Selubung Hitam Konspirasi (1): Prologue

Masopu

 

Jarum jam baru saja menunjuk ke angka 9 pagi, saat Arya mulai beraktifitas. Dia adalah karyawan di bagian keuangan sebuah perusahaan distributor snack dan kebutuhan pokok lainnya.  Pekerjaan ini sudah ditekuni semenjak lulus kuliah tiga tahun silam. Berkat ketekunannya saat ini, Arya diangkat menjadi koordinator yang membawahi beberapa orang anak buah. Timnya bertugas untuk mengurusi masalah utang-piutang toko rekanan perusahaan dalam pendistribusian produk mereka. Sampai sejauh ini Arya mampu membuktikan kapasitasnya dalam memimpin anak buahnya dengan baik dan selalu mampu menyelesaikan tugas.

Aktifitas di pagi itu tiba-tiba terganggu oleh bunyi telepon yang berdering di mejanya. Segera diangkatnya gagang telepon tersebut dengan penuh keheranan, karena biasanya belum ada telepon yang menghubungi dia sepagi itu..

” Selamat pagi. ” sapanya sambil memeriksa beberapa laporan yang anak buahnya kerjakan.

” Pagi Arya. Kamu bisa ke ruangan saya saat ini? ” Sahut suara lelaki di seberang yang tak lain adalah suara pak Yudi manajer FAM-nya.

” Bisa Pak.”

” Ok segera ke sini. Penting. Jangan lupa bawa disk dan buku laporanmu selama 4 bulan terakhir  ini “

” Iya pak ” Jawab Arya sambil menaruh gagang telepon ke tempatnya.

Setelah mengambil disk dan cetakan laporan yang diminta oleh manajer FAM-nya. Segera dia melangkah menuju ruangannya manajer FAM. Tak berapa lama Arya sudah sampai di ruangan manajer FAM. Setelah mengetuk pintu, dia melangkah masuk ke dalam ruangan FAM tersebut. Dengan sedikit heran dia masuk ke dalam. Di sana telah duduk menunggu pak Yudi manajer FAM dan Pak Jimi manajer personalia serta seseorang yang dia tahu bukanlah karyawan dan juga bukan termasuk dalam jajaran manajemen perusahaan. Seseorang yang asing dan tak dikenalnya.

” Selamat pagi Pak ,” sapa Arya.

” Pagi Ar. Silahkan duduk,” Jawab pak Yudi mempersilahkannya duduk.

” Ada apa bapak memanggil saya kemari? “

” Ada beberapa hal yang perlu kami bicarakan denganmu Ar. ” jawabnya sambil melihat ke arah dua orang di sampingnya tersebut bergantian. Terlihat sorot mata yang agak aneh di matanya. Sorot mata yang tidak dimengertinya.

” Ah ada apa nih kok perasaanku jadi tidak enak begini? ” gumam Arya dalam hati.

” Ar ada keanehan yang kami tangkap  dalam laporan-laporanmu beberapa bulan ini “

” Aneh bagaimana Pak? ” Tanya Arya diliputi keheranan. Degup jantungnya perlahan-lahan makin cepat dan tidak teratur.

” Begini, setelah kami lakukan cek ulang dibantu dengan Pak Rudi yang di samping kanan saya ini, kami menemukan beberapa kejanggalan dalam laporan transaksi yang kamu laporkan.” Pak Yudi berhenti untuk membenarkan posisi duduknya yang agak condong ke kanan.

” Kejanggalan bagaimana Pak? Bukankah selama ini bapak sudah mengecek semua laporan saya tersebut? “

” Kami menemukan  adanya beberapa laporan yang berbeda dengan data laporan yang masuk dari tim collector dan juga tim sales Ar. Perbedaan  itu jumlahnya cukup signifikan ” Pak Yudi memandangi wajahnya tiada henti. Setiap gerak tubuhnya selalu dalam sorot mata tajam lelaki berusia sekitar 45 tahunan tersebut.

” Bukankah saat laporan-laporan tersebut saya serahkan, bapak melakukan cross check dengan data-data yang masuk?” Tanyanya keheranan.

” Justru di situ letak keanehan yang kami temukan. Saya merasakan ada beberapa laporan yang berbeda dibandingkan saat laporanmu yang pertama. Saat kami cek nilai laporanmu lebih kecil dari  laporan yang tim kolektor buat. Sementara menurut team kolektor dan sales, itu adalah berkas yang sama dengan yang kamu kerjakan. Dan seperti yang saya katakan tadi, nilainya sangat signifikan. ” Jawab pak Yudi.

” Tidak mungkin pak. Selama ini saya selalu mengecek setiap data laporan yang saya buat dan selalu cross check dengan supervisor bagian collector serta tim sales Pak. ” jawab Arya mencoba membela diri. Tampak gurat-gurat ketidak percayaan mulai menghias wajahnya. Raut muka teduh yang biasanya memayungi wajahnya, perlahan pergi tergantikan oleh semburat merah pertanda menahan emosi yang bergejolak.

” Buktinya semua ini beda. Yang sama hanya laporanmu yang di kertas dan di disk saja. Waktu dikonfrontir dengan data dari team kolektor dan sales beda. Apa artinya semua ini ? ” tanya pak Yudi dengan nada meninggi. Wajahnya memerah menahan amarah melihat Arya yang masih kukuh membela diri dan menyatakan dirinya tidak bersalah.

” Saya tidak mengerti pak. Selama ini laporan yang saya buat pasti saya compare dengan data di kolektor dan tim sales Pak! ” jawab Arya sambil menggaruk-garuk kepalanya. Kebingungan semakin menguasai hatinya.” Dari mana tuduhan ini muncul? Dan mengapa menerpanya?” beragam tanya menggema di hatinya.

