Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Jakarta 485 Tahun (2): Jakarta Kota Habib

Tuesday, 22 May 2012

Viewed 3359 times, 2 times today | 65 Comments |

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta

 

SEBENARNYA penyanyi rock Achmad Albar, menteri luar negeri Ali Alatas atau pelukis fenomenal Raden Saleh bisa saja disebut habib. Habib adalah sebutan dalam bahasa Arab yang berarti ‘orang yang dicintai’. Kita punya presiden yang namanya menggunakan kata sifat /habib/ seperti habib-habib itu, Bacharuddin Jusuf Habibie, yang juga satu-satunya presiden di dunia yang bisa membuat pesawat terbang.

Habib adalah sebutan orang yang berilmu dari kalangan Arab di Indonesia yang tergolong sayyid atau keturunan langsung Nabi Muhammad SAW. Mereka berasal dari tanah Hadramaut yang sekarang sekitar negeri yang bernama Yaman. Menyebar ke penjuru dunia termasuk ke Asia Tenggara, khususnya di Indonesia. (Bisa dibaca: http://baltyra.com/2009/09/04/serial-ramadhan-baltyra-achmad-albar-penyanyinya-ali-alatas-diplomatnya-sultan-hamid-si-playboy-nya%E2%80%A6/).

Keturunannya yang dikenal luas populer oleh masyarakat sekarang, yaitu tadi, antara lain rocker Achmad Albar, diplomat ulung Ali Alatas, pelukis Raden Saleh, Sultan Pontianak pencipta lambang negara RI, Sultan Hamid Alkadri atau suami Titiek Sandhora, Muchsin Alatas. Namun sayang meski mereka sayyid, mereka bukan habib. Tak semua sayyid bisa menjadi habib. Ada persyaratan keilmuan yang harus dicapai. Tidak keseragaman tentang sebutan habib atau sayyid. Pokoknya selama ada darah Nabi Muhammad dalam tubuhnya (secara genealogis) maka berhak disebut habib.

Di Jakarta banyak terdapat habib yang sudah mapan berdakwah kepada umat yang menyayanginya sejak dulu, jauh sebelum negeri ini lahir. Ketika jaman berganti, simpul kebebasan dibuka luas setelah Orde Baru runtuh, para habib muncul menunjukkan wajahnya secara massal. Warga Jakarta pun disuguhi wajah mereka di baliho terbuat dari bambu di titik strategis jalan raya. Kemunculan mereka sangat fenomenal dan mengubah wajah Jakarta.

Apa yang dicari habib itu? Untuk menunjukkan jatidiri yang lebih kuat kepada masyarakat sambil membawa risalah keagamaan berdasarkan kitab suci dan tradisi agama yang diwariskan secara turun menurun dari Nabi Muhammad. Apakah menyenangkan dengan kehadiran habib di ruang kota Jakarta dan ruas-ruas jalan-jalan? “Bikin macet!” kesal sebagian pengguna jalan. Soal macet memang sejujurnya bukan monopoli habib dan pengikutnya. Pemilik motor gede, trek-trekan, gang motor, angkot dan metromini yang setiap hari ugal-ugalan, anggota parlemen yang minta dikawal khusus walau hanya untuk minum kopi ke kafe, semuanya memacetkan Jakarta tanpa ada pemberitahuan. Habib dan pengikutnya sudah memberi tanggal bahwa akan ada acara keagamaan di suatu tempat, sehingga sebagian orang yang terbiasa, selalu mengantisipasi.

Apakah habib mengajarkan tindakan kekerasan? Tidak tentunya! Terlalu berdosa bagi mereka untuk melakukannya dengan membawa nama agama apalagi dengan menyandang sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW. Para pengikutnya dan simpatisan yang fanatik berlebihan sering bertindak terlalu jauh dengan improvisasi salah, yang tentunya sangat berbeda dengan tujuan habib berdakwah. Bagaimana orang mau simpati kalau pakai kekerasan?

Para habib itu pun tahu dan sadar, Nabi Muhammad SAW moyang mereka tidak boleh dihormati dengan cara-cara kekerasan seperti yang sering dirasakan sebagian warga ibukota. Suka atau tidak, habib akan terus ada di Jakarta. Mereka warga negara biasa yang juga punya hak untuk itu. Gangster dan kelompok preman bayaran yang sering meresahkan warga saja boleh dan “dilindungi” hukum bebas bertindak dengan kekerasan sesuka hati mereka. Masa habib tidak boleh? Walau hanya untuk tampil berdakwah di atas panggung? (*)

 

Share This Post

Posted by Tuesday, 22 May 2012 on 09:20.

