Sunday, 20 May 2012
Yang Mulia Enief Adhara
Saat makan siang pun tiba, 4 anggota keluarga angkatku sudah duduk manis di seputar meja pantry. Dengan cekatan aku mengisi piring dengan nasi, lalu potongan ayam juga gudeg. Satu toples besar rempeyek kacang melengkapi kemewahan makan siang kami.
“Tuh si Uci emang gadis idaman, pinter masak, someah (sopan), iger (cekatan) dan rajin”, Puji Pak Effendi berbicara kepada Mak Ben.
Mak Ben segera menimpali, “Moal rugel gaduh anak gadis siga neng Uci, mugi-mugi we neng Ucina betah cicing sareng urang sadaya (Nggak rugi ya punya anak gadis seperti Uci, semoga Uci betah yaa tinggal sama kita)
Aku yang tidak bisa berbahasa Sunda hanya dapat tersenyum dengan wajah bingung, karena benar-benar tidak paham dan baru tahu artinya saat Entin menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Lalu aku pun menjawab dengan bahasa Sunda walau terdengar aneh, “Hatur nuhun sadayana”, dan kami semua tertawa riang. Sambal terasi di meja hampir tandas, namun semua nampak masih terus ‘tenggelam’ dalam nikmatnya gudeg. Umumnya di Jawa Barat jarang yang menyukai masakan manis, dan bagi Pak Effendi juga Emak, Entin dan A Nana, masakanku pas dengan lidah mereka, walau manis namun tak menyengat.
Di tengah-tengah makan aku tiba-tiba saja teringat Alvino, bukankah sejak semalam dia tidak makan? Entahlah, walau aku dikasari olehnya tiap kali berjumpa, namun rasa iba begitu memaksaku untuk perduli padanya. Kusiapkan nasi berikut lauk gudeg lengkap, tak lupa segelas air putih dan segelas juice semangka. Mak Ben dan lain-lain heran, lalu bertanya, “Uci kamu ngapain ?”.
Aku tersenyum, “Ini Mak, aku mau antarin makan siang Alvin ke atas, kasihan dia nggak makan dari semalam”, Aku bicara sambil mengaduk juice.
“Teh, kamu nggak salah? Alvin itu jahat, dia kejam sama kamu juga kita-kita semua, kalau aku sih, dia mati pun aku nggak bakal perduli”, Sahut Entin dengan wajah sebal.
“Entin nggak boleh gitu, bagaimana pun dia adik Tuan, masa’ kita makan enak adik yang punya rumah malah kelaparan?”, Jawabku sambil meletakkan beberapa lembar tissue di nampan kayu.
“Aduhhh Neng, didinya emang berhati emas yaa, udah dijahatin masih aja baik, Emak aja belum bisa maapin dia, Natal tahun lalu dia lempar Emak pakai bola hiasan pohon Natal, pecahannya ngegores kaki Emak, perih euy, seperih hati Emak dikurangajarin si budak bangor”, Mak Ben berkisah tentang dendamnya pada Alvin.
“Iyaa memang dia itu monster, tapi aku mau kasih makan dia, kalau nggak mau ya udah yang penting kan sudah dikasih”, Jawabku sambil mengangkat nampan.
“Kalau dia nggak mau, Bapak teh masih sanggup makan lagi”, Kata Pak Effendi disambut gelak tawa semua yang ada di pantry.
*****
Aku mencapai lantai 2 dengan jantung yang berdegub, berpikir apa kiranya reaksi Alvino saat melihatku datang. Dari ruang duduk yang berada di sayap Barat rumah, aku mendengar suara TV. Ku beranikan diri mendatangi ruang itu.
Ku lihat Alvin tengah duduk cemberut di sofa, nampaknya dia belum mandi juga. Dengan mengumpulkan segala kekuatan aku mencoba menyapa. Dia menoleh ke arahku dan bicara ketus walau tidak kencang, “Mau ngapain lo ? “.
Aku tidak banyak bicara, kuletakan nampan di atas coffee table di dekat sofa, “Ini makan siangnya Tuan, kan dari malam belum makan?”, Aku bicara singkat dan segera membalikkan badan bermaksud pergi dari ruangan itu.
“Huh! Gue nggak laper, gue nggak doyan makanan manis, najis deh”, Sahut Alvino dengan ketus, namun aku tak perduli, dan aku terus melangkah meninggalkannya.
Saat berada di koridor kulihat jendela ruang kerja Tuan yang tepat berada di depan ruang duduk nampak terbuka, maka aku segera menutup dan menguncinya. Kemudian aku kembali ke koridor bermaksud turun kembali ke bawah, saat melintasi ruang duduk, Alvino sedang makan dengan lahap, sofa yang membelakangi pintu membuatnya tak sadar kalau aku berdiri sesaat melihat dirinya makan.