” Tapi buktinya mana? Sekarang kamu bawa semua data yang kamu punya, termasuk copy  rekapan dari kolektor dan sales untuk crosscheck “

Segera Arya berjalan menuju ruangannya. Diambilnya semua berkas yang dibutuhkan. Dibawanya ke ruangan Manajer FAM. Sesampainya di sana, segera diserahkannya data-data yang diminta. Manajer FAM, Manajer Personalia dan Pak Rudi segera memeriksa semua data itu secara bergantian. Gurat-gurat kekagetan menghias wajah mereka bertiga saat melihat berkas-berkas tersebut. Segera mereka bertiga memberi tahu Arya. Alangkah terkejutnya Arya saat ternyata data di disk dan rekapan dari sales dan kolektor yang baru saja dicheck ketiga orang tersebut berbeda dari yang dulu dia gunakan. Berkas-berkas tersebut sama persis dengan laporan yang dijadikan bukti tuduhan.

Arya pusing. Arya bingung. Bagaiamana bisa semua ini terjadi. Dia ingat betul bahwa semua data-data dulu sudah dicross check, tapi kenapa semua jadi berbeda sekarang?  Kenapa? Pertanyaan itu segera merasuk di benaknya. Namun tak ada jawaban yang mampu menenteramkan hatinya.

” Bapak, saya masih punya satu data lagi yang bisa digunakan untuk membela diri saya. Jika bapak berkenan mari kita check data di komputer saya, di sana masih tersimpan semua laporan saya selama 12 bulan terakhir  menjadi kordinator Pak ” Kata Arya mencoba menenangkan diri.

” Ok. Mari kita lihat semua data yang ada di komputermu “

Mereka segera berjalan menuju ruang kerja Arya. Dengan cepat Arya memasukkan kombinasi password yang selama ini dia gunakan untuk memproteksi data-data pentingnya. Tak lama semua data yang dibutuhkan berhasil dibuka. Dengan teliti mereka mencoba menelaah satu persatu laporan tersebut.

Waktu terus berlalu. Kerutan ketidakpercayaan di muka Arya semakin tebal, seiring semakin lamanya mereka tenggelam meneliti semua data yang tersimpan di Komputer dan juga berkas yang terserak di meja. Selama ini data yang dia simpan selalu aman, tapi kini ada beberapa data yang ternyata telah rusak. Meski 95% bisa dibuka,  tapi keanehan muncul karena semua data itu ternyata sama dengan yang ada disknya. Padahal dia ingat betul bahwa dia tidak pernah membuat laporan seperti itu. Meski di situ tertera namanya, tapi laporan itu bukan seperti yang biasa dia buat.

“Arya kamu sudah lihat sendiri kan? Laporanmu di komputer, disk dan juga di kertas laporan semuanya sama. Apa lagi yang jadi alasanmu sekarang?,” bentak pak Yudi manajer FAM memecah konsentrasi mereka berempat.

” Saya tidak tahu lagi Pak. Saya masih syok dan bingung menghadapinya. ” keringat dingin semakin  deras mengaliri wajahnya.

” Ok, karena sekarang sudah malam, kamu boleh pulang. Kami akan menganalisa semua data laporan dan kesalahanmu hari ini. Kami juga masih butuh data-datamu di komputer untuk bahan pertimbangan. Sekarang kamu boleh pulang. ” kata pak Yudi sambil memberi tanda ke Arya untuk meninggalkan ruangan tersebut.

Setelah berpamitan Arya pulang dengan pandangan lesu dan tak percaya. Selama dia bekerja, baru kali ini dia menghadapi masalah seperti ini. Perusahaan menuduhnya memanipulasi data dan menyebabkan berkurangnya pendapatan perusahaan.

Langkah gontainya menyusuri halaman kantor yang telah berselimut warna hitam pekat, sepekat barisan Tanya yang masih menghantuinya. Masih terngiang di telinganya bagaimana Manajer Personalia begitu memujinya saat pengangkatan dirinya menjadi Koordinator setahun yang lalu.

Tidak berapa lama kemudian terlihat Arya telah naik bus kota yang biasa melayani rute kantor menuju ke rumahnya. Setelah membayar tiket bus, kembali pikirannya menerawang membayangkan semua kejadian yang dia alami hari ini. Terlintas jelas bagaimana tadi pagi di atas keyboard komputernya terdapat debu bekas puntung rokok yang terjatuh, padahal dia bukan perokok dan tidak pernah ada yang memakai komputernya tanpa sepengetahuan dirinya meskipun itu manajernya sendiri.

Lamunan Arya segera terhenti saat kondektur bus berteriak menyebutkan nama daerah tempat tinggalnya beberapa kali. Dengan perasaan tergagap segera dia berdiri melangkah ke pintu bus sambil meneriakkan kata stop kepada sopir bus. Saat bus berhenti, Arya mélangkah turun tepat di pintu jalan kecil yang menghubungkan jalan raya dan rumahnya yang asri.

Sambil menyusuri jalan kecil tersebut, Arya berusaha menyembunyikan wajah kusutnya. Bagaimanapun dia tidak mau istrinya tahu jika dia sedang menghadapi suatu masalah di kantornya. Saat dia membuka pintu pagar rumahnya, dilihatnya Aneeva Dessy Antari istrinya sedang duduk-duduk di ruang tamu dibalut baju dan kerudung yang senada. Tampak tangannya sedang membaca buku” From Zero To Hero” kesukaannya semenjak masih sama-sama kuliah dulu.

“Assalamualaikum.” Sapa Arya sambil melemparkan seulas senyum ke istrinya.

“Waalaikum salam. Tumben sampai malam pulangnya Mas?” jawab wanita yang biasa dipanggilnya dengan nama Anee tersebut.

“Mas ada lembur An. Tadi ada tim audit dari kantor pusat. Mereka melakukan audit di bagian team mas.” jawab Arya membuat alasan sedemikian rupa untuk menenangkan hati sang istri agar tidak tahu masalah yang menimpanya di kantor.

“Mas mandi dulu ya! ” kata Anee sambil memindahkan sepatu dan tas kerja Arya yang telah selesai dilepaskannya.

“Baik An.” jawab Arya seraya menuju kamar mandi yang terletak di dekat dapur rumahnya.

Sekitar 15 menit kemudian Arya telah selesai mandi. Dengan wajah yang terlihat lebih segar. Segera dia melangkah menuju ke ruang tengah yang mereka fungsikan sebagai musholla. Tak berapa lama terlihat dirinya sudah tenggelam dalam muhasabah dengan sang Pencipta. Diadukannya semua beban hidup yang menderanya hari ini ke haribaan sang Pencipta yang maha rahiim.

