Ikarus Belum Mengerti

Linda Cheang & Osa Kurniawan Ilham

 

Alkisah, Ikarus memiliki keinginan untuk terbang kala melihat burung-burung itu bisa beterbangan dengan riangnya. Banyak teman-temannya yang mencibir keinginannya itu sebagai mimpi kosong orang kurang kerjaan. Sudah takdir kata mereka bahwa burung bisa terbang sementara manusia harus tetap menginjak bumi. Tapi mimpi dan keyakinan Ikarus tidak bisa digoyangkan. Aku pasti bisa terbang, begitu keyakinannya.

Dan benarlah kata alkisah. Ikarus kemudian semakin tekun mengamati cara terbangnya burung-burung itu. Lalu dia segera membuat sayap tiruan. Helai demi helai dia rekatkan dengan lem sehingga jadilah sayap tiruan itu. Sekarang sudah waktunya untuk mencoba terbang, batin Ikarus.

Dengan sayap diikatkan di badannya akhirnya terbanglah dia. Di luar dugaan benar-benar bisa terbang dia. Karuan saja dia segera bermanuver mengikuti burung-burung yang terbang di sekelilingnya. Bisa juga dia bermanuver seperti burung itu, betapa senangnya hatinya. Dia merasa bahwa dia sudah berhasil membuktikan bahwa manusia bisa melawan takdirnya, manusia bisa terbang. Dibuai oleh keberhasilan terbangnya, Ikarus kemudian terbang semakin tinggi, semakin jauh. Aku ingin memegang matahari itu. Dan terbanglah dia menuju matahari itu, semakin dekat, semakin dekat sampai kemudian Ikarus tidak menyadari bahwa sinar matahari yang panas itu telah melumerkan sedikit demi sedikit lem yang melekatkan setiap helai di sayap buatannya. Bisa ditebak, akhirnya Ikarus tewas dihempaskan ke bumi setelah sayapnya hancur oleh panas mentari. Ikarus belum mengerti bahwa bisa jadi sayapnya cukup kuat menahan panas mentari, tapi tidak demikian dengan lem perekatnya.

Kisah Ikarus akan selalu dikenang oleh semua manusia yang berkecimpung dalam dunia penerbangan. Termasuk oleh Wright bersaudara, yang akan selalu dikenang oleh dunia sebagai perintis pesawat terbang pertama kala Orville Wright dibantu oleh Wilbur Wright pada tanggal 17 Desember 1903 berhasil menerbangkan pesawat sampai ketinggian 37 meter selama 12 detik di North Carolina.

Begitu pula saya yakin bahwa kisah Ikarus juga akan selalu dikenang oleh para perancang, pembuat termasuk para pilot penguji pesawat Sukhoi Super Jet 100 yang akhirnya jatuh menabrak lereng Gunung Salak tanggal 9 Mei 2012.

Saya sudah mengikuti berita kelahiran desain Sukhoi SSJ 100 ini sejak tahun 2003 yang lalu. Karena itu saya sangat penasaran bagaimana desain pesawat ini karena selama ini Sukhoi hanya dikenal umum sebagai produsen hebat pesawat tempur. Dan ternyata Rusia tidak main-main dengan rencana ini. Sukhoi kemudian bekerjasama denga Boeing dalam perancangan pesawat ini. Pemerintah Rusia memberikan subsidi karena sadar bahwa pesawat ini akan berperan besar dalam persaingan industri penerbangan rute pendek dan menengah di seluruh dunia.

Mesin pesawat pun didesain tidak main-main. Kerjasama antara Rusia Saturn dan French Snecma menghasilkan mesin pesawat dengan tingkat kebisingan minimal di bawah standar yang dipersyaratkan, demikian pula dengan emisi gas buangnya.

Banyak orang berpendapat bahwa kokpit SSJ 100 mirip sekali dengan pesawat raksasa A380 produksi Airbus itu. Harap maklum, pesawat ini memang didesain menggunakan teknologi Fly by Wire (ingat nggak teknologi ini sudah dipakai oleh Pak Habibie saat membuat N-250 dulu), dengan peralatan sistem kontrol dan navigasi hasil kerjasama dengan Thales dari Perancis. Jadi siapa pun pasti berpendapat bahwa pesawat ini memang didesain bukan dengan sembarangan.