Dalam hati aku tertawa sambil bergumam, “Tuh kan, gudeg Neng Uci mah manisnya pas”, dan saat tiba di dapur tanpa ku sadari aku masih tersenyum, serta merta Entin dan A Nana menggodaku, “Cieeee cinlok sama macan yaaa”.
Aku tertawa lalu memonyongkan bibir dan menjawab sekenanya, “enak aja cinta lokasi sama Alvino, emangnya dia buta apa ?!”
Namun kini Pak Effendi dan Mak Ben ikut-ikutan mengolok-olok diriku,”Bukan Alvin yang buta, tapi eneng, masa’ bisa suka sama macan galak”, ujar Pak Effendi disambut tawa, wajahku memerah, aku sungguh salah tingkah.
*****
Sore hari aku membuat singkong kukus yang kemudian kumasak dengan santan, lalu kutaburi keju parut, Alvino tidak nampak batang hidungnya, sepertinya dia di dalam kamarnya. Aku membawa singkong kukus berikut kopi susu ke kamarnya, ku ketuk namun tak ada sahutan, maka ku letakkan nampan itu di lantai kayu di depan pintu kamarnya.
Selanjutnya aku, Entin dan Mak Ben bersantai di ruang duduk dekat ruang gym, kabut pelan-pelan mulai turun. Enak sekali sore-sore begini minum kopi sambil mengobrol. Aku bertanya pada Mak Beben, dimanakah keluarganya tinggal. Emak menatapku sesaat lalu mulai berkisah.
*****
“Keluarga Emak yaa kalian semua neng, kalau di luar rumah ini Emak sebatang kara, dulu waktu ada tanah longsor, rumah Emak kena. Orang tua Emak dan Kakang Emak meninggal. Sejak itu nggak punya siapa-siapa lagi. Bibi yang rumahnya di dekat rumah Emak juga ketimpa tanah dan bebatuan. Dalam sekejap Emak sebatang kara Neng”, Mak Ben bercerita sambil menerawang, dia berusaha kembali ke masa dimana segalanya berawal.
“Waktu itu usia Emak 20 tahun Neng, saat kejadian Emak lagi ikut pengajian mingguan di kampung seberang. Hidup sendirian tuh nggak mudah, Emak kerja apa saja demi menyambung nyawa. Kerja di toko, di warung, jadi tukang cUci pokoknya apa saja. Hingga waktu Emak berusia 25 tahun, Emak ketemu A Cecep. Dia kerja di toko sembako dan Emak kerja di toko kue. Kami pacaran Neng, sampai 2 tahun”, Lanjut Mak Ben, pelan pelan Emak meminum kopi jahe-nya.
Mak Ben kemudian diam sejenak, seperti mengumpulkan serpihan kenangan, “Tapi derita memang masih memihak Emak. Saat tahun kedua, A Cecep berencana menikahi Emak, malahan kita sudah mencicil membeli kain, lalu menjahit kebaya dan membeli sedikit perhiasan, A Cecep makin giat bekerja, selepas bekerja di toko si Aa suka ngojek juga Neng. Nah saat pulang ngojek itulah A Cecep mengalami kecelakaan, dia meninggal di lokasi kejadian. Waktu Emak mendengar Aa tiada, Emak kok nggak bisa menangis, namun hati ini hancur banget. Emak selalu kehilangan orang-orang yang Emak cintai”.
“Tiap pulang kerja Emak selalu memakai kebaya pengantin yang sudah selesai dijahit dan tak lupa kerudungnya juga. Dan Emak sejak itu menutup hati, cinta Emak sudah dikubur bersama jazad A Cecep. Sampai detik ini Emak selalu mencintai dia. Siapa tau ya neng, di dunia yang lain Emak bener bener resmi nikah sama si Aa.”
Mak Ben mengusap airmata-nya dengan tangan, Entin yang duduk di sebelahku juga sudah ikut larut dalam kenangan Mak Ben. Lalu wanita setengah abad itu melanjutkan kisahnya, “Suatu hari tetangga kontrakan Emak cerita, kalau adiknya yang kerja sama orang kaya mau nikah, dan calon suaminya mau mengajak pindah ke Tasik. Entah tahu tahu Emak tertarik buat gantiin dia. Nah kepada Tuan Gun-lah Emak akhirnya bekerja secara tetap, junjungan Emak selama 15 tahun. Emak lelah Neng harus pindah pindah kerja, gajipun selalu ngepas. Bersama Tuan, hidup Emak lebih layak, waktu pertama Emak kerja, si Tuan masih 25 tahun, tapi sudah sukses, maklum bisnis keluarganya dimana mana Neng”.