Selesai menunaikan kewajiban sholatnya, Arya segera melipat sarung dan sajadahnya sebelum melangkah ke meja makan. Di sana istrinya telah menunggu dirinya untuk makan malam bersama. Begitu Arya duduk, Anee segera menaruh nasi dan lauk pauk di piringnya. Arya segera memakan hidangan tersebut, meski dengan pikiran yang masih belum bisa melepaskan segala tanya yang masih menghantui pikirannya.

Anee memperhatikan suaminya yang  makan tidak selahap seperti biasanya.

“Ada apa Mas? Apakah masakanku keasinan Mas?,” tanya Anee membuyarkan lamunannya

“Tidak ada apa-apa Anee.” jawabnya dengan tergagap malu. Segera dipercepatnya suapan demi suapan nasi ke mulutnya.

“Terus kenapa? Mas kurang sehat ya? tanyanya dengan raut muka penasaran.

“Tidak juga An. Mas merasa masih kenyang. Tadi mas sempat dibelikan makanan sama Pak Yudi.” Arya mencoba menutupi kegalauan hatinya yang sempat tertangkap mata sang istri.

“Ooo begitu Mas.”

“Iya Anee.” jawab Arya singkat.

“An, Mas mau istirahat dulu. Capek nih setelah lembur tadi.”

“Ya sudah Mas istirahat dulu saja. Biar Anee yang membereskan meja ini.”

Arya segera melangkahkan kaikinya  menuju ke kamar tidur mereka. Dia ingin segera tidur agar pikirannya tidak terkuras untuk memikirkan masalah yang tadi dihadapinya. Sebelum tidur tak lupa dia berdoa agar besok masalah yang menimpanya segera terpecahkan.

 

_ _ _ _

Pagi itu Arya bergegas berangkat kerja. Setelah berpamitan dengan istrinya, Arya melangkah menyusuri jalan kecil menuju halte bus yang berada di depan mulut jalan kecil. Tak berapa lama dia telah naik bus kota yang menjadi langganannya setap kali dia berangkat bekerja.

Hampir 30 menit tubuhnya terguncang di dalam bus kota yang kebetulan tidak seberapa penuh penumpangnya, akhirnya dia sampai juga di kantornya. Langkah-langkahnya yang teratur membawanya menuju ruang kerja. Saat memasuki ruang kerjanya, dia agak kaget saat melihat pak Yudi, pak Jimi dan Pak Rudi orang yang kemarin mengaku tim auditor dari Jakarta sedang duduk di meja kerjanya sambil membahas suatu hal yang serius.

“Selamat pagi Pak.” sapa Arya sambil menaruh tas kerjanya di samping meja.

“Pagi Ar. Kebetulan kamu sudah datang. Mari ikut kami ke ruangan saya.” Jawab pak Yudi dengan mimik muka serius.

“Baik Pak.” jawab Arya.

Segera mereka melangkah pergi menuju ruangan pak Yudi yang terletak di sebelah kiri pintu masuk. Beberapa pasang mata karyawan yang ruangannya mereka lalui tampak mencuri pandang ke arah mereka sambil diiringi beragam tanya yang hanya sebatas praduga saja.

“Duduk Ar” Kata pak Yudi sesaat setelah mereka sampai di ruang kerjanya.

“Terima kasih Pak.”

“Langsung saja kita mulai pembicaraannya.” kata pak Yudi membuka pembicaraannya.

“Silahkan Pak.”

“Begini Ar, dari semalam sampai tadi pagi kami bertiga sibuk meneliti semua laporanmu. Kami  sudah mengechek semua data yang tersimpan di disk, di komputer serta di laporanmu yang biasa kamu cetak. Di sana kami menemukan kejanggalan yang lebih besar dari data yang kami tahu kemarin Ar. Dari sini apa ada penjelasanmu?” kata pak Yudi mengawali pembicaraannya.

“Seperti yang telah saya katakan kemarin pak, mustahil saya memalsukan laporan seperti yang bapak tanyakan tadi.”

“Mustahil bagaimana Ar? Buktinya kami menemukan banyaknya perbedaan antara laporanmu dengan data yang kami terima dari tim sales dan kolektor di lapangan!”

“Saya tidak tahu Pak, tapi saya memang tidak melakukannya Pak.”

“Ok kalau kamu tidak mengakuinya Ar. Kami juga mendapatkan informasi jika kamu telah beberapa kali melakukan kontak dengan toko-toko grosir yang menjadi rekanan kita. Benarkah informasi itu Ar?” Pak Yudi terus mengejar Arya dengan pertanyaan yang memojokkan. Sorot matanya terus mengikuti gerak tubuhnya.

“Kalau itu bisa dikatakan tidak benar Pak. Bukan saya yang menghubungi pihak rekanan kita, tapi mereka menghubungi saya dan meminta tenggat waktu pembayarannya diundur. Tapi karena bukan wewenang saya, maka saya alihkan  ke tim yag lebih berhak menanganinya.”

“Tapi dari hasil investigasi kami kepada pemilik toko, katanya kamu yang menghubungi mereka dan menjanjikan tenggat waktu pembayarannya bisa mundur, asalkan mereka mau membayarkan sekian persen dari total utang mereka kepadamu?”

“Itu semua tidak benar Pak. Saya tidak pernah menghubungi pihak toko.” jawab Arya.

“Kalau begitu kamu jelaskan rekaman hasil pembicaraan kami dengan pemilik toko yang sempat kami hubungi beberapa hari yang lalu. Tanpa sepengetahuanmu, kami telah menghubungi beberapa toko tersebut selama tiga hari ini Ar. Dan sebetulnya pak Rudi sudah ada di sini sejak seminggu yang lalu. Dia melakukan analisa atas semua data laporanmu” Kata pak Yudi seraya mengeluarkan sebuah disk yang berisi rekaman percakapannya dengan pihak rekanan.