Lalu mengapa bisa jatuh? Nah ini yang harus dijawab. Sebagaimana Ikarus yang belum mengerti bahwa lem perekat sayapnya tidak cukup kuat menahan panas matahari, kita juga belum mengerti kenapa pesawat Sukhoi ini jatuh. Untuk itu kita harus menunggu hasil penyelidikan dari KNKT kelak, terutama penyelidikan dari kotak hitam yang sampai saat ini masih dicari.

Nah sambil menunggu KNKT, kita harus mengerti bahwa tidak ada penyebab tunggal di hampir semua insiden yang terjadi di muka bumi. Demikian pula insiden dalam penerbangan. Selalu saja ada beragam faktor yang terlibat: faktor teknis, faktor manusia, faktor alam.

Faktor teknis bisa macam-macam asalnya, apakah dari mesin turbinnya, desain struktur, desain sistem kontrol atau apa. Kalau dari desain sistem kontrol, perlu dicari lagi asal muasalnya, apakah dari sensor, apakah dari sistem kontrol elektronik, apakah dari sistem penggeraknya, apakah dari sistem navigasinya apakah dari sistem transmisi elektronik atau hidroliknya. Itu baru dari aspek sistem kontrol lho.

Faktor manusia bisa macam-macam pula, apakah dari pilotnya, kopilotnya, flight engineer-nya, teknisinya, manajemennya, Air Traffic Control-nya atau bahkan dari penumpangnya. Ingat peristiwa 11 September, pesawat menabrak WTC karena ada penumpang yang membajak lalu menabrakkan pesawatnya. Faktor manusia ini pun bisa bermacam-macam asal muasalnya, apakah karena faktor psikologis, faktor kelelahan, faktor salah komunikasi, kurang pelatihan, jam kerja yang berlebih dan sebagainya.

Kalau pun mau menelusuri penyebab dari faktor alam juga harus jelas asal muasalnya, apakah karena angin, apakah karena ada badai, atau ada awan, atau karena ada daerah ruang hampa udara atau karena ada hujan atau medan magnet dan banyak faktor lainnya.

Jadi memang tidak gampang menentukan penyebab terjadinya sebuah insiden atau kecelakaan. Selain mengumpulkan data dan fakta, banyak metode pula yang harus dilakukan untuk mencari kesimpulannya, bisa metode CTA (Cause Tree Analysis), RCI (Root Cause Investigation) dan metode yang lainnya. Tentu saja semuanya baru bisa dilakukan kalau kotak hitam sudah ditemukan dan bisa diselidiki.

Sebenarnya ada satu metode yang paling cepat bisa dilakukan, murah, mudah tapi bodoh. Salahkan saja Tuhan, atau salahkan saja setan. Jadikan saja mereka sebagai kambing hitam dari semua kejadian ini lalu kita tidak akan pernah belajar apa pun dari kasus ini he..he…

Tentu saja manusia cerdas tidak akan mengambil metode yang terakhir ini. Kisah Ikarus memberikan hikmat bahwa selalu saja ada yang kita belum mengerti dalam hidup ini. Dan itu tugas kita untuk selalu mencari tahu.

(Osa Kurniawan Ilham, Balikpapan, 14 Mei 2012)

 

Pembaca sekalian,

Di Mas Osa sudah menuliskan cukup panjang dan lebar tentang kisah Ikarus dan dikaitkan dengan musibah jatuhnya Sukhoi Super Jet 100 (selanjutnya disingkat menjadi SSJ 100), seperti halnya Ikarus yang belum mengerti, maka banyak pula masyarakat awam yang belum mengerti tetapi mencoba-coba membuat spekulasi, menebak-nebak sampai berusaha menyimpulkan sendiri dengan spkeulasi yang akhirnya malah membuat bingung masyarakat awam lainnya.