“Dulu mah rumah Tuan masih di daerah Dago, baru sekitar 5 tahun lalu rumah ini dibangun dan Emak terus ikut. Kalo Alvin teh dulu nggak jahat, walau diem tapi nggak kasar. Tapi kok sejak lulus SMA dia jadi kaya begitu, aneh !”, Ujar Mak Ben menutup kisahnya.
Dalam hati aku kagum, satu lagi wanita yang ku kenal, satu lagi wanita hebat, menjalani hidup dengan tabah, memegang teguh cinta yang terlanjur diyakininya. Lantas kembali aku teringat Ibu, apa kurangnya Ibuku sebagai Istri? Tega teganya Ayahku mengkhianati cintanya, sungguh hati wanita mungkin lebih dalam saat mencinta, hingga saat cinta terlanjur masuk ke hati, akan sulit untuk keluar kembali.
*****
Sudah 10 hari berjalan, suasana berjalan tanpa gejolak yang berarti. Alvino seperti kehilangan taringnya, lebih banyak mengurung diri di kamarnya atau sekedar menghabiskan waktu di ruang duduk di lantai 2 bermain aneka game atau bermain piano dengan hentakan kasar. Nada nada penuh emosi kerap lahir dari jari-jarinya melalui piano di ruang duduk atas.
Sejak Pak Effendy dan Emak menantang, Alvino tidak lagi banyak berbuat ulah. Tak sekalipun dia berbicara pada kami. Hatiku kerap merasa kasihan saat melihatnya menyendiri di atas. Makan kalau tidak diantar maka artinya dia tidak makan, dia tidak pernah meminta diantar makanan. Akhirnya mengantar makanan ke lantai 2 menjadi kegiatanku sehari-hari, ku lakukan karena aku merasa iba.
Tidak memberi pujian namun tidak mencela, intinya dia seperti terserang autis. Kadang dia duduk di taman di lereng Barat yang satu level dengan ruang gym. Dia duduk sendirian dengan pandangan kosong di sekitar taman mawar. Seperti hidup dalam alamnya sendiri. Seperti berada di dunia lain yang hanya dapat dilihat olehnya.
****
Seperti biasa saat aku sudah selesai dengan urusan dapur, maka aku membantu Emak dan Entin membersihkan rumah. Kali ini aku membereskan ruang duduk di lantai 2, ruang dimana Alvin menghabiskan waktunya dengan bermain game atau piano. Ruangan itu berisi sofa sebanyak 2 set berwarna orange dengan coffee table bentuk bulat. Sebuah audio visual yang canggih mengisi dinding bagian Timur. Sebuah baby grand piano warna hitam diletakkan dekat jendela yang menghadap utara, yaitu menghadap bagian depan rumah.
Ku rapihkan puluhan keping disc game milik Alvin, lalu buku-buku novel, yang semuanya berserakan di atas meja dan karpet. Hingga tanpa sengaja pandanganku tersita kepada sebuah buku tebal yang berukuran agak besar. Sampulnya keras berwarna merah tua. Posisi buku itu terbuka dengan aneka kepingan CD di atasnya.
Buku itu mirip buku gambar, penuh berisi tulisan tangan juga gambar. Rupanya Alvin tulisannya rapi, gambar-gambar karikatur atau sketsa-nya pun indah. Ada yang hitam putih dan ada yang diberi warna. Sungguh aku tidak bermaksud lancang, namun saat aku membaca tulisan di lembaran itu, aku seperti melihat sosok Alvin yang beda, dia menulis dengan indah, kata-kata tentang betapa dia rindu kasih sayang, betapa dia kesepian dan banyak lagi. Belum lagi saat ku lihat aneka sketsa yang menggambarkan isi dari tulisannya.
Ada apa dengan Alvino ? Mengapa ia bisa memiliki dua karakter ? Kenapa dia begitu rindu kasih sayang ? Bukankah apa yang dia punya adalah buah kasih sayang dari keluarganya ? Ah sungguh aneh sekali. Aku segera merapihkan ruangan itu, aku akan bertanya pada Mak Ben perihal Alvin.
*****
Sore itu kesempatan berdua dengan Mak Ben kudapat tanpa disengaja, Emak memintaku agar membantunya merapihkan gudang di dekat dapur. Sambil menyusun barang-barang aku pun mulai membuka pembicaraan. “Mak, tadi aku nggak sengaja melihat buku sketsa si Alvin di ruang duduk atas. Kok kayanya kontras banget ya Mak ?”.