Segera pak Yudi memasukkan disk tersebut ke komputernya dan memutar rekaman yang tersimpan di dalamnya. Arya mendengarkan hasil rekaman tersebut dengan penuh seksama. Dia terkejut. Dia begitu mengenal beberapa suara yang bersahut-sahutan menjawab semua pertanyaan pak Yudi.

Suara-suara itu adalah suara para pemilik toko yang pernah menghubunginya untuk menanyakan tentang prosedur pembayaran hutang yang pihak rekanan punya. Selain itu yang Arya ingat dari mereka waktu itu adalah mereka sama-sama meminta tenggat waktu jatuh tempo hutang mereka diundur sedikit lagi, karena mereka belum bisa membayar hutang-hutang tersebut. Namun karena itu bukan wewenangnya, Arya mengalihkan sambungan telepon dari pemilik toko ke departemen yang berwenang menanganinya.

Arya heran kenapa saat ditelepon mereka malah mengatakan hal yang lain dari yang mereka pernah katakan padanya. Kenapa mereka berbicara seolah-olah Arya sengaja meminta sejumlah uang agar hutang-hutang mereka bisa ditangguhkan. Padahal Arya tidak pernah melakukannya.

“Bagaimana Ar?,”tanya pak Jimi tiba-tiba memecahkan kebingungannya akan semua tanya yang datang menghampirinya. Sejak tadi, baru kali ini pak Jimi selaku manajer personalia berbicara. Sontak pertanyaan tersebut membuyarkan pikirannya.

“Ba…ba…bagaimana apanya Pak?” tanya Arya gelagapan.

“Bagaimana tanggapanmu tentang sebagian rekaman yang telah kami putar?” pak Jimi mencoba mengulang pertanyaannya.

“Seperti yang saya katakan sedari awal tadi Pak, saya tidak mengerti akan semua tuduhan ini. Sejak awal bekerja di sini saya  tidak pernah punya niatan untuk melakukan kecurangan dalam laporan yang saya buat.”

“Begitu ya. Tapi buktinya sekarang kamu telah menyelewengkan laporan dan wewenang yang telah perusahaan berikan kepadamu?” lanjut pak Jimi.

“Saya kecewa Ar dengan kelakuanmu. Saat saya mengangkatmu setahun yang lalu, saya yakin dan percaya dengan kejujuran yang kamu punya. Tapi nyatanya sekarang kamu malah mengkhianati kepercayaan saya.” Pak Yudi menyela perkataan pak Jimi. Raut muka kecewa tergambar di wajahnya.

“Tapi saya tidak melakukan semua kecurangan itu Pak. Jika saya melakukan hal-hal yang bapak-bapak tuduhkan pasti sekarang ini saya hidup lebih dari apa yang saya punya saat ini!” sanggah Arya dengan wajahnya yang memerah menahan amarah karena tuduhan yang tak berdasar tersebut.

“Itu tidak membuat kami percaya dengan semua pengakuanmu Ar.” Jawab pak Yudi.

“Ar masalahmu ini telah kami laporkan ke manajemen di kantor pusat semalam. Dan intinya mereka tidak mentolerir semua kesalahan semacam ini.” Pak Yudi melanjutkan.

“Maksudnya Pak?”

“Tadi pagi kami telah mendapat email balasan dari manajemen atas laporan kami semalam Ar.” Jawab Pak Jimi.

“Jawaban untuk apa Pak?” tanya Arya semakin bingung.

“Dengan pertimbangan besarnya kesalahanmu, manajemen pusat memutuskan untuk memberhentikanmu dari pekerjaan ini Ar. Dan mulai saat ini kamu bukan lagi bagian dari perusahaan ini.” Jawab pak Jimi.

Arya menundukkan kepalanya. Kata-kata pak Jimi tadi serasa seperti pukulan godam yang menghantam ulu hatinya. Keras dan menyakitkannya. Sakit karena dia tidak pernah melakukan apa yang perusahaan tuduhkan kepadanya.

“Tapi saya tidak bersalah, itu semua fitnah, Pak!” jawab Arya.

“Terserah kamu berkata itu fitnah ataupun bukan, yang jelas kamu terbukti bersalah Ar. Dan itu sudah cukup  bagi manajemen di kantor pusat untuk membuat suatu keputusan Ar.” jawab pak Jimi sambil menyodorkan selembar kertas putih ke depan Arya.

Segera Arya meraih kertas tersebut. Dibacanya dengan seksama dan berulang-ulang kertas tersebut. Tertera jelas kata-kata di sana bagaimana manajemen pusat telah memutuskan untuk memberhentikannya. Dari lembaran email yang telah diprint tersebut, tertera jelas tanda tangan head HRD kantor pusat. Mata Arya berkaca-kaca menahan perih di mata dan hatinya.

“Pak, tidak bisakah saya diberi kesempatan untuk membuktikan jika saya tidak bersalah?” tanyanya mengharap mereka berubah pikiran.

“Kemungkinan itu semalam telah kami utarakan Ar. Tapi manajemen pusat tidak bisa memberikan kesempatan itu.” jawab pak Jimi.

“Kenapa saya tidak diberi kesempatan Pak? Saya tidak bersalah dan saya akan berusaha untuk membuktikan jika saya tidak bersalah“

“Saya kurang tahu Ar. Sekarang kamu harusnya merasa beruntung, dengan besarnya nominal uang yang kamu selewengkan harusnya perusahaan menuntutmu ke pengadilan, tapi nyatanya perusahaan tidak melakukannya kan?” Jawab pak Jimi.

“Tapi Pak……..”

“Kamu pilih menerima surat PHK ini ataukah kamu mau menikmati hari-harimu di balik jeruji besi tahanan?” sela Pak Jimi lagi.

“Saya tidak mau dipenjara Pak. Apalagi untuk kesalahan yang tiada pernah saya lakukan.”

“Ok kalau begitu kamu tanda tangani surat PHK ini sekarang.” jawab pak Jimi seraya menyodorkan dua lembar surat PHK yang harus ditandatanganinya.