Dari sejak detik berita hilangnya SSJ 100 sampai ditemukan jatuh karena menabrak gunung, telinga saya sudah diganggu dengan banyaknya orang-orang awam yang berbicara (baca : berspekulasi) mengenai penyebab jatuhnya SSJ 100 tsb. Sebagai seorang yang paham aeronautika namun tidak lagi bekerja di bidang tsb, saya pribadi lebih memilih untuk diam dan menunggu hasil penelitian dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi, sebuah instansi yang paling berwenang untuk menyelidiki yang menyampaikan pernyataan mengenai semua sebab-musabab terjadinya kecelakaan transportasi, termasuk transportasi udara.

Berbeda dengan kecelakaan yang terjadi di darat dan laut, kecelakaan pesawat terbang ( selanjutnya disingkat menjadi pesbang), seperti ditulis oleh Mas Osa,  tidak pernah ada penyebab tunggal yang menjadi sebab terjadinya kecelakaan pesbang. Selalu akan ada  beberapa faktor yang berkaitan satu sama lain, sehingga tejadilah sebuah kecelakaan pesbang. Contoh yang saya ambil adalah hasil dari penyelidikan kecelakaan MA-60 di Biak yang menewaskan teman saya seangkatan kuliah, Co-Pilot Paul Nap. Laporan KNKT atas kecelakaan tsb dirilis tepat satu tahun sejak kecelakaan terjadi. Pembaca bisa mencarinya dengan Googling dan akan ditemukan beberapa laporan dari KNKT mengenai penyebab kecelakaan pesbang buatan China tsb. Dari laporan KNKT yang saya baca, memang tidak ada satu faktor tunggalpun yang bisa dijadikan penyebab terjadinya kecelakaan.

Selengkapnya bisa dibaca di sini: http://www.dephub.go.id/knkt/ntsc_aviation/baru/Final%20Report%20PK-MZK%20Release.pdf

Misalkan saja kalau kita ambil faktor pilot yang kurang terlatih, perlu dipertanyakan, apa yang menjadi sebab kurang terlatihnya kedua pilot tsb? Ini berkaitan dengan manajemen perusahaan yang memperkerjakan pilot tsb. Lalu jika diambil faktor cuaca yang jarak pandangnya hanya 2 KM, sedangkan syarat minimum penerbangan visual adalah minimal 5 KM, patut dipertanyakan mengapa pilot saat itu memutuskan tetap menggunakan VFR padahal seharusnya sudah harus menggunakan terbang secara instrument alias IFR. Jika cuaca memang tidak memenuhi syarat minimal VFR, mengapa pilot tetap memutuskan untuk mendarat bukannya mencari selamat dengan membuat turning atau mencari bandara terdekat lain aau mengapa pilot menjadi tidak waspada. Banyak lagi alasan yang harus diselidiki dan diteliti.

Hal-hal seperti ini yang tidak dimengerti oleh masyarakat awam, tetapi yang membuat saya kecewa adalah, masyarakat awam yang tidak mengerti, bukannya belajar untuk mencari tahu dari sumber yang benar dan berwenang, malah sibuk berspekulasi sana-sini sehingga kalau boleh saya katakan, ada beberapa oknum masyarakat awam yang malah seolah lebih mengerti daripada para ahli penerbangan, berspekulasi mendahului KNKT, kemudian mulai menyalahkan para pelaku penerbangan, ada yang menyalahkan pilotnya, ada yang menyalahkan petugas ATC dan  lainnya, spekulasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, sehingga malah membuat bingung masyarakat lainnya.

Salah satu bukti ketidakmengertian masyarakat awam atas kecelakaan pesbang adalah diunggahnya foto-foto kecelakaan pesbang yang bukan SSJ 100, oleh seseorang di media elektronik dan jejaring sosial, tetapi dianggap sebagai kecelakaan SSJ 100, dan yang membuat saya tambah kecewa adalah diunggah pula foto-foto korban kecelakaan yang digambarkan bergeletakan. Sungguh sangat tidak bijaksana! Pada akhirnya pengunggah pertama foto-foto tsb diancam pidana dengan hukuman pidana yang cukup berat. Saya merasa kasihan pada si pelaku yang memang tidak mengerti dan tidak melakukan periksa ulang atas foto-foto yang diterimanya lalu diunggah saja, tetapi itu sudah terjadi dan dia harus menerima konsekuensi hukum  akibat perbuatannya. Saya berharap semoga saja masih ada hal-hal darinya yang bisa meringankan hukumannya kelak bisa sidang pidananya jadi digelar.