Mak Ben menoleh padaku dengan wajah tak paham akan kata kataku, “Kontras gimana Neng ? Emang ada apa di buku dia?”, Emak bicara sambil melanjutkan menyusun barang di rak besi.
Aku menghela nafas, “Dia itu seperti orang yang haus kasih sayang Mak, seperti tidak mendapat perhatian dan kasih yang cukup”, Sahutku lagi, “Apa Emak tahu sesuatu hal tentang Alvin, aku merasa terpanggil saja untuk berusaha memahami sikap-sikap dia ke kita Mak”.
“Ah … Kamu ini memang orang baik Neng, Sejujurnya Emak tidak banyak tahu ada apa dengan Keluarga Gunawan, tapi Emak dulu pernah sedikit tahu masalah di keluarga Tuan, yuk kita ngobrol sambil ngopi, ini kan sudah rapih, Mak nyapu sebentar, kamu buat kopinya ya Neng”.
*****
Kami duduk di pantry, masih jam 4 sore, dan Emak mulai berkisah, “Setahu Emak, Alvino itu sempat diurus sama Bibi-nya sejak bayi. Waktu Ibu-nya hamil dia, kesehatan Ibunya terus menurun. Bahkan sewaktu melahirkan Ibunya nyaris koma. Hingga sehabis bedah caesar, Ibunya harus mendekam di rumah sakit sampai 2 bulan”, Mak Ben bercerita sambil mengingat ingat kisah lama itu.
“Tuan Besar sangat mencintai istrinya, baginya istrinya adalah inspirasi hidupnya, dan melihat istrinya berada di ujung maut, Tuan Besar sempat menyalahkan bayi Alvin yang tidak berdosa, menurut keyakinan yang dianut Tuan Besar, bayi ini pembawa sial. Selang 2 bulan di rumah sakit sini, Tuan Besar memboyong istrinya ke Hongkong, di sana konon Tuan memiliki kenalan yang mampu mengobati istrinya. Bayi Alvin tetap berada di Bandung”.
“Kesehatan Nyonya Besar mulai membaik, Tuan Besar bahkan mondar mandir ke Amerika demi mengobati Nyonya. Berjalan waktu bayi Alvin seperti terlupakan, Tuan Besar merasa anaknya ada 3 bukannya 4″, Mak Ben bertutur pelan, takut Alvino mendengar pembicaraan kami.
Aku mendengarkan semua itu dengan serius dan dalam pikiranku Alvino adalah anak yang terbuang dalam keluarganya. “Wah rumit juga ya kasusnya”, Pikirku. Mak Ben melanjutkan kisahnya,
“Emak sih kurang tahu kisah pastinya, ini Emak tau dari Mak Euis yang dulu Mak gantikan posisinya, itu lho yang berhenti karena nikah, di sebagian masyarakat Tionghoa istilah anak sial masih ada yang meyakini neng, dan keluarga besar Gunawan salah satunya”, Lanjut Mak Ben menutup ceritanya.
Aku melamun, diriku adalah bukan gadis yang pintar bicara, gaul atau apalah istilahnya, di SMU jarang yang menegorku, mungkin aku dianggap aneh dan itu sangat membuatku sedih, aku makin tidak percaya diri, menutup diri bagiku jalan keluar yang terbaik. Apakah Alvino seperti diriku? Tak berkawan karena tak lagi percaya bahwa di dunia ini ada penerimaan yang tulus ?”
May 21st, 2012 at 14:01
yuks ah dilanjut, ditunggu next eposidenya..
May 21st, 2012 at 11:17
Cerita dan penulisannya enak dibaca
May 21st, 2012 at 09:41
PamPam, apakah ini pengakuan pribadi?

May 21st, 2012 at 09:40
Jatuh cinta memang sering berawal dari perut terus ke bawah……
May 21st, 2012 at 09:22
Yang lagi kangen gudeg, bisa histeris lihat foto di artikel ini…
Sepertinya nanti si Uci akan jatuh cinta dengan Alvino atau Alvino yang jatuh cinta dengan Uci…
May 21st, 2012 at 07:17
kok….. lebih tertarik ama gudegnya ya….
slurp….
photonya jg photo gudeg…
May 20th, 2012 at 23:16
makan, deh.
May 20th, 2012 at 18:37
Wadoooh….
Lihat photo makanannya, jadi lapar lagi….!!!
Tapi sebenarnya semua wanita itu memang hebat, walau kebanyakan hanya dibelakang layar saja.
Tapi yang paling hebat adalah istri Dj.
Salam Sejahtera dari Mainz.
May 20th, 2012 at 12:25
S A T O E