Dibacanya surat yang baru diterimanya dari pak Jimi tersebut. Matanya terasa pedih menyaksikan kata pemutusan hubungan kerja tertera di sana dengan huruf dibold tebal. Terbayang sudah sebentar lagi dirinya akan menjadi pengangguran. Terbayang juga bagaiman susahnya mencari pekerjaan saat ini meski dengan bekal surat pengalaman kerja dan juga ijazah Sarjana sepertinya.

Setelah ditanda tanganinya surat tersebut, disodorkannya kembali surat PHK tersebut ke pak Jimi dengan pandangan mata kosong. Dia bingung harus bagaimana menceritakan hal ini kepada Anee istrinya nanti. Bagaimanapun dia tidak tega menceritakannya kepada istrinya tercinta.

“Ini surat PHK untukmu. Sekalian perusahaan berikan juga surat keterangan jika kamu pernah bekerja di sini.” Kata pak Jimi sambil menyodorkan dua buah amplop putih kepada Arya.

“Maaf pak jika selama ini saya punya salah terhadap manajemen. Tapi saya tidak pernah melakukan apa yang bapak tuduhkan. Dan saya akan membuktikannya“

“ Ok Ar. Kami juga minta maaf jika selama ini tidak bisa mengakomodir semua keluhan dan usulanmu.” Kata pak Yudi sambil menjabat tangan Arya diikuti oleh pak Jimi dan juga orang tak dikenal Arya tersebut.

“Saya pamit pulang pak.” kata Arya sambil tertunduk lesu.

“Silahkan Ar.” jawab pak Yudi dengan seulas senyum penuh arti tersimpul di wajahnya.

Arya segera melangkah pergi meninggalkan ruangan tersebut. Dengan langkah gontai dirinya berjalan menuju ke ruang kerjanya untuk membereskan semua barang pribadinya. Beberapa teman sekantor yang melihatnya segera menghampiri dan menanyakan apa yang terjadi. Dengan singkat diceritakannya apa yang terjadi pada mereka. Tampak sorot mata penuh ketidakpercayaan muncul dari mata mereka.

Bagaimanapun mereka tahu siapa Arya. Tetapi mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa untuk membela Arya. Mereka prihatin. Beberapa karyawan tampak memeluk erat dirinya saat dia berpamitan, sementara teman-teman karyawati ada juga yang menangis melihat Arya meninggalkan kantor tersebut dengan akhir yang tidak pernah mereka duga sebelumnya.

 

_ _ _ _

Jam menunjukan pk. 13.00 siang saat Arya membuka pintu rumahnya. Dengan langkah gontai dia masuk dan segera duduk di ruang tamu rumahnya. Diletakkannya benda-benda pribadinya di meja ruang tamu tersebut. Mendung suram menggantung di bening wajahnya yang terlihat lusuh.

” Ada apa mas, kok sudah pulang? ” tanya Anee istrinya.

” Aku dipecat dari kantor, Anee ” jawab Arya singkat.

“Dipecat ? Kenapa Mas?” tanya Anee kaget.

“Aku gak bisa cerita sekarang An. Aku pusing dan ingin istirahat dulu An.”

” Ya sudah Mas. Sekarang Mas istirahat dulu. Tenangkan dirimu.”

Segera Anee  mengambil segelas air putih untuk suaminya. Setelah itu ditaruhnya di meja depan suaminya. Arya sendiri tampak memejamkan matanya. Masih nampak gurat-gurat ketidakpercayaan dalam kerut muka lelaki berusia 28 tahun tersebut.

Waktu terus berlalu. Tak terasa sudah hampir sejam mereka berdua duduk membisu di ruangan itu dengan berjuta tanya yang menggelayuti sisi pikiran masing-masing. Berjuta tanya yang tak tahu harus diungkapkan pada siapa.

” Anee aku tidak tahu kenapa aku dipecat hari ini. Selama ini aku merasa tidak pernah  membuat kesalahan yang besar sama sekali, tapi gak tahu kenapa tadi pas masuk ke ruang direktur keuangan dia menunjukkan beberapa kesalahan yang sebenarnya tidak pernah aku lakukan.” Arya membuka percakapan.

” Mas, sudah menjelaskan semuanya ke atasan mas? ” tanya Anee dengan kerutan keheranan terukir di raut wajahnya yang cantik.

” Sudah Anee. Tapi penjelasanku menjadi tidak berguna saat aku tahu semua file yang ada di ruang kerjaku ternyata telah berubah. Dan itu membuatku heran” terang Arya sambil menggeleng-gelengkan kepala tanda tidak mengerti.

” Berubah bagaimana mas? Bukankah semuanya sudah mas protect? ” tanya Anee dengan nada keheranan yang semakin tebal menggelayuti benaknya.

” Iya semua data sudah aku protect, tapi aku heran semua data itu kok tadi bisa sinkron dengan laporan yang aku curigai telah dipalsukan tersebut. Baik yang tertulis maupun yang di file komputerku. Dan data-data tersebut berbeda dengan data dari sales. Padahal selama ini data yang aku kerjakan selalu aku cocokkan terlebih dahulu dengan data yang team sales dan collector setorkan ” papar Arya dengan sorot mata tak percaya. Sorot mata tersebut terus menerawang lurus ke depan. Pandangan kosong yang terlihat di sorot mata itu.

“Loh kok bisa mas? Bukankah hanya mas yang punya password untuk membuka data pribadi mas di sana?”

” Nah itu yang aku herankan. Sejauh ini tak ada yang tahu, tapi aku heran kok bisa semua dataku berubah. Dan perubahan itu terjadi hari-hari menjelang peristiwa pemecatanku itu. Dan yang paling aneh lagi adalah, kemarin pagi aku mendapati debu sisa puntung rokok di keyboard komputerku. Aku gak tahu itu siapa. Sejauh ini tak ada orang yang tahu passwordku dan bisa menggunakan komputerku tersebut tanpa seijinku. “

” Jadi ada yang membobol passwordmu dan merubah data-data di komputer serta laporan yang kamu cetak itu mas? “tanya Anee penuh selidik.

