Jakarta 485 Tahun (2): Jakarta Kota Habib

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta

 

SEBENARNYA penyanyi rock Achmad Albar, menteri luar negeri Ali Alatas atau pelukis fenomenal Raden Saleh bisa saja disebut habib. Habib adalah sebutan dalam bahasa Arab yang berarti ‘orang yang dicintai’. Kita punya presiden yang namanya menggunakan kata sifat /habib/ seperti habib-habib itu, Bacharuddin Jusuf Habibie, yang juga satu-satunya presiden di dunia yang bisa membuat pesawat terbang.

Habib adalah sebutan orang yang berilmu dari kalangan Arab di Indonesia yang tergolong sayyid atau keturunan langsung Nabi Muhammad SAW. Mereka berasal dari tanah Hadramaut yang sekarang sekitar negeri yang bernama Yaman. Menyebar ke penjuru dunia termasuk ke Asia Tenggara, khususnya di Indonesia. (Bisa dibaca: http://baltyra.com/2009/09/04/serial-ramadhan-baltyra-achmad-albar-penyanyinya-ali-alatas-diplomatnya-sultan-hamid-si-playboy-nya%E2%80%A6/).

Keturunannya yang dikenal luas populer oleh masyarakat sekarang, yaitu tadi, antara lain rocker Achmad Albar, diplomat ulung Ali Alatas, pelukis Raden Saleh, Sultan Pontianak pencipta lambang negara RI, Sultan Hamid Alkadri atau suami Titiek Sandhora, Muchsin Alatas. Namun sayang meski mereka sayyid, mereka bukan habib. Tak semua sayyid bisa menjadi habib. Ada persyaratan keilmuan yang harus dicapai. Tidak keseragaman tentang sebutan habib atau sayyid. Pokoknya selama ada darah Nabi Muhammad dalam tubuhnya (secara genealogis) maka berhak disebut habib.

Di Jakarta banyak terdapat habib yang sudah mapan berdakwah kepada umat yang menyayanginya sejak dulu, jauh sebelum negeri ini lahir. Ketika jaman berganti, simpul kebebasan dibuka luas setelah Orde Baru runtuh, para habib muncul menunjukkan wajahnya secara massal. Warga Jakarta pun disuguhi wajah mereka di baliho terbuat dari bambu di titik strategis jalan raya. Kemunculan mereka sangat fenomenal dan mengubah wajah Jakarta.

Apa yang dicari habib itu? Untuk menunjukkan jatidiri yang lebih kuat kepada masyarakat sambil membawa risalah keagamaan berdasarkan kitab suci dan tradisi agama yang diwariskan secara turun menurun dari Nabi Muhammad. Apakah menyenangkan dengan kehadiran habib di ruang kota Jakarta dan ruas-ruas jalan-jalan? “Bikin macet!” kesal sebagian pengguna jalan. Soal macet memang sejujurnya bukan monopoli habib dan pengikutnya. Pemilik motor gede, trek-trekan, gang motor, angkot dan metromini yang setiap hari ugal-ugalan, anggota parlemen yang minta dikawal khusus walau hanya untuk minum kopi ke kafe, semuanya memacetkan Jakarta tanpa ada pemberitahuan. Habib dan pengikutnya sudah memberi tanggal bahwa akan ada acara keagamaan di suatu tempat, sehingga sebagian orang yang terbiasa, selalu mengantisipasi.

Apakah habib mengajarkan tindakan kekerasan? Tidak tentunya! Terlalu berdosa bagi mereka untuk melakukannya dengan membawa nama agama apalagi dengan menyandang sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW. Para pengikutnya dan simpatisan yang fanatik berlebihan sering bertindak terlalu jauh dengan improvisasi salah, yang tentunya sangat berbeda dengan tujuan habib berdakwah. Bagaimana orang mau simpati kalau pakai kekerasan?

Para habib itu pun tahu dan sadar, Nabi Muhammad SAW moyang mereka tidak boleh dihormati dengan cara-cara kekerasan seperti yang sering dirasakan sebagian warga ibukota. Suka atau tidak, habib akan terus ada di Jakarta. Mereka warga negara biasa yang juga punya hak untuk itu. Gangster dan kelompok preman bayaran yang sering meresahkan warga saja boleh dan “dilindungi” hukum bebas bertindak dengan kekerasan sesuka hati mereka. Masa habib tidak boleh? Walau hanya untuk tampil berdakwah di atas panggung? (*)

 

65 Comments to "Jakarta 485 Tahun (2): Jakarta Kota Habib"

  1. Kornelya  27 May, 2012 at 07:34

    Mas Iwan , sekarang barulah aku mengerti hikayat tentang Habib. Salam parfum & korma Tanah Abang.

  2. IWAN SATYANEGARA KAMAH  25 May, 2012 at 18:17

    Makasih Vie…

  3. IWAN SATYANEGARA KAMAH  25 May, 2012 at 18:17

    Mas Bagong, pasti namanya bukan Rohana ‘kan? Hahahaha…

  4. IWAN SATYANEGARA KAMAH  25 May, 2012 at 18:15

    Mas Anoew, kalau dia memang “alien”. Jadi males bahasnya. Kalau ketemu habib yang bener, beda. Seperti Habib Luthfi di Pekalongan yang gila musik dan temennya Iwan Fals.

    Susah deh kalau “dia” itu. Teman aku ada yang tinggal depan rumahnya dan tahu seperti apa dia waktu kecilnya.

  5. IWAN SATYANEGARA KAMAH  25 May, 2012 at 18:12

    Iya tuh Mas Pam. mahal banget buat VIP 5 juta. Mending buat yg laen dech. Tapi agak meriah nih penyambutannya di sini.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *