Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Jakarta 485 Tahun (1): Jakarta Meniru Brasilia

Monday, 21 May 2012

Viewed 2016 times, 1 times today | 59 Comments |

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta

 

PENGANTAR: Sampai jelang HUT Jakarta ke 485, akan ada beberapa tulisan Baltyra untuk kota Jakarta yang berusia 485 tahun. Bisa tiap hari atau selang seling. Tujuannya agar kita tahu dimana kita tinggal. Bukan hanya memeras dan mengotori Jakarta untuk mengambil rejekinya saja. Itupun sambil menghina-hina kemacetannya.

 

TULISAN BALTYRA UNTUK JAKARTA 485 TAHUN (1)

Jakarta Meniru Brasilia

JAKARTA ditakdirkan menjadi kota paling unik di dunia. Semua elemen budaya dunia ada di kota ini, sedikit atau banyak. Sejak ramai didatangi para pedagang masa lalu, penjajah, pengadu nasib dan kaum urban dari luar Jakarta, kota ini semakin berwarna dengan banyak pengaruh budaya manapun. Termasuk segi arsitekturnya.

Awal tahun 1960-an, kota Jakarta melesat berkembang modern dengan kehadiran bangunan baru bercorak kontemporer masa depan. Kehadiran ini bertepatan dengan ajang pamer diri bersamaan dengan diadakannya pesta olahraga bangsa Asia tahun 1962, Asian Games IV di Jakarta.

Hanya dalam 4 tahun, dibangun gedung baru, fasilitas kantor dan hiburan serta akses jalan lebar berjalur banyak menghias kota ini. Bagaimana hal itu dimungkinkan? Sang pemimpin waktu itu yang berjiwa megalomania, Soekarno, ingin menunjukkan kepada dunia bahwa bangsanya bukan bangsa kecil dan bisa dipermainkan oleh bangsa manapun. Dengan memamerkan segi arsitektur, Soekarno ingin menanamkan kepada bangsanya untuk berdiri tegak memandang ke depan menatap langit tinggi.

Dibangunlah beberapa gedung yang dia contoh dari kota Brasilia. Mengapa Brasilia? Kota ini waktu itu antara 1956 hingga 1960 sedang dibangun untuk dipersiapkan sebagai ibukota baru negeri Brasil, negeri sepakbola yang dikenal baik oleh bangsa Indonesia melalui ketrampilan kaki pemain-pemain sepakbolanya. Entah meniru atau tidak, tahun 1957 Soekarno berpikiran sama ingin membuat ibukota baru bagi Indonesia. Dia memilih Palangkaraya.

Jadilah beberapa bangunan dibangun di Jakarta yang sedikitnya banyak meniru konsep arsitektural kota Brasilia, yang dirancang oleh arsitek kenamaan Oscar Niemeyer. Soekarno pun datang ke sana untuk melihat seperti apa kota baru itu. Dua kali dia ke Brasilia, Mei 1959 dan Mei 1961. Dia berteman dengan Presiden Brasil Juscelino Kubitschek, orang yang memindahkan ibukota Brasil ke kota Brasilia. Sedangkan Niemeyer adalah sahabat karib Kubitschek.

Sejak keakraban Indonesia dan Brasil semasa Soekarno, tak ada lagi presiden Indonesia yang ke sana selama 30 tahun lebih. Penggantinya, Soeharto, lebih senang meniru cara Brasil menghabisi kriminal (angka kejahatan cukup tinggi di sana), dengan cara penembakan misterius. Mendata penjahat, menculiknya, membunuhnya dan membuangnya, agar rakyat tentram.

Tahun 1992, Presiden Soeharto sempat sekali ke Brasil. Bukan untuk kunjungan bilateral, tetapi untuk menghadiri KTT Bumi yang pertama kali diadakan di dunia. Tidak seperti Soekarno yang niat ke sana hanya untuk meniru arsitektur Brasilia sebagai ibukota baru Brasil untuk kota Jakarta. Dan bukan untuk ibukota baru Indonesia seperti yang direncanakan Soekarno, yaitu Palangkaraya. (*)

 

Share This Post

Posted by Monday, 21 May 2012 on 07:29.

Categories: Nusantara. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

59 Responses to “Jakarta 485 Tahun (1): Jakarta Meniru Brasilia”

Pages: « 6 [5] 4 3 2 1 »

  1. 50
    Nana Says:

    wah terimakasih pak ISK…artikelnya bagus sekali…jadi tau neh sejarah kota jakarta. matur nuwun.

  2. 49
    Dewi Aichi Says:

    Iya betul sekali pret….sesama kampret memang harus saling memahami …

  3. 48
    IWAN SATYANEGARA KAMAH Says:

    Nggak juga Phie. Datanya semua sudah usang. Cuma orang nggak ‘ngeh’ aja. Biasalah kalau mau jualan haris cari barang yang gak ada saingannya. Kalau ngebahas itu-itu aja, ya bosen dong Phie.

    Udah berenang sama Tembem?

  4. 47
    IWAN SATYANEGARA KAMAH Says:

    Salam kampret juga ya mbak Dewi. Meski kamu kampret, aku paham kok. Itu fakta. Ya ‘kan, kampret?

  5. 46
    Dewi Aichi Says:

    Pak Iwan….salam kampret kembali yaaaaaaa….bener saya maniak batik, kain kafan saya nanti juga motif batik….pengen dibatik ya? Apanya? tinggal bilang saja…atau SMS ke saya dengan cara KETIK SPASI PESANBATIK, kirim ke 696969…oke…saya tunggu pesanan anda…

  6. 45
    phie Says:

    bang iwan bisa aja ya klo nulis datanya lengkap benneerrrrrr!

  7. 44
    IWAN SATYANEGARA KAMAH Says:

    Wi, bapakmu orang GKBI toh? Eee alaah.. pantes anaknya kayak batik…! Ck ck ck ck ck ck ck…

    Bener, Gedung GKBI sekarang besar julang tinggi. Saya sih tak punya pengalaman dengan gedung itu. Ada lagi satu gedung milik GKBI yang berada di Jalab Sudirman. Kalau sekrang letaknya menjadi gedung Bursa Efek Jakarta itu. Disitu ada gedung milik GKBI dan pernah jadi gedung redaksi harian Pelita.

    Gitu dulu ya…salam kampret!

  8. 43
    IWAN SATYANEGARA KAMAH Says:

    Hahaha…nggak juga ah Yu…malah saya pengen becanda seolah-olah ada di Hawaii. Piye kabare?

  9. 42
    Lani Says:

    ISK : cuma becanda ta? aku kira ngajakin beneran……aah kamu itu lo……becanda melolo

  10. 41
    IWAN SATYANEGARA KAMAH Says:

    Bener bro, udah pada mati kali si calon-calon makelar. Bayangkn sungguh tidak ada perencanaan sekali memindahkan ibukota ke Jonggol. Malah bikin macet. Maklum saat itu Soeharto sudah tua dan gamoang sekali dipengaruhi oleh iblis-iblis disekitarnya.

    Salam Jonggol.

    Oh ya, malan Pak Prabowo yanb tinggal ke sana.

Pages: « 6 [5] 4 3 2 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)