” Iya. Dan sayangnya aku gak bisa membuktikannya saat ini. Karena peristiwa ini melibatkan dana perusahaan yang besar, itulah mengapa akhirnya aku dipecat. “

” Kenapa hanya dipecat saja? Jika memang ada bukti kan seharusnya mas bisa dipenjara? ” tanya Anee dengan raut muka makin heran.

” Nah itu yang masih aku bingungkan Anee. Sekarang aku mau tidur dulu. Semoga nanti setelah bangun bisa membuat pikiranku lebih fresh dan tenang sehingga bisa memikirkan langkah ke depannya bagaimana Anee ” jawab Arya dengan wajah yang kelihatan semakin kuyu dan lesu.

” Ok mas ” Jawab Anee mengiringi kepergian suaminya menuju kamar.

 

_ _ _ _

Anee terpekur dalam kesendiriannya. Arya lelaki yang telah dinikahinya 2 tahun yang lalu itu bukanlah sosok yang asing dalam hidupnya. Lelaki jujur dan terkesan polos untuknya. Bagaimanapun kebersamaan dalam bingkai rumah tangga telah memberikannya banyak pengetahuan sisi baik dan buruknya. Ditambah lagi dengan kebersamaan mereka di bangku kuliah dulu, semakin meneguhkan keyakinannya bahwa suaminya tidak bersalah. Sejauh yang dia tahu, suaminya adalah orang yang jujur dan terbuka. Tak pernah menutup-nutupi sesuatupun darinya.

Arya dan Anee memulai masa perkenalannya di kampus, Arya sebagai kakak kelas terkesan simpatik di matanya. Arya dulu terkesan sebagai sosok alim dan jujur. Meski bukan termasuk anak yang super alim , tapi Anee tahu jika dia bukanlah orang yang suka berbohong dan menjilat untuk memperoleh sesuatu. Sampai menikahpun Anee masih yakin dengan penilaiannya tersebut. Karena sejauh ini Arya tak pernah membohonginya.

Keyakinan Anee semakin diperkuat dengan keadaan rumah tangga mereka. Rumah yang mereka tempati adalah rumah sederhana yang mereka beli dari uang tabungan yang mereka kumpulkan saat sama-sama bekerja dulu. Dan selama ini keuangan suaminya selalu dia ketahui, karena suaminya selalu memberikan slip gajinya kepada dirinya.

” Pasti ada yang sengaja menjebak suamiku? Tapi apa motifnya? Setahuku tak ada yang istimewa dari jabatan yang dia pegang saat ini yang hanya karyawan biasa. Apa yang mau dijadikan alasan untuk iri sama jabatan suamiku sebagai koordinator? Ah entahlah aku masih belum mampu menerka apa di balik semua ini? ” Berbagai tanya yang menghantui benak Anee dan tak mampu terurai menjadi sebuah jawaban yang pasti untuknya. Semua masih samar dan masih membingungkan untuknya. Seperti baying-bayang benda dalam temaram kabut, tak jelas ujud dan bentuknya.

Sementara di dalam kamarnya, Arya tak juga bisa memejamkan matanya. Jangankan memejamkan matanya, Sekedar memicingkan matanya saja dia tak mampu. Kekalutan pikiran memaksa matanya untuk terus terjaga. Sesekali tangannya memainkan bantal untuk menutupi wajahnya agar bisa tertidur dan sejenak melupakan segala masalah yang menderanya. Namun semakin dicobanya, semakin susah dia memejamkan matanya.

Dalam galau yang tiada bisa terhalau, Arya mencoba bangkit dari tempat tidurnya dan melangkah menuju kamar mandi. Setelah membasuh muka dan menyucikan diri dari hadast kecil yang ada, segera dilangkahkan kakinya menuju mushola di rumah tersebut. Saat ini hanya kepada DIA-lah tempatnya mengadu. Tak lama dia telah tenggelam dalam munajah keharibaan Sang Pencipta.

Lama Arya terpekur dalam do’a, akhirnya dia selesaikan sholatnya. Segera dia menghampiri istrinya yang masih termenung memikirkan nasib suaminya dan juga dirinya kelak. Bagaimanapun Anee harus segera membangkitkan semangat suaminya, agar tidak terus terpuruk dalam duka akibat pemecatan tersebut.

“Anee kenapa kamu termenung sendiri di sini?” sapa Arya ketika melihat istrinya tertunduk di ruang depan rumahnya.

“Gak ada apa-apa mas. Hanya ikut bersedih atas apa yang mas alami. Mas sudah dari tadi bangunnya?” jawab Anee sedikit kaget dengan kehadiran suaminya.

“Aku gak bisa tidur An. Karena itu aku terus mengadu pada Allah tentang semua masalah yang kita hadapi saat ini  An.”

“Coba aku belum berhenti dari tempat kerjaku yang dulu ya Mas?”

“Sudahlah An jangan berandai-andai lagi. Ini sudah garis takdirnya kok. Kenapa kita harus menyesali garis takdir yang Allah tetapkan untuk kita.” jawab Arya sambil mendekap tubuh istrinya yang dicintainya.

“Tapi Mas………..” kata Anee yang segera terhenti saat melihat jari telunjuk Arya ditaruh di dekat bibirnya.

Kembali kenangan Anee melayang ke peristiwa 3 bulan yang lalu, saat dirinya memutuskan untuk berhenti bekerja. Dengan pertimbangan saat itu dia baru saja mengalami keguguran karena kandungannya yang lemah, akhirnya Anee dengan persetujuan Arya memutuskan untuk berhenti bekerja agar segera dikarunia momongan dan juga bisa lebih baik dan leluasa dalam melayani suaminya.

Namun kini dengan keadaan yang menimpa Arya, terbersit rasa sesal di dalam hatinya. Kenapa dulu dia terburu-buru memutuskan untuk mengundurkan diri. Andaikata dia masih bekerja, mungkin beban pikiran suaminya tidak akan terlalu berat saat ini. Dengan jumlah tabungan yang tidak seberapa, sangat susah bagi dia dan suaminya untuk memulai usaha baru.

“Sudahlah kamu jangan terlalu memikirkan masalah ini An. Besok aku akan berusaha untuk segera mendapatkan pekerjaan baru.” kata-kata Arya menyadarkan Anee dari lamunannya.