Banyak sekali oknum masyarakat awam yang berspekulasi tsb adalah justru dari orang-orang yang tidak pernah tahu sama sekali mengenai seluk beluk dunia penerbangan, atau hanya tahu sedikit saja mengenai penerbangan, tetapi bisa membuat pernyataan yang membuat kesan pembuat pernyataan adalah lebih pintar daripada para ahli penerbangan. Seperti yang saya baca di sebuah situs berita, kini mendadak banyak orang menjadi ahli penerbangan dadakan berdasarkan spekulasi. Sedangkan para petugas KNKTnya sendiri malah tidak bersedia berkomentar apapun sampai semua hasil penyelidikan atas kecelakaan benar-benar selesai dan sampai menjadi laporan yang layak dipertanggungjawabkan.

Di sisi lain, para ahli penerbangan terkait yang bekerja keras menyelidiki sebab-musabab kecelakaan lebih banyak bekerja dalam diam untuk berkonsentrasi dalam penyelidikan. Mereka bekerja sesuai keahlian mereka agar nantinya dapat memberikan laporan akurat dari hasil temuan selama penyelidikan dan untuk di Indonesia, semua laporan hasil penyelidikan kecelakaan transportasi apapun akan dikeluarkan dari satu pintu saja yaitu KNKT. Laporan penyelidikan yang dari luar KNKT, patut dipertanyakan kebenarannya.

Saya berikan apresiasi tinggi kepada para ahli penerbangan baik itu pilot, para petugas ATC, dan para pakar penerbangan yang sudah bersedia tampil di beberapa media elektronik, salah satunya dosen saya di akademi penerbangan. Mereka sudah menyampaikan keterangan berdasarkan kemampuan keilmuan yang mereka miliki untuk memberi edukasi yang benar kepada masyarakat mengenai bagaimana seharusnya menyikapi jika ada sebuah kasus kecelakaan pesbang. Salut saya kepada mereka yang jawaban akhirnya selalu sinkron ketika ditanya mengenai apa penyebab sebenarnya jatuhnya SSJ tsb, yaitu, tunggu hasil penyelidikan KNKT terhadap kotak hitam SSJ 100. Jawaban yang sangat bijaksana. Jadi mau siapapun pilotnya, siapapun petugas ATCnya dan  siapapun pakar penerbangannya, jawaban mereka akan selalu sinkron dan sama.

Perihal sering masyarakat bertanya, mengapa untuk penyelidikan kasus kecelakaan pesbang memerlukan waktu lama? Ya, karena dalam penyelidikan tsb, sangat banyak parameter yang harus diperiksa dan para ahli pesbang yang memeriksa juga bukan sembarangan orang, sebab dalam urusan perawatan pesbang saja, urusan mengambil sebuah suku cadang pesbang sekecil apapun, harus dilakukan oleh seseorang yang memiliki sertifikat keahlian khusus, apalagi untuk menyelidiki kasus kecelakaan pesbang. Para ahli harus menyelidiki dengan seksama semua data yang terkema dalam kotak hitam yaitu Perekam Data Penerbangan yang kita kenal dengan istilah Flight Data Recorder (FDR) dan Perekam Suara Kokpit yang disebut Cockpit Voice Recorder (CVR). Nantinya setelah meneliti dengan seksama semua rekaman dari kedua alat tsb yang memuat sangat banyak data dan parameter-parameter lainnya yang berkaitan dengan kecelakaan, barulah dapat disimpulkan secara akurat apa saja penyebab terjadinya sebuah kecelakaan pesbang. Bukan dengan hasil spekulasi.

