identitasku. Sehingga ia berhak menganiayaku. Sebab aku dikiranya mahasiswa, musuh mereka. — Dan memang waktu itu aku masih berstatus mahasiswa. Memang sih, jarang kuliah. Gentayangan di ibukota, berstatus apa saja. Aktivis, wartawan, guru anak-anak jalanan. Begitulah … — Sambil terus mengekap Pak Komandan, aku pasrah terhadap guliran nasib.

Ada rasa aman sesaat dalam pelukan Pak Komandan. Namun, salah seorang aparat masih melihat benda yang kugenggam di tangan kananku. Dan dia menanyakan hal itu. “Ini apa?”

Aku menjawab sekenanya. “Ini tape recorder saya.”
Serta merta sebuah pukulan rotan yang keras mementahkan tanganku. Tape jatuh dan hancur. Dalam keadaan seperti itu, aku pelorotkan dekapanku pada tubuh Pak Komandan, untuk menjangkau jatuhnya tape. Sebab waktu itu aku sudah tak punya lagi identitas pers. Sedangkan saat itu aku terperangkap di tengah kubangan aparat-aparat yang marah. Aku tidak bisa memastikan lagi dari kalangan mana, TNI dari mana, sebab pandangan mata sudah kabur karena tertutup darah. Dan rasa nyeri pelan-pelan membuatku demam, sakit tak terperikan.

Aku merasa sedikit lega ketika bangkai tape recorder bertuliskan Tabloid OPINI kutemukan kembali. Kaset di dalamnya sudah terlepas. Tutup mekaniknya pun terlepas. Segera tape itu kumasukkan ke dalam saku rompi kanan.

Pak Komandan memberikan perlindungan utuh. Sudah tidak ada pukulan atau gebugan lagi. Lantas Pak Komandan menyuruhku berlari dan melompat ke samping celah-celah sempit tempat dimana tadi aku sembunyi. Aku ikuti perintahnya. Tapi ketika aku longok mengikuti telunjuknya. Demi Tuhan, tak mungkin aku melakukan perintahnya. Sebab di pinggir jalan itu dirintangi kawat berduri dan sebelahnya terdapat tumbuhan berduri. Gilanya, di sebelahnya sebuah parit lebar dan dalam menganga.

Tidak mungkin aku menuruti perintah itu. Dan gawatnya lagi, dari arah depan sebarisan tentara masih saja mengamuk mengarahkan senapan-senapannya ke depan. Tidak mungkin aku menuruti perintah Pak Komandan ini. Aku berkata ke dia. “Saya tidak bisa lakukan, Pak. Tolong lindungi saya!”

Pak Komandan melongok ke samping pula. Ia mengerti maksudku. Ia lantas menenteng aku ke depan melewati sederetan tentara. Serdadu-serdadu itu masih terus saja mengumpatiku dengan sebutan anjing.

Sampai di bibir Jalan Sudirman, aku dilepas Pak Komandan dengan bentakan keras dan disuruhnya lari. Tapi tak kalah terkejutnya aku, ternyata di sebelah kanan — jalan ke arah Atma Jaya — sudah berderet pasukan tentara membuat barikade.

Aku dicekam bingung, haruskah berlari? Aku pandangi muka Pak Komandan dengan muka kabur. Tapi lekas dia membentakku, “lari!”

Dalam keadaan terhuyung-huyung, darah membasahi muka, kaki ngilu, dan seluruh badan nyeri, dengan sisa-sisa tenaga aku beranikan diri berlari ke arah Barat.
Tertolong. Aku melihat dua wartawan elektronik. Kalau tidak salah pandang, aku melihatnya ada tulisan Indosiar. Secepatnya aku menghampiri mereka. Dan lantas aku rangkul tubuh kameraman yang masih memegang kamera, sambil berharap ke dia.

“Tolong lindungi saya, Mas!”

Tapi dia melepaskan pelukanku. Dia kira aku seorang mahasiswa. Aku menjelaskan dengan terbata-bata. “Aku wartawan, Mas.”

Dia bilang, “Mana kartu persmu?”

Aku menjelaskan. “Semua kartuku dirampas Mas.”

Fotoku (rompi biru) termuat di BERITA BUANA, 24 September 1999 di halaman 1

Aku teringat satu-satunya bukti adalah tape recorder bertuliskan stiker OPINI yang rusak. Kukeluarkan dengan susah payah bukti tersebut dari saku kanan.

Aku memahami perlakuan wartawan elite ini. Sebab tak sembarangan dia bertindak dalam situasi genting seperti itu. Andai saja ketahuan dia melindungi mahasiswa pasti akan terkena dampaknya pula oleh sapuan militer. Bah!
Lalu orang ini memelukku di sebelah kiri, sambil tangan kanannya memegang kamera. Aku nyaris pingsan. Tapi aku bersikeras harus tetap tersadar.

Mas Indosiar itu terus menentengku menembus barisan tentara di depan. Kemudian aku diserahkan kepada Tim PMI. Aku dirawat di dalam sebuah gedung. Dan dibawa ke rumah sakit Cipto Mangun Kusumo, bersama dua pasien, orang dewasa yang kepalanya berlumuran darah, sedang yang satunya sudah tak sadarkan diri karena mukanya hancur.