“Tapi mas gak ingin membuktikan jika Mas tidak bersalah?” tanya Anee dengan raut muka penuh keheranan.

“Gak usahlah An. Mending sekarang aku fokuskan  pikiran dan tenagaku untuk mencari pekerjaan An. Biarlah masalah ini seperti saat ini saja. Yang penting aku tidak pernah melakukan kecurangan seperti yang mereka tuduhkan.”

“Mas rela?” tanya Anee dengan nada heran.

“Rela gak rela aku harus terus berjalan An. Gak mungkin aku berhenti hanya untuk mengurusi masalah ini saja.” jawab Arya seraya berdiri dari duduknya.

“Terus?”

“Seperti yang aku bilang tadi, besok aku mau mencari pekerjaan. Agar aku bisa mengalihkan konsentrasiku untuk hal lain yang lebih berarti. Jika aku masih menganggur, aku kawatir akan digerogoti rasa sakit hati An. Dan akhirnya aku depresi. Kamu mau aku depersi?” tanya Arya mencoba meyakinkan istrinya.

Anee hanya menunduk terdiam. Bagaimanapun keinginan suaminya sejalan dengan harapannya. Dia tak ingin Arya terus terpuruk. Anee mengangguk-anggukkan kepalanya mengiyakan semua perkataan suaminya.

 

_ _ _ _

Hari telah berganti. Setelah hampir semalaman Arya susah memejamkan matanya, meski dalam keadaan capek akhirnya pagi ini dia terbangun. Dengan tubuh yang terasa agak lemah, dia segera melangkah ke kamar mandi. Semalam dia telah berjanji untuk sesegera mungkin mencari pekerjaan.

Setelah mandi dan membantu istrinya membersihkan rumah, Arya duduk di ruang depan membaca koran yang tadi sempat dibelinya dari seorang loper yang masuk ke komplek perumahan tersebut. Beberapa kali dia terlihat menuliskan catatan kecil di kertas yang dibawanya.

Setelah dirasa cukup data yang dibutuhkannya, Segera dirinya menghidupkan komputer yang terletak di ruang tengah rumahnya. Dengan lincah jari tangannya segera mengetikkan beberapa surat lamaran pekerjaan yang dibutuhkannya untuk mencoba melamar  pekerjaan baru nantinya.

Saat istrinya memanggilnya untuk sarapan bareng, Arya telah menyelesaikan semua surat lamarannya. Bergegas dia melangkah menuju meja makan dan  menikmati menu sarapan yang dihidangkan istrinya.

” Anee hari ini aku mau mencoba mencari pekerjaan. Tadi sempat membaca beberapa info lowongan pekerjaan di koran, sepertinya ada beberapa yang bisa aku hubungi. Doakan ya semoga saja aku bisa masuk ke sana, meski dengan gaji yang lebih kecil  dari tempat semula ” Arya membuka pembicaraan saat sarapan bareng istrinya.

” Apa gak sebaiknya Mas mempelajari dulu kasus yang Mas alami kemarin. Sekalian Mas coba teliti dan pilah orang-orang yang mungkin menjebak mas dalam kasus kemarin mas? “tanya Anee mencoba meyakinkan dirinya, kalau Arya sudah benar-benar yakin dengan tekadnya tersebut.

” Ya nanti kita pikirkan lagi Anee. Sekarang mas mau mencari pekerjaan dulu An. Seperti yang telah mas bicarakan dengan kamu semalam An. Doakan ya  semoga cepet dapat ya ” jawab Arya tetap kukuh untuk mencari pekerjaan dan menafikan masalah yang dihadapinya.

” Tapi apa nanti malah gak membikin  konsentrasi mas  pecah jika sudah kembali bekerja  “

” Enggaklah Anee. Mas bisa membagi fokus kok nantinya.” Jawab Arya mencoba meyakinkan istrinya.

” Ok deh mas. Anee percaya kok sama mas. Rencana mas berangkat kapan nih mas? “

” Jam 9 ntar Anee. “

” Ya sudah Mas. Aku siapin dulu semua keperluanmu Mas. ” jawab Anee Sambil beranjak pergi ke kamar menyiapkan segala kebutuhan suaminya.

” Terima kasih Anee ” Jawab Arya yang juga berdiri untuk membereskan meja bekas tempat mereka makan.

Tak lama kemudian Arya sudah terlihat rapi. Di tangan kanannya tergantung tas hitam yang berisi berkas-berkas yang mungkin diperlukan dalam proses pengajuan lamaran pekerjaannya nanti. Anee berdiri disampingnya dengan senyum manis menghiasi wajahnya.

” Mas hati-hati di jalan ya. Semoga segera dapat pekerjaan lagi. “Anee berkata sambil mencium tangan suaminya.

” Terima kasih Anee. Mas akan berusaha untuk sesegera mungkin mendapatkan pekerjaan lagi. Mas berangkat sekarang An”

Setelah mencium kening istrinya, Arya melangkahkan kakinya menyusuri halaman rumahnya. Tak berapa lama kemudian dia telah meniti panasnya jalanan kota yang berdebu. Tubuhnya disandarkan di jok bus kota yang melaju santai membelah jalanan kota tersebut. Beruntung hari ini bukan hari Senin, sehingga bus yang ditumpanginya tidak terlalu penuh sesak dengan penumpang.

Tak butuh waktu lama dia telah sampai di alamat pertama yang ditujunya. Setelah menemui security perusahaan tersebut. Security memberinya ijin untuk bertemu dengan personalia perusahaan tesebut. Tetapi sayang lowongan yang dia ingin isi ternyata telah terisi beberapa saat yang lalu. Segera dia pamit undur diri.

Kegagalan di tempat pertama tersebut tidak menyurutkan langkah dan tekadnya. Setelah melihat alamat-alamat yang telah dicatatnya tadi, segera dia langkahkan kakinya ke perusahaan lainnya yang berjarak tak jauh dari situ. Tapi jawaban yang sama dia terima dari perusahaan tersebut.