Mari, kita serahkan saja urusan penyelidikan kecelakaan penerbangan kepada ahlinya, para petugas KNKT, jangan berspekulasi. Beri mereka ruang untuk bergerak dan waktu untuk menjalankan tugas penyelidikan sehingga kelak bisa memberikan laporan seakurat mungkin.

Hal lain yang ingin saya sampaikan berkaitan dengan kecelakaan SSJ 100 ini adalah tentang banyaknya korban yang jatuh dan pertanyaan tentang mengapa verifikasi dan identifikasi korban memerlukan waktu yang (sangat) lama? Tanpa mengurangi rasa hormat dan saya pun turut berdukacita kepada keluarga korban pesbang SSJ 100, apalagi salah satu korban SSJ 100 ada seorang rekan di sebuah komunitas jalan-jalan dan makan-makan.  Sebaiknya kita semua menunggu dengan sabar hasil identifikasi dari tim forensik di RS Polri yang berwenang mengeluarkan laporannya. Saya memiliki banyak teman dokter dan beberapa teman saya adalah dokter forensik. Dari mereka saya mendapat gambaran, memang betapa sulitnya melakukan identifikasi atas tubuh-tubuh yang sudah tidak utuh lagi, ibaratnya seperti mencari potongan-potongan puzzle yang hilang karena terlempar ke mana-mana dan harus menyatukannya menjadi utuh kembali tanpa tertukar.

Mungkin selama ini kita sudah terbiasa dimanjakan dengan budaya serba instan yang segala sesuatunya cepat jadi, cepat selesai, sehingga ketika menghadapi situasi yang memerlukan kesabaran, ketekunan dan waktu, kita akhirnya malah bertanya terus kenapa, mengapa dan sebagainya (jika tidak mau dianggap sebagai  menggerutu dan mengeluh).

Lalu, apa yang serbaiknya kita lakukan menunggu hasil penyelidikan dan identifikasi. Kita berikan saja dukungan, bisa berupa dukungan doa atau dukungan semangat, agar para ahli terkait bisa bekerja dengan sebaik-baiknya. Kepada keluarga korban kita bisa berikan dukungan simpati, karena keluarga korban nantinya, kan, harus fokus kepada anggota- anggota keluarga yang ditinggalkan yang perlu diperhatikan dan harus melanjutkan hidupnya.

Baiknya kita berikan apresiasi kepada teman-teman kita para ahli yang sekarang sedang bekerja sepenuh hati untuk menuntaskan identifikasi dan penyelidikan. Berharap dan  dukunglah agar teman-teman kita yang bertugas, mampu memberikan hasil terbaik dan tuntas bukan karena spekulasi, tetapi karena prestasi.

Salam,

Linda Cheang

16 Mei 2012

 

About Linda Cheang

Seorang perempuan biasa asal Bandung, suka menulis tentang tema apa saja, senang membaca, jalan-jalan, menjelajah dan makan-makan. Berlatar pendidikan sains, berminat pada fotografi, seni, budaya, sastra dan filsafat

My Facebook Arsip Artikel Website

22 Comments to "Ikarus Belum Mengerti"

  1. Bagong Julianto  27 May, 2012 at 07:38

    LC dan OKI>>>

    Kolaborasi dua jempol!
    Terima kasih!
    Sungguh, banyak yang harus dihikmahkan dari tragedi ini.
    Ada aspek tontonan, ada aspek tuntunan dan pasti juga harus ada aspek tuntutan. Pakai ataupun tidak pakai tanda petik.

    Suwunnnn…

  2. Linda Cheang  23 May, 2012 at 07:36

    Lani kalo soal mesti dbenahi personelnya, ya, jelas. Seluruh personel ATC sedunia perlu dibenahi mau di manapun juga. Bukan hanya personel ATC, tapi semua personel yang berkaitan dengan lancar dan selamatnya penerbangan, termasuk pilotnya, teknisi kru daratnya, kru kabin juga, perlu dibenahi.

    Ya, jelas juga bukan hanya Indonesia, lho! Nanti banyak yang baca komentarmu malah pada salah persepsi, jadi nggak mau terbang ke dan di Indonesia karena sudah keburu ketakutan duluan.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.