Jakarta 485 Tahun (1): Jakarta Meniru Brasilia

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta

 

PENGANTAR: Sampai jelang HUT Jakarta ke 485, akan ada beberapa tulisan Baltyra untuk kota Jakarta yang berusia 485 tahun. Bisa tiap hari atau selang seling. Tujuannya agar kita tahu dimana kita tinggal. Bukan hanya memeras dan mengotori Jakarta untuk mengambil rejekinya saja. Itupun sambil menghina-hina kemacetannya.

 

TULISAN BALTYRA UNTUK JAKARTA 485 TAHUN (1)

Jakarta Meniru Brasilia

JAKARTA ditakdirkan menjadi kota paling unik di dunia. Semua elemen budaya dunia ada di kota ini, sedikit atau banyak. Sejak ramai didatangi para pedagang masa lalu, penjajah, pengadu nasib dan kaum urban dari luar Jakarta, kota ini semakin berwarna dengan banyak pengaruh budaya manapun. Termasuk segi arsitekturnya.

Awal tahun 1960-an, kota Jakarta melesat berkembang modern dengan kehadiran bangunan baru bercorak kontemporer masa depan. Kehadiran ini bertepatan dengan ajang pamer diri bersamaan dengan diadakannya pesta olahraga bangsa Asia tahun 1962, Asian Games IV di Jakarta.

Hanya dalam 4 tahun, dibangun gedung baru, fasilitas kantor dan hiburan serta akses jalan lebar berjalur banyak menghias kota ini. Bagaimana hal itu dimungkinkan? Sang pemimpin waktu itu yang berjiwa megalomania, Soekarno, ingin menunjukkan kepada dunia bahwa bangsanya bukan bangsa kecil dan bisa dipermainkan oleh bangsa manapun. Dengan memamerkan segi arsitektur, Soekarno ingin menanamkan kepada bangsanya untuk berdiri tegak memandang ke depan menatap langit tinggi.

Dibangunlah beberapa gedung yang dia contoh dari kota Brasilia. Mengapa Brasilia? Kota ini waktu itu antara 1956 hingga 1960 sedang dibangun untuk dipersiapkan sebagai ibukota baru negeri Brasil, negeri sepakbola yang dikenal baik oleh bangsa Indonesia melalui ketrampilan kaki pemain-pemain sepakbolanya. Entah meniru atau tidak, tahun 1957 Soekarno berpikiran sama ingin membuat ibukota baru bagi Indonesia. Dia memilih Palangkaraya.

Jadilah beberapa bangunan dibangun di Jakarta yang sedikitnya banyak meniru konsep arsitektural kota Brasilia, yang dirancang oleh arsitek kenamaan Oscar Niemeyer. Soekarno pun datang ke sana untuk melihat seperti apa kota baru itu. Dua kali dia ke Brasilia, Mei 1959 dan Mei 1961. Dia berteman dengan Presiden Brasil Juscelino Kubitschek, orang yang memindahkan ibukota Brasil ke kota Brasilia. Sedangkan Niemeyer adalah sahabat karib Kubitschek.

Sejak keakraban Indonesia dan Brasil semasa Soekarno, tak ada lagi presiden Indonesia yang ke sana selama 30 tahun lebih. Penggantinya, Soeharto, lebih senang meniru cara Brasil menghabisi kriminal (angka kejahatan cukup tinggi di sana), dengan cara penembakan misterius. Mendata penjahat, menculiknya, membunuhnya dan membuangnya, agar rakyat tentram.

Tahun 1992, Presiden Soeharto sempat sekali ke Brasil. Bukan untuk kunjungan bilateral, tetapi untuk menghadiri KTT Bumi yang pertama kali diadakan di dunia. Tidak seperti Soekarno yang niat ke sana hanya untuk meniru arsitektur Brasilia sebagai ibukota baru Brasil untuk kota Jakarta. Dan bukan untuk ibukota baru Indonesia seperti yang direncanakan Soekarno, yaitu Palangkaraya. (*)

 

59 Comments to "Jakarta 485 Tahun (1): Jakarta Meniru Brasilia"

  1. IWAN SATYANEGARA KAMAH  6 December, 2012 at 20:55

    Selamat Jalam Oscaf Niemeyer.

  2. IWAN SATYANEGARA KAMAH  3 December, 2012 at 18:41

    Makasih Mpiet, bari dibalas. Terima kasih juga Mas Bagong dan Mas OKI.

  3. Osa Kurniawan Ilham  23 May, 2012 at 11:33

    Mas ISK,
    Mungkin dulu Bung Karno berpikir praktis saja. Kalau harus mendesain sendiri sampai ke detail butuh berapa tahun wong insinyur pada saat itu masih sedikit sekali. karena itu mungkin Bung Karno akhirnya meniru kota Brasillia dalam tataran konsep global sementara insinyur dan arsitektur mengisi desain dalam tataran detail mikronya. Pola pikir orang teknik memang penginnya serba praktis dan cepat. daripada pejabat sekarang yang mikir-mikir melulu tapi takut ngambil keputusan

    Salam,
    Osa KI

  4. Bagong Julianto  23 May, 2012 at 06:00

    Bung Iwan>>>

    Suwun…. Top!
    Setuju nian Palangka Raya jadi Ibu Kota Pemerintahan….
    Jakarta kalah sama Jember dalam hal Carnival (=kreativitas) berbusana….
    Kalau Carnival Jubah dan Carnival Parang Bacok, Jakarta bisa menang……

    Sabar nunggu Menyambut Jakarta 485 Tahun (2)…………

  5. Mpiet  22 May, 2012 at 13:29

    selalu nemu yg baru kalau baca artikelnya mas iwan… makasih mas

  6. IWAN SATYANEGARA KAMAH  22 May, 2012 at 12:25

    hahaha..kalau Dewi Murni bukan dari Yogja. Dia kan dari gue selarong. Makanya bisa terbang sampe ke Brasil cuma nyari jambu aey. Halaaah,..kok jauh-jauh nyari jambu ke Brasil. Makanya saya sebut Dewi itu kampret. Dia suka sebutan itu.

    Selama bobo..Alvina,

  7. Alvina VB  22 May, 2012 at 12:15

    Bung Iwan, mau juga Yogya (bukanJakarta) ternyata meniru Brasilia; itu produknya si Dewi van Brasilia bukannya mirip2 dgn Dewi van Yogya ya…..apa cloningannya ya….dulu Dewi van Yogya jago dangdut eh salah poco2, saat ini Dewi van Brasilia ber-samba ria….hi..hi…..kabur ke peraduan dulu ……

  8. IWAN SATYANEGARA KAMAH  22 May, 2012 at 10:52

    Sami-sami mBak Nana. Yuk ke Rio, mandi-mandi di pantai….

  9. Nana  22 May, 2012 at 10:51

    Jadi tau neh sejarah lengkap kota jakarta. matur nuwun pak ISK.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.