Arya terus saja melangkah. Keluar-masuk dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya. Tiada terasa sudah lima perusahaan coba dia hubungi, tapi semuanya tak bisa menerimanya bekerja di situ dengan berbagai alasannya. Saat melihat sebuah warung makan, Arya singgah untuk makan siang, waktu itu jam telah menunjukkan pukul 2 siang.

Sambil menikmati makan siangnya, Pikirannya terus menerawang jauh. Dari 6 lowongan yang dia baca di koran tadi pagi, sudah 5 yang dia datangi. Tapi sampai kini belum ada yang bisa mempekerjakannya. Sementara 1 perusahaan lagi berjarak paling jauh. Kalau dari rumahnya harus berganti bus kota 2 kali.

” Ini adalah harapan terakhirku tuk hari ini, aku harus mencobanya ” Gumam Arya sambil melangkah pergi setelah membayar makan siangnya tadi.

Kembali dia naik bus kota yang mengantarkannya ke belahan lain kota tersebut. sekitar 30 menit kemudian dia telah sampai di alamat yang dituju. Namun baru saja dia mau menanyakan lowongan pekerjaan tersebut, matanya tertuju pada pengumuman yang terpampang di pos satpam, jika lowongan kerja sudah ditutup beberapa saat yang lalu. Pengumuman itu diperkuat oleh pernyataan dari security perusahaan tersebut yang baru saja ditanyainya.

Dengan langkah gontai, Arya melangkah kembali ke jalan raya. Segera di stopnya bus kota yang akan membawanya ke terminal terdekat dari rumahnya. Dengan pikiran yang masih kalut dia terus naik bus kota yang lewat di depannya.

” Pokoknya aku gak boleh berhenti untuk terus berusaha. Esok pasti dapat pekerjaan ” Arya bergumam menyemangati dirinya sendiri.

 

_ _ _ _

Sejak pemecatan dirinya tempo hari, sampai hari ini Arya belum juga mendapatkan pekerjaan yang diidamkannya. Entah sudah berapa puluh perusahaan yang dia datangi untuk mengajukan lamaran pekerjaannya. Namun hingga hari ini hasilnya masih nihil.

Entah sudah berapa jauh dia melangkah. Kesabarannya pun serasa semakin menipis, seperti uang di sakunya yang terus berkurang. Sementara dalam setiap langkahnya tak henti do’a selalu mengiringinya. Meskipun semakin lama semakin lirih doa tersebut terucap dari bibirnya.

Namun Arya tak pernah menyerah. Berbagai jalan telah dilakukannya. Selain mencari info lewat koran dan internet, tak lupa koneksi teman-teman dan saudara dia gunakan. Namun sampai hari ini semua itu belum juga mampu membawanya kepada pekerjaan baru.

Dengan langkah yang semakin berat dia ketuk satu pintu perusahaan ke perusahaan lainnya. Bahkan tak jarang dia berusaha mengajukan lamaran kerja di bidang yang sama sekali tak ada hubungannya dengan keahliannya. Tapi itu semua tak menyurutkan langkahnya untuk sesegera mungkin memperoleh pekerjaan, agar persedian uang tabungannya tak sampai habis.

Berbagai perusahaan dia hubungi. Mulai melamar jadi tenaga adminstrasi sampai hanya sekedar menjadi office boy ataupun kuli gudang dia coba masukkan lamaran, tapi semua tak ada yang mau menerimanya dengan berbagai alasan. Padahal saat itu dia tahu bahwa perusahaan tersebut sedang butuh karyawan sesuai lamaran yang diajukannya.

Sudah tak terhitung berapa orang teman yang dia hubungi. Namun jawaban yang sama dia peroleh. Tak ada lowongan ataupun ketidaksanggupan mereka menggaji karyawan baru. Sementara saudara-saudara baik dari pihaknya maupun dari pihak Anee istrinya juga belum banyak membantu.

Kesabaran yang Arya miliki semakin menipis. Tampak gurat-gurat depresi mulai mengukir di wajahnya yang sekarang semakin tak terawat tersebut. Wajah putih itu kini mulai bersiluet rambut halus yang menghiasi pipi dan bagian atas bibirnya. Wajahnya terlihat sedikit lebih tua dari beberapa waktu yang lalu.

” Ahhh jika sampai minggu depan aku tak juga memperoleh pekerjaan, aku khawatir uang tabunganku habis. Ini sudah hampir memasuki minggu ke empat, tapi lamaran-lamaran yang aku kirimkan via pos-pun belum ada jawaban. Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku pergi ke luar kota untuk mencari pekerjaan? ” iringan pertanyaan terus berpawai dalam hati dan pikirannya.

Sementara di lain sisi Aneeva istrinya tak henti-hentinya berdoa. Dalam tangis dan do’anya dia selalu mengharapkan yang terbaik untuk Arya. Anee tak tega melihat gurat-gurat depresi itu semakin nyata menyapa wajah suaminya. Wajah orang yang begitu dicintainya.

” Ya Allah, jika memang ini ujian darimu maka berilah kami  kekuatan untuk menghadapinya. Tapi jika ini merupakan hukuman atas kelalaian kami selama ini, maka ampunilah. Ya Allah, kami hanyalah mahluk yang lemah, Hambamu ini hanyalah mahluk yang sering alpha, maka maafkanlah semua salah yang pernah terjadi. Berilah kami jalan Terbaik. Amien .” Anee menutup doanya.

 

_ _ _ _ _

Masopu

 

11 Comments to "Selubung Hitam Konspirasi (1): Prologue"

  1. agung "Masopu"  7 June, 2012 at 05:50

    @ J C ….. makasih
    @ Anoew……..lika liku yang mengasyikkan
    @ Paspampres …… Ok. Semoga edit-nya cepat selesai.
    @ Sumonggo…… semoga mbak apa mas ya?
    @ Chandra Sasadara…… iya mas. nanti nunggu matang dulu, biar enak penyajiannya.
    @ HW…. ok pak
    @ Dewi Aichi ….. sip mbak
    @ DJ ….. iya pak, akan ada kelanjutannya

    All
    Makasih komentarnya. maaf telat balas

    Regards

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.