Monday, 21 May 2012
Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta
PENGANTAR: Sampai jelang HUT Jakarta ke 485, akan ada beberapa tulisan Baltyra untuk kota Jakarta yang berusia 485 tahun. Bisa tiap hari atau selang seling. Tujuannya agar kita tahu dimana kita tinggal. Bukan hanya memeras dan mengotori Jakarta untuk mengambil rejekinya saja. Itupun sambil menghina-hina kemacetannya.
TULISAN BALTYRA UNTUK JAKARTA 485 TAHUN (1)
Jakarta Meniru Brasilia
JAKARTA ditakdirkan menjadi kota paling unik di dunia. Semua elemen budaya dunia ada di kota ini, sedikit atau banyak. Sejak ramai didatangi para pedagang masa lalu, penjajah, pengadu nasib dan kaum urban dari luar Jakarta, kota ini semakin berwarna dengan banyak pengaruh budaya manapun. Termasuk segi arsitekturnya.
Awal tahun 1960-an, kota Jakarta melesat berkembang modern dengan kehadiran bangunan baru bercorak kontemporer masa depan. Kehadiran ini bertepatan dengan ajang pamer diri bersamaan dengan diadakannya pesta olahraga bangsa Asia tahun 1962, Asian Games IV di Jakarta.
Hanya dalam 4 tahun, dibangun gedung baru, fasilitas kantor dan hiburan serta akses jalan lebar berjalur banyak menghias kota ini. Bagaimana hal itu dimungkinkan? Sang pemimpin waktu itu yang berjiwa megalomania, Soekarno, ingin menunjukkan kepada dunia bahwa bangsanya bukan bangsa kecil dan bisa dipermainkan oleh bangsa manapun. Dengan memamerkan segi arsitektur, Soekarno ingin menanamkan kepada bangsanya untuk berdiri tegak memandang ke depan menatap langit tinggi.
Dibangunlah beberapa gedung yang dia contoh dari kota Brasilia. Mengapa Brasilia? Kota ini waktu itu antara 1956 hingga 1960 sedang dibangun untuk dipersiapkan sebagai ibukota baru negeri Brasil, negeri sepakbola yang dikenal baik oleh bangsa Indonesia melalui ketrampilan kaki pemain-pemain sepakbolanya. Entah meniru atau tidak, tahun 1957 Soekarno berpikiran sama ingin membuat ibukota baru bagi Indonesia. Dia memilih Palangkaraya.
Jadilah beberapa bangunan dibangun di Jakarta yang sedikitnya banyak meniru konsep arsitektural kota Brasilia, yang dirancang oleh arsitek kenamaan Oscar Niemeyer. Soekarno pun datang ke sana untuk melihat seperti apa kota baru itu. Dua kali dia ke Brasilia, Mei 1959 dan Mei 1961. Dia berteman dengan Presiden Brasil Juscelino Kubitschek, orang yang memindahkan ibukota Brasil ke kota Brasilia. Sedangkan Niemeyer adalah sahabat karib Kubitschek.
Sejak keakraban Indonesia dan Brasil semasa Soekarno, tak ada lagi presiden Indonesia yang ke sana selama 30 tahun lebih. Penggantinya, Soeharto, lebih senang meniru cara Brasil menghabisi kriminal (angka kejahatan cukup tinggi di sana), dengan cara penembakan misterius. Mendata penjahat, menculiknya, membunuhnya dan membuangnya, agar rakyat tentram.
Tahun 1992, Presiden Soeharto sempat sekali ke Brasil. Bukan untuk kunjungan bilateral, tetapi untuk menghadiri KTT Bumi yang pertama kali diadakan di dunia. Tidak seperti Soekarno yang niat ke sana hanya untuk meniru arsitektur Brasilia sebagai ibukota baru Brasil untuk kota Jakarta. Dan bukan untuk ibukota baru Indonesia seperti yang direncanakan Soekarno, yaitu Palangkaraya. (*)
May 21st, 2012 at 13:38
KANG MONGGO : aaaaah, tau aja goyang SAMBA……..hahahah emang goyangnya kayap apa kang????? apakah kang udah meguru sama penunggu BRAZIL?????
May 21st, 2012 at 13:17
Cuma goyangnya belum goyang samba, masih goyang poco-poco
May 21st, 2012 at 12:21
ISK : hanya satu kata mmg jossssssssss……….prof. SEJARAH dirumah kita ini
May 21st, 2012 at 09:50
hayoo… pindahkan ke palangkaraya…. saya setuju banget nih….
trus pusat niaga pindahkan dari jakarta ke surabaya….
jakarta jadi kota apa ya…. hmmm….
May 21st, 2012 at 09:38
Hanya Profesor Sejarah Baltyra ISK yang bisa menulis seperti ini. Lengkap dengan gaya penyajian artistiknya, foto-foto dan data lengkap, koleksi pribadi, simpanan majalah lama dan kemampuan melihat yang orang lain tidak melihat serta menghubungkannya dengan pas. Double semanggi di Brasilia dan Semanggi di Jakarta is VERY IMPRESSIVE!! Tak terbantahkan. Fakta-fakta lainnya juga luar biasa…muantep tenan.
Penasaran apa lagi nanti di seri ke 2 dan seterusnya serial ini…
May 21st, 2012 at 09:25
tulisan pak iwan seperti biasa…selalu menggugah selera membaca..cheers..!
May 21st, 2012 at 09:05
Hanya satu Baltyran yang bisa menulis article spt ini.
May 21st, 2012 at 08:41
Kenapa ya ibukota tidak / belum dipindah ke Palangkaraya? Meniru di negara lain, dengan memisahkan ibukota sebagai pusat pemerintahan dengan pusat niaga, tentu akan mengurangi kemacetan dan kesemrawutan.
May 21st, 2012 at 08:12
Wow..luar biasa pak Iwan bisa menemukan hal hal seperti ini, sejarah, dan foto-foto yang sangat mendukung, sungguh tidak bisa dibantah gaya kemiripannya.
Saya pernah ngobrol dengan staf KBRI di Brasília melalui tilpon beberapa minggu setelah saya sampai di Brasil, dan sedikit ngobrol tentang gedung KBRI yang luas dan megah, Ada tamannya…pokoknya luas…kalau kedutaan Brasil, berada di gedung Menara Mulia lt.16, jl Gatot Subroto, sebelum Semanggi, atau dekat Polda.
Oya pak Iwan, gedung GKBI sudah ngga Ada? Dari tahun 1997-1999, saya bolak balik ke gedung GKBI, mbayar rekening HP pertama saya, Nokia, jadi tiap bulan ke gedung itu. Oya..rumah ortu saya juga dekat GKBI, di Sleman, jl. Magelang km.14.
May 21st, 2012 at 08:09
Tidak perlu anti meniru hal-hal yang baik. Toh, pada saat itu, Jakarta memang harus dikembangkan.
Tapi Jakarta saat ini, sudah hilang keindahannya, berganti macet.