Begitulah kronologi naas menimpaku. Barangkali ini sebuah lakon yang harus kujalani. Aku bukan orang lemah. Tentu saja. Aku selalu berdoa untuk itu. Meski demikian rupa luka kuderita, tak berniat aku cengeng dan menghiba. Besok harinya ketika terbangun dari tidur, meski dengan kenyerian yang luar biasa, keluar rumah aku untuk bekerja kembali. Wawancara dengan berbagai sumber dan membuat laporan. Sebab aku wartawan yang baik. Bukan sejenis picisan dan wartawan jejadian. Meski, gaji kudapatkan tak seberapa. Aku setia pada pilihanku.

Banyak temanku tak terima karena kekejian itu menimpaku. Kantor tempatku bekerja saja tak memberi perlindungan apa-apa. KOMNAS HAM akan membela kasusku. Aku hanya diam dan bergeming dari desakan teman-teman itu untuk banding ke pengadilan. Biarlah. Aku tak dendam karena peristiwa naas yang barusan kualami. Bukan karena takut atau lemah. Bukan!

Aku mempunyai saudara dan famili seorang tentara dan polisi. Mbak Kusmi, istri Pak Imam yang polisi itu pernah berkisah kepadaku, betapa kurangnya fasilitas dan pendapatan yang diterima anggota TNI, akan tetapi sebegitu berat tugas yang diembannya sehari-hari. Maka, bilasaja ada cerita tentang kebobrokan polisi, bukan berarti semua polisi seperti itu, bukan? Nyatanya, kakakku itu adalah polisi yang baik.

Ya, karena aku rajin mencari data selama kejadian Semanggi 2 itu berlangsung, jadi tahu dan bisa memaklumi kemarahan para aparat. Ya, begitulah, kadang para demonstran bersikap tak beda dengan preman pasar. Kata-katanya pedas dan sarkas. Polisi halnya pula kita. Sama-sama manusia. Seperti karyawan saja, mereka itu. Terikat perintah dan harus taat pada komando pimpinan. Namun, ia toh, manusia yang sewajarnya, tak beda kita. Merasa sakit bila dihina dan direndahkan. Dan begitulah, ketika mendapatkan peluangnya, pelampiasan itu …. sedemikian itu.

 

9 Comments to "Catatan Usang Diariku: 23 September 1999"

  1. toto_toell  26 December, 2019 at 14:29

    salam mas Dwi ..
    kyknya kt satu angkatan .. saya jg waktu itu mhs yg merangkap jd wartawan di slh satu media online (yg msh top sampai kini)
    trims atas sharingnya … saya saja blum sempat membuat cerita2 yg saya alami waktu itu (pdhl sampai skrg msh jadi wartawan med elektronik)..
    semoga tak lama lagi saya menuangkannya dalam tulisan blog prb ..
    salam…

  2. Dewi Aichi  21 May, 2012 at 16:53

    Mas Dwi…tentu ini pengalaman mas Dwi yang luar biasa, menakutkan…karena saat itu, memang benar benar kacau, tapi sungguh…mas Dwi tak ada perasaan sakit hati kepada mereka yang hanya menjalankan tugas…..

  3. Evi Irons  21 May, 2012 at 10:43

    Saya bacanya jadi deg-deggan, kantorku dulu di depannya bundaran HI , untungnya kantornya pindah kalau tidak pasti saya menyaksikannya berbagai tragedi Dan kemungkinan gak bisa masuk kerja. Tapi di kantor yg baru saya juga melihat mahasiswa dikejar-kejar tentara.

  4. J C  21 May, 2012 at 09:20

    Dwi Klik Santosa, kenangan kejadian sepanjang 1998-1999 memang mengerikan. Terima kasih sudah berbagi…

  5. silvia  21 May, 2012 at 09:14

    Kalau supir papa tidak mendadak sakit diare, hari itu sy akan terjebak di tengah2 keributan ini.

    Turut simpati Mas hrs mengalami ini.

  6. [email protected]  21 May, 2012 at 07:24

    Wuiiih…. pengalaman yang luar biasa.

  7. anoew  20 May, 2012 at 20:22

    Menyedihkan memang keadaan saat itu. Banyak mendengar dan baca tentang ‘kekejaman’ aparat tapi, sungguh tak disangka ternyata ‘korbannya’ adalah Anda. Turut prihatin.

  8. Dj.  20 May, 2012 at 19:10

    Mas Dwi K. Santosa….
    Terimakasih untuk artikel yang sangat menarik.
    Sangat memrihatinkan….!!!
    Dalam kehidupan Dj. saat di Indoensia, juga banyak mengalami hal yang hampir sama.
    Tapi belum separah apa yang anda alami.
    Dj. teringat saat mudik setelah sekolah di England.
    Ada mobil mundur masuk halaman rumah dan radonya menginjak tanaman di halaman rumah kami.
    Dj. sedikit sewot dan Dj. teriak ( stop…!!! ) agar mobil tsb jangan terus mundur .
    E…sopirnya turun, malah marah-marah, maki-maki dengan kata-kata kapitalislah dsb…dsb…
    Ibu Dj. keluar, malah Dj. juga dimarahi, karena pintu pagar terbuka, jadi mobil orang bisa masuk.
    Hahahahahahaha….!!! Prihatin juga melihat Indonesia, bangsa yang penuh span santun, sekarang keblinger.
    Salam Dami dari Mainz…

  9. James  20 May, 2012 at 12:27

    SATOE

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.