Categories: Nusantara. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

65 Responses to “Jakarta 485 Tahun (2): Jakarta Kota Habib”

Pages: « 7 6 5 4 [3] 2 1 »

  1. 30
    Anwari Doel Arnowo Says:

    Saya pribadi ingin tetap menjadi saya sendiri.
    Saya tidak meniru siapapun tokoh lain, apalagi memiripkan diri saya dengan orang lain. Meskipun saya tidak mengusik orang Indonesia lain, tetapi saya menyesalkan terjadinya tiru meniru yang kurang perlu, misalnya berpakaian dan berperilaku seperti orang Arab dengan maksud agar terlihat lebih Islami dari manusia Indonesia yang lain. Juga meniru menjadi American, atau bahkan belanda, mintak apuuun deh. Jadilah orang Miinangkabau atau jadi orang Toraja dan Papua, dan lain-lain yang ada di Nusantara. Dignitynya toh bisa tinggi kalau kita sendiri berkelakuan seperti itu.
    Pada waktu tertentu kalau perlu saya juga memakai topi cowboy buatan Texas tetapi saya juga punya oedeng Suroboyoan yang saya kenakan dengan bangga.
    Be yourself dan memang saya telah menjadi saya sendiri, seperti selama ini.!!

    Anwari Doel Arnowo
    2012/05/22

  2. 29
    IWAN SATYANEGARA KAMAH Says:

    Soal ada keterlibatan seorang habib dalam kasus pelecehan seksual, saya memang mengikuti namun tidak mendalami perkembangannya. Sudah menjadi trasdisi saya untuk tidak begitu percaya dari semua media yang ada (apalagi media Indonesia yang kualitas sangat mengkhawatirkan).

    Sampai saat ini hanya disitu saya tahu. Belum ada kelanjutannya. Memang agak menyusahkan bagi kita, karena semua yang kita tahu, pendapat kita telah dibentuk oleh media massa. Kita benci SBY, karena media, bukan karena penilaian kita. Kita benci Mega, ya karena media membencinya. Jadi kita harus ikut.

    Terakhir Kak Seto yang turun tangan untuk me nyelesaikan kasus ini. Makasih Nino komentarnya. Saya mau melecehkan partai biru dulu ah..

  3. 28
    IWAN SATYANEGARA KAMAH Says:

    Sengaja Yu dipanjangin biar gak ada yang baca. Eeeeh…malah banyak yang baca. Gimana dong?

  4. 27
    J C Says:

    Kalau membaca artikel mas Iwan ini sungguh sangat kontras dengan artikelku hari ini. Habib-habib ini jelas membawa pesan damai, yang membuat warna-warni kehidupan bermasyarakat di Jakarta semakin menarik dan asik. Namun semakin lama kemajemukan Jakarta semakin tercemar dengan sepak terjang gerombolan preman berjubah yang mengatasnamakan agama…piye hayo, mas Iwan?

  5. 26
    Chadra Sasadara Says:

    Jakarta memang asik.. ya habibih, ya habibih

  6. 25
    taufikul Says:

    MANTAPPPSSS

  7. 24
    Dj. Says:

    Habib ( Habibie ) juga masih manusia yangb juga masiih bisa bikin salah dan dosa.
    Semuanya sih okay…okay…saja…. selama masih ada dalam ruang aturan yang sehat dan saling menghormati.
    Karena negara Indonesia, masih berdasarkan ” PANCASILA ” dan masih banyak manusia yang hidup memeluk agama yang lain. baik Kristen, Buda, Hindu, Kongfucu, Yahudi atau yang lainnya.
    Selama orang lain juga bebas beribadah dan tidak diganggu atau bahkan dilarang.
    Tapi kenyataannya, mereka yang merasa besar pengikutnya, selalu ingin menang sendiri.
    tapi seperti mas Iwan tulis, bahwa mereka hanya berpendidikan rendah, maka Dj. juga bisa memakluminya.
    Tapi kadang jadi malles mudik, kalau dengar atau baca di Kompas akan adanya kerusuhan, kerusuhan antar agama. Yang seharusnya mereka mengajarkan kasih dan bukan “sirik”.
    Karena Indonesia yang Dj. kenal sejak kecil, adalah manusia yang penuh sopan santun dan bukan manusia yang brutal.
    Kadang mikir, mudik dengan keluarga dengan ongkos € 6-8 ribu, sudah bisa liburan ke Mallorca 2-3 X setahun.
    Atau bisa untuk liburan ke Hawaii, tidak merasa ketakutan atau was-was…..

    Nah ya, semoga banyak Habib yang bisa menyadarkan pengikutnya dan bsia hidu damai dengan mereka yang tidak seiman.
    Salam manis untuk keluarga dirumah dan cium sayang untuk Melati dan Mawar.

  8. 23
    Dj. Says:

    Habib ( Habibie ) juga masih manusia yangb juga masiih bisa bikin salah dan dosa.
    Semuanya sih okay…okay…saja…. selama masih ada dalam ruang aturan yang sehat dan saling menghormati.
    Karena negara Indonesia, masih berdasarkan ” PANCASILA “

  9. 22
    elnino Says:

    Nurul Musthofa yang sekarang gencar bikin pengajian di mana2. Kampung sebelah pernah dipake untuk tablig akbarnya. Kmrn habibnya kena kasus pelecehan santrinya. Gak tau kelanjutannya gimana….

  10. 21
    Lani Says:

    ISK : artikel sepanjaaaaaaaang ini aku cm tertarik dengan alinea penutupan : cepat stress dan cepat mati……..kkkkk………jiaan tepat sekali kalimat itu

Pages: « 7 6 5 4 [3] 2 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)